Dony Dipermalukan

1513 Words
"Al, kamu sakit jiwa? Apa kamu tahu ruangan itu setidaknya perlu 220 juta lebih?" seru Aryanti sembari memelototi Al Wani. "Iya, jangan bikang kamu tidak tahu standar biaya di Hotel Star Palace?" Air muka Dony saat ini sudah berubah suram. Dia sama sekali tidak menyangka Al Wani akan memesan ruangan VVIP. Jangankan ruang VVIP, ruang VIP saja dia tidak mampu-mampu amat! Ekspresi manager cantik juga berubah. Dia tidak menyangka yang benar-benar kaya bukanlah Dony, Melainkan Al Wani yang berpenampilan sangat sederhana. Sinta mengamati Al Wani dengan kebingungan. Dia tidak mengerti kenapa Al Wani yang selalu pelit bisa berubah sedemikian rupa, seolah bukan Al Wani yang sama lagi. "Al, kamu mampu mengeluarkan uang sebanyak itu?" tanya Firja. "Tentu saja mampu, Aku malah khawatir Dony yang tidak mampu." Al Wani menjawab dengan enteng. Dony tertegun sesaat mendengar perkataan Al Wani. "Oke, bukankah hanya ruang VVIP? Mana mungkin aku tidak mampu? Kalau memang Al Wani mau, ya sudah, yang itu saja!" Dia lalu menimpali tanpa ragu-ragu. Dony benar-benar terlalu terbawa gengsinya sendiri. Dia malu mengatakan kalau dirinya tidak punya uang, jadi hanya bisa nekat mengiyakan. Manager hotel pun segera membimbing rombongan Al Wani memasuki ruangan VVIP dengan hati senang. "Al, kamu serius mau traktir kita makan disini?" nada bicara claudia pada Al Wani saat ini sudah agak berubah. Sepasang mata indahnya terus mengamati Al Wani. "Tentu saja. Pesan saja apa pun yang kalian ingin makan," jawab Al Wani. Mendengar perkataan Al Wani, mereka pun mulai memesan tanpa bepikir. Dony yang masih tidak terima, langsung memesan sebotol wine seharga dua belas juta lebih. Yang lebih mengejutkannya adalah Al Wani bahkan menambahkan sepuluh botol lagi! Itu berarti biayanya bertambah seratus lima puluh juta lebih. Ekspresi wajah Dony pun serba salah. Jelas, itu karena dia tahu uangnya tidak mungkin cukup untuk membayar semua ini. "Dony, ekspresimu kelihatan serba salah? Mulai merasa tidak rela?" Al Wani bertanya pada Dony. "Haha! Hanya seratus juta saja, enteng!" jawab Dony terbata-bata. Dia kemudian melihat ponselnya sesekali, tampak ingin mulai meminjam uang. Teman sekelas lainnya sudah tidak peduli apakah Al Wani dan Dony bisa membayar atau tidak, yang pasti bukan mereka yang akan membayar. Sinta yang duduk di sebelah Dony juga mulai serba salah. Dia tahu uang Dony tidak cukup untuk membayar semua ini. Kalau Al Wani mampu membayar pun, pasti akan menghabiskan semua uangnya. Menghabiskan semua uang demi gengsi, apakah pantas? Memikirkan hal ini, tatapan Sinta terhadap Al Wani semakin menghina. Dia merasa Al Wani seharusnya tidak perlu beradu dengan anak orang kaya seperti Dony. Bisa menang sekali pun tidak dapat mengubah kenyataan kalau Al Wani itu orang miskin. Dua jam kemudian, setelah semuanya selesai makan, teman-teman mulai menoleh kearah Al Wani dan Dony. Mereka mulai khawatir kedua orang tersebut tidak mampu membayar. Manager cantik itu menghampiri Al Wani dan Dony dengan lenggak lenggok manisnya, lalu berkata perlahan, "Bos-bos muda, biaya untuk ruangan ini adalah 220 juta, dan untuk 11 botol wine harganya 156 juta, jadi total semuanya 376 juta. Anda mau membayar dengan uang tunai atau dengan kartu?" Tiga ratus tujuh puluh enam juta? Semuanya mendesis tidak percaya ketika mendengar nominal tersebut. Mereka tidak menyangka makan-makan kali ini begitu mahal. Dony menatap manager hotel itu dengan terbengong. Totalnya 376 juta, setengahnya berarti 188 juta. Dony sama sekali tidak punya uang sebanyak itu! Di saat semuanya masih dalam keterkejutan, Al Wani menyodorkan sebuah kartu dari sakunya ke hadapan manager cantik dan berkata, "Pakai kartu!" Jawab Al Wani dengan tenang. "Ba. . . baik!" Manager cantik sepertinya tidak menyangka Al Wani akan begitu murah hati. Membayar uang sebanyak tiga ratus tujuh puluh enam juta tanpa ragu. "Namun, aku hanya membayar setengahnya saja. Sisanya akan dibayar oleh dia." Al Wani berkata sambil menunjuk Dony ketika manager cantik hendak pergi. Teman-teman lainnya pada menatap Al Wani dengan mata terbelalak, di sertai dengan ekspresi terperanjat. Mereka sungguh tidak menyangka Al Wani benar-benar membayar 188 juta tanpa berpikir dua kali. Sementara Dony, dia hanya terdiam dan berkeringat dingin di tempatnya tanpa tahu harus berbuat apa. "Baik." Manager cantik itu mengangguk kecil, lalu bertanya pada Dony, "Bos, anda mau membayar dengan uang tunai atau kartu?" Dony merasa pikirannya seketika kosong begitu mendengar pertanyaan tersebut. Meskipun dia tahu biaya makan hari ini tidak sedikit dan diam-diam sudah meminjam uang 70 jutaan dari temannya, tetapi dia tidak menduga totalnya mencapai 376 juta lebih! "A. . . Aku telpon orang dulu." Dony menjawab dengan terbata-bata, lalu mengambil ponselnya dan mulai menelpon. Sebelum kemari, tidak seorang pun dari mereka yang menyangka kalau orang yang tak mampu membayar bukanlah Al Wani, melainkan Dony. Beberapa saat kemudian, manager cantik kembali ke sisi Al Wani dan mengembalikan kartu bank nya, "Bos, pembayaran Anda sudah selesai." "Oke." Al Wani mengangguk dan langsung beranjak keluar dari ruangan. Dia tidak peduli apakah Dony mampu membayar tagihan hari ini atau bagaimana dia akan membayar. Melihat Al Wani beranjak keluar, Johan, Andy, dan Aryanti segera mengikuti. "Al, tunggu!" Johan memangil setelah keluar ruangan. "Kenapa, Johan?" Al Wani menoleh ke Johan dan bertanya dengan berseri-seri. "Kamu dapat uang dari mana sebenarnya? Apakah kamu terlalu tertekan karna putus dari Sinta?" tanya johan dengan bingung. "Ini tidak ada hubungannya dengan Sinta." Al Wani menjawab dengan tertawa kecil. Dia melanjutkan, "Aku menang lotre dua hari lalu, jadi aku punya sedikit uang." Al Wani tidak berniat membeberkan identitasnya, jadi dia pun sembarangan mencari alasan. "Ternyata begitu," Aryanti mengangguk oelan dan bertanya lagi, "Tapi, susah payah kamu menang lotre, kenapa tidak menggunakan uang ini untuk membeli pakaian yang lebih bagus atau melakukan sesuatu yang lebih bermakna? Sungguh tidak pantas dihabiskan untuk mentraktir kami semua makan." "Aku tidak berpikir sebanyak itu," jawab Al Wani. "Pantas saja kamu punya uang untuk mentraktir kita makan disini," ujar Andi. "Apakah kalian ada keperluan lain? Kalau tidak, aku mau pulang dulu," Al Wani takut dirinya akan keceplosan kalau terus mengobrol dengan mereka. "Oh, iya! Nomor Whattsapp kamu berapa? Di kelas kita ada grup Whattsapp, hanya kurang kamu seorang di dalamnya. Aku masukan kamu ke grup, ya!" ujar Aryanti mengeluarkan ponsel Iphone terbaru dari dalam sakunya. "Ehh..." Al Wani tertegun sejenak dan menjawab tak berdaya, "Ponselku yang sekarang belum bisa Whattsapp. Tunggu besok setelah aku mengganti ponsel baru, ya!" jawab Al Wani. "Oke!" Aryanti mengangguk. Al Wani lalu berjalan keluar dari hotel. Johan dan Andi ditinggal di belakang masih agak curiga. Walaupun tadi Al Wani menjelaskan kalau dia menang lotre, tapi mereka tetap merasa Al Wani yg sekarang berbeda dari Al Wani yang kemarin. Di sisi lain, Dony dan Sinta yang masih duduk di dalam ruangan sudah menelpon hampi semua temannya. Tetapi tidak satupun yang dapat meminjamkan uang padanya. Melihat Dony tidak punya uang, manager hotel langsung menyuruh petugas keamanan untuk berjaga di ruangan tersebut. "Sayang, cepatlah pikirkan solusi!" ujar sinta dengan panik sambil melihat satpam yang mengawasi mereka. "Aku akan menelpon ayahku untuk mengirimkan uang." Dony menjawab dengan tak berdaya. "Aku ke toilet dulu kalau begitu." usai berkata demikian Sinta langsung keluar ruangan. "Aku juga..." Reika dan Claudia juga takut Dony akan meminjam uang dengan mereka, jadi mereka pun ikut keluar dari ruangan. Setelah memasuki toilet, Reika mulai memperbaiki riasannya di depan cermin. Sesaat kemudian ketika mereka hendak keluar dari toilet. "Plaakk!" Saat ini seorang pria berambut pirang menepuk b****g Sinta, lalu bertanya girang. "Hei cantik. mau minum bersama kami?" Penampilan Sinta hari ini sangat seksi. Setiap pria yang normal pasti akan melirik ke arahnya. Sinta yang bokongnya ditepuk, langsung melayangkan satu tamparan pada orang tersebut, "Dasar tak tahu diri! Mau mengajakku minum? Memangnya kamu pantas?" Dia berseru sambil melotot. Sejak berpacaran dengan Dony, Sinta menjadi sangat emosional. Kejadian Al Wani hari ini membuat suasana hari Sinta menjadi buruk. Pria yang di tampar itu segera terbengong sesaat. Lalu mengumpat, "Dasar jalang! Berani-beraninya kamu menamparku?" "Aduuhh!" Belum selesai menyelesaikan umpatannya, pria itu menjerit dan menutupi area selangkangannya. Saat pria itu lengah tadi, Sinta segera menendang s**********n pria itu dengan sepatu hak tingginya. "Lain kali berhati-hatilah saat diluar. Tidak semua orang dapat kamu singgung!" Sinta berseru tanpa berekspresi, lalu segeran pergi meninggalkan toilet. "Ingin mengajak Sinta minum? Dasar berengsek! Sama menjijikan seperi Al Wani. Reika mengejek pria itu, kemudian mengikuti di belakang Sinta menjauhi toilet. "Dasar tiga wanita sialan! Awas saja kalian!" Pria berambut pirang berjongkok di lantai dengan kesakitan sambil mengumpat. Sinta dan dua sahabatnya sama sekali tidak mengindahkan gertakan pria tersebut dan langsung bergegas kembali memasuki ruangan. Sesampainya di dalam ruangan, Sinta samar-samar mendengar omelan dari ayahnya Dony. Hal ini membuat suasana ruangan menjadi sangat serius, dan tidak ada yang berani bersuara. Sinta tau suasana hati Dony saat ini sedang buruk. Jadi, dia pun tidak mengungkit tentang pelecehan yang dia alami di toilet. Sekitar setengah jam kemudian, ayah Dony tiba di hotel. Dony segera menyapa begitu melihat ayahnya, "Ayah, kamu sudah datang?" "Plak!" Pria paruh baya itu langsung melayangkan tamparan ke wajah dony dan mengomel, "Berengsek! Kamu kirs kamu itu siapa? Makan saja sampai menghabiskan 188 juta! Lihat saja bagaimana aku akan memberimu pelajaran sepulang nanti!" Teman sekelas menatap Dony dengan tak berdaya. Setelah sekian lama mengenal Dony, mereka belum pernah melihat Dony Semalang ini. Dony yang ditampar oleh sang ayah di depan pacar dan teman sekelasnya tentu merasa luar biasa malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD