Disisi lain, pada saat Al Wani telah sampai di luar perusahaan Twin Citra Grup, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Kriingg...!" Ponsel Al Wani berdering.
"Al, kamu sedang apa? Kenapa belum datang? Kamu tidak tahu sore ini ada kelas?" Desak seorang pemuda.
Orang yang menelponnya ini adalah teman Al Wani yang bernama Johanes Ari Sandi. Dia salah satu dari segelintir teman Al Wani di kampus.
"Astaga, Aku lupa Joh!" Al Wani berkata lagi.
"Ok, Aku akan segera kesana Joh!"
"Ya udah cepat, Al!" Johan berujar sebelum mematikan telpon.
Al Wani lalu mengentikan sebuah taxi dan segera menuju ke Universitas Surabaya.
Karena Universitas Surabaya dan Twin Citra Grup tidak terlalu jauh, Al Wani jadi tidak terlambat.
Setibanya diruangan kelas, Al Wani menyadari semua teman sekelas memandangnya dengan tatapan yang aneh, sementara Sinta dan Dony duduk bersama sambil mengobrol mesra.
Sinta adalah mantan kekasihnya Al Wani, hubungan diantara mereka pun harus berakhir lantaran Sinta yang kedapatan berselingkuh dengan Dony yang memang berasal dari keluarga kaya.
Perasaan yang berbeda muncul dihati Al Wani ketika melihat ini. Itu karena dia dan Sinta tidak pernah duduk bersama di kelas selama mereka berpacaran.
Tampaknya semua orang tahu kalau dirinya dicampakkan oleh Sinta.
"Al, kamu baik-baik saja?" Fajar bertanya.
"Aku tidak apa-apa." Al Wani menjawab dengan datar.
"Kudengar kamu dan Sinta..."
"Johan, hal yang sudah jelas tidak usah dibahas lagi," kata seorang pria disebelah Johan mengingatkan. Pria itu adalah Andi Lesmana. Andi Lesmana juga merupakan salah satu teman terdekatnya Al Wani dikampus, bahkan Johan dan Andi juga sering membantu Al Wani. Al Wani juga sangat mengingat semua kebaikan dari dua sahabatnya ini.
"Aku sungguh tidak apa-apa." Al Wani tersenyum pada keduanya dan berjalan ke tempat duduk di barisan terakhir.
Johan dan Andi kira suasana hati Al Wani sedang buruk, jadi mereka pun tidak bertanya lagi. Pada kenyataannya Al Wani sama sekali tidak bersedih persoalan Sinta. Sebaliknya, dia malah ingin menyendiri untuk memikirkan kembali segala yang terjadi hari ini.
Dia merasa semuanya diluar dugaan. Kemarin malam dirinya baru saja dicampakkan oleh Sinta karena miskin. Namun, dia tiba-tiba menjadi seorang konglomerat hanya dalam beberapa jam setelah itu.
Ini semua terasa ajaib dan terasa tidak nyata bagi Al Wani.
"Entah apa yang Sinta pikirkan kalau tau Aku menjadi sekaya ini sekarang." Al Wani membatin dalam hati sambil melihat kearah punggung Sinta dan Dony.
"Teman-teman mari berkumpul dan kita makan bersama di liar malam ini!" Setelah dosen pergi, seprang gadis berparas cantik berdiri dan bekata sambil berseri-seri.
Al Wani pun melihat ke arah gadis yang memakai atasan rajut garis-garis lengan pendek dan menampakan dadanya. Gadis itu juga mengenakan setelan celana jeans ketat yang memperlihatkan bentuk lekukan tubuhnya yang menggoda. Semakin melihat kebawah, tampak sepasang tungkai indah nan ramping yang memakai sepatu kanvas. Penampilannya dari atas sampai bawah tampak begitu cantik, muda, dan energik.
Gadis ini bernama Aryanti Sari, ketua kelas di kelas ini.
Aryanti adalah gadis cantik yang beehati baik dan berpikiran polos. Dia tidak pernah merendahkan Al Wani karena kemiskinannya. Sebaliknya, dia pernah beberapa kali membatu Al Wani.
"Oke, akhirnya bisa makan di luar!"
"Kalau memang ketua kelas yang mengajak, kami pasti ikut."
Satu per satu murid pun mulai menyahuti ajakan tersebut.
Johan segera menghampiri Al Wani, merangkul lehernya dan berkata,
"Al, ikutlah! Kita sudah lama tidak kumpul dengan teman sekelas."
"Johan, untuk apa kamu mengajak si miskin itu? Dia sama sekali tidak punya uang untuk ikut." Saat ini, seorang gadis mengenakan kaos dalam berwarna putih dan mengenakan jaket levi's dengan kancing yang terbuka pun berkata pada johan dengan sombong.
Al Wani pun mengangkat kepalanya memandang ke arah sang gadis. Gadis itu Reika Ambarsari, sahabat Sinta. Finansial keluarganya bagus, parasnya juga lumayan cantik. Reika sangat memandang rendah Al Wani, tidak jarang dia menghina dan merundung Al Wani. Namun, Al Wani terus bersabar karna dia tahu Reika punya seorang pacar yang merupakan preman di luar kampus.
Sebagian besar alasan Sinta mencampakan Al Wani dan berpacaran dengan Dony juga berkat hasutan Reika.
"Iya, mana mungkin si miskin Al Wani punya uang untuk makan bersama kita?" Timpal salah satu sahabat Sinta lainnya, Claudia Kristiani.
"Reika, Claudia, kenapa kalian bicara seperti itu?"Johan tampak tidak senang.
"Memang kenyataan, pemulung ini sama sekali tidak punya uang untuk acara kumpul-kumpul. Lagi pula, kapan dia pernah ikut acara kelas?" jawab Reika.
"Kalau memang Al Wani tidak punya uang biar aku saja yang membayar bagiannya. Apa perlu kamu menghinanya seperti ini?" kata Andi yang sudah tidak tahan melihat semua penghinaan ini.
"Hehe. Andi, kalau kamu memang begitu kaya, bagaimana kalau membayar bagianku juga?" seru Dony begitu mendengar perkataan Andi.
Andi menoleh ke dony, keraguan melintas di matanya. Meskipun finansial keluarga Andi lumayan, tetapi masih kalah jauh dibandingkan Dony. Selain itu, Andi juga tidak berani menyinggung Dony, jadi dia hanya bisa menutup mulutnya kembali.
"Aku yang akan membayar untuk Al Wani. Kita semua teman sekelas apa harus seperti ini?" Aryanti menimpali, dia juga tidak tahan dengan sikap teman-temannya.
Dony tertegun dan tampak ragu sejenak mendengar ucapan Aryanti, tetapi dia tidak berkata-kata lagi.
"Aryanti, tidak perlu kamu yang bayar. Aku punya uang." Al Wani berkata dengan datar.
Mendengar perkataan Al Wani, ekspresi terkejut pun menghiasi wajah murid-murid di kelas.
Mereka benar-benar tidak menyangka Al Wani akan ikut acara kumpul-kumpul ini, tidak seperti biasanya.
Al Wani sudah mahasiswa tahun kedua saat ini, sudah sekelas dengan mereka selama dua tahun, tetapi Al Wani tidak pernah ikut dalam acara apa pun di kelas. Alasannya dia tak ingin ikut adalah karena dia tidak punya uang.
Dony tertawa dan memandang dan memandang Al Wani dengan ragu.
"Wah, tumben sekali si pemulung punya uang untuk ikut acara hari ini? Al, sudah sekian lama kita saling kenal, tapi kamu tidak pernah ikut acara apa pun. Bagaimana kalau hari ini kamu yang traktir kami semua makan?"
"Jangan bercanda, kak dony. Kalau si pemulung ini bisa mentraktir semuanya makan, aku akan langsung makan k*****n di depan kalian!" seru seorang pria gemuk sambil terkekeh.
"Oke, kalau memang semuanya begitu bersemangat, biar aku saja yang traktir!" Al Wani menjawab dengan enteng.
Tawa si pria gemuk membeku seketika begitu mendengar pernyataan Al Wani. Teman teman di sekelilingnya juga sontak sangat terkejut. Tidak ada seorang dari mereka yang menyangka kalau Al Wani menyanggupi permintaan Dony.