Jebakan Saleh

2006 Words
Dr Martin yang menangani Silviana datang ke ruang rawat Silviana "selamat pagi Irene, bagaimana apa ada perkembangan yang dialami ibu Silviana" Dr Martin menanyakan pada Irene "selamat pagi dokter,tadi pagi mama bicara pada Irene,tapi matanya terpejam dokter" Irene menceritakan semuanya pada Dr Martin "Syukur lah Irene sudah ada perkembangan yang cukup besar pada ibu Silviana,saya senang mendengar nya" Dr Martin bernafas lega karena Silviana sudah mulai membaik "Dokter tentang rawat intensif mama tolong dilanjutkan ya, karena saya mau mama mendapatkan pengobatan yang terbaik" Irene akan memakai uang yang dipinjam nya dari Saleh dan akan meminta bantuan Hilton untuk membayarnya nanti "baiklah Irene, semoga semua lelah kamu berbuah manis ya" Dr Martin memberitahukan pada perawatnya agar Silviana di daftarkan atas nama Irene setalah jarak yang jauh akhirnya Hilton sampai di rumah sakit dan menelfon Irene untuk menanyakan kamar Silviana, Irene keluar dari kamar rawat Silviana dan menemui Hilton di parkiran rumah sakit "om" Irene menangis dipelukan Hilton,air mata yang baru saja berhenti,kini keluar lagi membasahi pipi nya "yang kuat Irene,kita bisa melewatinya,lihat om sekarang di sini,kamu lihat om kan" Hilton memeluknya erat keponakan nya dan dia juga menangis "jangan tinggalkan Irene om, Irene takut" Irene melepaskan pelukannya dari Hilton dan menatap wajah nya "tidak akan ada yang terjadi,om di sini sayang" Hilton membersihkan air mata Irene,dan mereka menuju kamar rawat Silviana "kak,aku datang,kakak tidak mau menyapa ku kak,inikah sambutan mu padaku kak,aku jauh dari Jakarta untuk melihat kakak dan Irene,tapi kakak malah diam saja" Hilton mencoba kuat padahal dia sudah ingin menghantam dinding melihat keadaan yang dialami keluarga abang nya Robert dalam keadaan Silviana,dia tau jika Hilton datang, rasanya dia ingin menjawab tapi semua badannya kaku saat ini,hanya air mata yang bisa di teteskan nya "om,tolong jangan lemah seperti ini dihadapan mama,mama bisa drop total om" Irene mengusap punggung Hilton yang tertunduk menangis "maafkan om Irene,om tidak bisa mengontrol emosi om" Hilton membersihkan air matanya dan mencoba sekuat mungkin Hp milik Hilton berdering,nama Bilson tertera di situ "hallo Bil" sapa Hilton dan keluar dari kamar Silviana takut suaranya mengganggu istirahat kakak nya "bagaimana lo dah sampai kan" Bilson yang sedang berada di kantor nya menelfon Hilton "lo udah kayak istri muda aja, perhatian banget" tawa Hilton membuat Bilson kesal "kan lo belum selesai urusan tanah sama gue,kan wajar gue cari lo,takut kena tipu" Bilson tertawa dengan keras, karena tidak mungkin Hilton seperti itu "hahaha, ini gua mau secepatnya bawa kakak dan Irene ke Jakarta,biar lebih lengkap semua pengobatan nya" Hilton menceritakan semuanya pada Bilson dan Bilson sangat mendukung Hilton "om,mama membuka matanya om" suara Irene terdengar dari pintu kamar Silviana, Hilton berlari masuk ke dalam tanpa mematikan sambungan telefon nya, Bilson pun merasa senang mendengar kakak ipar Hilton sadar "kakak,ini Hilton,kakak udah sadar,gitu dong, kalau sambut Hilton harus bangun nggak boleh tidur" Hilton menggenggam tangan Silviana "mana suami kakak,bang Robert mu mana Hilton" tanya Silviana yang tak melihat Robert "ha" Hilton heran dengan perkataan Silviana,dia mengira kalau Silviana mengigau,sementara Bilson yang mendengar nya juga terkejut, Robert sudah meninggal apakah Silviana tidak tau,itulah isi pikiran Bilson "oh iya ma, papa kan gantikan om Hilton buat awasi perusahaan selagi om Hilton di sini,papa bilang kita susul aja ke Jakarta,sekalian mama berobat di sana,mama mau kan" Irene memeluk Silviana sambil menangis "Irene berbohong demi kesehatan mama nya,apa masih ada anak umur 20 tahun memikirkan orang tua seperti Irene" Bilson bergumam di dalam hatinya,ada rasa kagum yang muncul "oh iya kak,kata bang Robert, kakak akan kami bawa ke Jakarta untuk bertobat di sana, pekerjaan Hilton lagi numpuk kak,jadi bang Robert yang ambil alih dulu" Hilton mengerti maksud kebohongan Irene "Irene,kamu sehat kan nak" Silviana heran kenapa Irene menangis "mama jangan gini lagi, Irene nggak kuat nggak ada mam, kenapa sih mama tidurnya lama gini,mama nggak kangen Irene" suara Irene yang menangis membuat Bilson kasihan, "kamu jangan nangis lagi, nanti mama jadi sakit lagi,mama nggak kuat lihat air mata kamu, apalagi papa nak,bisa bisa papa ngamuk kalau lihat kamu menangis" Silviana mencium kening Irene "papa, papa, Irene rindu pa" Irene memeluk erat Silviana dan Hilton menangis melihat Irene harus berbohong demi mamanya Bilson memutuskan sambungan telefon nya,dan tanpa dia sadari air matanya menetes mendengarkan cerita Silviana dan Irene. Irene menceritakan semua pengobatan Silviana begitu juga dengan uang Saleh, Hilton yang akan melunasi semuanya karena mereka akan segera pergi ke Jakarta "nak" Lasmi yang baru datang untuk menjenguk Silviana mengagetkan Irene yang sedang melamun "ibu,maaf Irene kaget" Irene tertawa dan dia menceritakan kalau Silviana sudah sadar dan dia juga memohon agar Lasmi tidak menceritakan kematian Robert karena akan membawa pengaruh buruk untuk kesehatan Silviana "kamu sudah makan,ini ibu bawa makanan buat kamu nak,makan dulu biar kamu sehat dan kuat demi mama kamu" Lasmi membuka kotak bekal makanan nya dan Irene menyantap nya dengan lahap "terimakasih ya buk" Irene senang sekali ada yang memperhatikan nya selain mama nya "om,ini ada bu Lasmi" Irene memberitahu kan pada Hilton kalau Lasmi tetangga yang sangat baik "oh iya buk, terimakasih banyak sudah menemani Irene dan kakkak ipar saya sebelum saya sampai di sini" Hilton menyalami uang untuk Lasmi "saya ikhlas,tidak usah,keluarga mereka sangat baik,ini lah yang bisa saya lakukan untuk membalas semuanya" Lasmi menolak dengan sangat lembut "kalau ibu perlu apa saja bilang pada saya ya bu,saya akan usahakan membantu semampu saya" Hilton menyimpan kembali uang nya "baik nak" Lasmi merapikan kotak makanan yang dibawanya tadi "Irene,om mau ke makam bang Robert,bisa kamu antar om" Hilton berbisik pada Irene dan Irene meminta tolong pada Lasmi untuk menjaga mamanya sebentar saja "Irene,kita ke rumah dulu ya,om mau bersihkan badan dulu" Hilton mengemudi kan mobilnya sementara supirnya berjaga di rumah sakit "iya om, Irene juga mau mandi dulu dan ngurus ternak punya papa juga" Irene menunjukkan arah rumah nya pada Hilton tak berapa lama mereka sampai di rumah "kamu langsung saja urus ayam dan bebek,biar kita cepat ke makam bg Robert,om mandi duluan" Hilton segera mandi dan Irene mengurus ternaknya dulu, setelah semuanya beres Irene bergegas mandi, untung saja ada 2 kamar mandi di rumah itu jadi tidak usah menunggu. "om, Irene udah siap" Irene sudah memakai baju dan kerudung hitam "iya om dah siap nih" Hilton dan Irene segera menuju makam Robert,15 menit waktu yang dibutuhkan untuk menuju makam tersebut "kita beli bunga dan air dulu untuk papa ya om" Irene dan Hilton menuju penjual bunga dan air, kemudian mereka membeli banyak, setelah itu mereka masuk ke dalam pemakaman dan menuju makam Robert "bang,gua datang kesini tapi lo udah dibawah tanah, kenapa lo setega ini sama gua bang,gua cuma punya lo, sekarang gua seorang diri di dunia yang kejam ini" d**a Hilton terasa sakit sekali, setiap langkah kakinya penuh dengan air mata "om ini" Irene menunjuk gundukan tanah yang belum kering sama sekali "bang" Hilton berlutut dan memeluk batu nisan Robert,air mata semakin deras mengalir "harusnya lo ke Jakarta bang,bukan di sini, sekarang harusnya lo awasi perusahaan kita bukan ada di bawah sini bang, kenapa lo tega dengan anak dan istri lo, nanti kak Silviana tanya lo lagi, gua jawab apa bang" Hilton menangis sejadi-jadinya Irene sudah berjanji tidak akan menangis lagi, sekarang hanya mama nya yang akan dipikirkan nya,karena papanya sudah ada di tempat yang sangat damai "om,tabur bunga dulu, biarkan papa tenang om,kasihan papa om" Irene menyerahkan bunga dan air,dan Hilton menaburkan bunga dengan derai air mata nya, kemudian mereka berdua berdoa untuk ketenangan Robert "bang,gua akan jaga Irene dan kak Silviana,cuma itu yang bisa gua lakukan membalas semua kebaikan lo" Hilton mulai tegar dan tabah untuk mengikhlaskan abang tersayangnya setelah 30 menit mereka di makam Robert, Irene dan Hilton akan ke rumah Saleh untuk membayarnya hutang Irene "om, kemarin waktu Irene pegang uangnya,pak Saleh kasih surat perjanjian gitu, tapi Irene nggak tau isinya karena dapat Telfon papa kritis Irene asal tandatangani saja suratnya" Irene menceritakan semuanya pada Hilton termasuk tindakan Saleh yang mau masuk sembarangan ke rumah Irene "kurang ajar kau Saleh, Irene sedang terpuruk kau ingin menjamah nya,akan ku habisi kau" Hilton bersumpah serapah dalam hatinya "om kita bawa om Malih ya,kemarin om itu yang tolong Irene,dan juga om Malih sahabat papa" Irene tau jika Saleh sangat licik "iya,biar ada saksi juga,jadi dia nggak bisa menjebak kamu" Hilton segera menuju rumah Malih setelah Irene menelfon dan menjelaskan semuanya Perjalanan dari rumah Saleh tidak terlalu memakan waktu lama "kalian turun duluan,om bereskan sesuatu dulu,bang Malih tolong temani Irene ya bang" Hilton akan menyiapkan uang untuk Saleh "tentu saja bang,saya akan temani Irene" Malih dan Irene turun dari mobil,dan Malih memanggil Saleh dari pintu rumah Saleh "iii.....ya bg" Saleh sangat ketakutan melihat wajah Malih "Irene kesini mau kembalikan uang yang Irene pinjam dari bapak tempo hari,dan tolong bawakan surat perjanjian nya Sekarang" Irene sangat membenci Saleh setelah kejadian kemarin "kamu punya uang darimana,hahahhaha" Saleh seolah menghina Irene,dan Malih melayangkan satu tendangan di kaki Saleh "mau saya buat anda lumpuh" ancam Malih pada Saleh, Saleh yang ketakutan pun masuk ke dalam kamarnya dan mengambil surat perjanjian mereka "serahkan surat perjanjian nya pada saya" Hilton membuka kaca matanya dan membacanya dengan lantang "Surat perjanjian ini dibuat dalam keadaan sadar,dimana pihak peminjam yang tak lain adalah Irene bersedia melayani hubungan badan dengan Saleh pemilik uang,selama uang yang dipinjam Irene beserta bunganya lunas dibayarkan,dan juga kesepakatan ini berakhir hanya jika uang dan bunga nya sudah dikembalikan dan pihak peminjam yang memutuskan surat perjanjian ini" "dasar b******n" Malih yang tidak terima perlakuan Saleh menghajar nya tanpa ampun "astaga, Irene sedang terpuruk tapi dia masih ingin menjebak Irene" Irene hampir menangis atas perbuatan Saleh "Saleh" teriakan Hilton bergema dirumah Saleh "ampun pak,ampun bg" Saleh menutup wajahnya dengan kedua tangannya Hilton tak ingin berlama-lama dengan Saleh,dia memerintahkan Saleh untuk mengambil kertas dan menulis semua yang diucapkan Hilton "dengan surat ini dinyatakan bahwa hutang dari Irene sudah dibayarkan lunas beserta bunganya,dengan ini pihak yang memiliki uang menyatakan bahwa surat perjanjian yang pertama sudah tidak berlaku lagi,dan apabila Saleh masih melakukan tindakan tidak senonoh pada Irene maka Saleh akan di jebloskan dalam penjara dan denda 50 juta rupiah" Hilton membuat perjanjian agar Irene aman dari Saleh Malih dan Hilton menjadi saksi atas surat perjanjian yang baru,dan menandatangani di atas materai "anda masih menyimpan salinan surat perjanjian yang pertama" Hilton tidak mau kelicikan Saleh akan menjatuhkan Irene kelak "tidak pak,hanya satu" Saleh menjawab dengan gelagapan "ini semua sudah saya rekam,jika terbukti anda berbohong,saya akan menghabisi anda Saleh" Hilton melempar uang di dalam tas kecil kehadapan Saleh setelah semuanya beres, Mereka bertiga pulang untuk membersihkan diri dan ke rumah sakit lagi untuk mengurus kepindahan Irene ke rumah sakit Jakarta sementara Bilson di Jakarta "Feri, bagaimana proyek Hilton, tidak ada masalah bukan" Bilson yang sedang bersantai di sofa kantornya dan sangat takut jika nanti ada masalah jika dia yang mengendalikan "bg, kayaknya kita perlu tanda tangan bg Hilton, soalnya ini ada proyek yang harus di urus hari 3 hari lagi" Feri melihat tidak ada tanda tangan digital di laptop milik Hilton "ya sudahlah, kita susul dia,lo urus semua yang membutuhkan tanda tangan Hilton, kayaknya dia masih lama di desa Cc mengurus kakak iparnya" Bilson mau tidak mau harus berangkat ke desa Cc tak lama hp Bilson pun berdering "ya bg,ada apa" Feri menjawab panggilan telfon dari Hilton karena Bilson sedang ke pantry mengambil kopi nya "masih nggak percaya juga ya abg lo sama cleaning servicenya pakai dia segala yang langsung membuat kopi" Hilton tau jika Bilson pernah di jebak oleh salah seorang wanita sebagai cleaning service di kantor Bilson "iya bg, kalau gua jadi dia juga ogah lah bg percaya sama orang lagi, hahahahaahhahahah" tawa Feri dan Hilton saling bersahutan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD