tak lama Bilson kembali dan masuk kedalam ruangan nya dengan secangkir kopi di tangannya
"bg Hilton nelfon" Feri memberikan hp Bilson
"gimana keadaan kakak ipar lo" Bilson duduk di sofa nya
"kakak ipar gua udah sadar Bil,tapi dia belum tau kalau bg Robert sudah meninggal, Irene berbohong demi mama nya,karena kakak Silviana cinta banget sama bg Robert" Hilton kembali bersedih mengingat kenangan nya bersama Robert
"iya,gua udah dengar semuanya, kita nelfon kemarin lo nggak matikan sambungan telfon kita jadi gua dengar bagaimana Irene menyembunyikan tentang bg Robert" Bilson meneguk kopinya
"nasib baik gua sampai di sini, Irene kemarin pinjam uang sama Kades di sini nama nya Salehi,Irene nggak ada pilihan lain dia terpaksa minjam karena saat itu bg Robert perlu perawatan intensif secepat nya, Saleh menjebak Irene dia buat perjanjian yang tidak manusiawi" Hilton kembali mengingat semua isi perjanjian itu
"b******k,apa yang ditulis di perjanjian itu" entah mengapa Bilson merasa emosi
"Irene harus melakukan hubungan suami istri sampai uang berserta bunganya dikembalikan,dan perjanjian berakhir jika Saleh yang memutuskan nya" Hilton menceritakan semuanya pada Bilson sampai kepada perjanjian akhir yang dibuat Hilton saat uang dikembalikan
"sialan tu orang, besok gua dan Feri kesana,gua akan hajar dia sampai mampus" Bilson tidak terima jika ada yang memanfaatkan keadaan apalagi kepada wanita
"udah gua hajar dia tadi,oh iya lo ada perlu apa kesini" Hilton mencoba meredam amarah Bilson
"tanda tangan proyek TR secepat nya,gua nggak bisa wakilkan tanda tangan CEO Hilton" Bilson tertawa
"astaga,gua lupa tanda tangan,maaf Bil gua repotin lo lagi,lo kesini naik helikopter aja ya,ntar gua cari lapangan buat landasan nya" Hilton yakin Bilson tidak akan mau naik mobil karena sangat jauh
"iyalah, setelah kejadian yang lo alami,mana mau gua naik mobil, apalagi desanya sangat ke pedalaman hahahahaha " Bilson tertawa dengan kerasnya
"hush,ini pinggiran kota,bukan pedalaman,hati hati Bilson mana tau lo menemukan jodoh lo di desa ini, ahahhahahaa" tawa Hilton sangat puas berdebat dengan Bilson
"lo kira wanita di Jakarta ini udah kehabisan stok" Bilson berdebat lagi dengan Hilton
"Banyak yang nggak perawan lagi, kehidupan di Jakarta keras Bil,kan lo udah punya banyak cabe cabean,jadi pasti lo dah tau lah" Hilton membuat Bilson geram
"udah udah pusing gua lawan lo" Bilson memutuskan sambungan telefon nya
Feri yang sibuk dengan hp nya,tidak sadar jika Bilson sudah selesai berbicara dengan Hilton
"siapin semua Fer,kalau bisa sore ini kita berangkat saja,gua mau hirup udara pedesaan dulu,penat otak gua dengan hiruk pikuk kota ini" Bilson meneguk kopinya lagi
"ok bg, ini gua beresin dulu" Feri menyiapkan semua dokumen nya
Hilton yang berada di rumah Robert memandangi semua Photo di dinding rumah sederhana itu
"bg, maafkan gua, gua jarang kunjungi lo, sekarang gua di sini, lo udah pergi untuk selamanya" Hilton menangis melihat Photo Robert dan dirinya tergantung di dinding
"Om, Irene udah selesai ni,kita berangkat ke rumah sakitnya sekarang aja om" Irene sudah membawa baju Silviana dan juga bajunya
"iya Irene,kamu yang kuat ya nak,om akan jaga kamu sekuat tenaga om" Hilton menangis memeluk Irene
"om, udah jangan cengeng gini,masak kalah sama Irene" Irene mencoba bercanda dengan Hilton
"kamu emang anak bg Robert, pintar,baik, dan kuat juga" Hilton dan Irene berangkat ke rumah sakit
Silviana yang di jaga Lasmi sedang tidur setelah minum obat
"buk,maaf kami lama ya" Irene tidak enak pada Lasmi karena kelamaan
"udah, kamu kayak sama siapa aja" Lasmi membelai rambut Irene
"mana om kamu" Lasmi tidak melihat Hilton
"sedang bicara dengan Dr Martin buk, untuk ngurus kepindahan mama ke Jakarta" Irene memegang tangan Silviana
"semoga semuanya baik baik saja,dan kalian bisa berkumpul lagi" Lasmi mendoakan supaya semua keadaan membaik
Hilton kembali ke ruangan Silviana
"Irene,kata dokter tunggu 3 hari lagi, karena kak Silviana baru sadar, nanti bisa syok lagi kalau langsung pindah" Hilton menjelaskan panjang lebar kepada Irene
"mana yang terbaik saja, Irene percaya sama om" Irene terus memandangi wajah Silviana
"oh ya buk,maaf saya mau tanya, di sini ada lapangan untuk landasan helikopter"? Hilton menanyakan pada Lasmi
"ada nak, dekat sini ada lapangan, nanti ibu tunjukkan" Lasmi sudah setengah abad,wajar jika Hilton hormat kepada nya di samping lagi kebaikan nya pada Irene
"terimakasih banyak buk" Hilton pamit keluar untuk menelfon Bilson dan memberitahukan jika sudah ada landasan helikopter nya
Saat sore tiba, Hilton sudah sibuk mengurus surat-surat yang di butuhkan untuk memindahkan Silviana ke Jakarta
"gua udah mau sampai, tolong lo urus landasan gua" Bilson dan Feri sudah sampai dengan cepat
"Lo kok mendadak bukan nya besok lo datang" Hilton setengah berlari menuju mobilnya dan segera ke lapangan yang ditunjukkan Lasmi tadi
Kira kira 30 menit berlalu, akhirnya helikopter Bilson bisa mendarat dengan sangat mulus
"ini dokumen lo, harus secepatnya bg" Feri langsung berlari menuju Hilton,karena dia langsung pulang ke Jakarta tidak bisa berlama-lama di desa CC
"terimakasih banyak Fer,lo emang penyelamat gua" Hilton menepuk bahu Feri dengan lembutnya
"santai bg,kayak sama siapa aja lo,kan yang penting no rekening gua lo masih ingat bg" Feri memang sangat suka uang, maka nya dia bekerja keras untuk membantu Bilson dan Hilton
"hahahhah,gua tau, gampang itu" Hilton menandatangani semua yang dibawa Feri
"gua langsung balik bg" Feri naik lagi ke helikopter dan perlahan naik meninggalkan desa Cc
"woy,buruan panas" Bilson yang langsung masuk ke mobil saat sampai,dan menghidupkan AC mobil
"iya iya bos,kita cari hotel dulu buat tempat nginap lo" Hilton tau jika Bilson tidak bisa tidur di rumah orang yang baru dikenalnya
"ide bagus" Bilson setuju dengan Hilton
tak lama mereka pergi,ada yang tidak beres di rumah sakit,ya Saleh yang babak belur berobat di rumah sakit tempat Silviana di rawat
"lihat saja kau Irene,aku akan membuat kau menjadi istriku,dan menikmati nya setiap waktu" Saleh melihat Irene saat di apotek rumah sakit, dia masih tidak mau menyerah untuk mendapatkan Irene
"Pak Saleh, Irene pura pura nggak lihat saja,bisa panjang lagi urusannya ini" Irene melihat Saleh dari pantulan kaca di hadapannya
Irene bergegas masuk ke dalam ruangan Silviana,diam diam Saleh mengikuti Irene dia mencari tahu dimana kamar Silviana
"ma, udah bangun" Irene lega karena mamanya sudah bangun dan buk Lasmi sudah tidak ada lagi karena harus pulang
"kamu darimana nak" Silviana mencari Irene dari tadi
"baru beli ini ma,minyak telon,mama kan tau Irene tidak suka bau rumah sakit" Irene duduk di kursi sampai Silviana
"kamu pasti capek ya nak" Silviana mengelus kepala Irene
"nggak ma,asal mama cepat sembuh,itu sudah cukup buat Irene" Irene tersenyum pada Silviana,entah mengapa perasaan Irene tidak enak,dia pun menelfon Hilton diam diam tanpa Silviana tau
"halo, selamat siang janda kembang" Saleh yang melihat dari kaca tidak ada Hilton berani masuk
"maksud bapak apa" Silviana tidak mengerti
"keluar dari sini pak Saleh" Irene berdiri dan membentak Saleh
"hahahha,kau tidak punya siapa-siapa di sini sayang,sini mendekatlah" Saleh membuka kedua tangannya
Bilson yang mendengar bunyi suara Hp Hilton mengangkat nya dan menyalakan speaker, karena Hilton sedang membawa mobil
"ini suara Irene"! Saleh, berani lo sentuh keponakan gua,gua bunuh lo Saleh" Hilton tidak bisa menahan amarahnya lagi
"kita langsung ke rumah sakit" Bilson juga emosi sekali dengan Saleh
di rumah sakit
"waaaauuuw,1 janda dan 1 anak gadis gendut tapi sangat cantik, siapa diantara kalian yang mau ku sentuh duluan ha" Saleh mendekati Silviana, Irene mendorong Saleh agar menjauh dari mamanya
"sini sayang, kau mau duluan" Saleh memeluk Irene dengan paksa
"lepaskan aku b******n,aku jijik di sentuh sama kamu" Irene memberontak sekuatnya
"tolong tolong" Silviana berteriak,dan untung nya saat itu Dr Martin mau memeriksa Silviana
"lepaskan aku binatang" Irene meronta dipelukan Saleh
"Apa yang anda lakukan" Dr Martin menarik lengan Saleh dan melayangkan satu tinjuan di pipi nya,dan Irene bersembunyi di belakang Martin
"cepat hubungi polisi" Suara Martin membuat perawatnya segera berlari dan menelfon polisi
Saleh mendorong Martin dan berlari sangat kencang hingga Satpam rumah sakit pun tidak bisa mengejar nya
"Irene,kamu nggak apa apa nak" Silviana menangis melihat Irene yang gemetaran karena ketakutan
"Irene, lihat ini Dr Martin,kamu sudah aman jangan takut lagi" Dr Martin menggenggam erat tangan Irene
"dimana b******n itu" Hilton berlari masuk ke dalam ruangan Silviana
"dia lari pak,tolong tenang dulu,kita fokus kepada Ibu Silviana dan Irene saja" Dr Martin masih menggenggam tangan Irene
Bilson yang berdiri di belakang Hilton melihat wajah Irene yang masih gemetaran sambil menangis
"cantik,tapi badannya gendut" Bilson memuji kecantikan Irene
"udah,maafkan om Irene,maafkan om" Hilton memeluk Irene dan menenangkan nya
"om, Irene takut" Irene memeluk erat Hilton sampai dia keringat dingin
"hei, lihat di sini sudah ada 3 pria dewasa,kami akan menghajar nya jika dia datang lagi" Dr Martin terpaksa menyuntik obat penenang pada Irene
"maaf pak,ini demi keselamatan Irene" Dr Martin langsung mengambil tindakan tanpa persetujuan Hilton
"saya percaya Dokter, terimakasih" Hilton membaringkan Irene di sofa dan menutupi badannya dengan selimut
"Hilton" suara Silviana terdengar mencekam
"ya kak" Hilton mengumpulkan semua keberanian nya untuk mengungkapkan kenyataan nya
"sekarang juga Telfon papa Irene" Silviana menatap Hilton dengan marahnya
"dokter" Hilton berharap Martin mau membantunya
"bu, istirahat dulu ya,ibu masih shock" Dr Martin mencoba mendekati Silviana
"tetap di situ Dokter" Silviana tidak mau mendengarkan Dr Martin
"kak" Hilton mendekati Silviana sedangkan Bilson sesekali menikmati wajah cantik Irene dan tersenyum
"sayang sekali lo gendut,bukan tipe gua,apa kata orang lihat lo jadi kekasih gua" Bilson merasa ngeri membayangkan hujatan para kolega nya apalagi para wanitanya nanti
"telfon sekarang juga" Silviana membentak Hilton dan Bilson tersadar dari lamunannya
"kakak,ini semua demi kakak,kami terpaksa berbohong, Irene membutuhkan kakak saat ini" Hilton mencoba menerangkan semua nya dengan pelan, Bilson kasihan melihat Hilton
"dimana Robert" Silviana semakin marah
"pak Robert sudah meninggal 3 hari yang lalu, karena pecah pembuluh darah di belakang kepalanya" Dr Martin sebagai dokter yang menangani nya menceritakan semua nya pada Silviana
"Robert,kenapa begini,kamu tinggalkan aku dan Irene,kamu jahat" Silviana pun histeris dan pingsan, Dr Martin memakai kan alat bantu pernapasan lagi pada Silviana
Hilton menangis melihat keadaan buruk yang menimpa keluarganya,Bilson menepuk pundak Hilton
"jangan lemah begini, lihat Irene,dia sangat butuh lo saat ini, lihat kakak ipar lo sangat rapuh,apa yang akan terjadi jika lo lemah begini" Bilson menguatkan Hilton
"Irene dan kak Silviana butuh gua,gua harus kuat, harus" Hilton membersihkan air matanya
"apakah bapak Hilton jadi membawa ibu Silviana ke Jakarta, pasien ini sangat butuh pengobatan yang lengkap" Dr Martin akan ikut mengantar langsung Silviana ke rumah sakit Jakarta