07. Perihal Sebuah Mimpi

2135 Words
Mimpi. Katanya bunga tidur. Lalu, untuk apa ada ucapan have a nice dream jika mimpi hanya bunga tidur? Bukan sesuatu yang bisa digapai dalam dunia nyata? Saras benar-benar terjaga lagi. Ia tak bermimpi apapun. Katanya, jika tidur dan tidak menemukan mimpi, itu berarti tidurnya tidak nyenyak. Kalau kata bapak. "Ora lali," Saras kembali berguling di kasurnya. Iya sih, ini hanya tidur siang. Dan apa tidur siang juga membutuhkan mimpi yang indah? Tapi sepertinya Saras memang berharap pada hal itu. Mimpi indah di siang bolong. Overthingking sepertinya sudah bersahabat baik dengan Saras. Terbukti bagaimana gadis itu kini terdiam menatap kosong pada poster besar NCT dengan 23 kepala di dalamnya. Gadis itu menengadah. Mulai mecarau dalam hatinya. Kapan ya Saras bisa bertemu NCT atau Lee Taeyong? Kapan ya, Saras bisa bekerja sama dengan SM untuk pembuatan gedung baru. Jika nantinya Saras jadi mengambil jurusan arsitektur, maka cepat-cepat ia akan mendaftar jadi salah satu arsitek SM. Mimpi. Sekali lagi itu hanya mimpi. Saras baru saja meyakinkan mas Dafa. Jika dia akan mengambil jurusan arsitektur. Saat mas Dafa bertanya apa motivasinya, dengan bangga Saras mendobrak pintu kamar. Menunjukkan sebuah design interiornya sendiri. Katanya, itu adalah karya terbaik pada abad ini. Padahal, itu dibuat tahun lalu dengan bantuan Dana. "Itu namanya design interior," sinis mas Dafa sangat jelas terdengar di telinga Saras. Saras akhirnya mengangkat dagu. "Antara Arsitektur sama Design interior ada yang namanya Arsitektur interior mas. Jadi bisa semuanya," sebuah jalan keluar untuk jiwa plin plan Saras yang menginginkan arsitektur juga Design interior secara bersamaan. Ini juga saran Dana. Gadis itu sudah punya banyak planing tentang hidupnya beberapa bulan kedepan. Akan jadi mahasiswi baru, jauh dari mama dan bapak karena harus ngekost di dekat kampus. Juga, mungkin saja dia akan sangat merindukan semprotan mas Dafa tiap hari. Untuk hal pertama yang akan Saras lakukan adalah resign. Ia sebenarnya sudah tidak betah dengan para manusia di kantor. Toh, kontrak kerjanya akan berakhir beberapa bulan lagi. Dari leadernya yang lebih galak dari mas Dafa. Tentang bagaimana deadline tiap hari yang bisa membuat jari Saras mati rasa. Tentang bagaimana manusia bernama Revan mendekatinya. Salah satu alasan Saras tak akan memperpanjang kontraknya adalah, dia yang tak mau jadi bahan gosip orang-orang. Gosip yang akhir-akhir ini ramai dikalangan ibu-ibu kantoran adalah Saras yang menolak pak Revan si manager ganteng. Kalau kata mbak Kevi, teman dari divisi Design. Katanya Revan itu Sugar Daddy. Saras hanya akan menimpali itu dengan gumaman. "Gak Sugar daddy gak Sugar dingin sekalian mbak?" Revan mungkin punya segalanya. Mobilnya mewah, jabatannya tinggi, sudah mapan dan dewasa. Tapi, Saras terlalu menyukai Taeyong di segala aspek. Itu hanya angan Saras sih. Juga, sikap Revan yang akhir-akhir ini semakin bar bar padanya, benar-benar menimbulkan keresahan. Kalau saja pria itu tahu Saras agak takut pada laki-laki. Mungkin dia akan berhenti. Sebenarnya, jika dibandingkan dengan Revan. Andana hampir memenuhi semua yang Saras impikan. Tak ada Lee Taeyong yang siap jadi suami idaman, setidaknya Andana Gibran adalah seseorang dalam dunianya yang sempurna. Dana baik, contoh dari anak yang berbakti. Dana itu gentle. Kalem-kalem begitu Dana juga pernah jadi atlet karate. Meskipun berhenti saat kenaikan sabuk cokelat. Hal yang terpenting. Saras tidak pernah takut jika dekat-dekat dengan Dana. Entah apa alasannya, tapi dekat dengan laki-laki itu justru membuatnya nyaman. Karena Andana Gibran adalah sosok yang selalu Saras impikan. Hanya saja, masih sulit untuk mengatakan bahwa Dana lebih tinggi dari Taeyong. Jadi, daripada dia harus berhadapan dengan manusia sejenis pak Revan, Saras lebih suka Dana kemana-mana. Duduk di belakang Dana dengan jas hujan lebih hangat dibanding harus berada di satu mobil dengan Revan. Yang ada, Saras akan masuk ruang psikolog segera. Alih-alih berlanjut ke hal kedua. Saras malah memikirkan bagaimana nantinya dia setelah lulus. Padahal memulai saja belum. Belajar untuk mengikuti PTN saja belum. Tapi lagi-lagi si overthingking memenuhi otaknya. Pokoknya, nanti Saras akan menandatangani kontrak dengan kantor SM cabang Jakarta. Siapa tahu, Saras akan melanjutkan mimpinya hingga ke negeri ginseng Korea Selatan. Ketika masih banyak kapan-kapan yang entah kapan terwujud itu. Saras menengadah. Tumben sekali Dana tidak ke rumahnya? Tumben sekali, laki-laki itu tidak membantu mama memasak untuk dibawa ke toko. Padahal, jika libur seperti ini. Dana adalah orang pertama yang bertamu ke rumah Saras di pagi-pagi buta. Membantu mama memasak, membangunkan Saras dan berakhir mengantar gadis itu pergi ke kantor. Saras akhirnya tersadar. Ini hari minggu. Dan kebiasaan Dana akan menggowes sepedanya berkeliling dengan teman-temannya yang lain. Kenapa Dana tak pernah mengajak Saras? Karena Saras terlalu jadi bucinnya kasur. Pikiran random Saras terus bergerilya dalam otaknya. Bisa-bisa, nanti kepala bagian paling atas akan terlepas dan mengepulkan banyak asap. Gadis itu menghela napas. Merangkak pada meja belajar yang entah kapan terakhir kali ia pakai. Karena biasanya Saras lebih suka duduk di lantai untuk menonton drama. Meja cokelat ini jadi saksi bagaimana depresinya Saras menghadapi malasnya belajar. Kalau mama tidak menyuruhnya belajar dan menengok Saras setiap lima menit sekali. Mungkin gadis itu sudah berakhir tergeletak mengenaskan di kasur. Lelah. Belajar itu melelahkan. Jika dalam sebuah ujian sekolah ada banyak mata pelajaran. Maka dalam hidup ada banyak ujian hidup yang harus dilalui. Kata orang-orang, kalian akan tahu bagaimana kerasnya hidup setelah lulus sekolah. Saras sudah merasakannya. Meski, agaknya tuhan berbaik hati padanya. Bekerja di salah satu kantor distributor barang luar negeri sampai saat ini membuatnya tak terlalu kerepotan mencari pekerjaan lain. Mungkin, ujian hidup yang sulit memang akan menantinya. Jadi mahasiswa baru memang harus tahan banting. Sama sepertinya dua tahun lalu ketika baru lulus SMK. Jadi orang baru tentu tidak enak. Jadi pusat perhatian, jika salah langsung dimarahi meski dalam keramaian. Saras kembali menghela napas. Menarik kursi dan duduk disana. Memandangi tanaman di dekat jendela yang sengaja mama tanam. Ia meraih pensil dan buku tebal pemberian Andana. Baru lihat bentuknya saja Saras merasa mual. Buku berisi latihan soal untuk PTN nya nanti. Kata Dana, dia membeli buku ini sembari mengantar Lani mencari bolpoin baru di toko buku. Saras mengernyit. Bukan pada buku tebalnya, tapi pada Dana yang menggowes sepedanya sampai masuk ke pelataran rumah. Berhenti tepat di depan jendela kamar Saras yang dibiarkan terbuka. Laki-laki itu melepas helm sepedanya. Dengan cengiran lebar khas Andana Gibran. Laki-laki itu mendorong pintu yang ada di samping kamar Saras. "Ras. Punya makanan?" Saras hanya menatap Dana dari atas hingga bawah. Keringatnya masih bercucuran begitu. "Kebiasaan lo." ucap Saras seraya meraih jeday. Menggelung asal rambut pendeknya. "Mau pake lauk apa?" Saras sudah siap dengan piring di tangannya. Membuka tudung saji untuk menawarkan Dana pada masakan mama tadi pagi. "Mau yang mana?" Dana terlihat berpikir. "Lo mau masakin ayam rica-rica buat gue?" Saras agak tersentak. Sudah terlalu lama dia tidak memasak ayam rica-rica. Ayam rica-rica selalu membuat Saras mengingat masa lalu. Pada setiap kata yang Dana ucapkan padanya dulu. Ketika pertama kali menyicipi masakan Saras waktu itu. "Gue boleh nambah gak? Rasanya, gue makan masakan bunda," kalimat itu terus terngiang di kepala Saras. Ia tak tahu, apakah Dana berbohong atau tulus mengatakan hal itu. Tapi yang ia tahu, ketika Dana punya masalah, laki-laki itu akan meminta makanan yang sama padanya. Meski, rela bolak balik kos ke rumah Saras dalam hari kerja. "Lo lagi kangen?" Dana hanya tersenyum kecil. Menarik kursi dan duduk setelah menuangkan air putih ke dalam gelas. "Tiada hari tanpa tak rindu," Saras hanya menggelengkan kepala. Menerima uluran ayam mentah dari Dana yang langsung berlari ketika gadis itu mengiyakan. Dana memang selalu siap siaga. "Masak yang enak Ras," Saras hanya bergumam. Meninggalkan Dana yang diam di meja makan. "Na," Dana menoleh setelah sekian lama menatap punggung Saras yang tengah serius memotong ayam jadi bagian yang lebih kecil. Punggung itu selalu ia sukai. Dana suka semua yang ada pada diri Saras. Saras selalu berhasil membuatnya merindukan bunda. Hal itu jelas menyubit hatinya, memberi rasa perih dan tidak adil. Kenapa bunda harus pergi secepat itu? Alih-alih menjauh untuk meredakan rasa sakit yang semakin menjadi karena Saras. Dana lebih suka ada di dekatnya. Tuhan punya banyak cara untuknya bahagia. Mungkin Tuhan mengambil bunda, tapi Tuhan juga menghadirkan Saras tak lama setelahnya. "Nanti ajarin gue ngisi soal latihannya. Gue udah lupa," Dana tergelak. Dihadiahi dengan pelototan tajam Saras yang tak terima. "Gak jadi nih?!" Dana hanya mengangguk dengan wajah yang kembali kalem. Ia berdehem pelan. "Ras," Saras hanya bergumam. "Gue pernah bilang mau ngenalin cewek ke elu," Gerakan Saras seketika berhenti. Gadis itu tertegun. Tak tahu Dana akan serius menanggapi hal itu. Tapi, apakah Saras tak tahu jika kehidupan Dana juga tak selalu berputar mengenainya? Saras masih diam bahkan ketika Dana sudah mensejajari tubuhnya. Ikut mencuci bawang dan daun kemangi. "Ya udah. Kenalin aja," lancar memang. Tapi tenggorokannya terasa tercekat. Hampir bergetar jika Saras tak segera berdehem untuk menenangkan diri. Dana mengulum bibirnya. Laki-laki itu mengeluarkan handphone dari saku. Membuka salah satu foto yang akan ia tunjukkan pada Saras. Dana agak berjengit kaget ketika Saras menggeprek bawang dengan keras. Alih-alih pakai blender yang ada di lemari bawah. Saras lebih ingin mengeluarkan emosinya agar tak kentara oleh mata Andana. "Ras, liat dulu," Dana berusaha membujuk Saras yang masih mengulek dengan bringas. Mengabaikannya yang hampir tertawa. "Ck. Cantik banget Ras," Bodo amat. Saras rasanya akan mengulek Dana sekalian jadi bumbu pelengkap untuk ayam rica-ricanya. Kini, giliran Saras yang berjengit. Kaget sampai terkantuk wajan mama yang tergantung di dekat wastafel. Dan dengan semena-mena Dana menertawakannya. Yang tak lama langsung memeluk kepala Saras dengan tubuh berkeringatnya. "Dana! Kaget!" sewot Saras. Dana kali ini tak jadi menunjukkan foto gadis yang ia maksud pada Saras. Toh, gadis di depannya lebih menggemaskan dari yang ada di foto. "Dana," laki-laki itu hanya bergumam kecil. "Impian lo sebenernya tuh jadi apa sih?" Pertanyaan yang sering diucapkan anak-anak masa sekolah. Tentang impian dan cita-cita mereka kelak jika sudah dewasa. Dan Saras, gadis itu menanyakan pada Dana perihal masalah ini. Apa sebenarnya impian seorang Andana Gibran. Karena dari dulu, laki-laki itu berhasil membuatnya percaya begitu saja. "Jadi Lee Taeyong," jawaban Andana membuat Saras hampir mengumpat. Mana bisa? "Karena gue suka Taeyong?" tanya Saras kembali. Dana hanya tertawa hambar. "Impian gue masih seputar jadi istrinya Taeyong sih," "Taeyong pernah bilang. Katanya, dia bakal melakukan semua pekerjaan rumah untuk istrinya. Dan lo tau, gue bakal jadi manusia terbahagia sedunia," "Mimpi," Dana jelas menyela. Saras sudah siap ingin memaki laki-laki itu yang tetap santai memakan kerupuk udang dalam toples. "Lo tau perihal mimpi itu. Kalo mimpi dalam sadar namanya keinginan. Kalau mimpi lagi tidur namanya bunga tidur," "Tapi kalo mimpi yang ingin dicapai, itu namanya tujuan. Lo punya tujuan buat ambil arsitektur dan lulus dalam jangka waktu tertentu. Di deadline sendiri, tapi jangan terlalu keras. Karena kadang, yang menyakiti itu bukan orang lain. Tapi diri sendiri," Saras terpaku. Pada setiap kalimat yang keluar dari bibir Dana. Gadis itu mengulum bibir. Menatap Andana dengan mata berbinar terang. "Na.. Gue gak butuh Mario Teguh atau Lee Taeyong. Nikahin gue sekarang Na!" Dana jelas tergelak mendengar itu. Bagi orang lain, ucapan Saras yang ini memang terdengar bercanda. Tapi, laki-laki itu masih mengusahakan. Tunggu saja nanti bagaimana. Dalam tawanya, Dana merasa tertampar atas ucapannya tadi. Dana ikut senang Saras sudah punya niatan akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan jurusan yang ia suka itu, Saras berarti sudah menargetkan mimpinya pada satu hal. Arsitektur interior. Semoga saja gadis itu bisa lulus dalam ujian masuk yang begitu sulit. Dana menghela napas dibelakang Saras. Menatap punggung Saras lagi. Harusnya Dana bisa seperti Saras saat ini. Setidaknya, jika ia tak ingin ada di manajemen bisnis dirinya bisa mengelak dari ayah. Harusnya, Dana punya pendirian seteguh Saras. Jika belum ingin, maka jangan lakukan. Hidup itu perihal suka dan tidak suka. Tapi, Dana kembali menilik ke belakang. Ayah benar-benar ingin dirinya jadi seperti ayah. Padahal, dua orang yang berbeda punya mimpi masing-masing. Begitu pula dengannya. Ayah dan Dana punya dua hal yang berbeda. Impiannya tiba-tiba muncul seketika saat bunda mengalami kejadian tak mengenakkan. Kanker yang ada pada diri bunda menggerogoti kesehatan bunda. Sampai akhirnya mimpi itu jadi sebuah impian tak tergapai Andana. Manajemen bisnis jelas bukan sesuatu yang Dana suka dan impikan. Tapi bunda saat itu mengatakan padanya, bahwa hanya ayah yang akan menemaninya, bahwa hanya ayah satu-satunya yang akan bertahan. Dan Dana, harus patuh pada semua yang ayah perintahkan. Andana akhirnya merelakan mimpi besarnya hanya jadi sebatas angan. "Na, kamu gak ngomong sama aku. Tapi aku terus berdoa, seenggak tercapainya mimpi itu, kamu masih punya semangat buat meneruskan apa yang kamu punya," Dana tersenyum kecut mendengar itu. Saras tersenyum kecil. "Dana, kalau aku bisa memulai lagi dari awal. Gak ada yang gak mungkin, Na. Kalau alasannya kamu udah pergi terlalu jauh dan gak mau mengulang, kamu harus jalan ke depan. Hadapi yang ada, dan anggap itu jadi mimpimu," Usapan lembut di surai hitam lepeknya membuat Dana mematung. "Aku bukan Bunda. Tapi kamu nyaman sama aku. Ibaratkan sama sendal jepit bapak yang ketuker di masjid, itu emang cuma sendal buluk yang jarang dicuci. Tapi bapak tetep pakai buat pulang ke rumah, karena cuma tinggal itu yang ada," "Andana Fighting hajja!!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD