Katniss tidak tahu cara mengekspresikan dirinya saat mendengar bahwa ia dan Acacia lolos seleksi dan masuk ke dalam sesi ketiga. Di sampingnya, Acacia mencengkram lengan Katniss dengan kuku panjangnya sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan pekikan. Katniss sendiri berusaha untuk melepaskan cengkraman Acacia dari lengannya karena tidak mau kuku panjangnya menembus permukaan kulitnya.
Val mengumumkan bahwa sesi ketiga tidak akan dilakukan di Istana Regalis, melainkan di sebuah bukit yang terletak di bagian utara istana. Setelah itu, mereka dipersilakan untuk kembali ke kamar masing-masing dan mengistirahatkan diri mereka.
Sepanjang perjalanan menuju kamar asrama mereka, Acacia masih berusaha mati-matian untuk tetap tenang meskipun wajahnya tidak mampu menyembunyikan raut berseri-seri. Katniss hanya bisa menghela napas karena mengingat sesi ketiga yang akan mereka lakukan di keesokan harinya. Bukan tanpa alasan-hanya saja, ia akan kembali berhadapan dengan Rosaline Garrett.
Sejak awal, Rosaline secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Katniss dan Acacia--entah kesalahan apa yang pernah mereka perbuat. Di lain sisi, Namira tampak menerima mereka dengan tangan terbuka. Begitu Val mengumumkan siapa yang lolos seleksi beberapa menit yang lalu, Namira berlalu dari Rosaline dan langsung memeluk Katniss dan Acacia secara bersamaan.
Ketika Katniss dan Acacia tiba di kamar asrama mereka, Acacia langsung menjatuhkan diri di atas kasur dan membenamkan kepalanya di bawah bantal. Satu detik kemudian, terdengar pekikan yang terendam suara di dalam sana. Katniss tertawa geli melihat tingkah gadis itu dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan membenahkan penampilannya yang sedikit berantakan.
"Hanya tinggal dua langkah untuk mendapatkan hati putra mahkota, Katniss!" sorak Acacia, merengkuh gulingnya dengan sangat erat.
"Ayolah, Cia." Katniss terkekeh, "Kau sudah mengatakannya sebanyak ratusan kali, tahu."
Acacia menatap Katniss. "Kenapa kau tidak menyukai Val sama sekali, sih? Maksudku--oh! Ayolah, dia benar-benar idaman para wanita!"
Katniss bergerak mendekati kasur dan duduk di atasnya. Semerbak aroma alyssum kembali menguar saat gadis itu mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. "Aku masih hanya sebatas kagum dengan Val. Aku tidak ingin jatuh terlebih dahulu sebelum waktunya tiba," balasnya.
Acacia menyengir, "Terserah kau saja, Kat. Seperti kata mereka, kau memang berbeda."
"Mereka?"
"Kau cukup terkenal di Desa Southill. Katniss Groover, si bunga desa yang berasal dari Desa Northill." Katniss meringis ketika mendengarnya. Sungguh, julukan itu terlalu berlebihan untuk dilekatkan padanya.
"Jangan hiraukan mereka. Mereka sangat berlebihan."
Acacia menggeleng, "Oh! Tidak, Katniss. Awalnya, aku memang berpikir demikian. Tetapi, setelah aku mengenalmu, kupikir apa yang dikatakan mereka adalah sebuah kebenaran."
Katniss mengerutkan dahinya heran. "Memangnya apa yang dikatakan oleh mereka?" tanyanya.
Lawan bicaranya menggerakkan jari telunjuknya di depan mata. "Kau telah mematahkan hati sekitar dua puluh pemuda dari berbagai tingkatan sosial dengan alasan kau sama sekali tidak tertarik dengan mereka, Katniss."
Katniss lantas menepuk dahinya saat itu juga.
*
Setelah selama beberapa hari dirinya kalah cepat bangun dari Acacia, akhirnya Katniss dapat bangun lebih awal dari gadis pirang itu. Sebenarnya, jika Katniss tidak terjaga dari tengah malam hingga dini hari, ia pasti masih tetap melekat dengan kasur--sayangnya, terlalu banyak pikiran yang berkesinambungan dan tidak dapat Katniss tepis satu-persatu. Salah satunya adalah sesi ketiga pada pagi ini.
Katniss tidak pernah berpikir sekalipun bahwa dirinya berhasil masuk hingga ke sesi ketiga. Jika sesi ketiga kali ini dapat dirinya dan Acacia tempuh, secara otomatis pada sesi keempat, ia akan bersaing dengan Acacia dan lainnya. Katniss berpikir, gadis bermata hijau itu tidak akan seimbang dengan lawan mainnya. Maksudnya--ayolah, dirinya tidak memiliki potensi sama sekali untuk menjadi seorang putri, apalagi ratu!
Katniss menendang kerikil yang ada di depan matanya dengan pelan selama ia berkeliling istana untuk kesekian kalinya. Gadis itu tidak lagi mengenakan piamanya, melainkan hanya mengenakan pakaian santai yang ia dapatkan dari almari. Celana panjangnya mencapai semata kaki, tampak sedikit kebesaran untuk seukuran tubuh rampingnya. Tetapi, ia sangat mengapresiasi siapapun yang telah membuat pakaian senyaman ini untuk mereka semua.
Sepasang mata hijau gadis itu memicing saat melihat tiga sosok yang tidak asing baginya berjalan mendekati. Katniss membasahi permukaan bibirnya dan berhenti. Tatapannya menajam pada ketiga sosok tersebut. Rosaline Garrett, si gadis bermata ungu yang secara terang-terangan tidak menyukainya; Valentine Grant, si gadis bermata merah yang memiliki sikap keangkuhan yang tidak jauh beda dengan ibu dari Cal, Ratu Cassiopeia, dan; Ines Beauregard, si gadis bermata biru dengan tatapan sinis yang melekat pada dirinya.
Katniss tidak terlalu kaget melihat Rosaline yang berasal dari Planet Neptunus dapat bergaul dengan Valentine dan Ines yang berasal dari Planet Jupiter. Secara, mereka bertiga memiliki sifat yang tidak jauh beda antara satu sama lain. Hobi ketiganya adalah merendahkan orang-orang yang terlihat kecil dan hina di mata mereka. Selain itu, mengenakan topeng di depan keluarga berdarah biru demi mendapatkan perhatian adalah kebiasaan rutin mereka selama beberapa hari terakhir.
Ines melingkarkan helaian pirang kecokelatannya menggunakan jari telunjuk dan memajukan bibirnya. "Ah. Ada tikus got kecil di depan kita. Lebih baik kita apakan, ya?" tanyanya, melemparkan tatapannya pada kedua koleganya.
Rosaline terlihat menahan tawa, "Percayalah, Ines. Tikus got kecil ini akan menangis jika kita melakukan sesuatu padanya. Ingat, tikus got tidak suka disudutkan."
"Sebenarnya, aku tidak pernah melihat tikus got menangis," Valentine bersedekap dan ikut menimpal ucapan Rosaline, "dan aku sangat menantinya."
Katniss mendesah berat, "Apa mau kalian?"
"Kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa, hm?" tanya Rosaline, mendekatkan dirinya hingga jarak kedua gadis itu hanya tinggal beberapa senti.
Katniss masih tetap berusaha untuk bersabar. Ia tidak sekalipun membiarkan harga dirinya diturunkan oleh mereka bertiga. "Aku sedang berbicara dengan seorang gadis hina semacam kalian yang hanya mengenakan topeng di depan raja, ratu, dan kedua putra mahkota," balas Katniss, mantap.
Tidak ada ekspresi ketakutan dari gadis berambut hitam itu, alih-alih ekspresinya lebih cenderung ke arah sebuah tantangan untuk ketiga calon bakal tersebut. Merasa harga diri ketiga gadis itu dihina oleh Katniss, Rosaline langsung mengangkat tangannya di udara dan hendak menampar gadis itu. Katniss langsung berpejam, menunggu tangan kotor itu mendarat pada pipinya, namun itu semua tidak kunjung terjadi. Yang ia dapatkan hanyalah keheningan.
"Inikah ketiga calon tunangan dari kakak saya yang sebenarnya?"
Katniss membuka sepasang matanya dan menemukan seorang pemuda yang sedang menahan tangan Rosaline. Ketiga gadis itu tampak syok dengan kehadiran sang putra mahkota kedua. Rosaline lantas menurunkan tangannya dan menghadap ke arah Cal, begitupun Valentine dan Ines. Ketiganya menyapa pemuda itu di saat yang bersamaan, "S-Selamat pagi, Pangeran."
Cal menatap datar ke arah mereka, "Jika saya melihat Anda melakukan hal tabu seperti ini sekali lagi, saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan hal ini kepada kakak saya. Ini berlaku teruntuk siapapun. Mengerti?"
"M-Mengerti, Pangeran." Ketiga gadis itu menunduk dalam. Ines menyiku lengan Valentine, membuat gadis itu lantas mengangkat suara, "Kami izin undur diri, Yang Mulia."
Setelah itu, Rosaline, Valentine, dan Ines tidak lagi terlihat batang hidungnya. Cal berbalik menghadap Katniss dan langsung melengos pergi sebelum Katniss mengatakan apapun. Dari kejauhan, Cal dapat mendengar ucapan terima kasih dari gadis itu-gadis yang selama beberapa waktu ini membuat pikirannya dilanda oleh kebingungan.
*
Ketika para keenam calon telah berkumpul di satu titik, sebuah kereta kuda berukuran besar tiba di sayap utara istana. Mereka dipersilakan untuk masuk terlebih dahulu dan duduk di dalam sana selama menunggu Val yang sedang melakukan persiapan untuk perjalanan menuju bukit. Rosaline, Valentine, dan Ines terus mengoceh karena menurut mereka, pergi ke bukit adalah hal yang menguras waktu dan tenaga di saat yang bersamaan.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Val tiba dengan pakaian yang terlihat berbeda dari apa yang ia kenakan sebelumnya. Kali ini, pemuda itu tidak mengenakan pakaian formal. Sebuah jaket putih telah melekat di tubuhnya. Di punggungnya, terdapat sebuah tas ransel besar. Kedatangan Val menimbulkan keterpanaan dari para calon tunangannya, terkecuali Katniss.
Gadis itu memang menaruh kagum terhadap seorang Val, tetapi ia tidak menunjukkan secara terang-terangan seperti apa yang dilakukan oleh Acacia dan lainnya, terutama Rosaline, Valentine, dan Ines. Baiklah, reaksi Acacia dan Namira mungkin masih berada di batas normal. Tetapi, reaksi ketiga gadis yang sempat menyudutkannya pagi itu--sangatlah di luar batas. Mereka bertiga saling menyiku satu sama lain, menahan pekikan, dan melakukan hal-hal yang terlihat memalukan di depan Val.
Kereta kuda mulai melaju meninggalkan istana. Di depan mereka, terdapat sebuah bukit yang terlihat besar. Awalnya, Katniss berpikir jarak antara istana dengan bukit hanya sekitar beberapa kilometer, namun hingga satu jam kedepan, mereka tidak kunjung tiba di sana. Kereta kuda melewati pepohonan-pepohonan pinus yang terlihat tak memiliki penghujung. Mereka seperti melewati jalur yang sama sedaritadi.
Selama dalam perjalanan, Val bercengkrama dengan keenam gadis itu tanpa membedakan mereka sama sekali. Mereka dipersilakan untuk bertanya apapun kepada pemuda itu. Acacia segera bertanya ketika mendapatkan peluang tersebut, "Pangeran, kenapa Anda memilih bukit sebagai arena pelaksana sesi ketiga?"
Val tersenyum ramah, "Sesi ketiga tidak seperti kedua sesi sebelumnya, Lady Acacia. Kebersamaan. Itulah tujuanku, dan dari itupula aku dapat mengenal kalian semua lebih dekat lagi."
Acacia mengangguk paham. Valentine kini mengangkat suara, "Apa yang akan kita lakukan di sana?"
"Mendaki bukit dan melakukan hal menyenangkan lainnya, Lady Valentine."
Di samping gadis berambut merah itu, Rosaline dan Ines mengeluh. Mereka segera berbisik pada Valentine, "Pasti akan terasa panas."
Val mendengarnya, tetapi tidak mengatakan apapun.
Penghujung mulai terlihat di depan sana, bersamaan dengan adanya angin yang mulai berembus kencang. Suhu udara di bukit tidak seperti apa yang dipikirkan Rosaline, Valentine, dan Ines sebelumnya. Tidak ada panas, alih-alih dingin yang menyertai mereka. Pantas saja Val mengenakan jaket untuk membungkus tubuhnya. Namun, suhu dingin tidak mengurangi keluhan ketiga gadis itu.
Sebenarnya mau mereka apa, sih? batin Katniss, malas.
Val adalah yang paling pertama turun dari kereta kuda. Pemuda itu mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu keenam gadis itu turun. Katniss memilih untuk turun paling akhir. Saat tangannya dan tangan Val telah bersentuhan, ia segera turun dari atas kereta kuda atas bantuan dari pemuda itu dan menapak pada tanah.
Dengan tangan yang masih menggenggam milik Val, gadis itu mengedarkan pandangan ke arah sekitar dan menemukan panorama yang sangat indah membentang luas di depan sana. Udara dingin menyambut kedatangan mereka dengan lembut. Val tersenyum dan bergerak maju, membuat Katniss tersadar dan lantas melepaskan tangannya dari sang putra mahkota pertama. "M-Maaf, Pangeran. Dan terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama, Lady."
Tanpa berpikir lama, mereka lantas bersiap untuk mendaki bukit yang kini berada tepat di depan mata mereka.[]