09. Rasa

2112 Words
Jika hati bisa diukur. Maka seberapa lebarkah rongga hati seseorang? Seberapa penuhkah isi hati seseorang? Apa nama seseorang bisa memenuhi hati? Katakan jika itu benci, maka apakah di dalam hati hanya terisi rasa benci pada seseorang itu. Mungkin saja tidak. Karena, ada setidaknya satu orang yang mengambil bagian untuk dicintai di dalam hati yang paling dalam. Seperti cinta, benci juga punya tempat di hati. Bersama dengan perasaan yang lainnya. Kesal, sedih, senang, kecewa. Kadang, manusia punya perasaan seperti rujak di satu waktu yang bersamaan. Asam manis bercampur jadi satu. Sudah lebih dari tiga puluh menit, Dana mengikuti Saras yang terus berputar di rak-rak makanan. Iya, janjinya pada Dana akan segera ditepati. Tapi sepertinya, si botol ganteng kini sudah tak dijual lagi alias habis. Laki-laki itu masih setia mengikuti dengan keranjang berwarna biru di tangannya. Sejak tahun lalu, hobi Saras adalah mencari botol ganteng untuk dirinya sendiri. Beli banyak ketika habis gajian. Alasannya untuk stok sehari-hari. Bahkan mas Dafa saja boleh meminumnya sesekali. Tapi dengan syarat botol harus utuh dan tidak boleh dibuang. Akan ada manusia bernama Annira Saras yang sudah seperti penunggu kulkas. Untuk memastikan botol-botolnya aman. "Masih?" pertanyaan klasik yang lagi-lagi dijawab gelengan oleh Saras. "Mau cari ke tempat lain atau mau minuman yang lain aja?" Saras kali ini menoleh. Dengan helaan napas panjang gadis itu menggeleng lemah. Sepertinya, keinginan Saras untuk menambah koleksi botol ganteng harus berhenti sampai di sini. Beberapa lemari pendingin ia obrak abrik demi mencari botol bergambar Taeyong atau yang lainnya. Tapi mungkin itu mustahil. Sudah satu tahun lebih sejak minuman itu beredar di pasaran. "Lo mau yang mana?" tanya Saras akhirnya pasrah. Menggeser tubuh mempersilakan Dana untuk mencari minumannya sendiri. Tapi tangannya sudah lebih dulu meraih dua kaleng kopi kemasan dan ia taruh bersama snack yang lain di dalam keranjang. "Mau minum kopi?" Saras mengerjap kecil kemudian mengangguk. Mengabaikan tatapan heran Dana padanya. "Kamu gak bisa minum kopi, Saras," Dana selalu tahu kebiasaan Saras yang akan melemas sehabis minum kopi. Entah bagaimana awalnya, tapi Saras memang tak pernah bisa meminumnya. Meski itu kopi kaleng seperti hari ini. Satu lagi perbedaan antara Saras dan Dana. Ketika Saras tak pernah bisa meminum kopi, Dana adalah manusia yang tak bisa hidup tanpa kopi. Mungkin, Dana sudah seperti anak senja pecinta sajak yang menikmati kopi saat senja tiba. Tapi Andana Gibran punya kebiasaan minum kopi pagi siang dan malam. Kopi Dana tak pernah pakai gula. Katanya, biar lebih nikmat. Pernah Saras mencicipi kopi milik Dana. Hanya satu tegukan. Tapi sukses membuatnya memeletkan lidah karena terlalu pahit. Kemudian, berakhir dengan Saras yang memegangi d**a kirinya karena jantungnya yang berpacu terlampau cepat dari biasanya. Saras hanya mengedik. Memasukkan beberapa kaleng lagi ke dalam keranjang di tangan Dana. "Mau lembur Na, nanti mau belajar," bibir Dana membulat. Lantas mengikuti Saras yang kembali memutari rak makanan. "Aku gak bisa nepatin janji beliin teh botol ganteng, rabbokki mau?" Dana hanya mengerjap. Apa itu rabbokki? Kalau teobbokki Dana tahu. Dia juga sering memakannya bersama Lani di rumah. Apa ini sejenis makanan Korea versi baru? "Apa tuh? Arra bohongin Aki?" Saras lantas tertawa. Apa-apaan ini?! "Ih Dana! Itu ramen dicampur sama teokk enak Na. Tapi belum pernah bikin sih," kata Saras sembari memilih bahan untuk membuat rabbokki. "Bantuin ya, hehe," Dana hanya mengangguk. Membiarkan tangan Saras mengapit lengannya dan melenggang menuju kasir. "Na," Dana menoleh. Menemukan Saras yang menarik bajunya agar Dana mau sedikit membungkuk untuknya. "Kalo aku tanya ke mbak kasir masih ada botol ganteng atau enggak, kira-kira masih enggak ya?" "Udah nggak ada Ras, mau dicari Kemana pun ya gak ketemu. Kayak Taeyong," Saras mendelik. Menabok bahu Andana dengan kesal. "Ya iya dong?" "Ras, jangan cari yang jauh-jauh. Yang ada aja. di sini adanya aku, bukan Taeyong," ucapan ini terlampau lancar untuk masuk ke dalam rongga telinga Saras. Memang, sudah ada Dana di sampingnya. Tapi setidaknya, Saras bisa beli botol ganteng untuk memenuhi kamarnya dan membuat mama mengomel karena kamar Saras tak lebih baik dari Bantar Gebang katanya. Mama tidak tahu saja, yang begini harus dilestarikan. "Tapi ya Na. Kalo beneran mukamu ada di botol begitu. Aku yang bakal borong sama pabriknya sekalian. Enak aja," Mana mau Saras membiarkan wajah tampan Andana ditebar sana sini? Tertempel di kemasan seperti wajah Taeyong yang ia cari-cari. Mohon maaf. Untuk yang satu ini, Saras akan posessif pada sahabatnya. Lalu, apa julukan yang tepat untuk hubungan aneh mereka berdua? Pacar? Tapi baik Dana dan Saras tak pernah menyatakan dan mengiyakan. Apakah itu berarti mereka menjalin komitmen? Mungkin tidak juga. Karena Dana hanya mengatakan bahwa ia suka pada Saras dan tidak ada yang lain lagi. Aneh, sampai kadang Dafa yang dibuat gemas dengan tingkah adiknya selain karena Saras plin plan dalam urusan hidupnya. Seperti sekarang, ketika keduanya berkutat di dapur. Diawasi secara langsung oleh mata elang mas Dafa dari pintu dapur. Dua orang itu masih saling dorong yang kemudian kembali mendekat untuk membaca resep di dalam handphone. "Ck ck ck. Harusnya mama udah mantu dari dulu," kata Dafa dengan dengusan kecil yang sama sekali tak mengganggu kedua orang itu. Mencintai Annira Saras mungkin hanya menambah beban Dana. Karena, harusnya laki-laki itu tahu bahwa Saras hanya akan merepotkan dan menyebalkan. Tapi, bukankah cinta itu adalah tentang perjuangan? Andana Gibran akan jadi manusia paling bodoh yang hanya tahu berjuang untuk cintanya pada Saras. Bahkan ketika gadis itu jelas diam saja saat Dana mengatakan ia punya rasa lebih dari sahabat. Dana terlalu baik untuk manusia sejenis Saras yang tak terlalu bisa mengungkapkan perasaan. Saras sering gamang dengan pikirannya sendiri. Masih ada Taeyong di dunia halu, dan Dana di dunia nyata. Tapi, keduanya memang sama-sama susah digapai. Saras juga tahu diri, seperti apa terpandangnya keluarga bapak Iwan Pamungkas itu. Lalu, meski bapak juga bukan orang sembarangan, lantas, apakah kentang semacam Saras bisa memperjuangkan Dana untuk dirinya? Saras terlalu mudah menyerah. Bahkan sebelum memulai untuk mengambil garis awal. "Na, itu ada telepon," kata Saras yang baru kembali dari kamar. Mengambil alih sendok dari tangan Dana. "Siapa tau penting Na," Jaman sekarang, siapa yang telepon hanya untuk hal yang tidak penting? Bagi Saras, teleponlah jika itu sudah gawat darurat. Bahkan, gadis itu tak pernah menerima panggilan dari siapapun. Karena dirinya tak sepenting itu. Log terakhir saja bulan lalu, ketika mas Dafa marah-marah padanya. Hanya itu yang terakhir. Tak ada panggilan terbaru lagi. Saras menuangkan rabokki yang baru matang. Alih-alih terlihat seperti teokk, ini lebih mirip dengan cilok depan SD. "Ras, kenapa ciloknya dimasukin ke mi? Lo mau bikin bakso?" Dafa memicing memperhatikan panci dengan sesama. Tangannya meraih sendok. "Cilok kenapa panjang-panjang begini Ras? Otak-otak?" Saras menghela napas. Melihat mas Dafa yang mengaduk masakannya bersama Dana tadi. Gadis itu berkacak pinggang. Selalu. Mas Dafa belum tahu saja jika makanan ini kemungkinan akan lebih nikmat dibanding mi Siwon. Mungkin, Saras juga bisa mendaftar jadi peserta master chef. Bermodal kata-kata pedas mas Dafa tiap kali Saras gagal mencoba memasak sesuatu sesuai dengan tren yang ada. Seperti kali ini, juga beberapa minggu yang lalu ketika Saras membuat nasi goreng ala-ala. "Kalo gak mau ya udah--" bukan mas Dafa jika tidak memancing emosi. Anak-anak mama memang terbiasa berbicara ngegas begini. Berkomentar langsung tanpa saring, tak peduli bagaimana si chef tersakiti atas ucapannya. Harusnya, setiap hari jadi hari lebaran. Ketika mas Dafa mau dengan tulus meminta maaf padanya. "Enak kan?!" Saras mendenguskan hidung. Ikut duduk beralas karpet bersama mas Dafa. Meja makan memang ada, tapi itu hanya formalitas. Karena, jika sudah begini mereka lebih suka duduk lesehan alih-alih memutar di meja makan. "Dana--" Dana melengos pergi. Hanya menyambar kunci motor tanpa menjawab lebih dulu. Membuat Saras yang awalnya bersiap untuk bangkit menyerahkan mangkuk pada Dana jadi berhenti. Gadis itu menatap kepergian Dana dengan tatapan kosong. Punggung tegap itu semakin mengecil dan hilang setelah motor merahnya pergi. Entah bagaimana untuk mengungkapkannya. Tapi ini sakit. Saras tak pernah tahu apa yang akan Dana lakukan hingga terburu dan melupakan untuk pamit padanya. Gadis itu tergugu dalam diamnya. Bersama mas Dafa yang juga menatap kepergian Dana dengan bingung. Bahkan sampai berdiri dari duduknya. Hanya untuk memastikan Dana pergi dengan aman. Saras meneguk ludah. Dengan helaan nafas panjang gadis itu kembali duduk bersandar pada sofa di belakangnya. Mengaduk mi yang mulai hangat dan mungkin, nanti akan berubah jadi lebih dingin. Mas Dafa yang memperhatikan Saras ikut menggaruk belakang kepala karena bingung. Apa Saras dan Dana sedang perang dingin? Jika dilihat dari wajah adiknya itu. Dafa bisa melihat pandangan suram yang sepertinya juga akan berimbas padanya. Gawat, dia juga harus menyelamatkan diri. Sebelum gadis mungil ini benar-benar meraung seperti anak kekurangan kuota. "Mas," baru saja Dafa akan beranjak, tapi Saras sudah memanggilnya. Laki-laki berkaos Arsenal itu lantas duduk kembali dengan wajah tenang dan senyuman tipis. Mangkuk di tangan tidak lupa ia geser sedikit agar tak terjatuh dari meja. Saras menatap matanya tepat. Tumben sekali. "Minya habisin ya, Saras mau belajar," Dafa dibuat spechlees dengan ini. Sejak kapan si pemalas Saras mau belajar padahal ujian masih lama. Memang, gadis itu berniat untuk melanjutkan studinya. Bahkan Dafa sudah bersiap dengan segala biaya dan kesabaran untuk membimbing Saras belajar. Tapi tanpa diminta? Dapat ilham dari mana anak itu? "Kamu gak makan? Nanti maghnya kambuh," Saras hanya menggeleng kecil. "Ya udah nanti mas ke kamar kamu," "Mas mau ngajarin Saras ngisi soal-soal?" Dafa mengangguk mantap. Semangat belajar Saras tak boleh patah hari ini. Sebegitu semangatnya sejak pagi untuk pergi beli buku bahkan setelah pulang dari kantor. Dan sekarang, ketika sudah siap untuk belajar, si mood booster pergi begitu saja. Apa ungkapan yang pas untuk ini. "Nanti mas tunjukin triknya," "Kirain, jalur mandiri bisa langsung masuk tanpa ujian," Saras menguap sembari berjalan memutari meja rendah di depan mas Dafa. "Itu kalo duit gedungnya gede," Saras lantas kembali hanya untuk menatap mas Dafa dengan sorot mata menyebalkan. "Kan mas Dafa duitnya berkarung-karung," Dafa hampir membawa Saras untuk diguling bersama mie yang sedang ia lilit di sumpitnya. Patah hati atau tidak, Saras memang tak ada bedanya. -_-_-_-_-_- Dalam sebuah rasa, tak hanya ada satu macam. Tapi beragam macam rasa dalam sebuah emosi. Mungkin, Saras saat ini hanya merasa bingung dengan keadaan. Hari sudah berganti jadi minggu. Ketika biasanya laki-laki itu akan menghampirinya untuk sekedar menggedor pintu menyuruhnya mandi. Atau mengajaknya bersepeda keliling komplek rumah mereka. Tapi sampai satu minggu lamanya. Andana tidak menampakkan diri. Bahkan Saras tak melihat Lani ada di kamarnya tiap pagi. Saras duduk menekuk lutut. Melihat bagaimana pohon rambutan di depan kamarnya masih berbuah. Dalam benaknya Saras bertanya. Kenapa buah yang banyak di kerubungi semut lebih manis? Mungkin, jika Dana benar-benar ada di sisinya, laki-laki itu akan mengatakan banyak hal. Tentang bagaimana semut menyukai manis. Juga bagaimana semut tahu sesuatu terasa manis hanya dengan antena di kepalanya. Kadang, Saras juga berpikir dalam diamnya. Apa yang ada di kepala Dana, sehingga laki-laki itu selalu memberitahunya banyak hal. Yang bahkan Saras tak begitu peduli. Seperti tahun lalu, ketika daun pohon rambutan berguguran di halaman rumahnya. Saras hanya iseng karena tidak sengaja terlintas di pikirannya. "Kenapa ada penggalan daun tak pernah membenci angin. Padahal, kalo gue jadi daun, gue bakal marah sama angin karena berani jatuhin gue," Saat itu, Dana terkekeh. Sembari mengupas kulit rambutan bersama Saras juga Lani dan bapak. "Takdir," jawaban itu lolos dari bibir Lani. Yang kembali menengadahkan tangan meminta rambutan pada bapak yang ada di atas pohon. "Sama halnya kayak daun, rambutan yang dipetik bapak mungkin lagi merasa kesakitan," Saras memicing. Menatap rambutan di tangannya dan kembali menengadah untuk melihat bapak yang memutar ranting demi setangkai rambutan. "Kok bisa?" Dana mengedik sekilas. "Maksudnya apa sih, Na?" "Angin membuat daun jatuh dengan lembut. Sedangkan kalo kamu liat sendiri, daun akan merasa kesakitan jika ditarik paksa sama manusia atau makhluk lainnya." Dana menunjuk Lani yang melompat, menarik ranting juga daun untuk mengambil rambutan yang sama sekali belum merah. "Sebuah rasa gak bisa dipaksakan," Saras melongo. Kenapa tiba-tiba jadi rasa, bukannya tadi mereka membahas tentang rambutan? Tapi Saras tak ambil pusing. Kembali fokus mengupas rambutan sebelum Dana akhirnya menyodorkan rambutan yang sudah dikupas untuknya. "Jangan dipaksa, nanti sakit. Sama Ras, kayak daun yang jatuh karena angin atau manusia, bedanya rasanya itu," "Sakit?" Dana mengangguk. Sebelum akhirnya laki-laki itu tertawa garing. "Apa sih Na. Kayak daun yang bisa ngomong aja," Saras meneguk ludah. Selalu. Jika bersama Dana, pasti ada saja pembahasan yang menurutnya tak terlalu penting. Tapi bisa jadi bahan pembicaraan yang membuat Saras hampir frustrasi. Saras kembali melamun. Mengingat kembali bahwa mungkin saja Dana memang sangat sibuk untuk tugas kuliah akhirnya. Jika rasa tidak bisa dipaksa untuk manis. Maka, apakah bisa dipaksa jadi pahit? Saras tak tahu apa itu manis dan pahit dalam percintaan. Yang ia tahu, sebuah perpisahan membuatnya merasa pahit seketika. Lalu, hubungannya dengan Dana apakah akan terasa pahit atau manis? Saras tak tahu. Yang ia tahu, sekarang Saras seperti tak punya indera perasa. Hambar. Sedikit manis, tapi mungkin akan pahit setelahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD