Tuan Muda Al Wani Boleh melakukan Apa pun !

1031 Words
Beberapa menit kemudian, Al Wani keluar dari lift. "Srett!" Belasan satpam langsung mengepung dan menarik lengan baju Al Wani. Al Wani Refleks kehilangan akal melihat satpam-satpam ini. "Dasar hidung belang! Akhirnya kamu keluar juga!" Gadis cantik yang sebelumnya di lecehkan oleh Al Wani pun keluar dari kerumunan dan berseru dengan nada yang sangat menghina. "Benar, Berani-beraninya seorang pengemis melecehkan Manager Purnama. Kamu pasti sudah bosan hidup! Apa tidak Kamu coba lihat seperti apa dirimu itu?" Timpal sang resepsionis cantik. "Kejadian sebelumnya memang salahku, tapi aku sudah minta maaf padamu. Apalagi yang kamu inginkan?" Al Wani mengerutkan dahi sambil memandang gading cantik itu. "Apa lagi yang aku inginkan? Aku benar-benar jijik sekali padamu. Berani-beraninya orang sepertimu melecehkan aku! Kamu tahu siapa Aku? Lihatlah tampang miskinmu itu! Begitu teringat lagi dengan kejadian tadi, Aku pun masih merasa jijik!" Gadis cantik itu berseru dengan jijik. "Itu urusanmu sendiri kalau kamu merasa jijik, tidak ada hubungannya denganku. Tolong minggir, aku mau keluar" Al Wani agak kesal mendengan perkataan gadis cantik itu. Gadis ini sungguh menghinanya secara terang-terangan. Jadi nada bica Al Wani pun lebih gusar. "Kamu mau keluar?" Gadis cantik itu tertawa dingin dan menunjuk-nunjuk Al Wani, "Jangan harao kamu bisa meninggalkan tempat ini kalau masalah ini tidak di selesaikan!" "Mau di selesaikan seperti apa?" Al Wani bertanya dengan tenang. "Kamu. . . Kamu harus berlutut dan meminta maaf padaku. Setelah itu, menyingkirlah dari gedung ini. Dengan begitu masalah ini aku anggap selesai. Kalau tidak, akan Kulaporkan kamu ke polisi!" Seru gadis cantik dengan lantang. "Benar, berlutut dan minta maaf dengan Manager Purnama!" Orang-orang disekitar mulai ikut menimpali. Al Wani tampak tidak berdaya berdiri ditengah kerumunan orang. Dia tidak menyangka wanita ini begitu keterlaluan. Padahal dia hanya memegang dadanya sekilas, tetapi wanita ini sampai meyuruhnya berlutut. "Sialan! Kenapa diam saja? Cepat berlutut!" Bentak satpam. "Cindy Purnama, apa yang Kamu lakukan disini dengan membawa satpam?" Pada saat ini terdengar suara bentakan penuh emosi dari belakang Al Wani. Semua orang yang mendengarkan bentakan itu pun terkejut. Awalnya Muklis hendak mengantarkan Al Wani pergi meninggalkan gedung. Bagaimana pun juga, Al Wani sekarang adalah Komisaris. Muklis yang merupakan bawahan Al Wani, tentunya harus menyenangkan Atasan yang punya harta ratusan triliun dolar itu. Namun, Al Wani pergi tergesa-gesa dan langsung memasuki lift, sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Muklis untuk mengantarkan. Muklis pun terpaksa menunggu lift tersebut naik kembali dan buru-buru turun ke lantai dasar. Begitu keluar dari lift, dia melihat seorang gadis cantik membawa segerombolan satpam untuk menghadang Al Wani di depan pintu lift. Hal ini sungguh membuat Muklis berkeringat dingin saking kagetnya. "Dir... Direktur Muklis, ke... kenapa anda kemari?" Cindy berseru kepada sosok dibelakang Al Wani. "Cindy, sedang apa kamu?" Muklis bertanya dengan emosi. Sebelum menyelesaikan pembicaraanya gadis resepsionis cantik itu tiba-tiba menimpali dan hendak memojokan Al Wani di depan Direktur Muklis. "Direktur Muklis, pria miskin ini melecehkan Manager Cindy, makanya Manager Cindy hendak memberi pelajaran pada orang ini!" seru sang resepsionis tanpa memahami apa yang terjadi. "Pria miskin!" Muklis tertegun mendengar perkataan ini, kemudian dia menunjuk dan berseru keras pada gadis resepsionis, "Kamu dipecat sekarang juga! Bereskan barangmu dan pergi dari sini, segera!" Gadis resepsionis mebelalakan kedua matanya yang berkaca-kaca, ekspresinya penuh kebingungan, Dir. . . Direktur Muklis, Aku..." "Apa aku-aku? Kubilang kamu dipecat sekarang juga, apakah kamu t**i?" Muklis membentak tanpa ekspresi. Dia kemudian menoleh dan bertanya dengan penuh hormat pada Al Wani, "Komisaris Al Wani, Anda baik-baik saja 'kan? Maaf atas kelalaian saya karena tidak keluar bersama Anda." "Tidak apa-apa!" Al Wani menjawab dengan datar. Semua orang tercengang dan tak berani memercayai perkataan Muklis. Direktur Twin Citra yang terkenal memanggil si miskin yang entah dari mana munculnya dengan sebutan Komisaris? "Ko. . . Ko...misaris?" Cindy mematung sembari menatap Al Wani. "Direktur Muklis, ada apa ini sebenarnya?" tanya Cindy terbata-bata. "Apanya yang ada apa? Masih tidak segera meminta maaf dengan Komisaris Al Wani? Dia adalah komisaris baru di perusahaan kita!" bentak Muklis. Setelah mendengarkan perkataan ini, Cindy tanpa ragu segera berkata pada Al Wani dengan ketakutan. "Komisaris Al Wani, mohon maaf sekali, Saya... saya sungguh bodoh sampai berani menyinggung Anda. Mohon Anda jangan masukan kedalam hati." Usai berkata, Cindy segera membungkukan badannya. Karena sebelumnya pakaian Cindy terkena kopi, ditambah lagi dia mengenakan kemeja berpotongan rendah, begitu membungkuk langsung tampaklah kulit putihnya. Tak bisa dipungkiri, gadis bernama Cindy ini memang lebih menarik dibandingkan gadis-gadis di kampus. Hatinya langsung terpikat hanya sekilas pandang saja. "Tuan Muda Al Wani, apa yang ingin Anda lakukan terhadap orang ini?" tanya Muklis. "......" Cindy ketakutan mendengar perkataan Muklis. Dia segera menghampiri Al Wani dan merendahkan diri segera berkata. "Tuan Muda Al Wani, jangan pecat saya. Anda boleh menyuruh saya melakukan apa pun, asalkan Anda tidak memecat saya." Twin Citra Grup adalah perusahaan besar yang begitu banyak diincar orang di Indonesia agar dirinya bisa bekerja disana. Bahkan gaji untuk tukang kebersihannya saja bisa mencapai 15 juta rupiah. Saat ini Cindy sudah susah payah berjuang selama 10 tahun sampai ke posisi Manager dengan gaji per bulannya minimal 250 juta. Dia tidak terima jika harus kehilangan pekerjaannya begitu saja. "Melakukan apa pun?" Al Wani tertegun. "......" Melihat sikap Al Wani yang demikian, Cindy merasa dirinya sudah terselamatkan. "Benar, selama melihat Tuan Muda Al Wani senang, saya bersedia melakukan apa pun." Cindy mendekati Al Wani. Nada bicaranya penuh makna dan ekspresinya sangat menggoda. Dapat menjadi Komisaris Hitop Grup diusia semuda ini, pasti punya latar belakang keluarga yang tidak biasa. Begitulah yang Cindy pikirkan. Oleh sebab itu, Cindy jelas sekali mempunyai maksud tertentu. Jika terjadi sesuatu diantara dia dan Al Wani, maka kedudukannya di perusahaan akan aman. "Oke. kalau begitu, mulai hari ini kamu kerja dibagian kebersihan." Al Wani berkata dengan wajah datar, kemudian dia langsung keluar dari perusahaan. Cindy termangu di tempat. Dia benar-benar malu dan tidak menyangka Al Wani tidak terpikat oleh dirinya, sebaliknya malah memindahkan dirinya ke bagian kebersihan. "Kamu sudah mendengar perkataan Tuan Muda Al Wani tadi?" Muklis bertanya tanpa ekspresi. "Su... sudah..." jawab Cindy segera. Bagaimanapun juga menjadi petugas kebersihan masih lebih baik dari pada jadi pengangguran pikirnya. Jika dia dipecat dari perusahaan sebesar Twin Citra Grup maka sudah bisa di pastikan kalau dia tidak akan bisa bekerja lagi dimana pun, karena perusahaan Twin Citra Grup adalah perusahaan swasta terbesar di Indonesia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD