Gairah rumah baru

1510 Words
Pov Kinanti Pagi ini cuacanya cerah secerah hati kami yang baru memulai kehidupan kami di rumah yang baru kami sewa setelah melewati beberapa masalah kami yang bertubi-tubi. Setelah Arman berangkat kerja yang kini jadi supir mobil angkat pupuk ke gunung aku pun berkenalan dengan tetangga baru kami. Sambil belanja untuk masak hari ini aku pun berbincang dengan tetangga. "Eh, tonggo baru, pindahan teko endi".(Eh, tetangga baru, pindahan dari mana) Sapa tetanggaku sambil tersenyum. "Iyo yuk, pindahan teko Batang Pioro yuk". (Iya kak, pindahan dari Pematang Biara kak). Jawabku pun tak kalah ramah. Dan aku pun pulang ke rumah membawa belanjaku setelah berpamitan dengan para tetangga yang ada di kedai dekat rumah. Alhamdulillah anak-anak pun mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Jadi aku gak perlu takut anak-anak bakalan rewel karena gak betah. Setelah selesai masak aku pun membagi masakanku untuk Arman, untuk anak-anak dan untuk tetangga yang ada di sebelah kanan dan kiri rumah. " Kulonnuwun". (Assalaamu'alaikum). Kataku mengucap salam. "Monggo". (Wa'alaikum Salam) Jawaban salam dari dalam rumah tetangga sebelah kanan. "Koe sopo..?" (Kamu siapa..?) Tanyanya "Aku Kinanti iku loh yuk, tonggo baru seng manggon neng sampeng omah'e riko..! (Saya Kinanti itu loh kak, tetangga baru yang tinggal di samping rumah nya anda) Jawabku ramah sambil tersenyum. "Oh iyo, aku Jumariah arep ngopo, mlebu ndesek..!"(Oh iya, saya Jumariah mau ngapain, masuk dulu..! Ajaknya mempersilahkanku masuk. " Oh, ora usah yuk, aku nggor arep ngenteri riko sayor iku, mau aku entes nyayor..!" (Oh, gak perlu kak, saya cuma mau ngantar anda sayur itu, tadi saya baru nyayur) Tolakku halus karena memang aku cuma mau antar sayur itu aja. "Oh, yo uwes, matur nuwun yo..!" (Oh, ya sudah, terima kasih ya..!) Ucapan terima kasihnya dan aku pun langsung pulang dan begitu pun sebaliknya aku mengantarkan sayur ke tetanggaku sebelah kiri yang bernama Bariah. Karena siang ini panas mataharinya sangat menyengat dikulit, aku pun memanggil Wulan untuk makan dan setelah itu tidur siang supaya kalo malam Bapaknya pulang kerja anak-anak belum pada cepat tidur karena ngantuk gak tidur siang. Dan sama seperti biasa kebiasaanku sehari-hari di rumah setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah saat anak-anak tidur siang aku pun ikut terlelap. * * * * Malamnya setelah Arman pulang kerja aku pun mendekatinya setelah dia mandi Dan makan malam untuk membicarakan niatku yang mau berangkat ke Riau untuk mengunjungi kakakku sekaligus menyampaikan pesan dari abang perihal kematian Bapak. Dan Arman pun menyetujui Dan mengizinkan aku pergi. "Pak Ulan, besok aku berangkat lah ke Riau ngantarkan kereta kita itu yang katanya Kak Atik mau ditukar sama sebidang tanah yang mau untuk dibagi dua sama Bang Ahmad. Boleh kan Pak Ulan". Pamit ku sama suami sebagai istri yang baik. "Ya uda lah kalo memang uda pasti yang di bilang Kak Atik kalo Kereta kita itu mau ditukar sama Tanah. Tapi nanti anak-anak sama siapa..? Aku kan kerja. Mau dititipkan sama Kak Kasih dia sendiri pun repot, anaknya pun banyak..?!". Jawab Arman bukan gak mengizinkan aku pergi, tapi lebih khawatir memikirkan anak-anaknya yang bakal ditinggal. "Ya nanti ku tanya sama si Jum tetangga kita sebelah kanan itu. Dia kan punya anak gadis yang masih mengangur belum dapat kerjaan. Kalo aku minta tolong dia jagakan anak-anak 2 hari aja masak dia gak mau..! Pasti maulah..! Yu udah, aku ke rumah tetangga kita sebentar ya Pak Ulan. Tapi jangan tidur dulu ya..!! Pamitku yang berlalu pergi meninggalkan Arman yang duduk di ruang tamu sambil nonton TV yang melongo saat sebelum ku tinggal ke rumah tetangga sambil berbisik nakal sambil mengedipkan sebelah mata untuk menggodanya sebagai kode untuk pertempuran kami sebagai suami istri nanti malam. "Kulonnuwon, Oh Yuk Jum, uwes turu opo urung..? Eneng seng arep tak takon..! (Assalaamu'alaikum, Oh, Kak Jum, udah tidur apa belum..? Ada yang mau saya tanya..! ) Panggilku dari luar rumah dan dia pun menyahut sambil membuka pintu. "Eh, Mamak'e Ulan, eneng opo..?" (Eh, Mamanya Wulan, ada apa..?) Tanyanya setelah pintu rumah di buka. Dan untuk sebutan Mamak Ulan itu bukan panggilan khusus Arman untuk Kinanti aja, tapi panggilan untuk perempuan yang uda punya anak panggilannya harus nama dari anak pertama kita. Udah jadi tradisi di kampung. "Iku loh yuk, bocah'e riko seng gadis iku nek awan kerjo opo ora..? Nek ora Aku arep njaluk tulung. Aku kan arep lungo nang Rio metuk'i yayukku seng nang kono. Jadi arep njaluk tulung cah gadis'e riko ndelok-ndelok'ke cah-cahku sedilut. Nak awan ae. Nak mbengi kan Bapak'e wes bali kerjo. Mengko bali teko Rio tak kek'i sangue..! Gelem ora yo bocah'e riko..? Jak tulung ditakok'ke yuk..! Ben tak tunggoni nang kene sek". (Itu loh kak, anaknya anda yang gadis itu kalo siang kerja apa gak..? Kalo enggak saya Mau minta tolong. Saya kan mau pergi ke Riau menemui kakak saya yang disana. Jadi mau minta tolong anak gadis nya anda lihat-lihatkan anak-anak saya sebentar. Kalo siang saja. Kalo malam kan Papanya sudah pulang kerja. Nanti pulang dari Riau saya kasih uang jajannya..! Mau gak ya anaknya anda..? Coba tolong ditanyakan kak..! Biar saya tunggui disini dulu.) Jawabku langsung to the point biar cepat karena hari uda malam dan Arman pun sedang menungguku di rumah. "Yo wes, sek tak takok'ke uwonge sek gelem opo ora yo Mamak'e Ulan..! (Ya sudah, sebentar saya tanyakan orangnya dulu mau apa tidak ya Mamanya Wulan..!) Sahutnya menanggapi permintaanku. Gak lama datang Kak Jumariah sama anak gadisnya dari dalam. "Ono opo yo Bulek, omonge Mamak riko ono perlu karo aku..! (Ada apa ya Bibi, katanya Mama anda ada keperluan sama saya..! Tanyanya sopan sambil menunjuk dadanya dan tersenyum ramah. " Oh, iyo..! Bulek arep njalok tulung koe ndelok-ndelok'ke cah-cah'e Bulek sedilut. Bulek arep lungo nang Rio. Gelem koe..? Nak gelem mengko bali teko Rio Bulek kek'i sangumu..! Iku pun awan ae koq. Nak mbengi kan Paklekmu uwes bali kerjo. Nak mbengi ben karo Paklekmu ae. Gelem ora koe..? (Oh, iya..! Bibi mau minta tolong kamu melihat-lihatkan anak-anaknya Bibi sebentar. Bibi mau pergi ke Riau. Mau kamu..? Kalo mau nanti pulang dari Riau Bibi kasih uang jajan kamu..! Itu pun siang sajanya. Kalau malam kan Paman kamu sudah pulang kerja. Kalau malam biar sama Paman kamu saja. Mau tidak kamu..? Kataku menyampaikan maksudku kepada Susi anak gadis Kak Jumariah. "Oh, yo uwes aku gelem Bulek. Wong aku pun nang omah ae. Ora eneng kerjanan. Kapan iku Bulek". (Oh, ya sudah saya mau Bibi. Orang saya pun di rumah saja. Tidak ada kerjaan. Kapan itu Bibi.) Katanya menyambut permintaanku dengan semangat. "Sesok Sus Bulek lungoe.Yo uwes maturnuwun nak koe gelem. Nak ngono wes mbengi Bulek bali sek siap2 nggae sesok mangkat. Aku bali yo Yuk Jum, Susi, suwon". (Besok Sus Bibi perginya. Ya sudah terima kasih kalau kamu mau. Kalau begitu sudah malam Bibi pulang dulu mempersiapkan untuk besok berangkat. Saya pulang ya Kak Jum, Susi, makasih.) Pamitku sambil senyum dan mengucapkan terima kasih sambil melangkah pulang setelah Kak Jumariah dan Susi mempersilahkanku pulang. Sampai di rumah ku lihat Televisi sudah dalam keadaan mati dan Arman pun sudah tidak terlihat di ruang tamu lagi. Aku pun langsung menuju kamar. Ternyata Arman sedang menepuk p****t anak kami menidurkan anak-anak sambil mendendangkan lagu supaya anak-anak cepat tertidur dan ya, anak-anak pun sudah tertidur lelap saat aku masuk ke dalam kamar. "Udah tidur Pak Ulan..?". Tanya ku sedikit berbisik kepada Arman sambil duduk diujung tempat tidur. Takut anak-anak terbangun kembali. " Udah. Cemana..? Mau anak Kak Jum jaga anak-anak pas 'Dia' ke Riau nanti Mak Ulan..! Tanyanya setelah menjawab pertanyaanku sambil menunuju ke arah aku duduk diujung tempat tidur sambil mencium pipiku. "Iya mau". Jawabku singkat sambil berdiri hendak mempersiapkan apa yang mau ku bawa besok. Tapi Arman, menarik tanganku sampai aku terduduk kembali tapi bukan diujung tempat tidur tadi melainkan diatas pangkuan Arman. "Mau kemana lagi". Katanya sambil menciumi pipiku, telinga dan leherku. Aku pun paham apa yang di mau Arman. "Besok kan mau berangkat 2 hari ke Riau. Aku pasti rindu. Kita main dulu ya. Nanti aja beres-beresnya". Kata Arman yang tau aku mau berkemas untuk berangkat besok sebelum melumat bibirku rakus seolah-olah sedang sangat kehausan dan baru mendapatkan obat dari rasa dahaganya. Dan aku cuma bisa mengangguk menuruti permintaannya sambil mendesah nikmat. Arman pun semakin memperdalam ciuman kami. Meletakkan satu tangannya ditengkuk leherku, dan satunya lagi masuk ke dalam bajuku dan meremas p******aku. Aku pun semakin mendesah. Arman langsung melucuti pakaianku. Dan aku pun melakukan hal yang sama, membantu Arman melepas pakaiannya. Dan karena kamar cuma satu. Tempat tidur juga ada satu, itu pun sedang ada anak-anak yang tidur diatasnya. Jadi kami pun menuju ke ruang tamu untuk menuntaskan hasrat kami disana. Dan Aakhh, desahku saat p***s Arman pun dengan cepat masuk ke v****aku. Aku pun meremas rambutnya merasakan kenikmatan surga dunia bersama Arman suami tercintaku. Dan ruang tamu pun menjadi berisik dengan suara percintaan kami. Ceplok.. Ceplok.. Ceplok.. suara dari alat kelamin kami yang sedang bersatu menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa sampai kami pun akhirnya teriak nikmat bersama mencapai puncak yang hampir 1 jam bercinta "Aaaakkhh.. Pak Ulaaaaan.. Mak Ulaaaaan.. Haah.. Haah.. Haah.." Suara nafas kami saling bersahutan. Dan Arman pun berguling kesampingku dan aku pun segera bangun ke kamar mandi membersihkan sisa percintaan kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD