Pintu ruangan Maira terbuka, wanita itu kaget karena di sini harusnya sudah tidak ada siapa-siapa.
“Ryu..."
"Ah, syukurlah kamu di sini. Aku khawatir, sayang,"peluknya manja.
Maira tertawa geli."Aku di kantor, tentu saja tidak akan ada apa-apa karena ada satpam kan?"
Ryu tidak puas mendapat jawaban itu dari Maira, sebab, ia sudah tahu semua akar permasalahan keluarga Hermawan dan keluarga Santono. Saat ini, mungkin Maira akan menjadi sasaran atas kekecewaan keluarga Santono. Oleh karena itu ia harus selalu mengawasi Maira, ia tidak ingin pria dari masa lalu wanita itu kembali hadir dan mengganggu kehidupan wanita yang ia cintai.
"Ayo kuantar pulang."
"Aku belum mau pulang!" Maira memegang kepalanya yang mulai sakit.
"Kenapa? Kamu nggak enak badan ya?" Ryu memegang kening Maira.
"Di rumah ada Nugra. Laki-laki itu pasti datang lagi karena urusannya belum beres."
"Terus bagaimana? Ini sudah hampir malam, Maira. Nggak baik kalau masih di kantor." Ryu menasehati.
"Ya sudah, bawa ke apartemen kamu aja. Aku juga pengen tahu apartemen pengangguran itu kayak apa." Maira mengambil tasnya, lalu bangkit. "ayo."
"Oke." Ryu mengangguk. Ia akan membawa Maira ke apartemennya. Mungkin di sana mereka bisa berduaan, bermesraan,dan bercinta. Ryu tertawa sendiri setelah menyadari khayalannya.
Mereka tiba di apartemen mewah Ryu. Maira sempat mengerutkan keningnya saat melihat gedung mewah itu, lebih mewah dari gedung apartemen Nugra. Ia mengikuti Ryu tanpa berkomentar apa-apa, ingin segera istirahat.
"Silahkan masuk..."
“Oke, setelah kulihat-lihat apartemenmu, aku mengambil kesimpulan kalau kamu bukan pengangguran,"kata Maira sambil duduk di sofa.
"Syukurlah kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi, kamu mau menikah denganku, kan?"
"Boleh. Sekarang!"kata Maira mulai ngelantur.
"Ya udah yuk kita pulang, kita minta Papa kamu nikahin kita dulu secara siri. Ayo-ayo..." Ryu bersemangat menarik Maira.
"Eh, tunggu aku mau istirahat dulu. Di rumah itu ada Nugra, males deh." Maira memejamkan mata,"aku numpang tidur di sini ya, tapi, kamu jangan apa-apain aku dulu."
"Oke ,jadi kapan aku boleh apa-apain?"tatap Ryu menggoda.
“Kalau nikah, Ryu."
Ryu mendekat ke Maira."Kamu beneran mau nikah sama aku, besok kan? Biar aku telpon Papaku, Mamaku, dan Papa kamu juga."
"Iya,"balas Maira pasrah.
Ryu langsung mencium bibir Maira."Sekarang aja ya, Mai,sekarang aku telpon Papa ya."
"Kebelet banget ya?" Maira mendorong Ryu.
"Iya." Ryu tertawa lepas.
Sementara itu di rumah Hermawan, tengah terjadi diskusi yang panjang. Perusahaan keluarga Santono sedang di ujung tanduk.
"Maaf, Santono, saya tidak bisa melanjutkan kerja sama ini,"kata Hermawan dengan tegas.
Santono memberi kode pada Nugra.
Nugra menarik napas panjang, "Bagaimana kalau saya nikahi Maira sekarang juga, Om?"
"Bukankah kamu sudah tunangan dengan Yuki ya? Mau dikemanakan perempuan itu?"tanya Danan emosi.
"Aku akan meninggalkan Dia,"jawab Nugra dengan begitu yakin dan percaya diri.
"Telpon wanita itu sekarang dan putuskan!"kata Danan.
"Nan,"bisik Hermawan.
Danan memberikan tatapan pada Hermawan agar tetap tenang. Ini akan menjadi permainan yang menarik.
Nugra mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuki.
"Kamu yakin mau mengambil keputusan ini, Gagah? Pernikahan kamu di depan mata. Kamu mau menggagalkannya lagi?"tanya Santono, sebenarnya ia senang jika Anaknya itu kembali pada Maira, tapi, berita ini pasti akan kembali menjadi bahan perbincangan di kalangan sesama pebisnis.
"Demi perusahaan kita, kan, Pa?"kaya Nugra dengan begitu yakin.
"Bagaimana, Nugra? Kami Memberikan penawaran, kami terima dengan dua syarat, pertama...kamu harus memutuskan hubungan dengan Yuki di depan kami, sekarang juga,"kata Danan.
Nugra menarik napas panjang, ia menyalakan ponselnya tanpa ragu, kemudian menghubungi Yuki. Louds speaker dinyalakan.
"Kamu mau ngapain, sih,"bisik Hermawan pada Danan.
"Om, tenang saja."
Hermawan mengangguk, kemudian ponselnya bergetar. Panggilan dari Ryu, ia segera pergi untuk menerima telpon.
Suara Yuki terdengar di seberang sana.
[Halo, sayang...]
[Kak...]
[Iya...]
[Aku...mau membatalkan pernikahan kita]
Yuki tertawa di seberang sana.
[Membatalkan pernikahan siapa?]
[Pernikahan kita. Sepertinya hubungan kita memang tidak bisa diteruskan. Banyak sekali ketidakcocokan di antara kita. Terlebih, ternyata kakak hanya menginginkan hartaku saja.]
[Apa katamu! Enak saja membatalkan pernikahan. Minggu depan, Nugra, Minggu depan. Jangan main-main. Memangnya ada apa sebenarnya. Semua masih bisa dibicarakan.]
[Tapi, aku nggak bisa, Kak. Ternyata selama ini Kakak banyak menipuku. Kakak pernah punya banyak skandal dengan pilot dan juga beberapa pengusaha. Keluarga kami tidak bisa mentoleransi itu, Kak.]
Akhirnya muncullah alasan yang masuk akal. Sejak ia kembali berhubungan dengan Yuki, satu persatu rahasia kekasihnya itu terkuak. Kemudian ia juga menemukan motif di balik kembalinya Yuki padanya, hanya karena harta. Selama setahun belakangan pun uangnya juga habis terkuras untuk mencukupi kebutuhan wanita itu. Lalu, kemarin dengan santainya ia takut jika Nugra bangkrut. Mungkin, ia akan benar-benar bangkrut, tapi, ia lebih rela kehilangan Yuki, sebab dia lah sumber masalahnya. Suka menggerogoti kekayaan keluarga.
[Siapa yang kasih kamu berita sialan itu?]
Suara Yuki tertahan di sana, wanita itu menangis atas keputusan Nugra. Ia tidak mau pernikahan ini sampai gagal, ia sudah mempersiapkannya selama setahun ini, resepsi pernikahan impian, mewah, dan ia akan menjadi wanita tercantik di dunia ini, ia akan menjadi ratu sehari.
[Sudah, kak. Itu cukup membuat Papa dan Mama malu. Beritanya tersebar kemana-mana dan kami tidak bisa menerima itu. Itu akan merusak citra baik keluarga kami.]
[Kamu dimana sekarang? Ayo kita ketemu]
[Maaf, tidak perlu]
[Nugra...tolong jangan lakukan ini. Pernikahan kita sudah di depan mata.]
[Maaf, kak, itu sudah menjadi keputusan keluarga. Terima kasih atas kebersamaannya selama ini.]
Nugra memutuskan sambungan. Ia tahu, setelah ini Yuki pasti menangis meraung-raung di sana. Tapi, peduli apa dengannya. Wanita itu saja tidak peduli dengan kondisinya sekarang.
"Sudah,"kata Nugra.
Hermawan yang baru saja datang langsung berbisik pada Danan. Pria itu terlihat kaget, kemudian mengangguk saja.
"Baik, syarat yang kedua...kami akan menikahkan Nugra dengan Maira, jika...Maira mau."
"Dia pasti mau, bukankah dulu kita akan menikah,"kata Nugra bersemangat.
"Itu dulu!" Danan mematahkan ucapan Nugra."Besok, kita ketemu lagi untuk mempertanyakan itu pada Maira. Semoga kalian tetap melakukan semuanya sesuai dengan jalur yang benar."
"Baik.”
**
Hermawan, Odelie, dan juga Danan langsung mempersiapkan apa yang dikatakan Ryu. Hermawan pun pergi ke Bapak ketua RT untuk menjadi saksi. Danan mengawasi asisten rumah tangga yang menyusun tempat untuk tempat dilaksanakannya akad nikah. Sementara itu Odelie memesan makanan secara online, untuk disajikan pada tamu. Semuanya tampak repot
Sewaktu Nugra dan Santono ada di rumah tadi, tepatnya ketika Nugra memutuskan Yuki via telepon,Ryu menghubungi Hermawan untuk memberi tahu bahwa ia dan Maira ingin menikah malam ini juga. Hal ini langsung disambut suka cita oleh Hermawan, pasalnya Nugra semakin nekad. Ia takut, jika pernikahannya dengan Maira tidak terjadi, pria itu akan menyakiti anak semata wayangnya itu. Jika Maira sudah menikah, Ryu pasti akan membawanya kemana pun pergi, dan status Maira juga sah menjadi istri orang. Nugra tidak akan bermain nekad.