Tidak ada hal lain yang paling menyebalkan selain mendegar ocehan para putri feminin yang berjalan lambat di belakang mereka.
Dari awal keenam putri dan Val mendaki bukit, Rosaline dan koleganya tidak dapat berhenti mengoceh di setiap detiknya. Bahkan hal kecil sekalipun dianggap besar oleh ketiganya. Katniss tidak terlalu kaget dengan ini semua, karena ia yakin ketiga putri yang sempat menindasnya berasal dari keluarga terpandang dan berkecukupan.
Meskipun ocehan Rosaline, Ines, dan Valentine tidak terlalu terdengar, namun Val tahu bahwa ketiganya tidak nyaman selama pendakian. Alih-alih menegur, Val hanya mendiamkan mereka. Toh, sang putra mahkota pertama tidak menaruh ketertarikan pada mereka bertiga. Ia meloloskan mereka hanya sebagai penyesuaian prosedur kerajaan yang menyatakan bahwa dirinya harus memilih enam putri untuk menjadi calon tunangannya.
Mungkin Rosaline, Ines, dan Valentine adalah tiga paling terakhir di daftar ketertarikannya. Yang pasti, Val tidak akan memilih salah satu di antara mereka.
Katniss menapakkan kakinya pada undakan tanah yang tidak terlalu licin dengan susah payah, begitupun dengan Acacia dan Namira. Mereka telah mendaki bukit selama tiga puluh menit dan masih tak kunjung melihat puncak pada bukit ini.
Sekilas, bukit yang sedang diinjak mereka saat ini serupa dengan gunung. Mungkin mereka akan berpikiran bahwa bukit ini sebenarnya adalah gunung karena tingginya yang hampir mencapai ribuan kaki. Namun, mereka harus menyingkirkan pikiran tersebut karena gunung yang sebenarnya terletak di belakang bukit. Tinggi pada gunung itu bahkan mencapai lebih dari gunung tertinggi di Bumi, yaitu Gunung Everest.
Permukaan tanah pada bukit tidak securam sebelumnya, sehingga Val mengajak para calon bakal tunangannya untuk beristirahat sementara waktu. Val lebih dulu menginjak permukaan tanah yang landai karena sedaritadi dirinyalah yang menjadi pemimpin dari keenam gadis itu. Val membantu Acacia untuk naik, dilanjutkan oleh Namira.
Di saat Katniss hendak memegang tangan Val, ketiga putri feminin di belakangnya berjalan lebih dulu dan membuat gadis itu harus menggeser posisinya, membiarkan mereka untuk naik lebih dahulu darinya. Sehingga di antara semuanya, Katniss adalah yang paling terakhir untuk menginjak tanah landai.
Tangan kukuh Val kembali terulur di hadapan gadis itu. Val tersenyum manis dan menimbulkan sedikit getaran keterpanaan di dalam hatinya. Katniss balas tersenyum, menerima uluran tangan sang putra mahkota dengan lembut. Val mundur selangkah untuk menarik tubuh gadis itu untuk maju.
Katniss menunduk saat merasakan sesuatu yang licin pada tanah yang sedang diinjaknya. Ternyata, tanah tersebut sedikit basah dan membuat gadis itu hampir tergelincir jika saja Val tidak menariknya dengan cekatan. Tubuh jenjang Katniss menyentuh tubuh kukuh milik Val--jatuh ke dalam dekapan sang pemuda.
Val terdiam dengan jantung yang berdetak cepat. Jika saja dirinya tidak langsung menarik gadis yang sedang berada di dalam dekapannya saat ini, mungkin tubuh Katniss sudah terguling ke bawah sana. Sementara itu, Katniss sendiri berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang berdebar cepat. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berada dalam posisi sedekat ini dengan seorang pemuda.
Ini merupakan kali pertamanya ia jatuh ke dalam dekapan seseorang yang asing untuknya.
Katniss lantas menarik diri. Dari balik bahu Val, ia dapat melihat tiga pasang mata yang lebar memandang ke arahnya dengan beringas. Siapa lagi jika bukan milik Rosaline dan kedua koleganya?
"Terima kasih, Yang Mulia," bisiknya, membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan pemuda yang derajatnya lebih tinggi darinya.
Val menunduk untuk menatap gadis itu. Ia tersenyum dan berkata, "Sama-sama, Lady Katniss. Lain kali, berhati-hatilah."
Rosaline berdecak kesal, "Kenapa, sih, kita harus mendaki bukit ini? Bukankah putri seharusnya anggun? Ini bukan etika yang anggun sama sekali!"
Val menghela napasnya gusar. "Lady Rosaline, alangkah baiknya jika kau mengetahui ini. Menjadi seorang putri tidak harus sepenuhnya anggun. Para putri juga harus tangguh untuk membela dirinya sendiri dari ancaman apapun," balasnya, memandang Rosaline, Ines, dan Valentine secara bergantian.
Mereka bertiga menunduk malu. Apapun yang dikatakan oleh Val adalah kebenaran, namun hanya saja mereka tidak terbiasa dalam mendaki semacam ini. Udara dingin yang menguar di sekeliling bukit tidaklah berdampak banyak untuk suhu tubuh mereka, alih-alih keringat mulai mencuat satu-persatu dari ubun-ubun kepala.
"Kurasa pangeran tidak akan memilih mereka," bisik Acacia, tepat di depan telinga Katniss.
Katniss hanya tersenyum kecil, melemparkan pandangannya ke arah Namira yang sedang mengedarkan pandangan ke arah pepohonan yang berada di sekeliling mereka. "Namira, kau tidak lelah?" tanyanya.
Namira melebarkan senyuman dan menggeleng beberapa kali. "Ayahku adalah seorang pecinta alam dan beliau sering mengajak kami untuk ikut bersamanya," gadis itu terlihat sedang bernostalgia, "jadi hobinya sangat membantu untukku di sini, Lady Katniss."
Angin berembus bagaikan sebuah bisikan setan dari arah utara pepohonan, disertai dengan adanya sebuah suara yang terdengar ganjil di telinga mereka. Suara itu menyerupai logam yang saling bergesek. Mengingat mereka saat ini hampir mencapai bukit dan hal ini tidak memungkinkan adanya orang lain di sekitar mereka, Val menemukan sebuah kejanggalan. Lagipula, tidak ada logam yang terlihat selama mereka melakukan pendakian.
"Tetaplah beristirahat di sini. Aku akan memeriksa keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada marabahaya untuk melanjutkan perjalanan kita setelah ini."
Batang hidung pemuda itu tidak lagi terlihat setelah ditelan oleh bayangan hitam yang ada di sekitar pepohonan. Keenam gadis itu tidak ada yang bersuara sembari menunggu kedatangan sang putra mahkota kembali. Lima belas menit berlalu dan masih tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu akan kembali dalam waktu singkat.
"Argh! Serangga s****n! Kenapa ada hewan hina semacam mereka di sini?!" Ines memukul permukaan lengannya yang sedikit merah beberapa kali, sementara kedua koleganya menggaruk tengkuk dan bagian kulit tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai kain apapun.
"Pergi kau! Pergi!" gertak Rosaline, mengibaskan satu tangannya untuk mengusir serangga-serangga kecil yang ingin mengisap darah di balik kulit dan dagingnya.
"Dia lama sekali, sih!" timpal Valentine, mengacak rambutnya dengan gemas.
"Bisakah kalian tenang sedikit?" Acacia bersungut kesal, "Berhentilah mengeluh karena keluhan kalian hanya memperburuk keadaan, tahu!"
Ines melebarkan sepasang matanya dan memandang Acacia beringas. "Bagaimana kami bisa tenang, sementara serangga-serangga hina ini terus berusaha untuk menggigitku?!"
Saat Acacia hendak membalas, Namira menghentikan perselisihan antara mereka. "Lady Acacia, sebaiknya kita mulai mencari Pangeran Val sekarang. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres karena ia tak kunjung kembali."
Acacia menghela napasnya dan mengangguk. "Aku satu pendapat denganmu. Ayo, kita cari dia. Katniss, kau ikut?"
Katniss mengerjap beberapa kali, beringsut bangkit dari atas tanah, "Oh, tentu. Untuk mengurangi waktu, lebih baik kita berpencar saja."
Sambil menggaruk tengkuknya, Valentine bertanya, "Kalian mau ke mana?"
"Mencari pangeran," Katniss menjawab, "sebaiknya kalian tetap di sini agar ia tidak bingung melihat kita semua pergi dari tempat ini."
"Siapa yang mengatakan bahwa kami ingin ikut dengan kalian, huh?" Rosaline bersedekap dan tersenyum remeh, "sudah, sana. Pergi dan temukan pangeran secepatnya. Aku benci tempat ini dan ingin cepat-cepat pulang. Pastikan kalian kembali tanpa tangan kosong!"
Ucapan Rosaline bagaikan titahan untuk ketiga gadis itu. Katniss menghela napas dan mulai berjalan untuk menghindar dari perselisihan. Saat Katniss, Acacia, dan Namira telah masuk ke dalam pepohonan, samar-samar terdengar keluhan lain dari arah ketiga putri lawan mainnya.
"Akan jauh lebih baik jika mereka diam," dengus Acacia.
Katniss tertawa kecil, "Sudahlah, Acacia. Tidak ada pentingnya untuk mengurus mereka. Ayo, berpencar. Teriak saja jika salah satu dari kita melihat pangeran."
"Baiklah. Tetap hati-hati."
Katniss, Acacia, dan Namira mulai berpencar sesuai dengan posisi yang telah ditetapkan oleh ketiga gadis itu. Katniss berjalan menelusuri pepohonan dengan jantung yang berdebar sedikit cepat dari sebelumnya. Keheningan yang meliputi pepohonan ini sungguh membuatnya merinding tak karuan, terlebih angin yang berembus masih tetap terdengar bagaikan bisikan setan untuknya.
Pepohonan-pepohonan itu berdiri dengan rapi dan menyisakan jarak yang cukup lebar untuk dilalui oleh gadis itu, mungkin sedikit lebih kecil dari setapak jalan yang seharusnya. Selain embusan angin dan ranting yang saling bertegur sapa, Katniss tidak mendengar apapun. Tanda-tanda keberadaan Val sama sekali tidak terdeteksi. Pemuda itu seakan-akan hilang dari peradaban.
Setelah beberapa lama menelusuri pepohonan tanpa adanya satu pun suara, bunyi ranting yang patah terdengar tak jauh dari posisinya melangkah. Katniss mulai berjalan mendekat, berharap dirinya akan menemukan Val atau setidaknya, bukan sesuatu yang bersifat mengerikan. Langkah kakinya mulai ia percepat walaupun sedikit sulit karena banyaknya patahan ranting yang berada di atas tanah.
"Yang Mulia?" panggil Katniss.
Katniss mengintip dari balik salah satu pohon, menemukan dua sosok yang wajahnya tersamarkan akibat bayangan dari dedaunan pada pepohonan. Ia berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas, kemudian mulutnya tercengang. Rahangnya seolah-olah ingin jatuh saat itu juga. Gadis itu lantas membungkam mulutnya dengan tangan untuk menahan pekik yang hendak keluar dari bibirnya.
Tubuh Val bersandar pada salah satu batang pohon. Ia tampak rapuh dan penuh torehan luka pada bagian wajah dan tubuhnya. Sepasang matanya berpejam seiring dengan kesadarannya yang mulai menipis. Di depan tubuh Val, terdapat sang adik yang tengah berdiri di antara kedua kakinya.
Katniss menurunkan pandangannya ke arah tangan Cal yang sedang menggenggam sesuatu yang berkilat dan penuh darah. Ia cukup yakin bahwasanya noda darah pada benda yang berkilat tajam itu berasal dari tubuh Val yang bersimbah darah. Ujungnya yang lancip pada belati membuat Katniss menatap sang pemegang.
"Kau melukainya," tuding Katniss.
Persetan dengan tata krama jika sosok yang sedang menjadi lawan bicaranya itu tidak memiliki rasa kemanusiaan terhadap kakaknya sendiri. Katniss benci untuk menuduh orang secara sembarangan, namun setelah melihat Cal berdiri dengan tatapan kosong sambil memegang belati di tangannya, mau tidak mau membuat tudingan itu meluncur dari bibirnya tanpa ia kendalikan sedikitpun.
Cal menoleh, "Bukan aku yang melukainya."
"Jangan mengelak!" balas gadis itu, mundur selangkah ketika Cal menjatuhkan belati di atas tanah dan berjalan mendekatinya.
Langkah Katniss tertahan akibat batang pohon yang menghalaunya untuk kembali mundur. Senyuman menyebalkan terukir di bibir Cal. Saat ujung jemari kaki mereka saling bersentuhan--dengan jarak yang begitu dekat hingga Katniss dapat merasakan napas pemuda itu menyentuh pipinya, Cal menunduk dan mendekatkan bibirnya di telinga gadis itu. Tangan kirinya menyentuh batang pohon yang ada di belakang Katniss untuk mengunci pergerakan seorang gadis yang baru saja menudingnya tanpa tata krama sedikitpun.
Cal mendesis, "Jika aku benar-benar pelakunya, lantas mengapa aku tidak pernah melakukannya sejak awal? Pikirkan itu, Katniss."
Sang putra mahkota kedua itu melengos pergi untuk meninggalkan Katniss bersama sang kakak yang kesadarannya semakin menipis dimakan waktu. "Tunggu!" Katniss menyusul dan menahan lengan pemuda itu, memandangnya tepat pada manik mata hitamnya.
Cal menurunkan pandangannya ke arah lengan yang sedang ditahan oleh Katniss, secara tidak langsung memerintahkan gadis itu untuk melepaskan tangannya dari miliknya. Katniss menurut dan mundur selangkah untuk menciptakan jarak di antara keduanya.
"Kakakmu. Kau tidak berniat menolongnya?" tanyanya.
Cal mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum miring. "Kau baru saja menuduhku melakukan hal sekeji itu padanya dan sekarang kau malah bertanya apakah aku berniat untuk menolong kakakku? Apa yang kau inginkan, Katniss?"
Katniss terdiam, tidak tahu apa jawaban yang tepat untuk membalas Cal. Ia ingin meminta maaf karena telah menuding pemuda itu dengan senonohnya, namun di sisi lain, ia terlalu gengsi untuk melakukannya. Lagipula, Katniss tahu Cal tidak akan mempermasalahkan ini semua karena sikap pemuda itu yang terlampau apatis.
Cal mendengus dan mulai mendekati sang kakak. Val membuka sedikit matanya untuk menatap sang adik, tetapi tidak ada satupun kata yang terlontar dari bibirnya. Cal mulai membantu Val untuk berdiri dan membopong tubuh pemuda itu. Katniss menghampiri kakak beradik itu, kemudian ikut membopong Val di sisi yang lain.
Di lubuk hati Cal yang terdalam, dirinya tidak mampu menahan luapan amarahnya. Mereka tidak lagi bermain-main dengan ucapan mereka. Klan Rogue, suatu hari nanti, aku bersumpah akan melangkahi mayat kelompok b******n semacam kalian.[]