13. Peduli

2321 Words
Jalanan yang biasa Saras lalui kini terasa jauh. Baginya, jalan pulang tak akan pernah terasa melelahkan. Tapi, alih-alih pulang, mas Dafa justru membawanya berkeliling lebih jauh. Menikmati senja yang kian menghilang di kaki langit. Berganti jadi sebuah awal dari kegiatan di malam hari. Hari sudah semakin malam. Lampu-lampu sudah dihidupkan sejak bermenit-menit yang lalu. Lengan yang terasa dingin tak lagi begitu ketika deru kendaraan jelas memadati jalanan utama. Bagaimana setiap harinya terjadi yang seperti ini, orang-orang tak mengebut demi keselamatan bersama. Pergantian sore menuju malam nyatanya tak sedingin itu. Jalanan sudah ramai akan orang-orang yang menyambung hidup dengan berjualan makanan. Kedai sudah dibuka sejak sore tadi. Aroma gorengan bercampur dengan roti bakar juga martabak begitu menusuk hidung Saras. Juga, aroma sate yang paling Saras inginkan. Kalau saja mas Dafa mau berhenti sejenak dan mencicipinya. "Mas, beli sate dulu dong. Pasti lo belum makan," sesaat, motor hitam itu terasa lebih lambat dari sebelumnya. Lalu, mas Dafa memilih menepi untuk mengikuti kemauan Saras itu. Duduk di tikar yang digelar bersama orang-orang yang sengaja datang. Untuk sekedar menikmati makanan, atau mendengarkan kejadian ajaib hari ini. Tentang bagaimana mood hari ini, kelelahan atas kerja keras yang dilakukan, skripsi yang ditolak dosen, juga tentang bagaimana hari ini dilewati dengan penuh tawa. Seperti Saras yang jadi memandangi wajah lelah mas Dafa. Selain bapak, mas Dafa selalu muncul dalam doa Saras. Berharap laki-laki itu mau jadi tempatnya bersandar selain kepada Bapak. Berharap laki-laki itu mau menerimanya yang seperti ini. Meski, pada akhirnya Saras tak akan pernah mengatakan bahwa ia menyayangi mas Dafa lebih dari ia menyayangi Taeyong. "Makan sini Mas? Nanti dibungkus buat Dana juga ya," mas Dafa hanya mengangguk singkat. Merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Akibat berkendara selama beberapa menit dan akhirnya berhenti di tempat ini. Tangannya mati rasa. "Saras aja yang beli minum," kemudian Saras berlalu. Membiarkan mas Dafa istirahat dengan nyaman. Setelah bertusuk-tusuk sate mereka habiskan. Tak ada lagi percakapan yang keluar dari bibir keduanya. Bersaudara begitu, Saras dan Dafa tak pernah terlibat dalam percakapan di luar rumah. Bahkan, saat di mana mereka berbicara hanya karena mereka bertengkar. Selebihnya yang ada hanya tatapan mata yang seolah-olah bisa berbicara. Saras menyisakan kulit di pinggiran piring miliknya. Jika bersama Dana Saras akan membagikan kulit di piringnya, mas Dafa tak akan pernah menerima itu. Milik Saras akan tetap jadi apa yang Saras punya. Dan yang dimiliki Dafa adalah bukan milik Saras. Dari dulu, bapak juga mama selalu membelikan apa yang mereka inginkan. Terkadang jika itu hal yang sama. Mama akan beli dua. Meski dulu, sebelum toko mama laris seperti sekarang. Saras hanya bisa menelan ludah melihat orang-orang memakan pizza dengan lezatnya. Ada keinginan meminta makanan itu, tapi Saras tahu diri. Jadi ia meminta mama membuatkan kue cokelat alih-alih pizza. Saras terbiasa berbagi. Tapi jika itu sudah jadi hak milik, Dafa maupun Saras tak akan menyentuh apapun yang bukan miliknya. Termasuk mas Dafa yang tak akan pernah menyentuh makanan dalam piring Saras. Bagi Dafa, menghabiskan makanan yang sudah ada di dalam piring itu suatu kewajiban. Menghargai masakan orang lain dengan menghabiakannya. Tapi itu tak akan pernah terjadi pada Saras. Bermenit-menit menyelam dalam sebuah lamunan, Saras akhirnya mengerjap kaget karena mas Dafa tiba-tiba menghentikan laju motornya. Melongok sebuah bangunan di depannya, Saras melongo. "Turun," Saras betulan turun. Mengekori mas Dafa dengan plastik berisi sate juga lontong yang ia bawa. Sebuah botol berisi air mineral berukuran sedang, buah yang ia beli di depan kantor juga sebotol vitamin. Lengkap. Pagar hitam yang menutup sebuah bangunan bercat cokelat pastel itu nampak ramai. Ada beberapa penghuni kos yang sepertinya memilih untuk keluar dan mencari udara segar. Jika dilihat dari rambut panjang dan wajah lusuh mereka, sudah dapat dipastikan. Bahwa mereka adalah mahasiswa tingkat akhir seperti Dana. Mas Dafa juga pernah begitu sepulang KKN. Rambutnya gondrong dibiarkan begitu saja. Sampai mama tak pernah berhenti membicarakan rambut mas Dafa yang terasa menggerogoti tubuhnya yang terlihat lebih kurus. "Permisi, Andana ada?" pertanyaan mas Dafa membuat beberapa orang yang tengah menggenjreng gitar mereka jadi menoleh. Kemudian saling pandang saling bertanya. Sampai akhirnya seorang bermata sipit dengan kaos putih dan celana pendek hitam plus kaca mata bulat keluar dari kamarnya. Tak lama, para pemuda itu menunjuk laki-laki yang baru manampakkan diri itu. "Tanya Jevano aja bang," ujar salah satu dari mereka. Membuat Jevano yang disebut mengangkat alis kemudian menyipitkan mata. "Bang Dafa," panggilan Jevano membawa langkah Dafa mendekat pada laki-laki itu. Tentu, Annira Saras tetap mengekor layaknya peliharaan. "Gimana kabarnya bang? Sehat kan? Kerjaan lancar?" Dafa lantas tertawa. "Baik, baik. Alhamdulillah. Gimana kuliah? Terus si Almira tarak tak dung?" Saras hampir tertawa dibelakang punggung mas Dafa. Bisa-bisanya, siapa itu Almira? Apa betulan gadis cantik yang tahun lalu viral itu? Terdengar decakan dari bibir Jevano. Yang kemudian disusul cibiran mas Dafa yang selalu membuat mood siapa saja turun seketika. Berganti jadi emosi yang membara. Dan bukan tidak mungkin, kalau nanti Jevano juga akan menabok mas Dafa sampai memar. Saras tak lagi memedulikan kedua orang itu berbicara. Sesungguhnya, kantung mata Saras sudah menghitam sejak beberapa minggu yang lalu. Mempersiapkan apa saja yang bisa membawanya lulus seleksi ujian mandiri satu bulan lagi. Semakin lama, Saras merasa matanya makin memberat. Gadis yang duduk tepat di sebelah kiri Dafa itu akhirnya menumpu kepala dengan bahu kakaknya. Masa bodoh jika mas Dafa akan marah-marah. Saras sungguh tidak sanggup menahan kelopak mata beratnya agar kembali naik. Mustahil. Kecuali jika ada Taeyong di depannya. Saras tak benar-benar tidur. Ia hanya memjamkan matanya yang berat. Telinganya masih berfungsi. Bahkan ketika deru motor memasuki pekarangan kost Saras tetap mendengarnya. Langkah kaki yang dirasa semakin dekat itu juga masih Saras dengar. Hanya saja, untuk sekedar menoleh dan mencari tahu siapa itu Saras tidak bisa. Karena, tiba-tiba saja wajah tampan Taeyong berkelebat di pikirannya. Membayangi netranya yang terpejam dan awalnya hitam. "Ras? Jangan tidur di sini. Balik ayo, cepetan," Dengan gerak lambat yang malas. Saras mengangkat wajahnya. Mata merahnya tidak dapat berbohong pada mas Dafa bahwa dirinya benar-benar ingin tidur dengan nyenyak. Berkedip beberapa kali, Saras memutuskan untuk duduk tegak. Sampai akhirnya gadis itu terlonjak saat wajah Dana nampak dari samping kepalanya. "Lahaulaa.. Na!" Dana menyeringai. Mengusap puncak kepala Saras yang kemudian tangannya turun mengusap ujung mata Saras yang berair. "Katanya sakit. Kok pergi malem-malem?" Dana tersenyum saja. "Abis berobat ini. Nih," Dana mengangkat plastik putih berisi obat miliknya. "Sama Ditya tadi," "Baguslah," ujar Saras kalem. Mencari sosok Ditya yang beberapa kali ia lihat berkunjung ke rumah Dana. Gadis itu menguap lebar. Kali ini benar-benar memjamkan matanya tanpa peduli Dana yang terus menatapnya tanpa kedip. "Heh. Tidur lagi, ayo pulang," Dafa menjauhkan kepala Saras dengan telapak tangannya. "Yaudah deh Na, gue pulang. Ayo," "Ih bentar Mas. Saras baru ketemu Dana. Mau diomelin dulu," Saras kali ini membuka lebar kedua mata bulatnya. Menatap Dana dengan salah satu bibir atas mencuat. "Ujan-ujanan sampai berapa hari? Sampai badannya panas gini. Kamu kira hujan-hujanan selamanya bisa nyembuhin stres?" Saras menghela napas kecil. "Mana kunci?" dengan gerakan lambat Dana mencari kunci kamarnya. Diserahkan kepada Saras, yang tanpa basa basi langsung mendorong knop pintu berwarna cokelat itu. "Masuk," Dana hanya pasrah masuk. Mendudukkan diri di samping kasurnya. Yang tak lama, Saras kembali duduk di sampingnya. Dengan fever penurun panas. "Jangan sakit lagi. di sini apa-apa sendiri, gak ada yang bisa stay 24 jam buat jagain kamu," setelah berkata demikian, Saras lantas menempelkan fever itu pada dahi Dana. Menyibak poni panjang laki-laki itu. Dalam sudut pandang Dana, ia bahagia. Bagaimana Saras dengan bibir mencuatnya tetap menekan fever agar menempel pada keningnya. Diam-diam, Dana menikmati wajah lelah bercampur khawatir itu. "Ras," "Na, dirumah emang gak ada yang rawat kamu 24 jam. Tapi setidaknya, mama bisa kasih kamu sup yang hangat setiap pagi sama sore. Aku bisa bikin bubur meski keasinan, Lani juga mau disuruh kamu ini itu. Tapi di sini? Kamu cuma punya diri sendiri," Sebenarnya, dalam hatinya Saras menangis. Menatap nelangsa pada wajah Dana yang pucat. Bagaimanapun, mama, Lani, maupun dirinya tak akan pernah jadi orang sebaik bunda. Tak akan pernah ada tempat yang nyamannya sama seperti pelukan bunda. Harapannya, sedikit perhatian Saras tak membuat laki-laki ini tambah kesepian. Memeluk dirinya sendiri ketika kedinginan. Mengobati sendiri luka yang muncul. Setidaknya, hadirnya Saras kali ini bisa membuat laki-laki itu sadar bahwa masih ada orang yang khawatir pada Andana Gibran. Dana tersenyum. Mengusap puncak kepala Saras. Memberitahukan pada gadis itu bahwa Dana mengerti akan apa yang Saras katakan padanya. "Di sini kamu cuma sendiri Na," "Aku tau," jawab Dana kalem. "Besok udah sembuh Ras," Saras mengusap ujung hidungnya. Andana Gibran memang sudah dewasa. Bahkan laki-laki itu lebih dewasa dan bisa menjaga diri lebih dari mas Dafa. Tapi, laki-laki tetap butuh bantuan ketika begini. Wajah pucat Dana membuat Saras ingin tetap tinggal. Untuk sekedar memastikan bahwa laki-laki itu bisa kembali pulih. Jemari Saras mengusap puncak kepala Dana. Membuat pijatan lembut, siapa tahu bisa meredakan rasa pusing yang Dana rasakan. Kehadiran mas Dafa juga Jevano tidak Saras hiraukan. Ini masih cukup sore untuk tinggal. Sampai akhirnya, panggilan pelan mas Dafa membuat Saras menoleh dan bangkit. Meninggalkan Dana setelah menyelimutinya sampai sebatas d**a. Deru napas yang teratur memisah kebersamaan Saras dengan Dana. Gadis itu tersenyum tipis sebelum menutup pintu kamar kos Dana. Benar-benar mengakhiri pertemuan mereka kali ini. "Cepet sembuh Na," _-_-_-_-_- Saras hanya bisa berdiri terpaku. Mengerjap setelah merasakan matanya lebih kering dari sebelumnya. Dalam radius 2 meter, gadis itu memperhatikan seorang perempuan dengan pakaian kantor yang rapi. Berjalan dengan elok ke arahnya. Jelas sekali wanita itu high class. Lalu, tanpa bisa mengelak dan lari. Saras hanya bisa tersenyum ketika perempuan yang ia perhatikan itu tersenyum manis. "Saras ya?" Gadis yang berdiri tepat di depan food court Boba itu agak termundur beberapa langkah. Sampai menabrak salah satu rekan kerjanya yang menemani. Orang luar tak pernah memanggilnya Saras. Rata-rata kenalan memanggilnya Annira, dan hal itu membuat Saras meneguk ludah dengan napas tak teratur. dari mana wanita itu tahu nama panggilannya? "Kenapa Ra?" Saras menggeleng kecil pada Keysha-- rekan kerjanya. "Enggak papa kak," Saras kembali tersenyum. Yang kemudian menyempatkan untuk melirik pada objeknya sebelum ini. "Boleh saya ngobrol dengan kamu?" Perempuan yang umurnya berkisar awal 40-an itu tersenyum manis. Menular pada Saras yang ikut menyunggingkan bibir dengan kikuk. "Di sana ya, mau?" Lagi-lagi Saras hanya mengangguk setuju. Berjalan berdampingan dengan wanita berkelas seperti ini membuatnya merasa jauh ada di bawah. Saras tiba-tiba ingin jadi umbi-umbian saja. Atau, ini lebih seperti pembantu dan majikan? Wanita itu duduk dan meletakkan tas brandednya di meja. Membuat Saras yang bertangan kosong hanya menautkan kedua tangan di bawah meja. Sampai wanita itu menyapanya lebih dulu. "Annira Saras kan?" Saras tertegun. Bahkan perempuan di depannya tahu nama lengkapnya. Bukankah ini menakutkan? Atau Saras menghiperbolakan hal ini? "Jangan takut. Saya Ayuni, mungkin kamu belum mengenal Saya, tapi saya beberapa kali melihat kamu dengan Andana," Oh, jadi ini tentang Andana. Saras tambah tertegun. Kenapa perempuan ini sampai mendatanginya hanya untuk bertanya masalah Andana? "Maaf tante, tapi ada apa ya? Maaf saya bingung," "Jika kamu berkenan. Saya mau menceritakan bagian dalam hidup saya, termasuk Andana," "Tapi saya orang asing tante," Ayuni tersenyum manis. Sangat manis sampai rasanya menyamai senyum lebar Dana ketika laki-laki itu memakan ayam rica-rica buatannya. "Kamu tidak pernah asing untuk Andana. Dan rasanya, saya yang terlalu asing untuk dia. Bahkan dia tidak kenal saya lebih baik dari dia mengenal kamu, pun sebaliknya. Kamu tahu apapun mengenai Andana." Kedua alis Saras bertaut hanya untuk menerjemahkan kata-kata tante Ayuni. Saras masih sempat tersenyum. Sampai pada akhirnya gadis itu hanya dibuat tambah membeku dan tertegun atas apa yang wanita bernama Ayuni ini ceritakan. Selama tiga puluh menit lamanya, Saras hanya memikirkan Dana. Terlebih untuk masalah serumit ini. Saras peduli pada Andana, tapi ia tak punya hak apapun untuk mengatakan yang sebenarnya pada laki-laki itu. Saras benar-benar ingin Dana tahu bahwa hal ini adalah sesuatu yang menyangkut dirinya lebih dari apapun. Masa kelam tentang kepergian Bunda, juga masa di mana Dana lahir. Ini tentang masa lalu Dana, tentang Lani, Bunda, juga om Iwan sebagai ayah mereka. Dan pada akhirnya, ucapan tante Ayuni terus menghantuinya. Berkecamuk dan bertarung dengan hatinya. Mungkin ini akan lebih baik jika Dana tahu. Tapi Lani, gadis itu tak akan pernah baik-baik saja jika Saras mengatakan kebenarannya. Sampai disatu titik setelah motor mas Dafa berhenti di depan rumah. Bayangan wanita itu tiba-tiba mengingatkannya pada Dana. Wajah yang hampir identik dan hanya berbeda di beberapa bagian. Membuat Saras semakin dibuat stres oleh pemikirannya sendiri. "Mas," mas Dafa hanya bergumam sembari memasukkan motor ke garasi di samping rumah. "Rahasia itu sebaiknya dijaga atau di omongin langsung ke orang yang bersangkutan?" Mas Dafa menghela napas dan menoleh. Dengan wajah lelah yang anehnya masih memancarkan aura ke-julid-an. Dafa sekonyong-konyong menepuk bibir adiknya. "Rahasia ya dijaga dengan baik. Kalo diomongin langsung itu bukan rahasia," Saras mencebikkan bibir. Masih senantiasa membuntuti mas Dafa. Sampai laki-laki itu gerah sendiri. Terlebih, ini adalah hal yang langka. Seorang Annira Saras akan pergi bahkan sebelum mengatakan terimakasih karena sudah dijemput pulang. Sekarang membuntuti begini, memicu anggapan Dafa tentang banyak hal. "Mas," "Apa sih!" "Tapi ini rumit banget. Rasanya kepala Saras mau meledak sebentar lagi Mas!" Gadis itu mengacak rambutnya frustrasi. Menghentakan kaki dengan heboh. Lalu, gerakan Saras yang menempel pada bahu Dafa jelas membuat laki-laki itu ingin menyumpahi adiknya karena dibuat kaget. "Mas. Tadi tuh Saras ngobrol sama perempuan yang akhir-akhir ini sering ke rumah om Iwan. Dia cerita soal--" "Ck. Jangan urusin orang lain. Belajar, ujian mandiri tuh harus pinter. Otaknya jangan diisi sama gosip mulu. Dah, gue mau mandi duluan," Saras hanya dibuat kesal dengan kalimat panjang mas Dafa. Alih-alih membuatnya tenang, mas Dafa malah menambah banyak beban pikiran Saras. Dan pada akhirnya Saras menepuk kepalanya sendiri. Mengalihkan masalah rumit mengenai tante Ayuni dan memilih memikirkan ujian mandirinya yang entah nanti bagaimana hasilnya. Jika proses belajar Saras saja masih ambrul adul. "Maaf ya Na. Tapi rasanya, itu bukan ranah gue," lirih Saras diakhiri dengan helaan napas panjang. Dengan pikiran semrawutnya yang mengatakan bahwa apa yang tante Ayuni katakan tak pernah ia dengar sama sekali. Bukannya tidak peduli. Tapi Saras tahu batasan bahwa ia bukanlah siapa-siapa dalam hidup Andana Gibran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD