15. Tergapai atau tidak

2096 Words
Dalam sebuah malam yang sunyi, ada sebuah rasa yang takkan bisa dihilangkan dan bersifat alamiah. Ada sebagian orang yang akan merasa takut karena suasana yang gelap. Rembulan yang tak menampakkan diri sebagai teman pada saat overthingking menyergap. Seperti bintang yang malam ini tak menampakkan diri karena tertutup awan hitam yang pekat. Seseorang mungkin sedang mengalami hal yang serupa seperti bintang yang tak dapat memamerkan betapa indahnya dirinya di kegelapan. Angin malam yang rasanya dingin juga disukai sebagian orang yang memilih menembus malam untuk meredakan gejolak dalam d**a yang terlampau sesak. Tangis tanpa suara diantara kebisuan yang mendera. Semuanya, adalah bagaimana mereka menghabiskan malam panjang dengan ribuan rasa yang sulit untuk terucap dengan kata-kata. Suara-suara kendaraan besar yang melintas terdengar cukup untuk menemani sepinya malam. Tidak bisa menyampaikan rindu, tapi terdengar cocok untuk menemani seseorang yang merasa malam semakin sunyi. Ia tidak takut, hanya beberapa kali merinding karena tiba-tiba dilanda rasa dingin. Padahal, Jakarta masih jadi kota yang padat penduduk dengan suhu tinggi. Genjrengan gitar Ditya sudah berakhir sejak laki-laki itu memilih memasuki kamar dan menyerah. Itupun karena Dana sudah mendelik di balik jendela kamarnya. Pramuditya tetap jadi manusia malas yang bahkan belum menyicil skripsinya. Padahal, Dana juga Jevano sudah mulai pening pada skripsi. Sebenarnya, genjrengan gitar Ditya bisa menemani malam Andana yang sunyi. Andai dirinya tengah berada di rumah ayah, mungkin kali ini Dana akan bangkit dan berdiri di tepian jendela. Mengamati kamar Saras yang sudah dipastikan gelap. Karena gadis itu tidak bisa bergadang lebih dari jam 11 malam. Kecuali jika gadis itu mengalami overthingking. Mengusap lengan yang dingin, Dana kembali menyeruput kopi hitam yang ia letakkan pada ujung meja. Sengaja lebih jauh karena dokumen yang memenuhi meja belajarnya lebih penting daripada kopi hitam kesukaannya. Ini seperti hidup dan mati. Di mana berkas miliknya akan jadi penyelamat, Dana sedang berusaha untuk melawan rasa malasnya. Ia agak mengangkat tangan dan menguap. Lalu tak lama, kembali fokus pada lembaran referensi dari beberapa lembar kerja miliknya. Mungkin masih beberapa bulan lagi sampai deadline Dana untuk mengikuti bimbingan dengan dosen. Jarinya terus bergerak di atas keyboard. Tapi lagi-lagi berhenti. Percakapan dengan Saras ketika menjemput perempuan itu pulang kembali terngiang. Terus menghantui pikirannya sendiri. Lalu, ingatannya kembali pada saat Saras mengampirinya bersama Ayuni--perempuan yang akhir-akhir ini ia curigai menjadi kekasih ayah. Andana kembali menerawang. Teringat pada sosok bunda yang ia rindukan. Lalu, wajah Ayuni kembali terlihat. Entah kenapa, Dana merasa jika perempuan bernama Ayuni itu memang memiliki suatu rahasia. Hubungan dengan ayah maupun bunda. "Jangan benci tante Ayuni," "Mungkin, dia terlihat enggak baik buat kamu sama Lani. Tapi siapa yang tahu, kalau sebenarnya tante Ayuni juga punya hak karena salah satu tujuan hidupnya adalah kamu," Dana mendesah berat. Kepalanya menumpu pada kedua lengan yang terlipat di atas meja. Meluruh bersamaan dengan helaan napas panjang yang terus ia hembuskan. Mungkin rembulan sudah muak dengan kelakuan Dana. Tapi apa boleh buat, Dana tidak akan bisa mengatakan keresahannya pada Saras maupun Lani. Ia harus tetap terlihat kokoh. "Salah satu tujuan hidup tante Ayuni adalah kamu," kata-kata Saras masih terus terdengar jelas di telinga Dana. Jika Dana adalah tujuan hidup tante Ayuni. Lantas, apa sebenarnya yang ingin perempuan itu lakukan. Menikahi ayah? Atau membuat Dana semakin pusing dengan keadaan. Harusnya ia tinggal lebih lama di rumah Saras. Setidaknya, melihat Saras dan mas Dafa bertengkar adalah suatu keramaian. Atau melarang Ditya agar tak mengakhiri genjrengannya di depan kamar. Karena meski berisik, suara lembut Ditya bisa mengobati lara yang ia rasakan. Kembali pada kerangka skripsi yang ia miliki. Dana menarik napas dalam. Ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu mengikuti apa yang ayah perintahkan. Lulus sebelum semester 7. Setidaknya, Dana bisa mencari pundi-pundi rupiah agar dirinya terbebas dari ayah. Membawa Lani untuk hidup dengan kehangatan. Dan yang selalu terucap dalam do'a di malam yang sunyi, Dana ingin mengikat Saras pada sebuah janji yang lebih baik. Masih terlalu cepat. Apalagi cita-cita gadis itu sangat berharga. Kini, Dana tersenyum tipis. Menyemangati diri. Karena ada Annira Saras yang akan jadi tanggung jawabnya kelak di masa depan. Doakan saja. Semoga Saras mau menerimanya. Karena saingan Dana jelas bukan hanya Revan si manager berduit, tapi Lee Taeyong. Anak nyai yang punya segudang bakat juga uang dalam atm nya. Lee Taeyong si super idol yang sering Saras elu-elukan tak akan pernah bisa Saras miliki. Bukan karena Taeyong tidak bertanggung jawab telah membuat Saras hampir gila. Tapi satu fakta yang harus selalu Saras ingat. "Tidak tergapai," Malam ini, menjadi salah satu dari malam panjang yang ada di hidup Dana. Karena sebelum ini, malam yang ia lewati sama panjangnya. Bedanya, sekarang laki-laki itu tersenyum manis pada selembar poto candid Saras yang ia ambil tanpa sepengetahuan perempuan itu ketika berlibur ke Bogor. Meski ada Kim Jiwon di laptop, atau Irene di galeri. Annira Saras akan tetap di hati. Memboikot seluruh isi hatinya. Meski gadis itu tak akan pernah mengatakan "Aku mau jadi pacarmu," tapi setidaknya perilaku gadis itu membalas rasa Dana. Semoga saja. _-_-_-_-_- Hembusan angin berhasil menerbangkan setiap jiwa yang lelah. Daun yang saling melambai seolah ingin melarikan diri dari dahan yang menjeratnya. Mungkin daun di depan rumah Saras juga mengalami hal yang sama. Ingin terbebas, meski akan berakhir terjatuh di tempat lain. Sampai akhirnya akan kering dan terkubur oleh debu yang semakin menumpuk. Sama seperti daun yang ingin terbebas dari ranting yang menjeratnya, Saras juga sama. Ia sangat ingin pergi ketika mas Dafa datang. Masih dengan sarung wadimor lebaran tahun lalu, laki-laki itu duduk di sisi Saras. Mengamati pergerakan gadis itu yang sebenarnya sudah lelah belajar. Apalagi kini, sebuah buku tebal berisi latihan soal matematika ada di depannya. Sebagai manusia pecinta rumus, Dafa terus menyoroti Saras. Bahkan tanpa menoleh pun Saras tahu. Bahwa pergi sama dengan perang. Saras sedang tidak minat berdebat dengan mas Dafa. Belum sempat Saras menegakkan punggung. Mas Dafa lebih dulu mendekat seraya meraih buku latihan milik Saras. Menggeleng, laki-laki itu juga meraih pensil yang masih bertengger di antara bibir dan hidung Saras. Cukup membuat adiknya mendelik karena mulai merasa teraniaya. "Pelan-pelan ih Mas," Saras merajuk. Sudut bibir sebelah kiri mencuat. Tapi Dafa tetap tidak peduli. "Per mark punya rumus yang berbeda. Yang gue tandai ini artinya punya rumus yang sama. Yang tandanya beda, ya beda pengerjaannya." Dafa melingkari beberapa soal serupa. Lalu, memberi tanda bintang, sampai bulatan kecil di sisi soal. Menandakan laki-laki itu betulan memberikan kemudahan untuk mengelompokkan soal. "Kemampuan dasar sama jurusan harus dikuasai. Kalo bener-bener mau satu kampus sama Dana," masih mengamati pekerjaan Saras, Dafa berujar demikian. Hanya untuk membuat Saras semakin bisu. "Beneran mau ambil arsitektur interior? Itu lumayan baru," kali ini Saras mengangguk. Menempelkan pipi pada meja rendah di depan televisi. Masih memperhatikan mas Dafa yang lebih teliti. Jika dilihat seperti ini, mas Dafa jelas lebih tampan berkali-kali lipat. Sayangnya, mas Dafa akan berubah ketika mulai nyinyir dan julid. Entahlah apa alasan yang pas untuk mbak Vanda mencintai kakaknya ini. "Enggak satu aja? Arsitektur udah cukup buat rambut lo rontok lebih banyak. Ambil salah satu aja. Nanti, kalo pemilihan jurusan, ambil arsitektur interior sama arsitektur biasa. Bayarnya sama kok," Dafa kembali mengangsurkan buku milik Saras. Alih-alih menerima dan mengerjakan kembali, gadis itu menghela napas panjang. "Kayaknya susah ya Mas?" Dafa tak menjawab. Pertanyaan Saras pasti akan berputar pada hal mengenai perkuliahan yang Saras impikan. Laki-laki itu sudah tahu, bahwa biasa untuk melanjutkan study Saras tidaklah murah. Terlebih, gadis itu memilih jurusan terbaik. Ada sedikit kekhawatiran tentang bagaimana Saras akan menjalani hidupnya sebagai mahasiswa. Jauh dari mama yang selalu gadis itu cari sepulang bepergian. Ada bapak yang sering ditempeli Saras ketika ingin jajan di indomaret depan. Laki-laki itu menipiskan bibir. "Percaya aja kamu bisa," nada bicaranya mulai berubah. Tak ada lagi subjek 'lo' yang seringkali Dafa gunakan. "Kalo sekarang gagal, nanti kan bisa coba lagi. Yang penting udah usaha sebaik mungkin," "Tapi Saras udah telat masuk kuliahnya," gadis itu kembali menumpu wajah di atas lipatan tangan. Bibirnya terus bergumam, entah untuk apa. Tapi cukup membuat Saras tambah meredup. "Loh, enggak papa dong. Masih ada paralel sama ekstensi," enteng sekali. Pikir Saras. Untuk manusia sejenis mas Dafa yang ambisius dan bisa fokus pada beberapa hal secara bersamaan, itu akan sangat mudah. Sedangkan Saras, ia terlalu kentang untuk manusia sejenis kakaknya. Lagipula, Saras tidak rajin seperti mas Dafa. Apapun yang ia kerjakan serasa mengambang dan tak mantap. "Tapi jangan ambil ekstensi. Nanti yang ada mandek ditengah jalan berabe. Udah duit masuk banyak, mogok kuliah," tanpa menghiraukan ekspresi Saras yang semakin berubah. Dafa santai saja meraih salak di samping Saras. Sembari memperhatikan bagaimana mas Dafa jadi bucin salak. Saras terus memikirkan perihal bagaimana besok ia kuliah. Penyesalan tetap terjadi meski si pelaku melakukan hal sebaik mungkin. Seperti halnya Saras yang kini menyesal akan mengambil jurusan arsitektur interior. "Kalo nanti Saras enggak diterima gimana Mas? Pasti saingannya banyak," Laki-laki berumur 25 tahun yang duduk di sisi Saras lantas menepuk kepala adiknya dengan kertas fotokopi di depannya. Mulut penuh salak yang baru ia masukan lantas tambah mencuat. Meski disertai dengan kerongkongan yang tercekat, Dafa menelan bulat-bulat salak yang sudah terlanjur masuk. "Makanya Mas bilang kamu ambil 2 jurusan. Pilihan pertama ada di arsitektur interior itu, terus yang kedua kan bebas pilih. Mau arsitektur gak papa, atau mau yang lain juga boleh," Saras manggut-manggut. "Kalo enggak diterima juga?" lantas, wajah polos dengan mata bulat mengerjap itu makin membuat Dafa mendengus. "Ras, masih banyak universitas lain. Hidup gak harus berhenti jika apa yang kamu mau gak tergapai. Universitas di Jakarta banyak, di bandung bagus-bagus. Tinggal mau yang mana dan usaha yang gimana." Ucapan mas Dafa jelas membuat Saras terpukul mundur sebelum kembali berkomentar. Menyelam pada pemikiran semerawutnya, Saras menimang pilihan kedua untuk jurusan yang ia pilih. Pasti tidak akan keluar dari jurusan arsitektur. Meski mencintai Korea sebagai negara kelahiran Lee Taeyong. Saras mungkin tak akan mengambil jurusan tersebut. Menghentikan kegiatan melamunnya. Saras meraih ponsel yang sejak tadi ia matikan. Hal pertama yang akan ia lakukan adalah mencari informasi sebanyak mungkin. Setidaknya, Saras bisa tahu peluang untuknya masuk dalam beberapa jurusan yang berbeda. Jika arsitektur interior tidak menerimanya, maka ada pilihan kedua. Seperti yang mas Dafa katakan tadi. Hidup tak akan berakhir hanya karena apa yang kita inginkan tidak tergapai. Lalu, secara tiba-tiba Saras mengingat Taeyong. Taeyong tak akan tergapai oleh tangan Saras. Bagaimana mungkin ia bisa menggapai manusia seperti Taeyong di dunia. Maka, ada Andana Gibran yang selama ini menemani. Hidup tetap bisa berjalan dengan pilihan kedua. Sayangnya, di dunia nyata Saras memilih Dana sebagai pilihan utama. Karena tidak ada laki-laki lain yang tinggal lebih lama selain Dana. Padahal jika dipikir-pikir Dana jelas bisa mempunyai pacar dan meninggalkan Saras. Yang notaben hanya teman. Ingat, hanya teman. Mendesah berat. Kepala Saras lagi-lagi menumpu pada meja. Sepertinya, isi kepala Saras semakin berat. Terbukti dar beberapa kali sejak gadis duduk di depan televisi dan menjatuhkan kepala pada permukaan meja. Jarinya masih menelusuri tentang informasi yang ada. Termasuk ujian jalur mandiri yang akan diadakan dalam dua bulan kedepan. Pendaftaran di bulan Mei. Dan Saras tidak boleh melewatkan ini. Setidaknya, ia tidak terlambat untuk hal krusial itu. Mengintip pada Web lain, Saras sedikit tertarik pada salah satu universitas di Yogyakarta. "Kalo Saras juga daftar yang di Jogja gimana Mas?" Dafa yang baru kembali membawa secangkir kopi lantas duduk mengangkat satu kakinya. "Jauh amat," komentarnya. "Kan Saras dah gede Mas. Jogja juga deket sama kampungnya Eyang. Nanti Saras jadi bisa main ke Demak," "Gak," Saras mencuatkan bibir. Kenapa semua orang di rumah harus menghalangi Saras pergi. Menjadikannya bayi padahal umur Saras juga sudah legal. Ia bisa bepergian sendiri. "Ke kantor aja masih dianter," "Yakan beda urusan ih. Nih ya Mas, kalo di Jogja, biaya hidupnya murah. Terus kos gitu kan banyak. Mas Dafa bisa masukin Saras ke kos yang ada jam malam. Setuju?" "Gak bisa," mas Dafa masih kekeuh dengan pendiriannya. "Katanya Saras harus punya backing buat universitas kedua. Ya itu, di Jogja." "Kenapa gak di Bandung aja? Lebih deket, Mama sama Bapak bisa jenguk," Dafa masih tak habis pikir pada apapun mengenai Saras. Awalnya gadis itu ingin berada di universitas yang sama dengan Dana. Beralasan pada tempat yang dekat. Lalu sekarang? Ingin kabur ke Jogja? Padahal universitas di Jakarta dan Bandung bertebaran. Bahkan gadis itu belum mulai mendaftar pada universitas tertuju. "Lo bahkan belum daftar. Daftar dulu, duitnya keluar banyak. Jangan boros," setelah mengatakan itu, Dafa berlalu. Meninggalkan Saras yang lagi-lagi menumpu kepala dengan buku tebalnya. Nyaman sekali. Pikirannya kembali berkeliaran. "Kayaknya enak juga hidup di Jogja," Saras mengakhiri kegiatan dengan tidur di tumpukan buku. Memeluk tiga buku tebal di bawah kepala. "Kesel duh gusti. Pengen di rabi Dana wae. Aku gak kuat gusti.." Dafa tertawa tanpa suara di balik gorden ruang tamu. Tak lupa pada handphone yang terus merekam. Menempel pada ujung gorden dan dinding kamarnya. Dasar Saras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD