Seorang pria paruh baya berjas hitam segera berdiri dan menghampiri Al Wani begitu melihatnya masuk. Dia bertanya dengan penuh hormat, "Tuan Muda Al Wani, akhirnya anda datang!"
"Jadi kamu orang yang menelponku?" Al Wani bertanya dengan dahi berkerut.
"Benar Tuan Muda, perkenalkan nama saya Muklis Pratama direktur umum di grup Twin Citra!" Kata muklis pratama berseri-seri.
"Oh." Al Wani mengangguk pelan, kemudian mengamati ruangan itu sambil bertanya, "Lalu, apa yang kakaku sampaikan kepadamu, kenapa tidak dia sendiri yang menyampaikannya kepadaku."
"Tuan Muda Al Wani, Tuan Muda pertama menyampaikan pesan kepada saya bahwa beliau sedang banyak urusan bisnis di negara lain. Sehingga beliau tidak bisa mengelola semua perusahaannya yang ada di surabaya.
"Hah. . . Kepadaku!" Al Wani sontak tercengang mendengar penjelasan Muklis, rasanya hal seperti ini hanya akan terjadi di dalam sinetron.
"Benar Tuan Muda, diantaranya yang terletak di Surabaya adalah Grup Twin Citra, Grup Permata, Grup Farmasi Kalba Farma, dan beberapa hotel bintang 5 yang ada di Surabaya."
Muklis mengambil sebuah dokumen diatas mejanya dan mulai menjelaskan kepada Al Wani.
Awalnya Al Wani mendengarkan penjelasan Muklis dengan seksama. Dia sungguh merasa dirinya sedang bermimpi, jadi dia segera menghentikan ucapan Muklis dan bertanya kebingungan, "Sebentar dulu, Kamu yakin semua yang kamu sebutkan itu atas perintah kakaku?"
"Yakin," angguk Muklis.
"Lalu, kira-kira berapa total nilainya?" tanya Al Wani.
"Ini. . ." Muklis tertegun lalu menjawab perlahan, " Tuan Muda Al Wani, seharusnya lebih dari tiga puluh triliun dollar!"
"Le... Le... Lebih dari tiga puluh triliun dollar? Bahkan dalam mata uang dollar?"
Al Wani sontak terperanjat dan menunjukan ekspresi tidak percaya.
"Benar" Muklis menganggukan kepala pada Al Wani.
"Semua ini. . . Semua ini miliku seorang? dan Aku yang kelola?" Tanya Al Wani lagi. Dia merasa semua yang terjadi pada dirinya saat ini sungguh aneh bin ajaib. Harta dalam bentuk perusahaan sebanyak tiga puluh triliun dollar akan menjadi milikku? Dalam mimpi pun Al Wani tidak akan berani memimpikan hal seperti ini.
"Tepat sekali." Muklis sambil tersenyum cerah.
"Tidak mungkin." Al Wani segera menggelengkan kepala dan berkata lagi, "Kamu pasti menipuku. Kalau memang keluargaku sekaya ini, kenapa aku tidak pernah mendengar nama Orangtuaku? seharusnya dia menjadi orang terkaya di dunia, 'kan?"
"Tuan Muda Al Wani, mungkinkah yang anda maksud adalah daftar orang terkaya versi forbes?" Muklis tersenyum simpul saat melihat Al Wani.
"Ya, daftar itu. Kalau memang keluargaku begitu kaya, kenapa tidak ada namanya di daftar itu?" tanya Al Wani.
"Tuan Muda Al Wani, menurut Anda, apakah Tuan Besar yang berstatus demikian akan memilih untuk masuk kedalam daftar seperti itu?" Muklis menjelaskan.
"Apa maksudmu?" tanya Al Wani bingung.
"Saya jelaskan seperti ini saja. Orang-orang yang Anda bisa lihat namanya di daftar itu, hanya demi reputasi saja, begitu memiliki reputasi, mereka bisa mendapatkan sumber dana sosial yang lebih baik. Namun, Tuan Besar, sudah melampaui itu sejak awal. Dia juga tidak ingin terlalu menonjolkan identitasnya!" Muklis menjeda sebentar sebelum melanjutkan, "Tuan Besar pernah berkata, kerisauan orang kaya selalu lebih besar dari pada orang miskin. Jadi, kalau tuan muda Al Wani menerima harta ini, saya sarankan Anda jangan membeberkan identitas Anda. Ini tidak ada keuntungannya sedikit pun buat Anda."
Al Wani menatap Muklis yang berada di hadapanya, dia bisa merasakannya kalau muklis seharusnya sedang tidak berbohong, dia juga tidak mungkin jika tidak percaya, mengingat tentang semua masalah yang datang hari begitu mengejutkannya. Apalagi uang sebesar dua juta lima ratus ribu dollar yang dia terima tadi pagi, dan juga kakaknya yang menelponnya untuk memberitahu.
"Apa ini?" Al Wani bertanya sambil menerima surat dan dokumen yang di serahkan kepadanya.
"Tuan Muda Pertama secara khusus berpesan, kalau Anda mau menerima hartanya maka setelah lulus kuliah, Anda bisa langsung memegang semua kendali atas semua perusahaan milik keluarganya yang berada di seluruh Asia. Jadi bisa dibilang ini sebagai bagian dari Tuan Muda Pertama untuk memberikan pelatihan Tuan Muda Al Wani untuk mengelola perusahaan kecil ini!" ucap Muklis dengan nada yang sangat sopan.
"Ap... Apa. . . Seluruh Asia? Bahkan perusahaan tiga puluh miliard dollar dianggap perusahaan kecil!" Seru Al Wani dengan ekspresi kaget. Geblek! Sebenarnya sekaya apa keluargaku diluar negri sana sampai perusahaan total tiga puluh miliard dollar dianggap perusahaan kecil.
"Kalau tidak ada masalah lain, Anda bisa tanda tangan di atasnya, dan surat perjanjian ini akan mulai berlaku setelah Anda menandatanganinya." Kata Muklis sambil menyodorkan surat perjanjian di hadapan Al Wani.
Bagaimanapun dia tidak akan mungkin bisa menolak, toh nantinya juga dia yang akan ditunjuk oleh kakaknya untuk mengelola semua perusahaan milik keluarganya yang berada di Asia.
Setelah menandatangani surat perjanjian itu, Al Wani pun segera menyerahkannya ke Muklis. Dan setelah Muklis menerima suratnya, dia pun segera menyerahkan dua buah kartu kepada Al Wani.
"Apa ini?" Al Wani bertanya bingung ketika kartu di tangannya.
"Tuan Muda Al Wani, kartu pertama adalah kartu hitam Bank BCA tanpa limit penggunaan. Dan kartu itu digunakan untuk menerima uang keuntungan dari semua perusahaan Anda yang di Surabaya. Dan anda pun bisa membelanjakan apapun yang Anda inginkan menggunakan uang dari kartu tersebut tanpa limit. dengan kata lain, uang sebanyak apa pun yang anda bayar, mau puluhan juta, ratusan juta, miliran rupiah, bahkan triliunan rupiah pun dapat di lakukan dengan kartu ini! Sedangkan katu kedua adalah kartu VVIP di klub ternama di seluruh dunia, kartu ini juga menandakan status tertinggi di kalangan sosial." Jelas Muklis segera.
Al Wani pun tidak menghiraukan soal kartu klub atau semacamnya. Namun, dia sangat tertarik dengan kartu hitam Bank BCA. Dia bertanya pada Muklis dengan berseri-seri.
"Kamu yakin aku bisa menarik uang sebanyak apa pun dengan kartu ini?" tanya morgan dengan wajah sumringah.
"Tentu saja. Semua pengeluaran dari kartu ini akan melalui rekening keuangan internal perusahaan atas nama Anda dan nilai dari perusahaan Anda lebih dari tiga puluh triliun dollar. Jadi, tidak ada masalah selama pengeluaran itu dibawah tiga puluh triliun dollar," jelas Muklis.
"Tak ku sangka ada kartu sehebat ini!" Al Wani menyeringai dan berniat mencobanya setelah pergi dari sini.
"Oh, ya! Ini kartu nama saya, Tuan Muda Al Wani. Saya akan membantu Anda mengelola bisnis perusahaan. Anda bisa menelpon saya kapan pun jika ada masalah," Muklis menyodorkan kartu nama dengan hormat.
"Oke!" Al Wani menerima kartu nama tersebut dan lanjut berkata.
"Kalau begitu, aku sudah boleh pergi?" Al Wani berkata dengan ekspresi datar.
"Biar saya antar," Jawab Muklis Segera.
"Tidak perlu, Aku sendiri saja!" Al Wani melambaikan tangan sambil berlalu, kemudian berjalan keluar dari ruangan Muklis.