12. Promise

2339 Words
Pengikat janji yang sering dipercaya adalah ketika dua orang yang saling berjanji menautkan jari kelingking mereka. Berucap, bahwa mereka berjanji akan sesuatu. Yang nantinya, janji itu harus ditepati di saat yang tepat pastinya. Mungkin, ada juga sebagian orang yang percaya bahwa menyatukan darah lebih efektif untuk memegang janji. Padahal, janji tak akan pernah bisa ditepati hanya dengan menautkan jari kelingking ataupun menyatukan dua darah. Itu hanya mitos belaka. Janji itu seperti angin. Bisa dirasakan, tapi tak akan pernah bisa digenggam. Seerat apapun memegang angin, angin akan tetap pergi. Tapi mungkin agak berbeda dengan janji. Janji tak sepenuhnya bisa dipegang maupun digenggam. Tapi, lebih baik dari angin. Kadang janji tak pergi. Tapi menghampiri. Seperti hitam di atas putih. Sebuah janji harusnya memang selalu dibuat seperti itu agar nantinya tertera jelas seseorang telah menjanjikan sesuatu. Namun, apakah ada yang menulis perjanjian sepele dengan hitam di atas putih? Ada, orang itu Annira Saras. Dafa terduduk bersandar pada dinding kamarnya. Laki-laki itu menatap sebuah coretan, tulisan miring Saras yang seperti hujan angin di sebuah kertas hvs. Kertas itu Dafa dapatkan ketika dirinya memberi si adik sebuah lightstik artis Indonesia. Dafa tak sepenuhnya salah. Itu sama-sama lightstik, yang berbeda hanya bentuk, harga, nama dan artisnya saja. Dafa menoleh pada sebuah kardus di atas meja kerjanya. Laki-laki itu mendesah berat dengan miris. Pantas Saras tak mau lightstik yang waktu itu. Harga lightstik sekarang saja sudah bisa membeli 14 lightstik lokal yang ia beli sebulan yang lalu. Lantas, laki-laki itu tersenyum tipis kembali menatap kertas hvs yang tertempel di belakang pintu. Bersatu dengan celana kotor Dafa yang lupa belum ia masukan pada keranjang cucian. Tapi bukan celana kotor yang menggantung itu yang menjadi atensi saat ini. Melainkan isi dalam perjanjian yang Saras buat, untuk Dafa tepati. Isinya kurang lebih seperti ini. Yang bertanda tangan di bawah ini : Menyatakan bahwasanya. Saya Pradipta Dafa Ramadhan (25 th), berjanji kepada saudari Annira Saras Ayudia (20 th) untuk membelikan sebuah lightstik NCT betulan. Sebagai tangan pertama dari produk di atas. Perjanjian ini dibuat untuk ditepati. Apabila tidak, bapak bersedia membawa saya ke mantri sunat. Terimakasih. Hormat saya, Pradipta Dafa Ramadhan. Disaksikan Andana Gibran Banyuaji dan Meilani Putri Disetujui oleh Mama dan Bapak Dafa hanya menghela napas. Saras memang benar-benar akan membuatnya miskin. Duitnya memang banyak, gajinya tidak main-main. Hanya saja, untuk sekedar membeli sebuah lampu hijau neon itu Dafa malas. Berkali-kali Vanda membujuknya agar membelikan saja Saras Lightstik NCT itu. Dan berkali-kali pula Dafa dibuat keki oleh penuturan kekasihnya itu. Yang berhasil membuatnya kesal setengah mati. Masalahnya, ini berkaitan dengan identitasnya sebagai laki-laki tampan si anak bagusnya bapak Suripto. "Mas, mending dibeliin aja. Kasihan aku sama kamu. Nanti bapak beneran bawa ke mantri sunat gimana? Aku sih ogah!" Dafa selalu sewot jika mengingat hal itu. Sepertinya, jika nantinya Vanda mau menikah dengannya. Ketika kumpul keluarga tiba, yang ada hanya Dafa yang dipojokkan. Karena kedua gadis itu sama saja. Entahlah, siapakah kakak Saras yang sebenarnya. Dirinya, atau si Vanda. Maka, dengan hati yang lapang. Tanpa cacian, hanya sedikit helaan napas berat yang keluar dari bibirnya. Dafa mengeluarkan uang untuk membeli lampu hijau neon itu. Yang jika dilihat-lihat mirip Adu Du si kepala dadu. Yang paling girang waktu itu adalah Vanda. Karena meski gadis itu kelihatannya tak sefanatik itu, justru punya dua bohlam dan beberapa album. Sudahlah, jika sudah membahas mengenai Suga, Dafa hanya akan terasingkan oleh kekasihnya sendiri. Dafa tersenyum tipis. Lantas memutar knop pintu kamarnya setelah memasukkan kardus itu ke dalam paper bag. Ia berdehem kecil. Sebelum akhirnya beranjak dari daun pintu dan duduk di sisi Saras. Yang kali ini sedang memakan blackforest nya sampai monyong. Lani dan Dana masih tinggal. Sedangkan Vanda sudah ia antar sehabis maghrib. Bapaknya galak, tapi Dafa jelas sudah percaya diri mengantongi sebuah harapan yang dinamakan restu. Kembali pada adiknya yang kali ini tak berkedip sama sekali. Jangan lupakan pada blackforest yang kini tinggal sesuap. "Eh Mas," Dafa menoleh hanya untuk melihat wajah Saras yang menatapnya dengan kedua mata berbinar. "Mau pergi ya? Jangan dulu dong. Saras mau ambil barang dulu, sini aja!" Dafa hanya merapatkan bibir. Kini bersandar nyaman pada sofa, bahkan bahunya sampai bertubrukan kecil dengan bahu Dana. "Na, gak pulang?" Dana jelas melotot. Bahkan Lani juga langsung menoleh. Karena, dirinya dan Dana datang satu paket, jadi pergi juga harus begitu. Dia masih betah bersama Saras setelah satu minggu terpisah. "Ngusir Mas?" tanya Dana dengan wajah datarnya. "Enggak, astagfirullah." Dana hanya memutar kedua bola matanya. "Maksud gue, lo udah balik ke kos emang? Terus Lani juga belum ada pulang sejak minggu lalu," Lani memelankan kunyahannya. Melirik pada sang kakak yang masih dengan raut wajah yang sama. Kadang, wajah datar Dana sering membuatnya salah paham. Dan mungkin, mas Dafa juga demikian. "Udah mulai masuk Mas. Lani nginep di rumah nenek, katanya nenek kangen," Dafa mengangguk seolah paham. Yang kemudian, lelaki itu menatap tetangganya dengan kepala menggeleng kecil. Pintar sekali. Batinnya. Sebagai manusia julid Dafa tahu, bahwa sesuatu sudah terjadi dan menyebabkan Andana juga Lani pergi. Mungkin, nenek mereka betulan ingin mereka berkunjung dan menginap. Tapi melihat mobil merah seseorang terparkir di halaman rumah pak Iwan minggu lalu, menggiring opini yang lebih banyak dari seorang Pradipta Dafa. Ditengah kesibukannya meneliti wajah Dana yang masih datar. Saras menampakkan diri. Bukan, lebih tepatnya hanya kepala gadis itu yang menyembul. Membuat Dafa yang sebenarnya sudah tahu jadi menoleh. "Mas, mau Saras yang bawa atau Mas Dafa samperin Saras?" Dengan decakan panjang Dafa bangkit. Berjalan sedikit malas. Melupakan paper bag nya yang kini sudah berdiri tegak di tengah meja depan televisi. Tengah diintai Lani yang sejak tadi kepo apakah isinya betulan apa yang ada di benaknya. "TADAAAH!!" Lani sampai berjingkat mendengar teriakan dari suara Saras. Dana juga ikut menoleh. Menatap bingung pada wajah mas Dafa yang terlihat takjub, juga wajah Saras yang masih senantiasa cerah. "Mas Dafa suka?" tanya Saras dengan antusias, yang hanya dibalas senyuman tipis Dafa. Dengan gerakan lambat bagai slow motion, Dafa meraih gagang sebuah gitar akustik berwarna cokelat. Yang entah bagaimana caranya si adik bawelnya ini tahu bahwa Dafa tengah mengintai gitar ini. "Kamu buang-buang uang saku," Saras hanya tertawa. "Mas udah punya gitar, Saras," "Ya itu kan gitar akustik biasa Mas. Ini gitar akustik elektrik. Bisa dicolokin nih! Saras juga udah beli mic nya, biar kalo mas Dafa mau bikin lagu dan terkenal, Saras bisa ikutan pansos!" Just Saras being Saras. Gadis itu tak melupakan kata-kata memancing emosi untuk kakaknya. Saat gadis itu berkata semangat untuk pansos, Dana memperhatikan Saras lamat-lamat. Tak akan ada pansos yang Saras ikuti. Dana tidak akan pernah rela. Sama seperti Saras yang tak rela wajah Dana terpampang di kemasan botol seperti milik NCT. Bukan hanya Dana yang tidak akan pernah setuju Saras pansos. Dafa juga, laki-laki itu tak akan membiarkan Saras menjajah akun youtube yang diam-diam ia kelola. Berisi cover lagu dengan iringan gitar akustik yang ia beli semasa SMA dulu. Mungkin hal itu yang membuat Saras berinisiatif memberikannya sebuah gitar akustik yang lebih kekinian. Saras tak pernah berjanji apapun. Gadis kecil itu tak pernah menjanjikan sesuatu. Meski sekecil janji untuk membelikan tahu bulat yang biasnya keliling komplek setiap pulang sekolah dulu. Karena yang Dafa tahu, manusia seperti Saras mudah lupa akan sesuatu. Termasuk janji. Ia juga tahu, Saras akan membeli apa yang ia lihat pertama kali. Jatuh cinta pada pandangan pertama pada setiap barang yang ia jumpai pertama kali. Dan mungkin, gitar ini juga termasuk salah satu barang yang membuat Saras jatuh cinta pada pandangan pertama. Saras tak pernah tahu hal mendalam mengenai musik. Yang ia tahu, suara Taeyong adalah candu. Dan hidupnya hanya akan membahas bagaimana suara Taeyong dalam sebuah lagu hingga seharian penuh. Juga, suara serak Dana. Iya. Dana juga ikut dalam sebuah list suara termerdu di telinga Saras. "Na," Dafa memilih untuk menoleh pada Dana. "Jangan janjiin apapun sama Saras," Dana awalnya mengerutkan kening terheran. Lalu, saat suara lirih Dafa masuk telinganya, laki-laki itu seakan paham. Pada sebuah kekhawatiran Dafa mengenai janji untuk seorang Annira Saras. "Saras gak bisa janji sama lo, dan baiknya. Jangan janji hal yang gak mungkin untuk ditepati," Lantas Dafa bangkit. Menepuk pelan bahu Dana dengan senyuman lebar. Diambilnya gitar di samping sofa. Dan dengan lagak jumawa, laki-laki itu menggenjrengnya random. "Makasih ya Na, tolong kasih tahu Saras. Itu yang di paper bag utang gue sama dia," Kata Dafa berbisik menunjuk pada paper bag hitam di atas meja. Dana hanya mengangguk singkat. Kadang Dafa terheran. Laki-laki modelan Dana sering jadi rebutan di sebuah cerita remaja. Padahal, dibandingkan dirinya yang bersuara merdu dan loyal, Dana punya suara yang rendah dan serak. Suara yang katanya paling Saras tunggu setiap pagi. Dasar Saras. Lalu Dafa kembali menoleh, hanya untuk memastikan bahwa Saras tertawa bersama Dana. Dengan helaan napas panjang Dafa menutup pintu kamarnya. Menguncinya agar nanti, ketika Saras berteriak, dirinya tak terganggu sama sekali. Tepat setelah pintu cokelat itu tertutup. Saras memandang pintu itu dengan senyuman tipis di bibirnya. Dalam benaknya Saras berpikir. Pasti laki-laki itu tak pernah tahu pada satu hal. Bahwa Annira Saras menyukai suara mas Dafa ketika menyanyikan sebuah lagu sendu dengan iringan gitar akustik tuanya. Dafa tak akan pernah tahu hal itu. Sebab, rasa kagum mereka tak pernah terucap dengan lantang. Bahwa Saras menyukai setiap lagu merdu yang Dafa nyanyikan. Sama seperti suara Dana dan Taeyong yang terasa candu. Suara mas Dafa itu menyejukkan. Memberi sensasi menenangkan seperti angin di musim semi. _-_-_-_- I Promise you. Saras menutup aplikasi pemutar musik di handphonenya. Lagu terakhir milik EXO berhasil membuatnya bernostalgia. Sebuah lampu hijau neon masih menyala di depannya. Lagu terakhir itu sangat cocok untuk Saras malam ini. Tentang sebuah janji yang ia tulis beberapa minggu lalu di kertas HVS. Dengan gaya meledak-ledak dan emosi yang membara, Saras bersumpah akan meminta bapak membawa mas Dafa ke mantri sunat untuk yang kedua kalinya. Dan kali ini, Saras hanya dibuat terpaku dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia tak pernah yakin mas Dafa akan memenuhi janjinya. Karena, tertulis maupun tidak, janji itu seperti tak akan pernah terwujud. Meski uang mas Dafa setiap gajian sampai delapan digit. Mas Dafa si manusia lurus tak akan pernah tertarik pada hal lain kecuali musik. Laki-laki itu, selalu suka pada setiap melodi. Terutama suaranya sendiri. Mas Dafa memang mencintai dirinya lebih dari apapun. Maka dari itu, bohlam ini jelas membuat Saras tercengang dan mengatakan dalam hatinya ketika melihat kardus dan bubble wrap yang membungkus lightstik nct itu, "Are you sure, mas Dafa?!" Saras hanya bisa menatap kardus dan lightstik di atas kasur. Tapi tak lama, ia membenamkan kepala pada bantal. Tak sampai sesegukan, tapi rasanya begitu menyesakkan. Saras tak pernah sebahagia ini didukung oleh mas Dafa. Karena, meski sering mendukungnya, mas Dafa selalu menyelipkan kata-kata julidnya. Pada akhirnya, Saras mengangkat wajah dan menyedot kembali ingusnya. Pasti wajahnya bisa bengkak jika menangis malam malam begini. Apalagi, nanti jika mama menghampirinya sepulang dari kondangan. Dengan bibir masih bergetar Saras meraih bungkusan lain. Tertulis di sini atas nama Meilani. Dengan sebuah kalimat yang berhasil membuat Saras tersenyum. Mbak selamat umur legal korea, Lani bukan anak tunggal kaya raya jadi cuma punya ini. Lani harap, mbak Saras suka yaa! -- Lani rumput ijo Saras langsung tergelak. "Iya. Mbak Saras udah boleh minum miras. Tapi siap-siap dicoret dari KK," Dengan gelengan kepala dan desahan berat Saras membuka selotip yang ada di luar kertas kado. Dalam benaknya, Saras tak meminta apapun pada Lani. Tapi gadis itu sepertinya bersikeras untuk memberinya kado kali ini. Karena dari dulu, Saras tak pernah meminta apapun. Dan, tak pernah ada acara seperti tadi sore. Didikan bapak memang tak pernah meminta apapun yang macam-macam. Kata bapak dulu, ulang tahun itu harusnya digunakan untuk berdoa biar impian kita tercapai. Alih-alih membuat sebuah acara ulang tahun megah, mama lebih suka membagikan makanan pada tetangga tanpa mengatakan bahwa salah satu keluarganya sedang bertambah usia. Kata mama dulu, "Alhamdulillah ada rezeki untuk dibagikan," Kembali pada sebuah kertas berwarna pastel dari Lani. Saras berhasil mengeluarkan sebuah dus kecil dari dalamnya. Saras tak akan menebak, karena tanpa ia tebak pun, Lani tahu apa yang jadi kesukaannya. Saras bergeming. Mengeluarkan bbuble warp yang lagi-lagi membungkus sebuah barang mungil di dalam kardus. Saras terharu, bagaimana bisa Lani menyisihkan uang sakunya untuk membelikannya airpods begini? Saras kemudian tersenyum senang. Langsung bergegas menuju samping tempat tidur untuk mengisi daya airpods pemberian Lani. Saras si pelupa baru sadar akan satu hal. Bahwa bulan lalu, ketika menunggu puncak tahun baru, Lani pernah bertanya begini. "Mbak, mau airpods kayak punya kak Dana enggak?" Dan dengan wajah nelangsa Saras mengangguk. "Mau lah, tapi Mbak Saras masih punya tuh earphone jadul, yang harus diputar-putar dulu baru bening suaranya," Lantas keduanya tertawa sembari memutar bambu pada bongol jagung. Yang dibakar di atas kompor. Karena malam tahun baru hujan turun dengan lebat. Saras kali ini bisa menegakkan tubuhnya untuk menatap bingkisan dari Dana. Sengaja ia buka terakhir. Karena, apa yang Dana berikan sepertinya memang akan mengejutkannya. Sama seperti pemberian mas Dafa. Bedanya, Saras tak pernah meminta macam-macam pada Dana. Ia hanya minta agar laki-laki itu tak pergi darinya. Itu saja. Gadis itu hanya bisa menggigit bibir sembari memeluk hadiah dari Dana. Dengan bibir bergetar dan hampir menangis--lagi. Saras tertawa. Ini album NCT 2020 Resonance Future Ver. Dengan gerak random ditengah keharuan yang ia rasakan. Saras melompat-lompat dengan bibir tersenyum lebar hingga matanya. Memberi banyak kecupan di udara untuk anak-anak nyai. Kemudian, alih-alih memberikan kecupan pada wajah tampan Taeyong, Saras memilih mencium cover album yang masih terbungkus plastik. Bagi Saras, ulang tahun kali ini akan selalu ia ingat. Hari ini, hari Senin ini. Akan selalu membekas di ingatan Saras. Tentang bagaimana orang-orang yang menyayanginya menyiapkan semua hal meski akhirnya tidak mulus. Mengenai kado-kado mahal yang ia terima hari ini. Rasanya, Saras tak ingin hari ini terlewati begitu saja. Mama dan bapak tertawa meski rencana yang mereka siapkan tak sempurna karena kedatangannya dan mas Dafa yang tiba-tiba. Senyuman Lani juga Dana setelah sekian lama. Kedatangan mbak Vanda yang menjadi pelengkap acara sore tadi. Kebahagian memang sesederhana itu. Terlebih, mas Dafa benar-benar menepati janjinya. Janji itu seperti hutang, jika si pemberi sudah menepati, maka bukan hanya si penerima yang merasa senang. Tapi dirinya juga. Pasti mas Dafa kali ini sedang membusungkan d**a dengan jumawa karena jadi laki-laki yang tak ingkar janji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD