Tetangga Seksi

1055 Words
Wanita paruh baya itu lalu memandang Al Wani dengan kesal dan kemudian berbalik untuk pergi. Al Wani mengangkat kepalanya dan memandang gadis cantik berpiama itu. Meskipun dia sudah lama tinggal disini, tetapi ini pertama kalinya dia mengamati tetangga cantiknya itu dari jarak dekat. Paras cantiknya membuat orang yang melihatnya refleks menahat napas. Alisnya hitam dan indah, matanya jernih, dan bibirnya berwarna merah muda bagaikan buah ceri. Mungkin karna baru bangun tidur, rambut hitamnya agak berantakan. Piama berenda hitam yang dikenakannya menampakan kulitnya yang lembut dan halus. Kakinya yang ramping dan indah juga tampak jelas. tubuh yang demikian seksi sungguh menarik perhatian. "Terima kasih atas bantuannya, aku sebenarnya..." Al Wani berkata pelan setelah menghela napas. "Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya mengeluarkan uang 1,2 juta untuk membeli sebuah ketenangan," gadis cantik yang tampak sebal itu menyela ucapan Al Wani. "Itu. . . Aku akan segera mengganti uangmu setelah gajian. Oh, ya, namamu..." "Braakk!" Sebelum Al Wani menyelasaikan perkataannya, langsung menutup pintu kamarnya dengan keras. Al Wani berdiri di tempat dengan canggung, mungkin uang sebesar 1,2 juta bukanlah apa-apa bagi Al Wani saat ini. Tapi itu jumlah yang besar bagi Al Wani dikala dia belum mengetahui tentang keluarganya yang kaya raya dan mendapatkan transferan uang dari kakak laki-lakinya. Karna gadis itu terlihat tidak berminat berbicara dengannya, Al Wani pun menutup pintu kamarnya secara perlahan. "Krriinggg..." Saat ini pula, ponsel Al Wani Kembali berdering. Al Wani menjawab panggilan tersebut dan berkata lesu, "Halo, dengan siapa?" "Tuan Muda Al Wani, saya adalah utusan Tuan Muda Pertama. Kalau anda sekarang sedang senggang, anda bisa datang menemui saya di gedung Twin Citra Grup lantai 30. Saya akan menjelaskan semuanya secara langsung dengan anda Tuan Muda." Al Wani sempat ragu sejenak hingga akhirnya menjawab pelan, "Aku akan kesana sekarang juga." "Baik, Tuan Muda Al Wani!" Pria paruh baya tersebut pun mengakhiri panggilan dengan penuh hormat. Al Wani pun bersiap berangkat untuk menemui pria paruh baya yang baru saja menelponnya. Dan tak lupa dia pun hendak menarik uang di ATM sebanyak satu juta lima ratus ribu rupiah. Kemudian menghentikan sebuah taxi untuk menuju ke gedung Twin Citra Grup. Pukul satu siang Al Wani pun tiba dibawah gedung Twin Citra yang besar dan menjulang tinggi ke langit. Semua kendaraan yang terparkir di tempat parkir gedung ini adalah mobil mewah bernilai miliaran keatas. Orang-orang disini juga berpakaian rapi dan parlente. Al Wani tampak seorang pengemis jika disandingkan dengan mereka, sangat tidak cocok berada di tempat ini. "Maaf, kami tidak menerima pengemis di sini!" Baru saja Al Wani memasuki gedung Twin Citra Grup, gadis resepsionis cantik dengan setelan hitam tengah berseru padanya dengan ekspresi merendahkan. "Aku kemari bukan untuk mengemis" Al Wani berkata dengan wajah tanpa ekspresi. "Kami juga tidak menerima penawaran produk-produk pertanian." Resepsionis cantik itu menambahkan. "Aku kemari untuk bertemu seseorang." "Bertemu seseorang? Siapa yang ingin kamu temui? Memang ada orang yang bisa kamu temui di tempat ini? Cibir resepsionis cantik. Al Wani tidak tahu siapa nama orang yang menelfonnya tadi. Dia hanya ingin tahu tentang pesan yang kakaknya sampaikan kepada pria paruh baya tersebut. Dia langsung melangkahkan kaki ke lift tanpa menghiraukan gadis resepsionis. "Hei, ada apa denganmu? Sudah kubilang kamu tidak boleh masuk. Berhenti atau aku akan panggilkan satpam untuk mengusirmu!" "Ting!" Pada saat ini pula, pintu lift tiba-tiba terbuka. Al Wani hendak masuk lift begitu melihat resepsionis mengejarnya. "Aduuhh!" Terdengar suara jeritan kecil dari dalam lift. Karena masuk dengan tergesa-gesa, Al Wani tidak melihat ada orang yang mau keluar dari dalam lift. Jadi, dia pun menubruk orang tersebut. "Apa kamu tidak punya mata? Tidak melihat kalau di dalam ada orang?" Orang yang di dalam lift pun berseru. Al Wani mengangkat kepalanya melihat wanita di depannya, dia sontak tercengang. Gadis itu berambut gelombang dengan warna merah. Tubuhnya mengenakan gaun ketat berwarna merah, tinggi semampai dan seksi. sepasang kaki indahnya terbalut stocking hitam dan mengenakan sepatu hak tinggi. Pakaian yang ketat menampakan bentuk dadanya dengan jelas. Meski wajah cantik itu sedang marah, tapi tetap mempesona. Gadis ini sedang memegang segelas kopi dan kopi tersebut kini tumpah di tubuh wanita itu begitu di tubruk oleh Al Wani. "Kamu ini mau apa? Mana satpam? Kenapa membiarkan orang seperti ini masuk sembarangan?" Gadis seksi itu berseru dengan kesal setelah melihat penampilan Al Wani. "Maaf, aku masuk dengan tergesa-gesa dan tidak melihat ada orang di dalam sini." Sambil bicara Al Wani mengambil tisu di samping lift dan hendak membantu menyeka kopi yang tumpah. Namun, ketika Al Wani meletakan tangannya di bagian d**a gadis cantik itu, ssmua orang disana terperanjat. "Hei. . . dasar hidung belang!" Gadis cantik itu menjerit secara refleks. Dalam sekejap tujuh sampai delan orang satpam bergegas mendatangi Al Wani. "Maaf. . . Aku tidak sengaja!" Melihat para satpam sudah mendekat, Al Wani langsung mendorong gadis cantik itu keluar dan masuk ke dalam lift tanpa sempat mempertimbangkan hal lainnya. Dia kemudian langsung menekan tombol lantai 30. Saat para satpak tiba, lift yang dimasuki Al Wani sudah bergerak naik. "Manager Purnama, apa yang terjadi?" Satpam bertanya dengan kebingungan pada gadis cantik itu. "Tadi ada seorang pengemis yang entah muncul dari mana melecehkanku. Cepat tangkap orang itu. Aku harus membawanya ke kantor polisi. Kenapa diam saja? Cepat tangkap dia!" Seru gadis dengan mata berkaca-kaca. "Tapi. . ." Kepala satpam itu tampak serba salah. "Tapi apa?" Seru gadis cantik itu sambil mengerutkan dahi. "Orang ini menuju lantai 30 ptempat direktur Musklis Pratama. Direktur pernah mengatakan tidak seorangpun boleh ke lantai 30 tanpa izin darinya," jawab kepala satpam sambil menatap lift dengan tak berdaya. "..........." Gadis cantik itu tertegun mendengar hal ini, lalu berkata lagi sambil menggertakkan gigi dengan emosi, "Oke... Kalau begitu tunggu di sini dan tutup semua pintu keluar gedung ini. Aku tidak percaya si b******k itu tidak akan turun!" Setelah memasuki lift Al Wani melihat tangan kanannya sendiri dengan tak berdaya. Walaupun rasanya enak ketika menyentuh d**a gadis cantik itu, tetapi Al Wani menyadari dirinya sudah menimbulkan masalah besar. Namun, dia yang sekarang tidak berminat untuk berpikir sebanyak itu. Dia hanya ingin mencari tahu pesan apa yang kakak titipkan kepada pria paruh baya tersebut. Kenapa tidak mengatakannya saja langsung ketika ditelpon sebelumnya. Beberapa saat kemudian, lift berhenti di lantai 30. Al Wani berjalan keluar dari lift dan hanya menemukan sebuah ruangan kantor di lantai 30. Dekorasi di ruangan ini sangat mewah, dari tempat ini dapat terlihat seluruh kota Surabaya, pemandangannya luar biasa bagus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD