Yana terbaring di sofa, nampaknya dia cukup shock karena kejadian hari ini hingga membuatnya pingsan. Yana tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia diculik lalu dibawa ke sebuah keluarga yang asing baginya. Yana tidak mengenal mereka tapi sebaliknya mereka seakan mengenal Yana.
Hidungnya mengendus bau minyak kayu putih yang menyengat, lalu Yana perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Yana pun terbangun dan melihat di sekelilingnya masih di tempat yang sama, di tempat asing yang belum pernah Yana kunjungi. Yana pikir sedang bermimpi tapi ternyata ini sangat nyata.
Yana melihat di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang mengelus-elus rambutnya, terpancar dari wajahnya kekhawatirannya pada Yana. Di depan Yana ada seorang anak perempuan yang masih terus memeluk Yana dan menyangka bahwa Yana adalah ibunya.
Tatapan sepasang mata dari pria yang bernama Melvin tak luput terus memandang ke arah Yana.
"A–ada apa ini?" tanya Yana yang kebingungan melihat mereka mengelilinginya.
"Tadi kamu pingsan, apa kamu sedang sakit? Nih ibu bawakan air putih. Diminumlah dulu!" ucap ibu itu yang menyodorkan segelas air bening pada Yana. Dan Yana menerimanya, lalu meneguk air putih pemberian ibu Melvin.
"Mama...mama...mama..." anak perempuan ini terus memanggil Yana dan dia ingin Yana memanjakannya. Tapi Yana hanya bisa terdiam.
Ibu itu terheran melihat sikap Yana yang aneh lalu akhirnya menggendong dan membawa anak perempuan itu keluar ruangan. Kemudian Yana mendengar ibu itu menyuruh anak lelakinya untuk membawa Yana ke sebuah kamar dan beristirahat. Anak lelakinya pun patuh.
"Ar, ajak istrimu ke dalam! Biarkan dia beristirahat, Mama lihat Yani nampak kelelahan. Sementara Tania sama mamah dulu." titah Ibu itu dan ia juga menyebut nama Tania, sepertinya itu nama anak perempuan yang sedang digendongnya.
"Ya, Mah," jawab Melvin.
Yana mendengar ibu itu memanggilnya dengan sebutan Ar sedangkan tadi orang-orang suruhannya memanggilnya Tuan Melvin. Lalu yang benar namanya siapa? Yana menjadi tambah bingung.
Pria ini merangkul dan menuntun Yana ke sebuah kamar, hingga membuat Yana gemetar dan takut sekali seolah dalam bayangannya Melvin akan menerkam Yana nanti.
Yana berusaha menepis tangan Melvin secara lembut dan bilang padanya, "M–maaf, aku bisa berjalan sendiri Tuan, aku baik-baik saja." Yana berharap semoga Melvin tidak tersinggung, Yana hanya mengambil jarak darinya.
Yana tahu, Melvin mematung di belakangnya. Dan Yana tak berani menoleh ke arahnya. Sudah pasti dalam benak Melvin, Yana memang orang lain dan sudah salah orang dikirim ke sini.
GREB
Seketika Yana terkejut, Melvin dengan wajah bingungnya menarik lengan Yana dan dengan langkah yang cepat Melvin membawa langsung Yana menuju ke sebuah kamar. Pintu kamar pun langsung dikunci Melvin, sungguh tindakannya itu membuat Yana takut sekali. Keringat dingin pun mengucur membasahi dahi Yana.
"Tuan, tolong dengarkan aku!" pinta Yana sambil memohon belas kasihan pada Melvin.
"Kenapa memanggilku dengan sebutan Tuan?" tanya Melvin keheranan.
"Aku tidak tahu siapa Anda, Tuan." jawab Yana
"Yani, ada apa denganmu? kamu benar-benar tidak mengenaliku sama sekali?" Mata Melvin terus tertuju pada Yana dan tak luput untuk terus memerhatikannya secara dekat.
"Maaf." kemudian Yana menggelengkan kepalanya "Anda sudah salah orang, Tuan. Namaku Yana bukan Yani," tegasnya.
"Apa yang sudah terjadi padamu? Apa kamu tidak ingat? Aku ini suamimu."
"HAH?!! Su-suami aku?" Yana tersontak tak percaya pada ucapan Melvin. Untuk sesaat Yana terdiam karena dalam benaknya dihujam banyak pertanyaan yang muncul, 'kapan aku menikah? Lalu apa anak perempuan tadi yang bernama Tania itu adalah anakku begitu?'
"Kenapa dirimu terkejut?"
"Tentu saja, aku kan bukan istrimu. Percayalah padaku, jadi lepaskanlah aku! Aku mohon!" Yana terus mendesak Melvin agar mau melepaskannya.
Melvin tertawa hampa, permintaan konyol Yana terdengar tidak masuk akal. Dengan tegas Melvin katakan, "Tidak akan aku lepaskan, setelah aku bersusah payah mencarimu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Sudah cukup aku telah tersiksa selama ini karena kehilangan dirimu."
"Bagaimana jika yang berada di hadapan Anda memang benar bukan orang yang anda kenal tapi orang lain."
Mendengar ucapan Yana, Melvin memicingkan mata dengan alis yang berkerut seperti tidak memercayainya.
"Apakah kau sedang berpura-pura menjadi orang lain? Trik bodoh macam apa yang kamu gunakan?"
"Ya, Tuhan. Harus dengan cara apa aku jelaskan agar anda bisa mempercayaiku."
"Jangan bercanda Yani, mana mungkin aku salah. Mari aku tunjukkan photo dirimu,"
Melvin bersikukuh bahwa dirinya benar, lalu bagaimana dengan Yana? Apa berarti Yana salah?
Melvin menunjukkan semua photo pada Yana berwajah mirip dengan Yana di album kenangannya. Semua terlihat jelas itu seperti Yana dan memang sama persis.
Yana terbelalak tak percaya, 'Ya, Tuhan... Benarkah itu diriku? Atau orang lain yang mirip denganku? Apakah aku mempunyai saudara kembar?' gumam Yana.
"T–tapi sungguh namaku Yana dan bukan Yani, aku baru saja datang dari kampung." Bibir Yana bergetar mengucapkannya, Yana masih diselimuti ketakutan. Dalam tatapannya Yana mulai berpikir, 'Bagaimana caranya agar pria ini percaya pada perkataanku?'
"Aku tahu kamu masih shock dan berpura-pura menjadi orang lain agar aku melepaskanmu."
"Bukan begitu."
"Sudahlah aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi. Metode yang kamu gunakan tidak akan membuatku tertipu," ucap Melvin lembut. Di saat bersamaan ucapan Melvin begitu lembut tapi wajahnya terlihat mengerikan bagi Yana. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dibalik wajah Melvin.
Melvin memegang kedua bahu Yana dan menatapnya lekat. Untuk sekian detik mereka saling berpandangan. Meski Melvin mendekatkan wajahnya pada Yana, tetap saja bagi Yana wajah Melvin asing baginya. Alis Yana mengerut.
"Dengarkan Aku! Aku akui caraku salah hingga membuatmu takut tapi percayalah aku hampir saja menyerah mencarimu. Sekarang akhirnya aku menemukanmu. Jangan buat aku menderita lagi. Kasian Tania yang selalu menanyaimu karena kamu tidak ada di sampingnya."
Yana tidak suka Melvin masih memegang bahunya dan bicara terlalu dekat dengan Yana. Sekali lagi Yana menepis kedua tangannya lalu sedikit melangkah mundur. "Namaku Liyana Zahiya, nama panggilanku Yana. Memang benar aku bukan Yani-istri anda." Yana terus menyampaikan kebenaran identitasnya meskipun Melvin tak menghiraukannya.
Melvin tidak memedulikan Yana bicara. Lalu beralih sibuk merapikan kasur dan mengibas-ngibaskan bantal. Sikap acuhnya membuat Yana kesal. "Tuan!" panggil Yana, ia ingin Melvin mendengarkannya.
Melvin berbalik ke arah Yana. Wajah Melvin yang tanpa ekspresi membuat Yana terdiam. Ada perasaan takut melihat Melvin.
"Istirahatlah, biar aku tidur di kamar Tania. Aku tahu kamu butuh sendiri dulu untuk menenangkan pikiranmu."
Melvin meninggalkan Yana sendiri di kamar. Yana masih bergulat dengan pikirannya. Ia merasa kacau.
Setelah kepergian Melvin dari kamar, Yana duduk termenung sendiri memikirkan nasibnya kini yang terjebak di sebuah keluarga asing tanpa sengaja hanya karena wajahnya mirip dengan istri Melvin.
Yana tidak tahu apa yang terjadi dengan istri Melvin sebelum Yana dibawa kemari. Bagaimana bisa mereka salah mengenali orang? Bagi Yana itu mustahil.
Untuk sementara Yana seakan pasrah sambil memikirkan jalan keluarnya.
----
----
Bersambung...