Bab 12

1038 Words
Ryu dan Maira sampai di rumah, kesepakatan keduanya yang terjadi sekejap mata itu pun ditanggapi dengan begitu serius. "Sayang, ayo kita dandan. Cepetan!"panggil Odelie. "Dandan apa, Ma?"tanya Maira bingung. "Kamu kan mau nikah sama Ryu." Odelie menarik Maira ke kamarnya. Ia masih punya kebaya yang ia gunakan sewaktu menikah dulu, semoga saja cukup untuk Maira. "Ma, ini beneran?"tanya Maira saat mukanya sudah dipoles. "Ya beneran, nikah secara agama saja dulu, supaya sah ya, kan. Besok langsung diurus aja masalah nikah resminya." "Memangnya kenapa harus malam ini, Ma. Kan bisa besok,"kata Maira tidak puas. "Bukannya itu kesepakatan kamu sama Ryu?" "Iya, kupikir hanya lelucon." Maira terkekeh. "Tapi, ya udah deh. Ryu baik kok." "Soalnya...si Nugra mau minta dinikahkan sama kamu lagi. Dia baru aja mutusin si Yuki itu di depan kita semua. Kita nggak mau kamu berurusan lagi dengan laki-laki nggak tahu diri itu,"kata Odelie sedikit emosi. Untunglah Nugra tidak jadi menantunya. Kalau itu terjadi, anak kesayangannya ini akan tersakiti. "Maka dari itu kami dinikahkan saja?" "Iya dong!" Maira pun diam, pasrah jika ternyata memang Ryu adalah jodohnya. Lagi pula ia juga lelah karena Ryu terus mengajaknya menikah. Satu jam berlalu, Maira mengenakan kebaya putih milik Odelie. Usai mendandani puterinya, Odelie pun berhias, memakai pakaian yang cantik untuk pernikahan Maira. Kedua orangtua Ryu dan juga kakak Ryu sudah hadir di sini. Ryu pun sudah rapi mengenakan jas milik kakaknya. Semua serba mendadak. Untung saja orangtua dan kakak Ryu juga sedang ada di kota ini, hingga pernikahan ini cepat dilaksanakan. Hermawan masuk bersama Pak RT dan salah satu tokoh masyarakat di sini sebagai saksi. Hermawan sendiri yang akan menikahkan Maira. Ini pernikahan yang cukup aneh, dilaksanakan sudah begitu malam. Tapi, beginilah keadaannya. Akad nikah dimulai, Ryu mengucapkan ijab kabul dan kemudian keduanya sah menjadi suami istri. Laki-laki itu lega setengah mati, akhirnya ia memiliki Maira. Besok ia akan langsung  mengurus berkas-berkas untuk menikah di KUA. Maira merenung, bingung, pernikahan semacam apa ini sampai-sampai harus dilakukan tengah malam, alasannya adalah demi melindunginya dari Nugra. Hidup orang kaya memang tak selalu membahagiakan. Ini pun melirik ke arah Ryu yang sedang bicara dengan Papanya. Laki-laki itu, apakah benar-benar sesuai dengan dirinya. Apakah ada jaminan, Ryu tidak akan menyakitinya. Bagaimana jika Ryu dan Papanya juga terikat perjanjian seperti dengan Nugra. Wanita itu menarik napas dalam-dalam, takut, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Tamu yang datang sudah pulang, malam kian larut. Hermawan menghampiri Maira dan Ryu. "Selamat atas pernikahan kalian. Ryu, saya sudah serahkan Maira sama kamu. Tolong, jaga dia baik-baik." "Baik, Pa." "Ya udah, kamu bawa ke apartemen aja. Kan sudah istri kamu! Udah malam juga ini, semua mau tidur,"kata Hermawan mengusir pengantin baru itu. "Ih, Papa!" Maira memanyunkan bibirnya. "Ya sudah kalau begitu, Om, eh...Pa. Kami pulang dulu ya. "Yuk, Maira!"kata Ryu. Maira mengangguk saja, tidak ada kesedihan selayaknya pengantin baru yang meninggalkan orangtuanya untuk pertama kali, sebab Maira merasa ini bukanlah pernikahan sesungguhnya, seperti sedang bermain-main saja. Ryu membawa Muara ke apartemennya. Begitu sampai di depan pintu, Maira hanya berdiri di sana. "Ayo masuk!"kata Ryu. Maira masih berdiri di depan pintu, ia ragu sekali karena sepenuhnya sadar ia sudah menjadi istri Ryu. Pikirannya berkecamuk, berbagai spekulasi ada di dalam otaknya. "Sayang, kita sudah menikah, jadi, jangan malu." Ryu memeluk tubuh Maira. "Ryu, kamu tahu kan kalau sebenarnya aku belum mau menikah. Aku nggak tahu antara kamu dan Papa ada perjanjian apa, tapi, aku masih belum bisa menerima kamu seutuhnya,"ucap Maira jujur. Ryu mengangguk."Oke. Aku paham. Ya sudah, kamu istirahat aja. Aku nggak akan sentuh kamu. Nanti aku tidur di kamar satunya. Jangan khawatir." Diusapnya puncak kepala Maira."Ayo kita masuk." Akhirnya Maira melangkah masuk, ia duduk di sofa dengan begitu tegang. Padahal beberapa jam yang lalu ia masih di sini, bercerita dengan Ryu dengan gamblangnya, tidak ada rasa takut disentuh padahal mereka belum menikah. "Tapi , Ryu...aku belum bisa melakukan apa pun, seperti pengantin baru pada umumnya. Aku merasa aneh sih dengan semua ini,"kata Maira. Ryu duduk di sebelah Maira, pria itu mengerti jika Maira masih trauma dengan sebuah hubungan, ia tidak akan memaksa meskipun sebenarnya ia sudah menginginkan hubungan yang lebih dalam. Tapi, kebahagiaan dan kenyamanan Maira lebih penting dari keinginannya. "Iya, Maira...pernikahan kita memang untuk melindungi kamu, Nugra mulai nekad. Dia minta dinikahkan sama kamu, dia bakalan mutusin Yuki dan kata Danan sudah diputuskan di depan semua keluarga. Besok...mungkin kamu bakalan ketemu Nugra, untuk memenuhi syarat kedua. Papa kamu bakalan melanjutkan kerja samanya kalau Nugra memutuskan hubungan dengan Yuki saat itu juga, dan...kalau kamu mau. Berhubung kamu sudah menikah sama aku, ya...nggak mungkin mau kan?" Maira mengangguk,"iya..." "Ini udah malam, kita tidur ya. Besok...aku banyak kerjaan." Ryu bangkit, membukakan pintu kamar utama."Kamu tidur sini ya. Aku di sana." Ryu melangkah ke kamar sebelahnya. "Terima kasih. Selamat tidur!"kata Maira sambil masuk ke dalam kamarnya.   ** Pagi-pagi sekali, sekitar pukul empat pagi. Yuki sudah keluar dari apartemennya menuju apartemen Nugra. Semalaman ia bolak-balik ke sana ternyata laki-laki itu tidak pulang-pulang. Akhirnya entah pukul berapa pastinya, ia menerima pesan dari satpam yang ia bayar, memberitahukan kalau Nugra sudah pulang. Begitu membaca pesan itu, Yuki pun cepat-cepat mengunjunginya. Yuki menekan sejumlah angka yang merupakan password apartemen Nugra. Pintu terbuka, dan ia masuk dengan cepat. Dibukanya pintu kamar, laki-laki itu sedang berbaring di sana. "Nugra!" Yuki membangunkan Nugra."Bangun, Nugra!" Nugra mengerjapkan matanya yang masih berat,"eh...ada apa?" "Ada apa? Kamu sudah melakukan kejahatan sama aku. Ayo bangun, aku mau penjelasan kenapa kamu putusin aku, hah? Kamu pikir aku ini mainan?"hardik Yuki. Nugra mendecak sebal karena tidurnya terganggu, belum lagi ia kurang tidur selama beberapa hari ini akibat mengurus perjanjian dengan Hermawan."Ya ada apa, sih...jangan sekarang lah, pokoknya pernikahan kita batal." "Kenapa!" "Karena aku mau nikah sama Maira!"balas Nugra yang langsung dibalas dengan tamparan oleh Yuki. "Sudahlah pergi saja sana, bikin kacau hidupku saja!"usir Nugra. Sekali lagi Yuki menampar Nugra."Enak sekali kamu bilang begitu. Kamu mau menikah sama Maira, sementara pernikahan kita ada di depan mata. Lalu seenaknya kamu bilang, jangan dibahas sekarang, kamu pikir aku apa, Nugra?" "Kamu juga mengacaukan pernikahan kami yang sudah tinggal tiga hari lagi, kan?!"balas Nugra dengan nada tinggi. "Oh, jadi, Maira ingin balas dendam sama aku, dengan menggoda kamu...supaya kalian menikah dan membatalkan pernikahan kita? Berengsek sekali!" Yuki mengepalkan tangannya, ingin menjambak-jambak rambut Maira dan menghempaskan wanita itu ke lantai lalu menginjaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD