11. Make A Wish

2112 Words
Pergantian detik menjadi menit, jam menjadi hari, satu hari jadi satu minggu. Lalu satu bulan, berganti lagi jadi satu tahun. Waktu bergerak cepat sementara manusia kadang lebih suka ada di satu waktu yang harusnya bisa digunakan sebaik mungkin. Entah manusia yang menyia-nyiakan waktu atau waktu yang enggan bertahan lebih lama. Bayi yang baru lahir akan jadi anak lucu di tahun yang akan datang. Dan seorang anak akan jadi remaja, dewasa lalu ada di fase paling akhir. Hari tua. Dan mungkin saja, tak semua orang bisa menikmati hari tua mereka. Tidak semua insan di dunia ini bisa mencapai fase itu. Kita tak pernah tahu, bagaimana takdir dan jatah umur di dunia. Lalu berganti jadi yang lebih kekal. Kehidupan di akhirat nanti. Apakah waktu terlalu cepat berlalu? Mungkin iya, dan mungkin juga tidak untuk sebagian orang. Tergantung bagaimana masing-masing menghabiskan masanya yang tak seberapa di dunia. Untuk sebuah cita, pengabdian, penghormatan, juga cinta. Itu semua tergantung pada bagaimana orang-orang menghabiskan masa mereka. Menggapai mimpi yang belum tercapai, untuk menjalankan kewajiban. Sampai menemukan apa yang menjadi takdir mereka di dunia. Setiap orang punya mimpi indah masing-masing. Seperti Saras yang bermimpi jadi istri Taeyong di masa depan. Tapi kembali terpukul mundur oleh realita yang ada. Mana bisa? Saras terpaku ketika baru saja keluar dari lobi kantor, ia disuguhkan dengan pemandangan indah dari sang pencipta. Mentari yang sudah mulai turun dan menyisakan senja membuatnya memicing hanya untuk melihat wajah tampan itu lebih jelas. Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Termasuk impian Saras jadi nyonya Lee, yang berganti sekarang ini. Wajah lelah dengan mata teduh itu selalu jadi favoritnya. Surai hitam yang mulai panjang dan memutih itu sekarang juga sudah mulai meracuni pikirannya. Agaknya tuhan adil padanya. Bisa melihat sosok tampan itu sampai dirinya dewasa. Dan kalau bisa, Saras ingin ditemani laki-laki ini sampai sama-sama menua. "Kenapa bapak enggak bilang mau jemput?" pertanyaan yang berhasil membuat bapak menoleh dengan kedua alis terangkat. Yang tak lama, laki-laki itu tersenyum. "Kejutan!" Saras tertawa. Lantas mendekat pada bapak. Mencium punggung tangan bapak yang mulai keriput. Melihat bagaimana kantung mata bapak yang menghitam membuat hati Saras berdesir. Gadis itu menggigit bibir bawahnya tiba-tiba dilanda rasa bersalah yang begitu besar. Harusnya bapak tidak usah menjemputnya begini. Pasti bapak buru-buru dari tempat kerjanya hanya untuk menjemput dirinya. "Kan kalo bapak bilang, Saras bisa pulang lebih cepet. Biar bapak enggak nunggu lama," Saras mendekat pada bapak. Membiarkan bapak dengan senyum lebar membantu Saras mengenakan helm bogo cokelatnya. Mengaitkan tali di bawah dagu putri tercantiknya. "Loh. Iki bapak lagi kober. Kalo ndak, bapak yo masih di kantor," "Kantor opo pak?" "Yo kantor gudang ekspedisi wus wus," lantas keduanya tertawa. Bapak selalu bisa mengambil hati Saras. Membuat bahu gadis itu yang awalnya terasa berat jadi meringan. Sepertinya beban di pundaknya sudah tercabut satu per satu. Kehangatan bapak selalu jadi nomor satu. Mungkin Saras tak akan bisa digendong bapak lagi seperti dulu. Tapi setidaknya, bersandar pada punggung bapak juga sama hangatnya seperti saat itu. Masih jadi punggung terkuat yang pernah ada. Bapak selalu menggendong Saras ketika sore hari. Apalagi ketika bulan puasa. Puas Saras dibuat terpingkal di belakang punggung bapak. Menanti datangnya adzan maghrib demi puasa Saras agar tidak bolong-bolong. Saras tak pernah lupa pada hari di mana ia dilahirkan. Saras tidak tahu seperti apa sih, tapi setidaknya ia tahu tanggal berapa mama melahirkannya. Ia tak pernah lupa hari terus berganti sampai umurnya yang saat ini genap 20 tahun. Ungkapan bertambah satu tahun mungkin cocok saja, tapi alih-alih bertambah, Saras merasa sisa umurnya di dunia berkurang satu tahun. "Gimana hari ini?" Dulu, saat mama bertanya padanya begitu, Saras selalu membahas harinya sedikit tidak minat. Pasalnya, setiap hari pertanyaan yang mama ajukan sama sekali tidak berubah. Tapi semakin dewasa, Saras merasa bahwa pertanyaan itu membuktikan bahwa mama peduli. Bahwa mama selalu antusias mendengar bagaimana anaknya tumbuh dengan baik. Rasa lelah Saras seakan menyusut dah hilang. Pertanyaan yang berulang-ulang itu nyatanya jadi penyemangatnya setiap pulang dari kantor. Di rumah, mama paling suka menanyakan hal ini padanya. Sampai sedewasa sekarang, mama tak pernah lupa pada kebiasaan yang ini. Dan tidak seperti dulu, Saras akan bercerita heboh. Menceritakan bagaimana harinya di kantor, keisengan mas Dafa padanya. Sampai si Olif anak tetangga depan yang menggemaskan. Yang suka mengompol di depan meja televisi. Saras tersenyum lebar. "Baik pak, tadi aku bisa cepet bikin artikelnya. Padahal aku dengerin suara mas Dafa dari pagi. Heran, kenapa suara mas Dafa enak banget masuk kupingku," Bapak tertawa. Tawa yang menular pada Saras yang terkekeh di belakang punggung bapak. "Ya wong, si Dafa itu nurun suara bapak yang merdu kayak Iwan Fals kok," Saras tertawa. "Loh, kalo Iwan mah bapaknya Dana Pak," kata Saras berteriak dengan riang. Mengabaikan jalanan yang mulai padat kendaraan karena jam pulang kantor memang sedang berjalan. "Kalo Bapak jadinya Suripto Pales," lantas bapak kembali tertawa. Tawa yang selama ini selalu Saras rekam dalam memorinya. Menyimpan dalam-dalam dan tak akan pernah ia lupakan. Bahwa ada tawa seorang lelaki yang selalu membekas dalam hatinya. Saras tersenyum merasakan hangatnya punggung bapak bersama ribuan rasa bahagia Saras sore ini. Ia tak pernah meminta yang lebih. Hanya ingin bersama bapak, mama, mas Dafa dalam keadaan bahagia seperti ini sudah cukup. Ia tak akan meminta yang neko-neko. Berharap agar Saras bisa terus mendengar tawa semua orang. Agar dirinya selalu dikelilingi orang tersayang. Termasuk Andana Gibran. -_-_-_-_- Saras hampir menangis ketika bapak menurunkannya di depan toko mama yang sudah tutup. Kata bapak, Saras harus menunggu mas Dafa pulang dan nantinya mereka pulang bersama. Bapak tidak tahu saja, kalau beberapa menit yang lalu Saras jelas merasa bahagia duduk di belakang bapak. Ini php. Bapak sudah seperti laki-laki yang datang untuk melambungkan dan pergi setelah dirinya berhasil terbang. Ini hanya pemikiran dangkal Saras. Dasar Saras. Meski tak menunggu lama, hanya beberapa menit setelah bapak pergi, mas Dafa muncul dengan wajah kusutnya. Memerintah Saras untuk segera duduk di boncengan karena dirinya sudah terlampau lelah. "Mas," Dafa hanya berdeham. "Masa aku diturunin di depan toko sama Bapak," Mas Dafa menoleh. Hanya untuk menatap wajah bertekuk Saras dengan bibir mencebik. Yang mungkin kalau diukur sampai dua ruas jari. "Mungkin bapak ada urusan lain. Pulang sama mas kan bisa. Ayo naik, nanti maghrib baru sampai rumah," Saras mengangguk. Duduk di belakang mas Dafa. Meski sering bertengkar hanya karena hal sepele, mas Dafa juga perhatian kepadanya. Kadang, orang semenyebalkan mas Dafa adalah manusia di dalam rumah yang ia rindukan kehadirannya. Dulu, saat mas Dafa KKN di Garut, Saras tidak pernah absen hanya untuk bertanya apakah mas Dafa makan enak atau tidak. Selama empat puluh lima hari, Saras sering berdiri di depan kamar mas Dafa. Merasa sangat kosong. Padahal, kalau dipikir lagi. Untuk apa ia merindukan mas Dafa? Kalau mas Dafa ada di luar rumah, harusnya Saras bahagia karena tidak ada orang yang menjahili dan membuatnya mengomel sepanjang hari. "Mas," Dafa kembali berdeham. Memelankan laju motornya. "Saras dapat bonus lemburan bulan ini. Mas mau Saras beliin apa? Kan waktu itu belum bisa kasih kado," Saras benar-benar tulus mengatakan hal itu. Jujur, saat mas Dafa ulang tahun satu minggu yang lalu, Saras belum mengambil gajinya untuk bulan ini. Dan sekarang, Saras jelas sudah punya uang untuk memberi kado pada mas Dafa. "Gak usah," kata Dafa tenang. Membelokkan stang motornya ke arah kiri. Terus menelusuri jalanan menuju rumahnya. "Ditabung aja uangnya. Buat nanti jajan kuliah atau beli apapun yang kamu mau," Saras tak pernah tahu. Bahwa ketika dirinya mengangguk dan memilih mengedar ke arah jalanan, mas Dafa tersenyum tipis. Wajah lelahnya sedikit cerah senja ini. Dirinya dan Saras tak pernah bisa mengungkapkan apa yang ada di hati mereka. Alih-alih mengucapkan kata-kata manis, Dafa lebih suka menghujat Saras. Begitupun dengan Saras yang selalu ngegas jika berbicara dengannya. Senja ini, Dafa hanya ingin menjadi kakak yang baik untuk Saras. Mungkin, apapun yang ada pada dirinya tak pernah bisa memenuhi ekspektasi Saras. Tapi sebisa mungkin, Dafa akan mencurahkan segala rasa kasih sayangnya pada si bungsu. Meski, dalam setiap eksekusi, Dafa hanya akan memancing emosi. "Mas, kok rumahnya mentereng kayak mau hajatan sih?" Dafa yang baru saja memarkirkan motornya di garasi ikut berdiri di depan rumah bersama Saras. Melihat bagaimana lampu tumblr milik Saras sudah terpasang rapi di ruang tamu. Lantas, kedua kakak beradik itu melepas sepatu. Menjelajahi dekor rumah yang mentereng seperti akan hajatan--kalau kata Saras. Hal pertama yang Saras temukan adalah sebuah tumpeng berukuran sedang. Bersama piring, gelas, sirup tanpa es, juga irisan buah yang tertata rapi. Mungkin betulan akan hajatan. Dafa lebih dulu menyibak gorden yang menjadi pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah. Diikuti Saras yang juga penasaran. Sebenarnya apa yang direncanakan bapak dan mama sampai rumah mereka mentereng begini. Dalam hati Saras sudah memastikan. Bahwa bapak dan mama sepertinya memang mengadakan hajatan untuk bertambahnya kepala Saras jadi dua. Tapi apakah se-statysfaying ini? Terdengar bedebuk yang cukup keras. Bersamaan dengan decakan bapak, membuat mereka memutuskan untuk berjalan lebih dalam. Semakin mendekati dapur, bayangan beberapa orang terlihat. Yang pertama muncul adalah Lani. Gadis itu langsung terlonjak kaget begitu melihat wajah Dafa di balik pintu. Lani langsung menyenggol lengan mama dan berbisik. Menginterupsi mama yang langsung menoleh kaget. "Kok udah pulang?!" Semuanya menoleh pada mama. Lalu mengikuti arah pandang mama yang terlihat syok karena kedatangan Dafa juga Saras. Yang keduanya kini menggelengkan kepala. Dana yang baru saja keluar dari kamar mandi lantas tertawa. Memecah keheningan yang ada. Bertepuk tangan meriah sendiri, diikuti yang lainnya dengan wajah cengo. Termasuk bapak dengan batu bulat di tangannya. Sekarang Saras tahu, bahwa tidak adanya orang di luar adalah karena menemani bapak memecahkan es batu. Gadis itu jadi menggeleng. Lantas memeluk mama erat. "Assalamu’alaikum, Vanda telat ya, tan--" kedatangan Vanda hanya membuat Dafa tertawa. Sebab, gadis itu juga sama kagetnya. Bahkan sampai termundur menabrak dinding. "Enggak telat kok," kata Dafa lantas mengayunkan tangan. Meminta kekasihnya itu untuk mendekat. Pada akhirnya, ruang tamu yang mentereng tak lebih hangat dari dapur. Menunjukkan bahwa semewah apapun itu, yang paling nyaman semua yang sederhana. Termasuk dapur dengan kerusuhannya. Mungkin ruang tamu saat ini statysfaying untuk sebuah acara ulang tahun. Tapi, semua ada di tangan tuhan. Termasuk gagalnya kejutan yang sudah mama, bapak, Dana, Lani, juga Vanda siapkan. "Kok ada nama Dafa juga?" pertanyaan Dafa praktis membuat bapak mengangguk. "Bareng-bareng Daf. Terakhir kali bapak gawe koyo ngene iki waktu kamu SMA," Dafa merangkul bapak. "Makasih Bapak, Mama, Lani, Dana, mbak Vanda udah repot-repot bikin kejutan begini," Saras tersenyum lebar. "Daripada gagal, apa Mas Dafa sama aku balik ke depan lagi? Biar jadi statysfaying acaranya?" Mas Dafa hanya mencibir. Sementara Dana dan Vanda tertawa. Mama dan bapak hanya menatap para anak muda itu. Ini maksudnya apa? "Statispaying apa Daf? Listriknya kurang padang?" tanya mama yang kemudian mendongak menatap lampu dapur yang sebenarnya terang. Meski tak se-mentereng ruang tamu. "Ndak usah Ma, udah. Mau tiup lilin di sini?" pertanyaan Dafa membuat Dana menyambar korek api di atas meja. Dengan gerakan sederhana memantik api dari korek, lantas api kecil di dua lilin menyala. Saras menggigit bibir. Memeluk mama makin erat. Mata gadis itu sudah mengabur, tertutup cairan bening yang ia paksa agar tak turun. Selamat ulang tahun, kami ucapkan..  Selamat panjang umur, kita kan do'a kan..  Selamat sejauh tera, sehat sentosa..  Selamat panjang umur, dan bahagia..  Sebuah lagu berisi ucapan selamat ulang tahun terdengar. Baik Dafa maupun Saras, keduanya menatap lilin kecil itu dengan pandangan nanar. Agaknya, sebuah ulang tahun mewah tak akan berarti apapun bagi mereka. Sama halnya seperti perbandingan antara dekorasi ruang tamu yang mewah, dengan dapur yang seadanya. Mereka lebih memilih dapur alih-alih semua yang ada di ruang tamu. Yang sederhana nyatanya memang lebih menarik dibanding kemewahan yang ada. Ditemani suara gemericik air dari keran kamar mandi--yang bocor sore tadi. Dafa juga Saras berdoa dalam hati mereka. Berdoa dengan khusyuk. Meski dalam pengucapan berbeda, tapi inti dari doa keduanya sama. Saras dan Dafa ingin, ada di tengah kesederhanaan yang hangat. Tetap ingin mendengar tawa semua orang di sekeliling mereka. Melihat mama dan bapak menua. Dan mereka berdua ingin akur sampai kapanpun. Satu tiupan berhasil membuat lilin kecil itu padam. Lantas, doa mereka ikut membumbung tinggi bersamaan dengan asap yang mengudara setelah lilin padam. Membawa harapan Saras juga Dafa. Pada sebuah pengharapan sederhana. "Saras ingin selalu berada di tengah kehangatan yang ada. Berharap kehangatan keluarga bapak kayak termos baru beli. Yang mempertahankan kehangatan," Jika ulang tahun umurku dipotong, aku hanya berharap. Di sisa umurku yang sekarang ini. Aku ingin selalu bersama keluarga yang hangat. Seperti termos baru beli. Yang selalu menjaga kehangatan -- Annira Saras Ayudia "Dafa cuma pengen, liat semuanya tertawa bahagia, menua bersama. Berharap nantinya bisa sama-sama membahagiakan Mama dan Bapak bersama Saras." Harapanku ingin menua bersama orang-orang yang ada di hati ini. Perkenankan mama dan bapak bahagia di hari tua mereka. Perkenankan aku agar selalu jadi kakak yang baik, yang nantinya kami akan berjuang bersama-sama -- Pradipta Dafa Ramadhan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD