Dulu, jika ada guru yang bertanya apa cita-citamu saat ini, Saras akan menjawab ia ingin jadi pelukis. Lalu, ketika Saras naik ke kelas selanjutnya. Gadis itu akan menjawab dengan jawaban yang sama.
Sampai akhirnya, gadis itu tertarik pada dekorasi interior di kamarnya sendiri. Acak adul memang, tapi Saras tak pernah berhenti dan memotivasi dirinya. Bahwa ia ingin jadi seorang arsitek yang sukses suatu saat nanti.
Bohong jika Saras ingin jadi umbi-umbian. Tapi, mungkin cara yang cocok untuk dirinya memang jadi umbi-umbian. Hobinya rebahan, menonton berbagai acara televisi, drama Korea, bahkan mendengarkan kokokan ayam tetangga setiap jam 5 pagi. Sifat malasnya makin menjadi beriringan dengan berjalannya usia. Semakin dewasa, semakin malas untuk sekedar bangkit dan menutup pintu yang tak sengaja dibuka. Saras sungguh malas untuk itu.
Mimpi Saras memang berubah setiap waktu. Sampai gadis itu memilih untuk mengikuti arus saja. Terlalu ribet dan membingungkan untuknya memilih salah satu. Tapi untuk saat ini, yang ada Saras hanya merenung.
Kenapa dirinya tak menerima tawaran Andana setelah lulus sekolah? Kenapa dia terus menolak ajakan mas Dafa untuk mendaftar kuliah? Dan ada banyak kata mengapa yang terus bergerumul di kepala Saras. Jam 3 pagi, Saras benar-benar membuka matanya atas gangguan pikirannya sendiri. Ketika overthingking menjalar hebat di kepalanya, Saras hanya bisa menatap nanar pada langit-langit kamarnya yang gelap.
Ada banyak kata seandainya. Ada banyak kata kenapa. Banyak sekali penyesalan Saras sampai saat ini.
Mungkin, diumurnya yang hampir kepala dua ini. Saras merasa goncangan hebat dari keinginannya. Tiba-tiba, ia merasa ingin melanjutkan pendidikannya. Tapi jika dipikir lagi, umurnya sudah tak lagi sama dengan para mahasiswa baru nantinya.
Ada pepatah mengatakan, carilah ilmu sampai ke negeri China. Dan Saras, Saras ingin Korea Selatan alih-alih negara kelahiran Dong Sicheng itu.
Dana pernah menjawab pertanyaan randomnya akan sebuah kalimat yang sama. "Katanya, carilah ilmu sampai ke negeri China. Tapi gue sukanya Korea Na, gimana dong?"
Andana berpikir sejenak. Tak mengindahkan tatapan Saras yang jelas sudah terlampau songong di depannya.
"Ya kejar. Kalo lo mau Korea, ya sok cari ilmu ke negri ginseng. Ganti motivasi belajarnya," jawab Dana dengan tenang. "Kalo gue, gue pengen selalu ada di deket bunda sama lo,"
"Kayaknya, gue nyerah Na," gumam Saras pada bayangan Dana di kegelapan. Gadis itu memeluk boneka kelinci pemberian Dana.
Sudah berpuluh kali dalam setiap tahunnya, Saras mengatakan bahwa ia menyerah. Gadis itu selalu mengatakan hal yang sama pada Andana. Bahwa ia menyerah, ia tak akan bisa meneruskan kemauannya sendiri.
Sebenarnya, Saras hanya bimbang dengan jalan pikirnya sendiri. Hal yang paling mas Dafa tidak suka dalam diri adiknya adalah Saras yang plin plan. Sekali saja Saras curhat pada mas Dafa, saat itu pula Saras hampir depresi.
Mas Dafa terlalu lurus untuk Saras yang punya banyak jalan bercabang. Kadang, Saras ingin berpendirian teguh seperti mas Dafa. Berhasil dengan kesuksesannya saat ini. Belajarnya tak pernah sia-sia. Uang mama dan bapak tak pernah raib dengan cara yang tidak layak di tangan kakaknya itu.
Selalu, mas Dafa bisa membuat kedua orangtuanya merasa di spesialkan.
Gadis itu menghela napas panjang dan lelah. Mengubah lagi posisi berbaringnya. Menatap gorden ungu yang menutupi jendela kamarnya. Saras bangkit, menyibak ujung gorden. Lantas menoleh pada bangunan tinggi rumah Andana yang hanya berjarak 20 meter dari rumahnya.
Saras menatap jendela kamar itu yang masih memancarkan cahaya kemuning. Mungkin Dana juga tak bisa tidur sepertinya. Malam-malam panjang punya banyak cerita yang enggan mereka tunjukkan kepada siapa saja.
Dini hari memang waktu yang sering membuat Saras terbangun sebelum waktunya. Hanya untuk menjadi manusia dengan pikiran yang bergerumul memenuhi kepala. Mengacaukan segala mimpi yang sedang dirajut dengan enaknya. Memaksa masuk hanya untuk membuatnya terjaga. Tapi Andana, sedang apa pemuda itu di waktu sepagi ini?
Apa dia juga overthingking seperti Saras? Atau mungkin, laki-laki itu tengah mengejar bahan skripsinya agar cepat lulus dan mengejar mimpinya?
Andana masih punya banyak mimpi yang harus ia capai.
Saras tersenyum tipis, tapi tak lama gadis itu mematung menatap objeknya selama beberapa menit ini. Gadis itu tertegun. Mendapati Dana yang berdiri di balik jendela kamarnya. Tersenyum tipis padanya, mungkin. Tapi Saras hanya diam memperhatikan bagaimana Dana menarik napas panjang dan melongok lagi.
Gerakan sederhana Dana yang melambai membuatnya ikut tersenyum tipis. Tapi, sepertinya Dana tak melihatnya duduk menatapnya dari bawah sini. Terlihat bagaimana laki-laki itu langsung berlalu dan mematikan lampu kamarnya.
Dana tak melihatnya.
Menambah pikiran ruwet Saras pagi ini. Apa kelakuan Dana tiap hari juga begitu?
Saras tak ingin menambah banyak bahan untuk overthingkingnya. Tapi ia tak bisa berhenti. Andana adalah seseorang yang selalu hadir tiap malam dalam lamunannya. Laki-laki itu, adalah alasan kenapa Saras mau berdamai dengan dirinya sendiri.
Saras menghembuskan napas lelah sendiri. Pikiran ini, selalu saja menghantuinya tiap malam. Bagaimana ingatan tentang dirinya yang jelas menolak ajakan mas Dafa dan Andana. Lalu, yang terburuk. Gadis itu hanya akan menangis mengingat kalau dia masih sangat takut untuk sekedar keluar ke tempat yang lebih luas.
Kantor memang tempat yang luas. Tapi, Saras selalu mengurung diri dalam mejanya. Tak pernah pulang terlambat kecuali ada rapat dadakan. Tak pernah keluar untuk makan siang. Bekal yang mama siapkan memang lebih baik untuknya menghindar dari makhluk berjenis laki-laki.
Saras tiba-tiba tersadar. Jika ia akan merasa ketakutan hanya karena dihadapkan dengan seorang laki-laki, maka Andana harusnya ia respon sedemikian rupa. Bukan terbuka pada Dana seperti biasanya.
Dan kini, malam panjang Saras hanya ia habiskan untuk memikirkan hal itu. Kenapa, ia tak pernah merasa ketakutan dengan hadirnya laki-laki itu?
Kenapa, hanya melihat senyum Dana setiap ia takut adalah obat untuknya lebih baik. Kali ini, Saras merasa bahwa Andana selalu bisa membuatnya nyaman. Berulang kali Saras mengelak, tapi sepertinya ia benar-benar jatuh pada sahabatnya itu.
Andana Gibran. Berhasil membuat Annira Saras yang katanya takut pada laki-laki akhirnya mau mengakui kalau dia jatuh cinta.
"Na, salah gak sih kalo gue suka sama lo melebihi Taeyong? Tapi gue gak merasa pantas." lirih Saras sembari menatap jendela lagi.
"Dana, gue harus apa?" Saras berguling di kasurnya lagi. Menenggelamkan kepala pada bantal dan berakhir memeluk boneka kelinci pemberian Dana.
-_-_-_-_-
Dafa mendelik sebal ketika pagi-pagi buta Saras sudah membangunkannya. Padahal, jika laki-laki itu mau mengintip jam dalam ponselnya, Saras membangunkan persis seperti mama biasanya. Justru terlambat lima menit lamanya.
Hanya saja. Cara Saras membangunkan Dafa memang terlalu kejam. Jika mama hanya mengomel, maka Saras si adik durhaka menyalakan lampu kamar. Membuat Dafa jelas langsung bangun karena terlalu terang.
Dafa melengos. Ini sudah hari sabtu. di mana dirinya hanya akan merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Juga kepalanya yang sering berdenyut hanya karena pekerjaan yang selalu berhubungan dengan uang.
Dan sepertinya, melihat seringaian lebar Saras. Dafa bisa menyimpulkan jika adiknya ini memang meminta jatah jajan padanya. Saras memang biasa memalaknya begini. Katanya, ganti uang kuota yang Dafa habiskan.
"Mas,"
Dafa hanya bergumam malas. Menjauh sampai ke tepi sofa karena Saras terus menodongnya.
"Mas aku mau ngomong. Serius," Dafa memicing.
Adiknya ini, kalau sudah memakai kata aku. Pasti akan ada suatu hal yang ia minta. Diantar ke toko buku, ke toko kpop stuff, dan tentu saja. Uang adalah alasan utama Saras jika sudah memperlihatkan wajah berserinya. Dengan kedua bola mata yang berbinar.
Jika Saras selalu berpikir buruk pada mas Dafa. Maka Dafa juga punya pemikiran yang sama. Saras menganggap Dafa suka emosi. Maka Dafa juga menganggap adiknya ini durhaka.
Tak akan ada kata terimakasih dan maaf. Karena walau tak ada kalimat itu. Dafa tetap mau mengantar Saras meski dengan emosi yang meledak-ledak. Dan Saras masih sudi hanya untuk mengambilkan segelas air ketika Dafa makan.
"Kayaknya nih mas," Kata Saras lagi. Membuat Dafa kali ini menatap garang pada Saras yang kembali meringis. "Aku mau kuliah. Boleh mas?"
Dafa terbatuk. Tiba-tiba tenggorokannya terasa gatal. Ingin digaruk, tapi bukan di bagian luar. Kedua matanya membelalak memerah karena efek kacang bawang yang sepertinya menyangkut di tenggorokan.
Saras mengangsurkan segelas air putih pada Dafa. Mengerjap seperti tak berdosa membuat mas Dafa menderita begitu.
"Apa?" tanya Dafa memastikan. Bukannya menjawab, Saras malah bertanya balik. "Ha apaan. Mas?"
Sekuat hati sedalam jiwa dan sebringas macan biskuat. Akhirnya Dafa menjitak kepala Saras setelah beberapa bulan ini ia memilih untuk diam tak melakukan hal itu. Beruntung, mama dan bapak sudah berangkat ke toko. Kalau tidak, mungkin saja gadis kecil di depannya akan meraung lebay.
"Ck." Dafa berdecak. Melihat bibir Saras yang sudah mleyot ke sana kemari membuatnya semakin gencar ingin menjitak kepala Saras lagi.
Dafa menghela napas lebih dulu. "Lo beneran mau kuliah?" tanya Dafa dengan wajah serius. Kedua alisnya menukik dengan kerutan terlihat jelas di dahinya.
Saras mengangguk antusias. Maju meraih ujung kaos Dafa. Kali ini tak membuat Dafa mundur. Karena selain mentok di ujung sofa, laki-laki itu terlihat masih syok mendengar hal ini.
"Kuli payah?" kali ini Dafa yang berteriak nyaring. Saras menggigit lengannya tanpa ampun.
Asal Saras tahu saja, setiap hari Dafa rajin olahraga. Ke tempat kebugaran satu minggu sekali. Jangan sampai ototnya yang terbentuk penyok hanya karena gigitan piton seperti Saras.
"Kuliah Mas. Ke universitas. Menara Gading!" Saras menodongkan wajahnya tepat di depan wajah Dafa yang masih hilang kata. "Gading Martin," lanjut Saras karena Dafa sama sekali tak merespon dengan baik ucapannya tadi. Mungkin mas Dafa masih ngebug.
"Mas, duit lo masih banyak kan?" barulah, Dafa mendelik.
"Lo mau morotin gue. Iya kan? Hah?"
Saras memicing tajam. Meraih ponselnya yang tergeletak, dengan sewot membanting sebuah atm dari dalam case ponselnya.
"ATM gue gemuk ya!" Saras bersungut sebal. Gadis itu mengibaskan rambut sebahunya. Kembali duduk menodong mas Dafa dengan mata tajamnya.
Dafa menggeleng kecil. Menjauhkan wajah Saras dengan telapak tangan besarnya. Ia masih belum bisa berpikir jernih tentang masa depan Saras yang menurutnya terlalu ambrul adul untuk ditebak oleh pemikiran lurusnya.
Laki-laki itu mengerutkan kening. Kali saja si adik perempuan ini memang berniat menghabiskan uangnya bukan untuk kuliah. Banyak printilan NCT yang bulan ini belum Saras beli.
Dafa menghela napas panjang. Saras terlalu ribet untuk dirinya yang menyukai kesederhanaan. Sedari dulu Dafa selalu membujuk Saras untuk segera melanjutkan pendidikannya. Berkali-kali Saras mengelak. Katanya, kuliah itu ribet. Tugasnya banyak, kepala bisa botak kalau terlalu fokus pada kuliah. Lalu, apakah Saras tak pernah berpikir bahwa bekerja itu juga melelahkan?
"Mas," Dafa berdehem pelan. Kali ini wajahnya mulai bisa dikondisikan. Ia tak begitu syok melihat wajah Saras lagi.
"Beneran mau kuliah?" Saras agak berpikir lama. Lalu mengangguk dengan ragu. "Kalo mau kuliah, resign ya dari kerjaan,"
Saras menegak mendengar penuturan Dafa. Mas Dafa ini bagaimana, kalau Saras keluar dari pekerjaan. Maka dia tidak punya lagi pemasukan untuk menghidupi dirinya, Lee Taeyong juga anak-anak nyai yang lainnya.
"Lo tuh gak bisa fokus sama dua hal yang berbeda dalam satu waktu. Ikuti kata gue atau gue gak bakal bantu apapun, duit buat kuliah ada di gue. Bukan di bapak,"
"Berarti duit kuliah yang dulu masih?" Dafa mengangguk sewot. Semena-mena memegangi kepala Saras dengan gemas. "Terus mama buka toko bukan pake duit buat kuliah gue?"
"Ya bukan lah! Lo kan plin plan. Bapak udah antisipasi simpan uangnya biar kalo otak plin plan lo ini kumat. Kita masih punya uang buat kuliah,"
Saras menjatuhkan rahang. Benarkah apa yang ia dengar ini? Bapak masih menyimpan uang untuknya berkuliah. Padahal sudah lewat beberapa tahun. Sedangkan dirinya terus menerus mengelak beralasan pada uang yang mungkin saja sudah dialokasikan untuk hal lain?
Saras selalu berpikir, melanjutkan pendidikan mungkin akan membuat bapak dan mama terbebani. Terlebih, saat itu bapak jelas sedang mendirikan toko kelontong di deretan ruko pinggir jalan. Kuliah di negeri mungkin lebih murah dibanding swasta, tapi biaya awal tetap seperti bom. Apalagi untuk otak pas-pasan Saras ini.
"Mas, ini beneran?" tanya Saras dengan tatapan kosong. "Mas. Nanti kalo gue kuliah, siapa yang mau cari uang tambahan?"
Dafa mendengus. "Nanti lo ngomong sama bapak kalo udah pulang,"
"Tapi Mas," Dafa menoleh lagi dengan wajah lelah. "Nanti kalo Saras jadi mahasiswa tertua, gimana?"
"Rasain," celetuk mas Dafa dengan wajah songong. "Salah siapa kemarin disuruh gap year gak mau. Kalo mau kuliah tahun ini, tunggu tujuh bulan lagi,"
Saras mencebik kesal. Mas Dafa ini, memang selalu bisa membuatnya kesal. Hidup mas Dafa tak akan ramai tanpa Saras. Mas Dafa tak akan pernah jadi pemenang kalau lawannya bukan Saras. Dan mas Dafa harusnya bangga punya saingan seperti Saras. Yang apa kalahnya.
"Mas, ini tanya beneran,"
Dafa masih memasukkan kacang bawang ke dalam mulut. Tak begitu peduli pada Saras yang kali ini bersandar pada tubuhnya. Dari samping, Saras bisa melihat wajah mas Dafa yang tumben-tumbennya kalem.
"Nanti, kalau gue masih kuliah terus lo nikah sama mbak Vanda. Gue bakal repotin mama bapak banget ya?"
Dafa menggeleng. Menepuk sekilas puncak kepala Saras. Yang dalam tahun ini bisa dihitung jari.
"Mama sama bapak gak pernah merasa direpotin. Mas juga, toh nikahnya masih lama. Mas masih mau biayain kuliah kamu. Duit yang masih ditabungan bisa dipakai buat keperluan kamu, urusan kuliah. Mas bisa bantu,"
Saras mengulum bibir. Mengurung mas Dafa dengan erat. Meski sang kakak jelas mengelak dengan sewot. Saras suka ada mas Dafa. Saras suka dengan semua kesewotan dan emosi mas Dafa yang sering menggebu jika berhadapan dengannya. Saras suka jadi seseorang yang merepotkan mas Dafa.
Meski tak pernah didengar langsung oleh mas Dafa, Saras sungguh menyayangi mas Dafa. Alih-alih mengucapkannya, Saras hanya akan membuat mas Dafa sewot lagi.
"Tapi lightstik jadi kan?" dan begitu saja. Mas Dafa kembali sewot. Membuat Saras jelas terbahak hingga tubuhnya jatuh dari sofa.
Saras punya cara menyebalkan untuk menyalurkan rasa sayangnya pada mas Dafa. Because mas Dafa, only one. Katanya.