Bab 10

1062 Words
"Pede abis!" Maira mengerucutkan bibirnya. "Ya iya, siapa tahu kalau pas kamu sudah suka sama aku, akunya udah nggak suka, soalnya kamu keseringan cuek sama aku,"ucapnya lagi dengan datar. Maira mengabaikan ucapan Ryu, kemudian fokus pada film. Anggap saja Ryu sedang bicara dengan tembok, tidak perlu begitu ditanggapi apa lagi pembahasannya juga masih sama seperti kemarin. Ia bisa menerima Ryu, tapi, ia butuh waktu. Memang tidak adil menyamaratakan semua pria dengan Nugra, tapi, Maira benar-benar butuh waktu. "Aku udah memutuskan untuk tinggal di kota ini, Maira." "Hah?" Maira terperanjat. "Iya aku mau tinggal di kota ini, biar dekat sama kamu. Aku udah suruh orang itu bersihkan apartemenku." Maira menatap Ryu heran."Katanya kamu pengangguran, kok punya apartemen sih?" Ryu hanya bisa cengengesan,"punya Papa kok." "Seniat itu, Ryu...masa demi aku kamu itu sampai pindah ke sini sih. Kasihan lah Mama kamu sendiri di sana?" Ryu meletakkan jari telunjuknya ke bibir Maira."Biar itu jadi urusanku, sayang. Kita nonton aja ya." "Ish!"kata Maira kesal dipanggil sayang, ia pun menyedot minuman dan fokus pada film.    **   Sore ini Maira pulang dari kantor. Ia menenteng tasnya dengan wajah lelah. Baru saja ia menaiki anak tangga, ia mendengar ada suara-suara laki-laki sedang ngobrol di teras samping. Awalnya ia berpikir kalau itu adalah Danan dan Hermawan. Tapi, dari bayangan tirai jendela, ia melihat ada beberapa orang di sana. Penasaran, Maira mengurungkan niatnya untuk langsung ke kamar, ia berjalan perlahan mendekati jendela. Disibaknya sedikit, ia menganga melihat ada Nugra di sana. Ia cepat-cepat menutup tirai, mengatur detak jantungnya. Nugra, Danan, dan Hermawan sedang berdiskusi sesuatu. Maira ingin tahu apa yang dibicarakan, tapi, tidak mungkin ia muncul begitu saja. Lama sekali Maira berdiri di sana, mengatur hatinya yang masih tidak karuan, antara penasaran dan juga rasa sakit yang masih menggelenyar di dalam hatinya. Ia tidak menyadari kalau Danan masuk dan kemudian memergokinya yang berdiri di dekat jendela. "Maira?"ucap Danan pelan. Maira menatap Danan dengan nanar, meminta penjelasan mengapa ada Nugra di sini. "Kak,"kata Maira tercekat. Danan meraih tangan Maira dan membawa gadis itu ke ruang tengah,"kenapa kamu di sini? Masuk sana." "Kak, itu Nugra kan?" Danan mengangguk."Iya." "Ngapain dia ke sini?" Danan terdiam, bingung bagaimana dan dari mana ia harus menjelaskan. Tapi, rasanya ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskan. "Mai, nanti kita jelaskan. Jangan sekarang..." "Nan, kok lama banget!" Hermawan masuk mencari Danan yang tadinya ia suruh ambilkan sesuatu. Melihat Maira, langkah pria itu melambat. Mereka seperti sedang kepergok setelah melakukan tindakan kriminal. "Ngapain Nugra ke sini, Pa?" Hati Maira panas sekali melihat pria itu ada di sini lagi, ia mulai curiga jangan-jangan Nugra mulai merayu Hermawan untuk menjodohkannya lagi. "Sudah...sudah kamu masuk dulu sana. Nanti papa jelaskan ya." Hermawan mendorong Maira masuk, tapi, Maira berkeras hati ingin mengusir Nugra. "Maira..." Danan menenangkan gadis itu,"ya udah, Om, Danan bawa Maira ke kamar aja. Yuk, Mai, Kakak janji, nanti kakak jelaskan semuanya sampai tuntas." "Papa nggak lagi merencanakan sesuatu untuk menjodohkan Maira sama Nugra lagi, kan, Pa?"tatap Maira sedih. "Nggak." Hermawan tersenyum, kemudian ia pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil sesuatu. "Kak!" Maira menghentikan langkahnya setelah mereka ada di depan kamar. Ditatapnya Danan dengan tajam, ia tetap ingin jawabannya sekarang. Danan menarik napas berat, ia tidak bisa menerima tatapan seperti itu, akhirnya ia menarik Maira ke dalam kamar. Mereka berdua duduk di sisi tempat tidur."Oke..." Maira naik ke atas tempat tidur, duduk bersila sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kasur."Silahkan kakak cerita semuanya. Aku nggak mau ada yang disembunyikan, please, Kak, aku nggak mau ada Nugra di kehidupan kita lagi." Danan menarik napas panjang lagi, mengeluarkannya perlahan."Jadi, Mai...sebenarnya perjodohan kamu dengan Nugra adalah karena bisnis. Ya...semacam pernikahan bisnis seperti itu." Hati Maira langsung teriris."Jadi, maksud kakak...sebenarnya Nugra nggak cinta sama aku, dia maksa karena hanya untuk urusan bisnis?" "Kakak nggak bilang begitu, masalah perasaan dia ke kamu, kakak nggak tahu apakah dia beneran cinta atau nggak. Tapi, awal perjodohan kalian itu adalah untuk urusan bisnis. Sebenarnya papa pengen banget kamu nikah, Mai,kamu anak satu-satunya ...satu hal yang tidak pernah kamu tahu adalah Papa pengen cucu, tapi, dia nggak pernah berani bilang karena...memang nggak mau maksa kamu juga. Nah, di saat kegundahan itu ada satu teman Papa yang memberikan penawaran segar, yaitu menjodohkan anak mereka dan kerja sama bisnis." Maira memejamkan matanya, setelah setahun berlalu, ternyata masih banyak kenyataan pahit yang harus ia terima."Oke...terus?" "Kerjasama disetujui kalau Nugra berhasil ambil hati kamu, atau berhasil membuat kamu menerimanya. Pada akhirnya kamu nerima Nugra..." "Karena dipaksa,"potong Maira cepat. "Yang penting saat itu kamu setuju menikah sama Nugra, hingga perjanjian bisnis pun ditanda tangani, sepakat, lalu dijalankan. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain, hati Nugra berpaling dan kalian gagal menikah. Tidak ada pembelaan dari orangtua Nugra, hanya awalnya saja mereka tidak setuju atas gagalnya pernikahan kalian. Lama kelamaan...mereka santai saja, tanpa merasa bersalah, karena...kepentingan mereka sudah didapat. Tidak menikah tidak apa-apa yang penting mereka sudah dapat apa yang mereka mau." "Jahat!" Maira menangis, ia tidak menyangka di balik sikap manis Mama Nugra, ternyata memiliki kelicikan, semuanya palsu, hanya untuk mengambil kepentingan pribadi."Terus...kenapa sekarang di manusia nggak tahu malu itu ada di sini? Bukannya mereka udah dapat apa yang mereka mau?" "Nah, itu dia masalahnya." Danan tersenyum penuh arti."Mereka tidak memperhatikan isi surat perjanjiannya dengan detail, mungkin saking senangnya." Maira melirik Danan, sepertinya ia mencium aroma karma di sini. "Apa itu, Kak?" "Mereka tidak baca kalau perjanjian itu hanya setahun saja, Mai, setahun kan sudah lewat. Perjanjian selesai, Papa sudah memutuskan untuk nggak melanjutkan kerja sama ini lagi. So, sekarang perusahaan mereka terkena masalah keuangan, mereka pikir permainan ini berlangsung lima atau sepuluh tahun, makanya mereka tidak memikirkan setiap langkah yang mereka ambil." Maira mengangguk-angguk mengerti. "Sekarang, Nugra datang untuk meminta perjanjian diperpanjang, tapi, Papa nggak mau. Ya, kita sedang bahas ini aja sih, Mai,"kata Danan mengakhiri cerita. "Oke." Maira menghapus air matanya."Aku nggak mau dengar apa pun lagi soal Nugra." Danan mengusap puncak kepala Maira. Ia cukup lega karena tanggapan Maira tidak seperti yang ia pikirkan."Ya sudah, kamu istirahat. Kakak urus Nugra dulu ya." Pria itu segera meninggalkan Maira dan kembali menemui Hermawan.   ** Maira menutup laptopnya dengan mata yang lelah. Sudah jam pulang kerja, tapi ia sengaja menunda kepulangannya satu jam. Ia sedikit tidak bersemangat hari ini, semalam ia tidak bisa tidur karena mengenang kisahnya dengan Nugra. Terdengar menjijikkan, tapi, begitulah faktanya. Melupakan masa lalu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Andai sejak awal ia tahu ini hanyalah pernikahan bisnis, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya sejatuh itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD