Nugra menatap kepergian Maira dengan sedih,rasa bersalah tentu menghantui pikirannya. Ia sudah banyak menyakiti Maira, wanita itu sama sekali tidak tahu apa-apa. Harusnya ia bertahan saja, hingga semua tidak berakhir seperti ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur, tinggal menikmatinya saja, karena penyesalan tidak akan mengembalikan semua, tapi, setidaknya akan membuatnya belajar menajdi lebih baik lagi. Ia tersenyum tipis saat melihat mobil Maira dan suaminya pergi meninggalkan parkiran. Nugra segera menyadarkan lamunannya, ia pun membeli obat untuk salah satu temannya yang sedang sakit kepala. “Nugra!” “Iya, pak.” Nugra menyeka keringat dan menghampiri sang manager. “Ini…kamu yang tangani, ya? Adayang lecet, nih.” “Hah?”Nugra terkejut.”LEcet, pak, apa sebelumnya tidak lecet?

