10. Definisi Rumah

2056 Words
Dana melempar tubuh ke ranjang. Menatap langit-langit kamar kosnya dengan perasaan ambrul adul. Kata-kata Dafa tadi jelas membuatnya merasa menyesal. "Kalau udah ada cewek, cerita ke Saras. Jangan diem aja," mas Dafa selalu bisa membuat Dana merasa terpojok. Meski tak terlalu kentara mengatakan bahwa Dana tak mau peduli pada perasaan Saras. Tapi kata-katanya terdengar begitu masuk ke relung hati. Sejak empat tahun yang lalu, hati Andana Gibran hanya diisi oleh Annira Saras seorang. Lalu, apa alasan mas Dafa mengatakan hal itu padanya? Dana mendecak. Skripsinya masih jauh di mata. Masih ada beberapa mata kuliah yang harus ia selesaikan juga skripsi yang akan ia usahakan. Sekelebat ingatan muncul tiba-tiba. Dan mungkin saja hal itu yang membuatnya terperanjat dan langsung bangkit dari posisinya saat ini. Besok ulang tahun Saras. Dan bukan tidak mungkin ucapan mas Dafa di telepon tadi menyinggungnya. Karena pergi tiba-tiba tanpa mengatakan pada mereka. Penyesalan memang datang paling akhir. Mengatakan pada seseorang bahwa mereka salah mengambil tindakan dan memilih. Menunjukkan pada seseorang pada akhir peristiwa. Yang menyebabkan orang itu hanya akan dihantui dengan keinginan untuk kembali pada masa lalu, memperbaiki apa yang salah dan membuat mereka menyesal. Untuk sebuah acara ulang tahun, Saras bahkan tak pernah merayakannya. Kebiasaan keluarga pak Suripto masih Saras terapkan hingga saat ini. Hanya menerima kado dari siapa saja yang memberikan. Tak ada tiup lilin atau potong tumpeng. Selalu mengatakan ia hanya ingin bersama orang-orang yang disayang. Tak butuh kado mewah atau makanan enak setiap tahun. Toh, setiap hari masakan mama selalu enak masuk ke dalam perut mereka. Dana mengacak rambutnya frustrasi. Sebuah album berwarna biru hitam yang ia siapkan sudah ada di atas meja belajar. Bermodal menitip pada salah satu kenalan, Dana membeli album itu. Ori dari nyai Sooman. Jadi Dana memperlakukan album itu dengan hati-hati. Album yang kini ini ada di tangannya lebih mirip dengan buku tahunan Dana sewaktu SMA. Sepertinya album ini bisa memuat semua warga sekolah. Alasan utama Saras menjadi fans modal kuota ya karena uang. Dana pernah bertanya pada gadis itu. "Kenapa gak mau beli album? Padahal itu buat dukung idol Ras?" Saras yang saat itu tengah meminum es tehnya menggeleng. "Pertama, gue gak punya uang. Gue bukan Chenle yang bisa borong semua itu. Terus, kalau dipikir lagi nih ya Na, beli album sama dengan menafkahi orang kaya. Gue tambah miskin," Dana menggeleng kecil. Cinta memang membuat siapa saja buta dan tak ambil pusing atas sesuatu hal. Seperti Dana yang ringan mengeluarkan uang untuk sebuah album tebal itu. Laki-laki itu meletakkan kembali album itu. Belum sempat dibungkus. Hanya terbungkus plastik bening packaging langsung dari Korea. Juga bubble warp yang digulung tebal untuk menjaga agar album tetap aman. Tanpa melukai wajah tampan anak-anak nyai Sooman. Dana mendesah. Ini semua karena kejadian seminggu yang lalu. Ketika ayah memintanya pulang untuk menemui seorang perempuan yang dapat dipastikan, akan menggeser posisi bunda di dalam keluarga bapak Iwan. Masih basah di kepala Dana. Bagaimana halusnya ayah memintanya pulang untuk menemui perempuan itu. Si klien ayah itu. Dana jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri. Seorang wanita berambut sebahu tersenyum manis menyambutnya. Wajahnya ayu. Bahkan, Dana memuji kecantikan wanita itu. Aura yang ia pancarkan mirip dengan Saras. Dana bisa melihat wanita itu tulus memberikan senyum terbaik untuknya. Tapi entahlah, Dana tak tahu isi hati orang satu per satu. "Ini Andana?" nada bicaranya hampir sama seperti bunda. Sekuat tenaga Dana menekan emosinya. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Rahangnya mengeras begitu ayah menegurnya. "Dana. Ini klien Ayah, namanya tante Ayuni," belum selesai ayah memperkenalkan. Dana lebih dulu menghilang dari pandangan dua orang dewasa itu. "Dana! Yang sopan kamu," Dana pulang bukan untuk menemui perempuan itu. Tapi menghampiri Lani dan pergi. Pergi untuk pulang. Pergi dari rumah besar yang membuatnya sesak. Demi sebuah gubuk reot bernuansa Maladewa. Rumah nenek nyatanya jadi tempat pelarian Dana juga Lani. Menitipkan Lani untuk sementara waktu. Dengan dirinya yang berkunjung setiap sore hari. Sampai satu minggu ini, nenek direpotkan olehnya dan Lani. Masa bodoh dengan ayah yang masih teguh dengan pilihannya. Apalagi perempuan yang minggu lalu ia temui itu. Sama sekali Dana tak akan pernah peduli. Posisi bunda tak akan pernah tergantikan. Bahkan dengan bidadari paling cantik sekalipun. Dana tak pernah merasa dewasa. Dewasa itu sulit. Dewasa bukan pilihan, tapi harus tetap dilalui. Laki-laki itu selalu merasa kesulitan menghadapi situasi yang ada. Alih-alih menghadapi, Dana lebih suka pergi. Menghadapi adalah tentang sebuah kesiapan, kesabaran dan keikhlasan juga keberanian yang jadi pondasi utamanya. Sedangkan Dana sama sekali tak punya itu semua. Dirinya belum punya keberanian. Memilih pergi yang hanya mengulur waktu. Masalah tak akan pernah selesai jika memutuskan untuk pergi. Pergi bukan jalan keluar. Tapi hanya sebuah labirin yang suatu saat nanti akan bertemu jalan buntu. Dan Dana paham akan hal itu. Menghadapi adalah sebuah pilihan sulit. Dengan menghadapi, nanti akan ada goresan yang terlukis meski samar. Akan merasakan sebuah rasa sakit yang kembali basah. Beberapa kali Dana berpikir menyusul bunda adalah pilihan yang tepat. Tapi kembali lagi pada masa kini, Dana terlalu tidak rela meninggalkan Saras juga Lani dan nenek di dunia ini. Dana menghela napas panjang. Kedua matanya terpejam rapat membiarkan airpods di telinganya mengeluarkan suara gemericik hujan. Beberapa hari ini tidak hujan. Dan Dana merindukan hujan untuk mengobati sebuah rasa sakit yang belum sepenuhnya kering. Dana meraih handphone. Membuka aplikasi chat, membiarkan kedua jempol tangannya bergerak lincah di atas keyboard. Tapi tak sampai sepuluh detik, laki-laki itu kembali mengacak rambut belakangnya yang mulai panjang. Menghapus setiap kata yang awalnya akan ia kirimkan pada Saras. Kedua jarinya berhenti di udara. Membiarkan berbagai macam pikiran bergerumul di kepalanya. Menyebabkan mood tiba-tiba jadi memburuk. Dana memilih untuk kembali diam dalam sunyinya malam. Pikirannya bergerumul. Berdebat hebat dengan kata hatinya. Dana menekuk lutut di atas kursi. Membuka aplikasi piano dalam handphone. Kadang, jika perasaannya terlalu buruk, Dana suka menghabiskan waktu untuk memainkan beberapa lagu klasik yang menenangkan hatinya. Tak sesempurna keyboard piano asli. Tapi cukup membuat Dana tersenyum tipis sembari menekan tust di dalam handphone. Sebuah melodi pilu Dana ciptakan. Bersamaan dengan runtuhnya pertahanannya. Dana tak pernah sekuat kelihatannya. Namun, dalam sebuah lagu pilu itu Dana tersadar. Lani masih harus bersandar padanya. Ayah masih harus jadi pion utama. Dan Saras, selalu ada di relung hati terdalamnya. Setetes bening berhasil menuruni pipi tirusnya. Bersamaan dengan bunyi petir yang menggelegar di langit gelap malam ini. Seolah menunjukkan pada dunia bahwa Dana sedang dirundung pilu. Dipukul oleh rasa yang ia buat sendiri. Dana mengusap kasar pipinya. Meraih kunci motor di atas meja. Menyaku handphone dan mengunci pintu kamar kosnya. Mungkin sebentar lagi air langit akan meluruh bersama jutaan rasa sakit manusia di dunia ini. Dana akan pulang cepat untuk membeli kertas kado dan membungkus album untuk Saras. Itu hanya mungkin. Karena hujan selalu membuat Dana lupa diri. Menangis di bawah hujan adalah sebuah alasan klasik untuk menutupi bahwa seseorang tengah mengeluarkan keluh kesahnya jadi sebuah kristal bening yang tersamarkan dengan tetesan air langit yang sama beningnya. Dana suka hujan. Dana suka bagaimana hujan menerjangnya. Mengalihkan rasa sakit dari hati ke lapisan kulitnya. Bukankah luka fisik lebih mudah mengering dan sembuh dalam waktu singkat? _-_-_-_- "Daf, kok mama gak lihat Lani ya seminggu ini. Apa ikut Dana?" suara mama terdengar meski lirih. Diiringi suara kokokan ayam milik bapak di belakang rumah. "Dana udah mulai kuliah mungkin. Kemarin Dafa lihat Lani di rumah nenek. Yang deket sekolah dia," Saras langsung berdiri bahkan sesaat setelah matanya terbuka lebar di pagi hari. Telinganya memang sudah berfungsi bahkan sejak kepalanya banyak mengeluarkan suara berisik dini hari tadi. Percakapan antara mas Dafa dan mama terdengar sangat jelas di telinganya. Membuat Saras memaksakan diri untuk segera bangkit dari tidurnya. Kepalanya serasa dipukul godam berkali-kali. Pusing. Seperti disambar petir Saras berlari ke arah dapur. Menemukan mas Dafa yang seperti ketahuan maling ayam pak RT. Laki-laki itu terbelalak kaget memegangi dadanya. Sementara satu tangannya masih bertengger di pintu kulkas. "Astagfirullah. Kenapa sih Ras? Ngelindur ya?" Saras menggaruk rambut kusutnya. Mendekat pada mas Dafa untuk memastikan bahwa telinganya tadi tak salah mendengar. "Lani beneran pindah Mas?" Saras melolongkan kepala. Bahkan sampai mengikuti mas Dafa duduk di meja makan. Sementara kakaknya itu meminum segelas air dingin. Padahal masih pagi. "Mas," "Apasih Ras?" Saras memundurkan kepala. "Mas. Dana pindah? Terus sekolah Lani gimana? Nanti kan Lani harus sekolah, terus ikut ngehalu sama ak--" "Bilang aja takut Dana punya cewek di rumah barunya," sekuat tenaga Saras menabok bahu mas Dafa. Bahkan bunyi nyaring yang timbul membuktikan bagaimana rasanya Dafa saat ini. Laki-laki itu mendelik. Mengapit kepala Saras dengan lengannya. "Mas beneran enggak Dana pindah rumah? Kok om Iwan masih di rumah?" Dafa melirik tajam. "Mandi duluan atau gue tinggal," Keberanian mas Dafa memang sebatas mengancam adik kecilnya. Saras bersumpah akan menggoreng mas Dafa dengan kuali besar milik pak RW yang punya usaha dodol. Gigi Saras bergemelatuk. Dengan langkah berat yang sengaja ia hentakkan, Saras meraih handuk yang ada di jemuran baju. Jika diibaratkan mata Saras adalah pistol, mungkin pelurunya sudah menembus mas Dafa bertubi-tubi. Mas Dafa juga tak kalah menatap Saras dengan tatapan julidnya. Kadang Saras heran, mas Dafa dapat gen julid dari siapa? Padahal, mama maupun bapak tak pernah menunjukkan wajah julid. Meski, bapak memang suka berkomentar dengan nada tegas yang pedas. Juga mama yang sering tahu banyak hal tentang huru hara orang lain. Dan mungkin, hal itu yang membuat mas Dafa terlahir ke dunia ini. Dengan sosok julid bermulut pedas berjenis kelamin laki-laki. "Eh Ras. Kemaren gue tuh liat si Dana di depan rumah nenek sama cewek," Saras yang awalnya sudah memasukkan kaki kiri ke kamar mandi jadi berhenti di tengah-tengah pintu. Gadis itu geming. Menunggu kalimat mas Dafa yang menggantung. "Cantik. Kayak Taeyeon SNSD," Mas Dafa mengulum bibir. Ketika Saras kembali duduk di sampingnya. Menatap mas Dafa seolah kelinci dan dirinya adalah singa yang siap menerkam kapan saja. Laki-laki itu memajukan kepala. "Dalam hidup, manusia gak melewati satu jalan terus. Ada kalanya jalan alternatif lebih menarik daripada jalan utama, Ras, Dana punya kehidupan selain kamu. Apa dengan gak chat Dana seminggu penuh bikin Dana kangen sama kamu?" Ujung bibir Saras berkedut. Perkataan mas Dafa memang benar. Selama seminggu ini Saras tak pernah menanyakan kabar Dana lebih dulu. Membiarkan semuanya seperti biasanya. Seperti Saras yang mengirim chat pada Dana ketika benar-benar ingin. Dan satu minggu ini Saras tak ingin kabar apapun. "Mas cuma bilang, kamu tungguin Dana sampe lumutan sama aja percuma, mungkin Dana lagi sama Taeyeon di rumah nenek. Rugi sendiri tau rasa," Mas Dafa kembali meneguk air dinginnya. Berjalan santai ke kamar mandi membiarkan Saras yang kali ini terdiam di tempat. Hanya menatap punggung tegap mas Dafa yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Saras terdiam dalam lamunannya. Mungkin benar apa kata mas Dafa. Pasti Dana sudah punya pacar. Dan dirinya, yang selama ini mengaku jadi sahabat sejati hanya bisa termangu sendirian di dinginnya pagi. Ditemani gelas kosong mas Dafa serta keributan yang tercipta oleh mas Dafa dari dalam kamar mandi. Dana pasti sudah bahagia dengan Taeyeon di rumah nenek. Saras sadar, bahwa hari-hari Dana tak melulu tentangnya. Andana Gibran meski kelihatan kerempeng begitu tetap punya otot. Tubuhnya menjulang tinggi dengan rambut hitamnya yang mulai panjang dan badass. Meski kelihatan masa bodoh dan terlalu cuek, Dana punya senyum yang lebih mirip gulali. Terlalu manis. Saras merebahkan kepalanya pada meja. Kedua kakinya bergerak gelisah di bawah meja. Bergesekan langsung dengan dinginnya keramik. Mas Dafa sialan. Bisa-bisanya mas Dafa membuatnya overthingking pagi-pagi begini. Ini masih hari Senin, dan harusnya awali Senin dengan senyuman. Bukan dengan overthingking seperti ini. Mungkin kepala Saras benar-benar akan meledak sebentar lagi. Jika ini sebuah animasi yang biasa mas Dafa tonton, pasti di kedua telinganya sudah mengepul asap. Dengan kepalanya ada api besar menyala-nyala. Gadis itu dibuat semakin kesal mendengar nyanyian mas Dafa dari dalam kamar mandi. Mas Dafa sama sekali tidak peduli padanya. Terbukti dari lagu bucin yang mas Dafa nyanyikan pagi ini. Dengan handuk yang tersampir di leher mas Dafa senantiasa bersenandung. "Mau bilang suka tapi takut salah, bilang tidak ya.. Bilang tidak ya.." Mas Dafa tidak tahu saja. Bahwa setelah ia bernyanyi merdu dengan wajah julidnya, Saras menggigit lengannya dan membuatnya sampai berteriak nyaring mengundang atensi mama juga bapak yang langsung kembali ke dapur padahal tengah menghitung uang hasil jualan hari kemarin. "MA!! DAFA DIGIGIT GRANDONG!" Saras mencibir di belakang mas Dafa. Menutup kepala dengan handuknya, berlalu begitu saja meninggalkan mas Dafa dan bekas gigitannya di lengan kakaknya itu. Juga, kebingungan di wajah mama dan bapak yang khawatir pada anak sulung mereka. "Loh, ndi ono grandong Daf? Ngelindur ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD