Star Palace, Hotel Bintang Lima Surabaya

1067 Words
Dony dan teman-teman yang lainnya pun kebingungan mendengar Al Wani benar-benar mentraktir mereka semua makan. Sinta dan kedua sahabatnya juga menatap Al Wani dengan mata terbelalak. Namun, dia dengan cepat mendapat kesimpulan bahwa Al Wani pasti hanya berlagak saja. Bagaimana mungkin Al Wani punya uang untuk mentraktir kita makan. Sinta diam-diam merasa bersyukur dalam hati karena dirinya sudah putus dengan Al Wani, Al Wani bukan hanya pria payah, tetapi juga tidak punya uang dan banyak gaya! "Ada apa dengan Al Wani hari ini?" Johan juga menunjukan ekspresi kebingungan. "Tentu saja karena Sinta mencampakannya, ditambah lagi Dony begitu menghinanya. Dalam hatinya pasti tidak terima, makanya dia memaksakan diri menyanggupi permintaan Dony." Andi menjaeab perlahan, lalu melanjutkan lagi, "Mentraktir semuanya paling hanya sekitar empat sampai lima jutaan. Nanti kita patungan saja untuk membantunya." "Iya, kebetulan aku juga baru saja mendapatkan uang bulanan." Johan menyetujui sambil mengangguk. Dia sangat memahami orang seperti apa Al Wani itu. "Wah, ada apa dengan Al Wani hari ini? Bukan hanya mau ikut acara, tetapi juga mau mentraktir kita semua makan? Serius atau bohongan?" Reika berseru dengan meremehkan. "Kalau kamu benar-benar mentraktir kita makan, berarti Firja harus makan k*****n," timpal Claudia. Firja adalah pria gemuk yang tadi berkata akan memakan k******n jika Al Wani yang traktir. "Tentu saja serius, bukankah cuma makan saja?" Al Wani menjawab dengan sangat tenang. Dia kemudian bertanya pada Firja "Kapan kamu mau makan k*****n di depan semua orang?" "Okelah kamu yang traktir makan, tapi tergantung pada apa yg kamu traktir juga, kan? Jangan bilang kamu mau mentraktir kami makan makanan di pinggir jalan?" ujar Firja dengan agak canggung. "Jarang-jarang Al Wani mentraktir kita makan. Menurutku, kita boleh hanya makan di pinggir jalan, minimal harus restoran mewah seperti di Hotel Star Palace. bukankah begitu?" timpal Dony. "Hotel Star Palace?" Al Wani menggelengkan kepala saat mendengar perkataan Dony. "Benar, kalau hari ini kamu traktir kami makan di Hotel Star Palace. aku akan makan k*****n di depan semua orang!" seru Firja. "Bagaimana, Al Wani? Kalau memang kamu ingin traktir, di Hotel Star Palace tidak masalah, kan?" tanya Dony. "Tidak masalah, kalau kalian mau kesana, ayo saja." Al Wani mengangguk kecil. Semuanya kembali tercengang mendengar jawaban Al Wani. Hotel Star Palace yang di sebut Dony adalah hotel bintang lima. Setidaknya akan menghabiskan uang puluhan juta jika seramai ini. Bagaimana mungkin Al Wani mampu membayarnya? "Al Wani sinting, ya? Bagaimana bisa dia mengiyakan?" Johan refleks berkomentar. Jika pergi ke restoran biasa, dia dan Andi bisa mungkin masih bisa bantu membayar. Namun, jika restorannya Star Palace, maka Johan dan Andi angkat tangan! "Tidak masalah kalau mau ke Star Palace, tapi aku punya satu permintaan." Al Wani berkata tiba-tiba. "Apa?" tanya Dony. "Kita bagi dua makan di Star Palace hari ini, bagaimana?" Al Wani tahu Dony sengaja mempersulitnya. Jika Al Wani yang kemarin, tentu saja dia tidak berani menyanggupi. Namun, bagi Al Wani yang sekarang, uang segitu tidak ada apa-apanya. Dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk membalas Dony. "Hehe, bagi dua?" Dony tertawa dingin dan mengangguk, "Oke. Kalau begitu, kita berdua yang akan membayar pengeluaran acara makan hari ini!" "Kak Dony, kamu keren!" "Oke, akhirnya bisa makan di Star Palace!" Murid-murid sontak berseru hirang mendengar ucapan Dony. Makan di Star Palace dengan orang sebanyak ini, paling hanya akan menghabiskan 80 jutaan. Kalaupun dibagi dua, paling hanya 40 jutaan seorang. Meski agak tidak rela, bukan berarti Dony tidak mampu mengeluarkan uang sebanyak itu. Sebaliknya, Dony merasa Al Wani pasti tidak mampu membayar uang 40 juta tersebut. "Al Wani, aku mau lihat bagaimana kamu membayatnya nanti." Dengan senyuman sinis di wajahnya, Dony menatap Al Wani yang sudah berjalan terlebih dahulu. Satu jam kemudian, mereka semua tiba di hotel bintang lima yang terkenal di kota Surabaya, Hotel Star Palace. Setelah memasuki hotel, satu per satu dari mereka tampak terpana. Bagaimanapun juga, sebagian dari mereka berasal dari kalangan biasa, sama sekali tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Sedsngkan Johan dan Andi, mereka mengikuti Al Wani dari belakang Al Wani dengan gelisah. "Al, kamu benar-benar punya uang untuk mentraktir?" tanya Andi dengan ragu. "Tenang saja. Tentu saja aku sudah menyiapkan uang kalau sampai berani kemari," jawab Al Wani dengan santai. "Tapi..." Andi membuka mulut hendak mengatakan sesuatu lagi. Seorang gadis cantik berseragam menghampiri dengan berseri-seri ke hadapan Al Wani dan yang lainnya. Tatapan menghina melintas di mata manager cantik itu ketika melihat Al Wani. Dia kemudian membungkukan badan pada Dony, serta berkata perlahan, "Tuan Muda, hendak makan disini?" sang manager bertanya sopan. "Ya, kami kemari untuk makan. Carikan ruangan pribadi yang sedikit luas." Ujar Dony dengan arogan. "Baik, Tuan. Di hotel kami sekarang ada ruang standar seharga 40 juta, ruang VIP seharga 85 juta, dan ruang VVIP seharga 220 juta. Anda mau ruangan yang mana?" tanya manager cantik itu dengan lembut dan senyuman sopan terpampang di wajah. Dony lalu menoleh ke Al Wani dan bertanya, "Al Wani, jarang-jarang kita ke Star Palace. Menurutku, kurang seru kalau pesan ruang standar. Bagaimana kalau kita pesan ruang VIP?" seru Dony dengan sombong. "Dony, tidakkah kamu keterlaluan? Ruang VIP minimsl harus mengeluarkan 85 juta!" seru Aryanti dengan kesal. Semuanya tahu Dony sengaja mempersulit Al Wani, jika Al Wani nekat menyanggupi, maka akan makin banyak uang yang harus di keluarkan. Namun, jika tidak menyanggupi, maka dia akan di permalukan di depan semua orang. "Apa maksudmu, Aryanti? Kakau memang dia mampu mentraktir kita makan di restoran seperti ini, maka uangnya pasti cukup. Bukankah begitu, Al Wani?" ujar Dony sambil tertawa kecil. "Kamu kira semua orang itu kaya seperti kamu?" ujar Aryanti gusar. "Al Wani, bagaimana menurutmu? Kenapa diam saja? Kamu dikagetkan dengan harga ruang VIP? Hahaha!" ejek Dony dengan lantang. "Menurutku tidak perku memesan ruang VIP" jawab Al Wani. "Hahaha. . . baiklah, maklum saja. Kamu tidak mungkin punya uang untuk mentraktir kita makan yang semahal itu. Ruangan standar saja kalau begitu," sebenarnya ucapan Dony tadi hanya untuk menghina Al Wani. Dalam hati kecilnya juga tidak ingin memesan ruang VIP, karena nantinya juga dia harus mengeluarkan uang banyak. "Berikan kami ruang standar saja," ujar Dony pada manager restoran. "Baik, akan saya aturkan sskarang juga," angguk manager cantik tersebut. "Kapan aku bilang memesan ruang standar?" Al Wani berujar tiba-tiba. "Kenapa? Merasa tempat ini mahal dan mau mengingkari janji?" tanya Dony. "Kita semua jarang-jarang datang ke sini, tidak seru kalau memesan ruang standar. Langsung ruang VVIP saja," ujar Al Wani dengan santai. Setekah mendengarkan perkatan Al Wani, Dony tercengang seketika. Senyum di wajahnya membeku. Reaksi teman-teman lainnya juga tercengang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD