RCSB 10

1535 Words
   Tak terasa kini Denis bersama teman-temannya telah lulus dari kampus yang selama kurang lebih hampir 4 tahun mereka datangi , kenangan demi kenangan terukir indah di tempat ini. "Congrats bro." Ucapan selamat terucap dibibir mereka. "Syukurlah, kita masuk bareng lulus bareng." Ucap Lintang girang. Mereka kini tengah berada di pelataran tempat wisuda yang baru saja selesai diadakan, sekalian perpisahan dengan mahasiswi-mahasiswa seangkatan. Karena mereka yakin setelah ini akan sulit untuk bersama kembali. "Beib. Minta foto." Pinta Vina kepada Denis, tak lupa menambahkan kesan manja diucapannya. "Sini." Kata Denis, anggap saja ini kado perpisahan bagi mereka. "Tolong fotoin dong." Vina menyerahkan kameranya kepada Arga, dengan setengah hati cowok itu menerimanya. Bagaikan menyelam sambil meminum air, Vina tak menyia-nyiakan kesempatan ini.  Ia meminta Arga mengambil foto sebanyak mungkin, dengan berbagai macam gaya. Gaya yang terakhir, ia dengan berani memeluk Denis dengan erat. Yang ternyata dibalas oleh Denis, sungguh Vina sangat merasa bahagia hari ini. Dan bagi Denis ini hanyalah sebuah hadiah perpisahan bagi Vina, bagaimanapun Vina pernah mengisi hatinya walau sekejap. Disisi lain, ada seorang gadis yang tengah mengepalkan tangannya menatap adegan yang menurutnya sangat mesra itu. Apalagi dilakukan di depan banyak orang. "Sabar." Ucap seseorang mencoba menenangkan. Cukup lama ia memperhatikan tingkah gadis centil itu yang tak kunjung pergi dari sisi Denis, hatinya mulai memanas. "Mau samperin?" kata orang itu lagi, gadis itu mengangguk. Mereka berdua mendekat kepada mereka yang sedang berkumpul, mata Denis dan sang gadis bertemu pandang. Denis menyentakkan tangan Vina yang bergelayut manja di lengannya "Sorry Vin." "He, kok gak ngabarin aku sih?" Kata Denis, ia sedikit kaget kenapa Diva bisa hadir di sini. Diva hanya diam, ia masih merasa kesal. "Sengaja, gue cari info dari Mami Lo tentang wisuda Lo buat kasih kejutan. Malah kita yang terkejut!" Ucap Rama yang ikutan kesal. Denis tidak tahu maksud dari ucapan Rama itu, ia malah meraih tangan Diva "Makasih udah nyempetin hadir, yuk sini aku kenalin sama temen-temen aku." Ajak Denis. "Guys, kenalin ini Diva. Pacar gue." Ucap Denis bangga. Vina menatap sinis gadis yang hanya diam di samping Denis, cih paling nasibnya sama kayak gue. Bentar lagi juga diputusin. Batin Vina. "Gue Vina, MANTAN PACAR Denis." Vina terlebih dahulu mengenalkan diri, dengan memberi tekanan pada akhir ucapannya. Mata Denis membulat, gawat! "Ehem, ralat guys ini calon istri gue!" Ucap Denis mantap. Mungkin ini salah satu cara agar Vina berhenti merecoki kehidupannya. Dan memang sudah tujuannya menjadikan Diva istrinya. Sorakan demi sorakan diterima Denis dari teman-temannya, termasuk Arga yang sudah mengetahui rencananya meski baru pertama kali bertemu dengan Diva. Sementara Diva masih dalam mode keterkejutannya, dua kali ia merasa dikejutkan hari ini. Pertama tentang Vina yang mengaku mantan pacar Denis, dan yang kedua Denis mengaku ia calon istrinya. Padahal mereka belum pernah membicarakan hal sejauh itu. "Selamat bro , selamat." Begitu ucapan yang banyak Denis terima. Vina merengut kesal, s****n. Ia lebih memilih pergi dari tempat itu. "Gak ikutan gabung?" tanya Lintang kepada Indri, yang hanya duduk disebuah bangku panjang di bawah pohon sedari tadi mengamati. Terlebih seorang gadis yang kini berada di samping Denis, jujur hatinya cemburu. Tapi ia sudah tak mempunyai hak. "Enggak, beruntung ya dia." Ucapnya. "Sudah, masih banyak pria lain yang lebih baik. Lo mending fokus sama masa depan aja." Lintang mencoba menenangkan Indri, ia tahu bahwa gadis ini sudah memaafkan Denis dan ia juga tahu rasa cinta itu tetaplah masih ada. "Makasih." "Untuk?" "Semangat yang Lo kasih!" "Sudah tugas gue menjadi penyemangat bagi gadis-gadis yang menjadi korban dari sahabat gue satu itu." Ucap Lintang, disertai gelak tawa . "Bisa aja Lo!" ***** "Makasih udah ke sini." Ucap Denis kesekian kalinya, ia pun tak hentinya mengecup tangan Diva. Tak peduli dengan Rama yang menatapnya iri, sudah seperti obat nyamuk saja batinnya. Seharusnya mengajak Devan saja, biar nasibnya tak mengenaskan seperti ini. Duduk di samping supir,dan hanya menjadi penonton kemesraan dua sejoli di jok penumpang.  Ia merutuki kebodohannya yang sama sekali tak berpaling menatap mereka lewat sepion depan. Inget tempat kali! Gerutu Rama. Selama perjalanan ke rumah Denis, Diva hanya diam. Ia sibuk dengan pikirannya. Tentang Vina, tentang kehidupan Denis di Jakarta. Mungkinkah ini yang mengganjal perasaannya tentang kesetiaan Denis selama ini? Sebaiknya ia tanyakan langsung saja nanti kepada Denis. Sepulang dari acara wisuda, Denis mengajak kedua tamunya pulang ke rumah. Sekaligus mengenalkan Diva kepada keluarganya. Karena ia anggap inilah waktu yang tepat, tak akan menunggu lama lagi. Di sisi lain, Diva tengah memikirkan bagaimana cara menanyakan kepada Denis tentang apa yang mengganjal pikirannya. Sungguh ini sangatlah tidak nyaman. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah berpagar dengan cat putih, seorang berbaju satpam membukakan gerbang lalu mobil itu melesat masuk. Mereka telah sampai di depan pintu rumah keluarga Pramudya. Denis turun terlebih dahulu, disusul Diva dan Rama. "Masuk yuk." Ucap Denis, sembari menggenggam tangan Diva yang terasa dingin. Diva merasa sangat gugup. Dengan langkah berat Diva mengikuti Denis, begitu juga Rama.  "Rama, apa kabar?" Ucap mami menyambut anak dan kedua temannya itu. "Alhamdulillah ,baik Tante." Rama menjabat tangan Mami, sudah lama sekali rasanya tak bertemu dengan Mami. "Yuk duduk, ini...?" Pandangan Mami tertuju pada gadis yang tingginya hanya sebatas pundak Denis itu. "Diva tante." Ucap Diva gugup , karena baru pertama kalinya bertemu langsung. "Iya Tante inget,Denis banyak cerita sama Tante tentang kamu, Tante jadi penasaran. Kebetulan banget kamu ke sini, selamat datang di rumah Denis. Jangan sungkan-sungkan." Ucap Mami ramah, tabiat asli dari Mami yang membuat pelanggan cafenya dulu betah dan sering kembali lagi. "B-baik Tante." "Tante tinggal dulu ya." Pamit Mami, bersamaan dengan itu Denis pun ijin ke kamar untuk mengganti bajunya. Diva mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang tamu yang ia yakini lebih besar daripada rumahnya, ia sedikit berkecil hati. Pantaskah ia bersanding dengan Denis? Celotehan balita membuat Diva menoleh ke sumber suara, ia melihat gadis kecil yang sangat cantik. "Kakak." Sapa gadis kecil itu. Diva tersenyum ramah, meraih jemari-jemari kecil yang mengulurkan tangan. "Aiyin." Ucap lidah cadelnya yang terdengar lucu dan menggemaskan. Diva mengenalkan dirinya "Kak Diva, dan ini kak Rama." "Hei anak kecil, tidur gih!" Sebuah suara menginterupsi perkenalan mereka. Denis muncul dengan sudah berganti pakaian, kaos oblong kesayangan dengan celana jeans selutut membalut tubuhnya. Airin cemberut, baru saja ia punya teman baru malah disuruh menjauh oleh kakaknya. "Teman Mas!" "Itu temen Mas , kamu sama Mami ya. Sama adek juga, jangan ganggu." Dengan berat hati Airin menjauh dari ruang tamu, mengadu kepada Mami atas perlakuan kakak kepadanya. "Kok Lo gak cerita kalau punya adik?" Denis nyengir kuda "Gue lupa, abisnya kalau ke Semarang kita asik sendiri. Jadi lupa, sorry bro." "Oh iya, keliling yuk. Mumpung di sini." Ajak Denis. Rama dan Diva sih ikut saja, toh Denis tuan rumahnya. Sebelum meninggalkan rumah, terlebih dahulu Denis pamit kepada mami. Mami sedikit kecewa, padahal kan sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Tapi terserah mereka saja, masak siang bisa buat lauk makan malam nanti. ***** Denis mengajak Diva dan Rama ke sebuah tempat perbelanjaan, panas terik siang menjelang sore ini mengurungkan niatnya untuk membawa mereka ke tempat wisata Monas dan Dufan misalnya. Terlebih dahulu mengisi perut yang keroncongan, setelah kenyang mereka melanjutkannya dengan menonton film. Rama cemberut kesal, ia hanya menjadi penonton atas kemesraan dua sejoli dihadapannya tanpa bisa melakukan apapun. Tahu begini lebih baik tadi di rumah saja. Dering ponsel mengalihkan kekesalan Rama, senyum cerah menghiasi wajahnya. "Siapa?" "Devan." "Lo di mana? Gue udah di bandara , share loc lah biar bisa naik taksi atau apa gitu." "Lo tunggu aja di sana. Setelah ini gue minta Denis buat jemput Lo." "Bagus deh kalau gitu, jangan lama-lama tapi. Nanti aku diambil orang ,hahah!" "Najis!" "Kenapa Ram?" tanya Denis. "Devan nyusul kemari, sekarang udah ada di bandara." "Ya udah, jemput." Denis mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi,seakan lupa akan trauma yang menimpanya beberapa tahun lalu. Ingin segera bertemu dengan Devan, kangen juga rasanya. Di ruang tunggu di bandara, Devan tengah duduk bersama penumpang lain yang bernasib sama seperti dirinya.  Menunggu jemputan. "Nah itu mereka." Ucap Devan saat melihat Denis, Rama, dan Diva berjalan ke arahnya. "Apa kabar?" "Baik, btw congrats bro buat kelulusannya." "Urwell, pulang yok. Lo pasti capek." Rama dan Devan menyambut senang ajakan Denis, karena memang mereka berdua sama-sama merasa capek.  Yang satu capek karena perjalanan, dan yang satu capek karena makan ati melihat Denis berpacaran. Kehadiran Devan disambut baik oleh mami, seperti menyambut Rama dan Diva tadi. Mami senang persahabatan mereka masih terjalin sampai saat ini, bahkan mungkin sampai kelak. "Kebetulan pada pulang, yuk sekalian makan malam." ajak mami yang diangguki mereka berempat. Di meja makan, kepala keluarga sudah duduk di kursinya menanti para tamunya untuk makan bersama. Daddy baru saja pulang meeting setengah jam lalu, yang membuatnya harus pulang terlebih dahulu di acara wisuda Denis pagi tadi. "Malem om." "Malem." Daddy tersenyum tipis kepada Devan yang menyapanya . Sebenarnya Devan merasa sungkan,baru saja tiba sudah ditawari makan. Mau menolak pun semakin tak enak. Daddy terlebih dahulu meninggalkan meja makan setelah selesai menyantap makan malamnya,masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. "Om tinggal dulu ya, masih ada sedikit pekerjaan yang harus om kerjakan." Pamit Daddy. "Baik om." Ucap Rama dan Devan Diva hanya melirik sekilas saat langkah daddy menjauh,orang yang ramah batin Diva. Tapi tetap saja ia merasa deg-degan. Denis menggiring kedua sahabatnya di sebuah kamar tamu, televisi dan  PlayStation tersedia di sana. Membuat Devan mengurungkan niatnya untuk beristirahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD