● BAB 3

1060 Words
Malam hari Yana tidak bisa tidur, matanya sulit terpejam. Pandangannya menyapu ke sekeliling yang ada di kamar ini. Yana memerhatikan satu persatu barang-barang yang ada di sekitar sini, kasur ukuran king yang empuk dan desain interior kamar yang elegan ditambah lampu penerangan yang mewarnai langit-langit ruangan bernuansa earthy tone. Lalu netra Yana teralihkan pada suatu pigura photo yang terpajang di dinding. Sebuah photo pengantin berukuran besar menghadap ke arah pintu. Dari photo itu dengan jelas tergambar sepasang pengantin yang bahagia. Yana yakin pengantin wanita itu jelas bukanlah dirinya. Apa yang sudah membuat Melvin yakin jika Yana adalah istrinya, padahal Yana ini jelas orang lain. Yana tahu, cukup melihat mansion mewah ini ia sudah menebak Melvin pasti bukanlah orang sembarangan. Dengan segala yang Melvin punya seharusnya Melvin bisa mencari istrinya yang sebenarnya bukan Yana yang bukan siapa-siapa ini. Meskipun Yana hidup miskin, mana mungkin bisa Yana mengambil kesempatan ini lalu memanfaatkannya dan berpura-pura menjadi istri seorang konglomerat. Yana masih punya harga diri dan takut berada di keluarga asing seperti ini makanya dia lebih memilih berkata jujur daripada berbohong. Bukan hanya itu saja yang Yana khawatirkan, bagaimana jika Yani muncul saat Yana masih berada dalam keluarga ini. Apa yang bisa Yana perbuat. Tidak bisa terbayangkan dalam benak Yana jika itu memang benar terjadi. Mengerikan sekali. Sepertinya ada yang salah dengan Melvin dan ini pasti hanyalah sebuah kesalahpahaman. Yana ingin berusaha meluruskannya namun mereka tidak ada yang mempercayainya. Wajah Yana terlalu mirip dengan Yani. Yana sedang berpikir jalan keluar agar keluarga Melvin mau melepaskannya. Bagaimanapun juga dia tidak mau terjebak dalam kesalahpahaman. Sesaat Yana teringat akan tas ranselnya. "Oh iya... Aku kan punya identitas diri di dompet." Yana mencoba mencari tas ranselnya. Kemudian alisnya mengerut, "Lho kok kemana yah tasku? Kenapa aku tidak ingat sama sekali sama tasku." Yana terus mencarinya dengan panik. Yana mencoba keluar kamar dan mencari keberadaan tasnya. Setelah mencoba mencari di sekitar kamar, tas ransel yang dimaksud tak kunjung ditemukannya. Yana mulai gelisah. Yana masih ingat, di tas ranselnya selain pakaiannya ada handphone dan juga dompet. Itu adalah identitas penting yang ingin dia tunjukkan. Di ruang tamu tidak ada, di ruang tengah juga tidak ada, mansion ini terlalu luas Yana tak bisa mencarinya dengan mudah. Tak sengaja, Yana melihat seorang pelayan melewatinya. Kemudian Yana berniat memanggilnya dan mencoba meminta bantuannya. "Permisi." Pelayan itu berhenti ketika Yana memanggilnya. "Iya, ada apa Nyonya?" tanya pelayan itu Dia menyebut kata 'Nyonya' membuat Yana tersipu malu padahal Yana bukan nyonya rumah ini. Yana mengabaikan fakta dulu, dia pikir percuma menjelaskan pada seorang pelayan. Sekarang yang terpenting adalah mencari tas ranselnya. "Apakah kamu melihat tas ranselku? Warnanya soft cream." "Maaf aku tidak melihatnya, Nyonya." Pelayan itu menjawab dengan menundukkan kepala. "Apa kamu yakin? Atau kamu tidak sengaja menemukannya tergeletak di suatu tempat?" Yana terus menelisik. "Aku sangat yakin tidak melihatnya, Nyonya." pelayan itu juga terus meyakinkan Yana. "Ehm... kalau begitu, apa kamu mau membantuku mencarinya? Soalnya aku kesulitan mencari di tempat yang luas seperti ini," pinta Yana. Seketika Yana heran melihatnya, bukannya menjawab tiba-tiba pelayan itu menundukkan kepalanya tanpa bersuara lalu pelayan itu pergi meninggalkannya begitu saja. Yana mencoba menahannya, "T–tunggu!" Sayangnya, pelayan itu tidak mau mendengarkan Yana. Tingkah pelayan itu yang langsung pergi terlihat sangat tidak sopan. Yana menghela napas. Dia tidak bisa memaksanya, karena bagaimanapun juga Yana ini memang bukan majikannya, lebih tepatnya Yana hanyalah orang asing. Sesaat setelah pelayan itu pergi, Yana mencium wangi maskulin seorang pria. Setelah menoleh ke belakang ternyata si pria itu, Melvin. Melvin berdiri tepat di belakang Yana hingga membuat Yana terkejut. "Honey," panggilnya dengan lembut. Entah posturnya yang tinggi atau postur Yana yang pendek? Yana hanya bisa mendongak saat berhadapan dengan Melvin. Pucuk kepala Yana sejajar dengan bahu Melvin. "H–honey? Siapa? Aku?" Yana tak percaya, Melvin memanggilnya dengan sebutan itu. "Tentu saja. Itu panggilan sayangku untukmu, masa kamu juga lupa. Oh ya, kenapa kamu ada disini? Bukankah aku memintamu untuk beristirahat dulu di kamar." Melvin menatapnya dengan curiga. "Ehm...itu...itu..." Yana memalingkan wajahnya dari tatapannya sambil berpikir mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Melvin. 'Haruskah aku tanya padanya juga mengenai keberadaan tasku?' pikir Yana yang bimbang. "Itu, apa?" tanya Melvin lagi. "Tasku, aku mencari tas ranselku. Tadi aku bawa tas ransel" jawab Yana, dan saat berbicara wajahnya masih mengarah ke arah yang lain. Jujur Yana belum mampu bertatapan lama dengan mata Melvin. "Tas ransel apa? Aku tidak melihat kamu membawanya sejak datang kemari." "B–benarkah?" Yana mengernyit, dia masih belum yakin. Setelah bertanya, pandangan Yana beralih ke arah lain. Dia tidak sanggup berlama-lama menatap mata Melvin. "Ya," jawab Melvin begitu meyakinkan. Mendengar jawaban Melvin membuat Yana sedikit kecewa. Sejenak Yana terdiam. 'Kenapa aku harus kehilangan bukti itu yang bisa aku tunjukkan untuk meyakinkannya? Kira-kira apa mungkin saat aku dipaksa dan dibekap tasku jadi jatuh lalu hilang entah kemana,' gumam Yana. "Ya sudah, permisi. Aku harus kembali ke kamarku dulu." Yana tertunduk dan bergegas meninggalkan Melvin begitu saja. Dia berjalan cepat sambil menunduk. Yana kembali ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Yana menenangkan dirinya sejenak lalu menarik napasnya dan mengusap keringat di dahinya. Saat berdekatan dengan Melvin rasanya jantungnya terus berdebar. Untung tadi Yana berpikir cepat dan langsung menghindari Melvin. Tidak baik untuk kesehatan jantungnya jika terlalu lama berdekatan dengan Melvin. Otak Yana masih waras, Melvin itu suami orang alias suami Yani bukan suaminya. Menghindari Melvin lebih baik karena Yana takut khilaf dan tergoda. Melvin begitu menawan di matanya. Dia tidak mau jadi pelakor. Pesona suami orang memang beda apalagi dengan latar belakang kehidupannya, siapa yang tidak berminat bersanding dengan sesosok pria seperti Melvin. Pasti di luar sana banyak wanita yang ingin mengantri menggantikan istrinya. Tapi Yana tak sepicik itu mengambil kesempatan yang terbuka lebar di hadapannya. Yana masih ingin meraih impian dan cita-cita. Usia Yana masih terbilang muda, dia ingin meneruskan kuliah yang sempat terhenti karena faktor biaya. Dia juga memiliki mimpi untuk bisa bekerja di kota besar. Kini, Yana harus memikirkan rencananya secara matang agar bisa secepatnya keluar dan berharap Yani yang asli hadir di saat Yana sudah tidak ada di sini. Yana yang hampir putus asa tak bisa berbuat banyak. Hanya terdiam meratapi nasibnya di kamar sendirian. "Yani kemanakah sebenarnya dirimu? Aku tidak mau mengganti peranmu di sini. Sungguh, aku ingin terbebas dari sini tapi aku tidak tahu bagaimana caranya?" Di dalam kamar ini Yana terus berdoa berharap semua kembali seperti semula dan Yana bisa menjadi dirinya sendiri. ------ ------ Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD