14. Lagu Sendu

2252 Words
Suasana yang cerah membawa perasaan damai untuk beberapa orang. Matahari yang kian bergeser ke arah barat menandakan bahwa waktu berjalan dengan baik. Udara di luar terasa sangat panas dan membuat beberapa orang bisa jadi mengeluh karena merasakan paparan sang surya yang begitu menyengat. Berbeda dengan udara di dalam ruangan yang membuat orang-orang di dalamnya merasa kedinginan. Bahkan seorang Annira Saras hampir saja tertidur sangking dinginnya suhu ruangan yang sengaja dipasang rendah oleh leader marketing. Saras meneguk air dalam gelasnya. Matanya mengerjap beberapa kali karena terlalu berat. Entahlah padahal hari ngoyo sedunia adalah Selasa. Ini masih Jum'at, kenapa rasanya seberat ini? Artikel yang akan ia tulis sejak sepuluh menit yang lalu hanya berputar-putar dalam pikirannya. Tak benar-benar tertulis jadi sebuah kalimat yang lebih layak. Pekerjaan Saras masih menumpuk. Dead line hari ini masih kurang lima artikel lagi. Jika sampai jam empat Saras belum juga merampungkan pekerjaannya hari ini. Akan berujung penumpukan di hari berikutnya. Saras tidak mau menumpuk pekerjaannya jadi berkali-kali lipat lebih banyak. Sebenarnya, pekerjaan Saras tidak seberat memikirkan negeri Konoha, atau menyelamatkan negeri Prindaphan bersama Krishna atau juga membantu Boboiboy dan teman-teman untuk menyelamatkan keberadaan cokelat di dunia. Ia hanya harus membuat artikel untuk mempromosikan produk milik perusahaan. Targetnya memang tidak main-main. Setidaknya sehari ia harus menulis 150 artikel. Kalau lebih dia jadi bisa bekerja lebih santai dari hari ini. Tapi, 150 artikel itu cukup membuat punggungnya mati rasa juga jari-jari tangannya jadi kebas dan keriting tak karuan. Otaknya dipaksa untuk merangkai kata jadi kalimat yang bertujuan membujuk para pembeli. Saras meraih airpods pemberian Lani. Menghubungkan dengan handphone yang kemudian sebuah lagu sendu mengalir menjalari gendang telinganya. Membawa aliran darahnya jadi lebih tenang. Menelusup dalam relung hati dan pikirannya yang merasa gelisah. Perlahan tapi pasti, sebuah lagu sendu berhasil menenangkan jiwa yang resah. Keadaan luar ruangan yang panas tak sampai padanya. Selain karena ac ruangan yang dinginnya hampir sama dengan kulkas di rumah, lagu-lagu sendu menyelamatkan Saras dari panas yang melanda. Pada setiap langkah, Saras ingin merasa tenang seperti ini. Tapi mungkin tak akan pernah bisa. Karena, sesaat ia masih memikirkan bagaimana masa depannya yang abu-abu. Terlampau tak jelas karena sampai sekarang Saras belum bisa mencapai pada target belajar untuk tes mandirinya beberapa minggu lagi. Setiap orang punya cara untuk membangun mood mereka. Menghabiskan beberapa waktu untuk membuat hatinya lebih ringan. Bagi Saras, lagu sendu yang mengalun dari airpods mampu membuatnya sedikit membaik. Katanya, kalau mendengarkan lagu sedih bisa membuat siapa saja ikut merasa sedih dan pilu. Tapi, sekarang Saras mulai menggerakkan jari-jarinya setelah memejamkan mata cukup lama. Baginya, sebuah lagu punya efek berbeda untuk masing-masing orang. Lani lebih suka mendengar lagu sendu ketika dirinya ingin menangis. Sedangkan Saras, memilih lagu sedih untuk membuat moodnya lebih baik. Mas Dafa akan bernyanyi seharian, bersama gitar kesayangannya di dalam kamar. Dan seorang Andana Gibran lebih suka suara hujan alih-alih sebuah lagu sendu sepertinya. Selera orang berbeda-beda. Mungkin ada satu dua hal yang membuat mereka merasa sama dan satu frekuensi. Tapi setidaknya ada satu hal pula yang bertolak belakang seperti itu. Hidup tak harus bersama dengan orang yang menyukai apapun yang kita suka. Ada kalanya, perbedaan membuat kita mengerti arti saling menghargai. Bersama tak harus sama. Berbeda tak boleh saling mencela. "Annira?" Saras melepas salah satu airpods dari telinganya. Mendongak pada pak Yudha si HRD muda tampan. Yang tak lebih tampan dari Dana. Dengan kedua alis terangkat, Saras turut berdiri dari duduknya. "Ke atas, saya mau bicara dengan kamu," Lantas, setelah berkata demikian, pak Yudha berlalu begitu saja. Menyisakan kebingungan Saras. Apakah sistem kerjanya bermasalah? Atau mungkin, cara kerja Saras tidak sesuai dengan kriteria di kantor ini? Dengan langkah yang agak berat. Saras menyeret kakinya menuju lantai dua. di mana pusat office ada disana. Berdiri dengan ragu di depan pintu dengan papan kecil bertuliskan HRD. Pada akhirnya, Saras memberanikan diri mengetuk pintu kaca di depannya. Yang kemudian kakinya memilih melangkah maju setelah mendengar balasan dari beberapa orang di dalam ruangan. Gadis itu memasuki ruangan disambut dengan aroma kopi yang menenangkan. Rasanya, Saras juga ingin mengganti aroma cytrus di ruangan IT dengan aroma kopi seperti ini. Untung saja, cytrus lebih baik daripada Stella Jeruk ketika study tour smp nya. Pak Yudha sudah tersenyum lebar. mempersilakan Saras untuk duduk di depan mejanya dalam sebuah kubikel yang ada di bagian paling ujung. "Kamu sudah dengar dari Cindi?" penyambutan macam apa ini? Bahkan Saras tidak mengerti kemana arah pembicaraan pak Yudha sebenarnya. Laki-laki berusia 25 tahun itu terkekeh pelan. "Maaf, saya kira kamu sudah tahu," Saras hanya menggeleng dengan senyum tipis. "Leader kamu mau keluar karena alasan pribadi. Dan menurut saya, kamu bisa menggantikannya," "Menggantikan?" Pak Yudha mengangguk kecil dengan senyuman lebarnya. "Hm, kamu sudah berpengalaman. Dan dari yang saya lihat, kamu bisa menggantikan Cindi jadi leader tim, bersedia?" "Tapi, saya tidak sebaik itu. Pak Yudha kan tau, saya sering disalah pahami sama leader. Saya juga introvert, tidak bisa sebaik kak Cindi dalam memimpin sebuah tim. Gimana bisa saya yang jadi leader?" Dalam hatinya Saras mengomel. Kenapa pula dia yang menggantikan Cindi? Padahal dari segi manapun, Saras hanya seorang karyawan yang iya iya saja. Kalau disuruh masuk jurang mungkin akan Saras lakukan. Asal sang leader tidak mengomelinya seperti biasanya. HRD muda dengan kemeja navy itu lantas tersenyum. Mengangguk kecil, ada sedikit rasa setuju tapi juga tak begitu peduli. "Cindi mau resign. Dan satu-satunya orang yang cocok menurut HRD dan manager itu kamu. Pengalaman sudah hampir 2 tahun. Setelah itu, kamu tidak usah memperpanjang kontrak dan jadi karyawan tetap kami. Bagaimana?" Kalimat panjang pak Yudha berhasil membuat Saras diam membeku. Menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan distributor terbaik tentu tak akan pernah Saras lewatkan. Tapi, leader jelas bukan hal yang mudah untuk Saras lewati. Posisi yang tinggi itu. Sama saja seperti membiarkan angin bertiup lebih kencang. Sebagai karyawan bawah jelas Saras akan merasakan perbedaan yang signifikan dari sebelumnya. Juga, berbagai macam rapat dan caci maki dari atasan ketika anak-anaknya bermasalah. Menjadi leader sebuah tim sama saja dengan mendorong diri ke tepi jurang dengan debit air yang banyak juga predator yang menunggu di bawah. "Bagimana? I belive you, Annira," pak Yudha kembali tersenyum. "Jangan takut. Dan ini keputusan finalnya. Manager marketing dan IT juga sudah setuju. Gimana, mulai dua bulan lagi. Juli Cindi keluar, dan kamu akan melihat bagaimana cara Cindi bekerja sebelum dia resign," "Bukannya akan ada perekrutan untuk pegawai baru ya Pak?" laki-laki di depan Saras hanya mengangguk. "Benar. Tapi ini sebuah peluang besar untuk kamu. Jenjang karirnya juga tidak main-main. Kamu tahu kan, pengalaman lebih diutamakan. Dan saya tidak yakin ada pegawai baru untuk posisi leader." "Saya mau kuliah Pak," pada akhirnya, rahasia yang ingin Saras tutup rapat harus ia buka demi mengelak pada sebuah pilihan. "Saya tidak berniat untuk memperpanjang kontrak dengan perusahaan," "Why?" tanya pak Yudha dengan heran. Bahkan kedua alisnya bertaut. "Kamu bisa sambil kuliah. Banyak teman-teman kamu yang ambil kelas karyawan. Dan bukan tidak mungkin kamu tidak bisa. Kamu pasti bisa. Mau ambil teknik informatika? Nanti perusahaan akan urus untuk program beasiswa kamu," Saras mengulum bibir. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ac ruangan yang dingin nyatanya tidak membantu rasa gerah yang timbul. Entah mengapa, mata Saras terasa menghangat begitu saja. Mungkin, tidak terlalu terlihat sebab ac juga mampu membuat matanya kering seketika. "Saya mau ambil Arsitektur," Dan begitu saja. Jawaban singkat Saras siang itu jelas membuat pak Yudha bertanya-tanya. Dengan helaan napas panjang laki-laki itu memajukan kursinya lebih dekat. Melobi keputusan Saras nyatanya tak akan pernah bisa diganggu. Pertanyaan tak habis pikir pak Yudha masih berseliweran di kepala Saras. Bahkan hingga gadis itu memutuskan untuk menumpu kepala pada meja kerjanya. Membiarkan beberapa rekan kerjanya melihat itu dengan tatapan bingung. Tawaran pak Yudha juga tak bisa Saras abaikan. Dapat beasiswa? Tentu saja Saras mau. Tapi apa mungkin perusahaan membiayai pendidikannya yang lintas jurusan dengan perusahaan? Tidak akan mungkin. Saras menghela napas panjang. Artikelnya belum juga rampung. Belum lagi beban pikiran yang semakin lama dirasa Saras hanya ingin mengeluh sejadi-jadinya. Tiba-tiba Saras ingin hujan turun dan membasahinya. Mungkin, jika hujan betulan turun, Saras benar-benar akan berdiri di bawah tetesan airnya yang deras. Tidak untuk menyamarkan air matanya. Tetapi untuk mengobati kepalanya yang semakin lama sepertinya akan meledak. Dan mungkin itu sebentar lagi. Selaras dengan dering ponsel Saras di ujung meja. Menampilkan sebuah nama yang ia tunggu. Pada akhirnya, Saras kembali meninggalkan ruangan untuk mengobati rasa lelahnya. "Na, capek." dalam sebuah hening Saras terisak di pantry perusahaan. Merunduk dalam untuk mengatakan pada Dana, bahwa hari ini cukup melelahkan untuknya. Bahwa hari ini Annira Saras memilih untuk mengeluh pada Andana Gibran. _-_-_-_-_- Dosen keluar tepat setelah menutup kelas sore ini. Diiringi helaan napas panjang dari para mahasiswa yang duduk di belakang meja masing-masing. Begitu pula dengan Dana yang langsung berdiri dari duduknya. Beranjak begitu saja tanpa memedulikan panggilan dari Ditya yang tak lama, laki-laki itu mengumpat pada Dana yang tega mengabaikannya. "Woy!! Si Isyana suka oppa oppa bukan badut oppo!" bahkan setelah diteriaki begitu, Dana tetap tidak peduli. Membiarkan Ditya kembali berteriak kesetanan dengan sendirinya. Dana menatap layar ponselnya. Mungkin jika dia berangkat menjemput Saras sekarang, akan tepat waktu sampai akhirnya gadis itu keluar dari kantor. Dengan wajah lusuh yang anehnya masih tetap tampan. Dana melajukan motor merahnya dalam batas normal-- menurut pengendara motor besar sepertinya. Tapi untuk ukuran emak-emak sein kanan belok kiri, Dana sudah dikatakan mengebut. Isak Saras jelas membuat Dana khawatir. Sampai akhirnya, laki-laki yang awalnya mengatakan tak akan pulang, memilih untuk menjemput Saras. Setidaknya, dia ada ketika Saras begini. Terkait dengan egonya, Dana tidak begitu peduli. Toh, ayah tidak pernah di rumah. Matahari yang semakin bergeser ke barat masih menghantarkan rasa hangat. Setengah jam. Hanya butuh waktu setengah jam untuk Dana sampai tepat di parkiran kantor tempat Saras bekerja. Namun, sampai satu jam lamanya Saras belum juga menampakkan diri. Dengan gusar Dana menghubungi gadis itu. Tidak lucu jika Saras sudah pulang sebelum jam pulang kantor. Mas Dafa juga tidak menemukan Saras di rumah. Yang katanya, gadis itu belum keluar dari kantor karena pekerjaan yang tertunda. Angkutan umum jelas bukan pilihan Saras. Mengenang enam tahun lalu ketika gadis itu dibuat ketakutan di dalam sebuah Metro mini membuat Dana menghela napas kembali. Sebuah balasan membuat Dana menoleh dengan hati yang tiba-tiba meringan. Senyumnya terbit seiring jingga yang semakin terlihat di langit sore. Netranya langsung fokus pada siluet gadis yang membiarkan rambutnya dikuncir tinggi dengan beberapa helai yang terurai. Tapi, kali ini Saras tak sendiri. Ada orang lain yang berjalan berdampingan dengannya. Sukses membuat Andana dibuat membeku di sisi motor. Dari kejauhan, Saras meringis kecil pada laki-laki itu. Matanya ingin melarikan diri. Kemana pun asal bukan sorot tajam Dana yang kini ditujukan untuknya. Sepertinya. "Ayo pulang," ucapan Dana langsung menginterupsi Saras untuk menahan laki-laki yang akan melarikan diri itu. "Bentar dulu Na," yang lebih muda berusaha melobi. Sesekali menoleh pada wanita berpakaian rapi di belakangnya. Takut-takut jika wanita itu mendengar semua yang akan ia katakan pada Dana. "Lima menit aja. Ya?" "Gak ada. Pulang sekarang, udah senja. Sebentar lagi maghrib dan Bapak udah pulang," hanya dengan begitu, Saras dibuat dilema dengan rasanya. Helaan napasnya terdengar lelah. Meringis kecil pada wanita yang berdiri dengan radius 2 meter darinya. Saras kembali melirik Dana yang tidak main-main. Bahkan sudah bersiap menyalakan motor di samping Saras. "Tante, maaf ya. Mungkin lain kali--" "Enggak akan pernah ada lain kali lagi," Saras kembali meringis. Menganggukkan kepala dengan sopan. Bermaksud meminta maaf kepada Ayuni yang kali ini maklum. Ikat rambutnya ia loloskan, berganti jadi kaitan di bawah agar helm bogo yang ia bawa bisa melindungi kepalanya dari benturan. Mencegah amnesia meski Saras sangat ingin amnesia pada beberapa hal yang membuat kepalanya hampir pecah awal tahun ini. Pada akhirnya, Saras tak akan pernah bisa amnesia. Dia tak ingin itu menjadi nyata. Karena, untuk sebuah ingatan dalam kaset rusak di otaknya, Andana Gibran sukses membuat banyak memori indah. Yang meski, sangat sederhana. Sesederhana laki-laki itu menyentuh lututnya ketika lampu merah menghentikan kendaraan mereka. "Na," panggilan itu sukses membuat Dana menoleh kecil dengan gumaman tak jelas. "Jangan benci tante Ayuni," Tak ada balasan. Membuat Saras kali ini meneguk ludah. Menautkan jemarinya memeluk Dana lebih erat dari sebelumnya. "Mungkin, dia terlihat enggak baik buat kamu sama Lani. Tapi siapa yang tahu, kalau sebenarnya tante Ayuni juga punya hak karena salah satu tujuan hidupnya adalah kamu," Dana tak membalas lagi, juga Saras yang memilih bungkam pada kalimat terakhirnya. Sebelum akhirnya, lampu merah kembali hijau. Menandakan bahwa mereka bisa kembali meneruskan perjalanan panjang dalam sebuah keheningan yang menyergap. Dalam keterdiaman panjang itu Saras kembali menimang percakapannya dengan tante Ayuni sebelum Andana datang. Sebelum akhirnya, gadis itu memilih tak jadi mengatakan apapun yang ada di kepalanya. Memeluk Dana lebih erat seakan tak boleh ada yang menyakiti laki-laki itu. "Dana!" teriak Saras yang hampir seperti memanggil sekelompok orang untuk bertarung. "Kalo ada dua Taeyong. Maka aku bakal pilih Andana alih-alih Taeyong!" Dana tertawa. Jelas Saras merasakan kekehan laki-laki itu yang sedikit menggeleng di balik kemudinya. "Kenapa gitu?" "Sebaik apapun Taeyong. Gak pernah bisa digapai Na! Kalo Andana tuh bisa digapai. Meski harus nyusruk dulu," Lantas. Keduanya tertawa. Menikmati hembusan angin sore yang anehnya terasa hangat. Padahal matahari sudah berpamitan pada mereka. Perlahan turun untuk menghangatkan bagian lain. Tapi, alih-alih matahari, Dana sekarang hangat karena pelukan Saras. Disertai tawa gadis itu yang tidak cantik sama sekali. "Dana! Ada yang mau kamu omongin sama Aku?" Saras kembali berteriak dalam padatnya jalanan ibukota. Bersaing dengan deru kendaraan pengguna jalan yang lain. Juga suara knalpot Dana yang bisa membuat emak-emak sewot seketika. Tapi Andana Gibran tak merasa berisik sama sekali. Kini, indra pendengarannya hanya untuk Annira Saras seorang. Dengan senyuman tipis Dana lantas membuka kaca helm nya. "Sarang-hae yo!!" "Nado sarang-hae!!" "Kajima!! Nega neol neomu choa-hae!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD