05. Kopi, dan Annira

2333 Words
Aroma kopi di depannya masih setia Dana hirup. Menenangkan, seperti halnya Saras. Selain Saras dan bunda, kopi adalah salah satu hal yang Dana sukai. Ia bisa menghabiskan bercangkir kopi hanya dengan sekali duduk. Tidak terlalu sehat. Mungkin seharusnya jantungnya berdetak hebat. Tapi, kebiasaan membuatnya merasa tak apa dengan hal itu. Sudah biasa. Laki-laki berjaket denim itu menyeruput kopinya setelah menghirup wangi yang menguar. Hanya kopi biasa di warung kopi pinggir jalan yang selalu ia datangi ketika suntuk. Tadi sore Dana tak sempat menjemput Saras. Membiarkan gadis itu bersama mas Dafa. Sekali-kali, mereka harus akur seperti itu. Meski terlihat saling berselisih, mas Dafa mau mau saja ketika Saras meminta untuk diantar jemput. Walau banyak adu mulut terlebih dahulu. Dana terkekeh. Membuat si mbok penjual kopi memandanginya dan geleng-geleng kepala setelahnya. "Kamu jauh-jauh ke sini cuma buat kopi?" tanya si mbok tak habis pikir. Andana hanya tersenyum tipis membalas. "Dirumah gak ada kopi mbok," si mbok berdecak. Menyajikan pisang goreng panas di hadapan Dana. "Ndak capek kamu bolak balik satu jam?" Dana hanya tertawa menjawab pertanyaan si mbok yang terdengar miris melihatnya begini. Merelakan bensin hanya untuk dua gelas kopi hitam biasa. Memang ada, orang yang rela berkendara hampir satu jam hanya untuk menyeruput kopi di dekat kampus? Ada. Orang itu Andana. "Andan Andan.. Yang lain libur kok kamu malah duduk di sini," Sekali lagi. Dana hanya tersenyum dan tertawa kecil mendengar suara si mbok dari ujung meja. Warung di seberang jalan sebelum masuk ke gedung fakultas ekonomi bisnis memang langganan untuk seorang Andana Gibran melepas penat. Kopi si mbok memang biasa saja. Tapi entah kenapa, tangan tuanya selalu bisa menyajikan segelas kopi berperasaan. Hangat bukan hanya karena air panas untuk menyeduh kopi. Tapi bagaimana si mbok juga memperhatikan setiap mahasiswa tak berduit sepertinya nongkrong di tempat ini. Kopi buatan si mbok mungkin lebih baik daripada menunggu ayah kembali memperhatikannya. Hal yang sukar untuk dilakukan adalah berdamai dengan keadaan. Laki-laki itu bisa membuat Lani lebih baik. Kadang ia berpikir, kenapa ia tak bisa menerima sebaik Lani? Lani memilih untuk berdamai dengan keadaan. Sedangkan dirinya masih terus dalam lingkaran hitam selama beberapa tahun. Ia ingin jadi seperti Lani yang berdamai dengan keadaan. Tapi lagi-lagi Dana harus terdorong dengan egonya sendiri. Kematian bunda selalu membekas dalam ingatannya. Ia tak pernah lelah menyebut nama bunda setiap kali akan tidur. Membiarkan pikirannya dirundung rasa bersalah yang semakin menjadi. Sampai sekarang, Dana masih suka menyalahkan dirinya juga keadaan. Dana membuka handphonenya. Menampilkan siluet perempuan berambut pendek. Itu Saras. Ketika mereka rela panas-panasan di tengah lapangan hanya untuk ikut lomba layangan pada 17 Agustus tahun lalu. Laki-laki itu merasa dadanya berangsur membaik. Sepertinya, kabur ke warung si mbok bukan pilihan yang tepat. Karena nyatanya, Dana tiba-tiba diserang rindu pada sosok Annira Saras. Mengabaikan kopi hitam yang tinggal ampasnya, Dana bangkit dari duduknya. Menghampiri si mbok yang masih menggoreng pisang di wajan penuh minyaknya. "Mbok, mau pulang. Itu jadi berapa?" Si mbok hanya tersenyum. "Ndak usah. Gantengnya kamu udah cukup buat bikin mbok seneng hari ini. Itu buat beli bensin saja," Dana lantas tertawa mendengar penuturan si mbok. Tahu saja pada berondong bening sepertinya. "Ya sudah mbok, terimakasih. Saya mau bayar pisangnya aja," kata Dana mengangsurkan dua lembar uang sepuluh ribuan. "Kebanyakan, Andan," Dana menggeleng sesaat. Tetap menaruh uang di atas meja. "Ini buat nabung kalo udah balik ke sini lagi. Pamit ya mbok," Kata Dana membiarkan si mbok mengomelinya dari balik kompor. Dana kembali memeriksa ponselnya. Tersenyum tipis pada lockscreen yang masih menampilkan siluet Saras. Laki-laki itu tersenyum. Membawa motor merahnya yang kini sudah melaju kencang membelah dinginnya malam. Yang ia ingin saat ini adalah ada di tempat Saras. Mendengar betapa menggebunya gadis itu bercerita tentang hari ini. Tak peduli pada tubuhnya yang terasa dingin karena menabrak angin terlalu semangat. Sekali lagi, hanya untuk mengobati rindunya ia pada Annira Saras. Beruntung, malam ini jalanan mulai lengang. Padahal tiga puluh menit yang lalu, adalah waktu di mana banyak kendaraan pulang menuju rumah masing-masing. Seperti Andana saat ini. Ia menuju rumahnya. Laki-laki itu memelankan laju motornya. Jika jalan menuju rumah dia harus membelokkan stang ke kiri, maka ia memilih membelokkannya ke kanan. Hanya untuk memastikan gadis yang memakai sweater coksu adalah Saras. Gadis itu memang Saras. Wajah bertekuknya yang kentara mempertegas bahwa gadis itu sedang dalam mood yang buruk. Dana memilih tak bersuara. Mendudukkan diri tepat di seberang meja tempat Saras duduk sembari menaruh kepala di atasnya. Ia melongok sekilas. Melihat bagaimana bagian dalam Indomaret itu terdapat lelaki jangkung bergigi kelinci tengah tertawa bersama si perempuan berambut panjang. Dari sini, Dana paham kenapa Saras tergolek tak berdaya di meja depan Indomaret. Karena ia merasa terasingkan atas hadirnya pacar Dafa malam ini. "Dana," panggilan itu sontak membuat Dana mengangkat kedua alisnya. Sepeka itu Saras akan kehadirannya yang bahkan hanya diam saja sedari tadi. "Gue benci orang pacaran," Dana terkekeh. Menepuk pelan puncak kepala Saras yang mana gadis itu masih tergolek lemas. Tak mau duduk tegak. Andana menggeleng kecil. "Nanti kalo lo yang mengalami, lo bakalan tau rasanya," Saras menggeleng keras. "Gak akan. Gue gak bisa pacaran," cetus Saras kini benar-benar menegakkan tubuh menyorot Dana dengan mata tajamnya. "Gue gak suka sama gaya pacaran. Terkekang," "Nanti. Lo bakal terikat dalam sebuah hubungan yang namanya pernikahan. Lebih erat dari sekedar pacaran. Lo tau, apa enaknya menikah?" Dana melirik pada Saras yang menggeleng tak tahu. "Lo bakal merasa memeluk dunia. Jadi orang paling bahagia yang pernah ada, terlebih jika pasangannya pas," Kali ini Saras mengangguk-angguk seolah paham. Kemudian menarik napas panjang dengan kedua ujung bibir tertarik membentuk senyuman lebar. "Gue bakal selalu bahagia jadi nyonya Lee!" Dana benar-benar tak habis pikir. Sebenarnya, sebesar apa nama Lee Taeyong mengisi rongga hati Saras? "Dana. Pinjem motornya ya," mas Dafa dengan wajah menyebalkan--menurut Saras. Semena-mena duduk di sebelah Dana. Mengedik pada motor merah laki-laki itu. Dana melirik Saras yang kembali jadi patung. Tapi melihat bagaimana kerlipan berharap dari kedua mata Dafa membuatnya tak tega. Andana menghela napas. Melirik Saras yang masih bergeming kemudian mengangsurkan kunci motornya. "Emang ke sini naik apa mas?" Dafa nyengir lebar. "Jalan kaki," Kata Dafa dengan tenang menautkan jarinya dengan Vanda. Adegan yang berhasil membuat Saras kembali membenamkan kepala setelah beberapa detik bangkit. "Nanti gue anter ke rumah," "Gue harus jalan kaki?" tanya Saras dengan wajah tak terimanya. "Ogah!" Vanda hanya tertawa. Sudah biasa menyaksikan bagaimana Dafa dan Saras bertengkar seperti ini. Apalagi Dana yang hampir setiap hari--jika ia dirumah-- menyaksikan bagaimana berisiknya kakak beradik itu. "Deket ini. Sama Dana juga," setelah berkata demikian, Dafa benar-benar membawa motor Dana pergi meninggalkan area Indomaret. Menyisakan Saras yang menggerutu tak berujung. Juga Dana yang hanya geleng-geleng kepala menyaksikan adegan yang sudah jadi makanannya sehari-hari. "Pulang sekarang?" tanya Dana membuat Saras yang akan melipat kedua tangan di atas meja berhenti. "Udah mau malam," Saras terpaksa bangkit mengikuti Dana yang berjalan lebih dulu. Tak mau Saras hilang dan pingsan di jalan. Dana memilih meraih lengan Saras, menautkan jemari panjangnya dengan milik gadis itu. Saras tak pernah protes apapun yang dilakukannya. Selama Dana punya batasan, Saras akan terima saja. Berjalan malam-malam begini memang agak menantang adrenalin. Terbukti bagaimana Saras mencengkram kuat jaket denim Dana sembari menoleh kanan kiri. Jarak Indomaret ke rumah bisa dikatakan jauh. 500 meter bukankah cukup membuat kaki keduanya mati rasa? Terlebih, lampu-lampu pinggir jalan yang entah kenapa belum diganti padahal sudah tidak berfungsi lagi. Saras berhenti. Membuat Dana mengikuti gerak geriknya yang terlihat aneh. Alih-alih bertanya kenapa, Dana memilih mengikuti arah pandang Saras. Melihat di bawah remangnya lampu, ada sepasang kekasih yang sedang b******a. Memang ya, tempat gelap jadi sarana paling empuk untuk orang-orang tak bermodal melakukan hal privasi seperti itu. Tak mengucapkan apapun, Dana menutup mata Saras dengan telapak tangan besarnya. Membawa gadis itu agar pergi dari tempat itu segera. Kalau tidak, mungkin Saras benar-benar pingsan di jalan. Setelah dirasa cukup jauh. Dana melepaskan Saras. Melihat bagaimana gadis itu mengerjap cepat menyesuaikan cahaya dengan tubuh mematung. "Pacaran itu, harus gitu ya Na?" Dana langsung terkesiap. Menggeleng keras sembari memegangi kepala Saras agar menatapnya saja. "Gak. Jangan!" "Tapi gue pernah gitu Na," pernyataan Saras membuat Dana melotot. Wajah Saras terlihat begitu meyakinkan meski temaram. "Gue pernah, ciuman," Kedua alis Dana menukik tajam. Mengintimidasi Saras yang memundurkan wajahnya. "Lo yang cium gue!" Dana tersentak. Seperti ada ribuan palu mengetuk kepalanya hingga blank saat ini. Ia masih bertanya dan mengingat dalam pikirannya sendiri. Kapan ia mencium Saras? Mati-matian Dana tak pernah lebih dari sekedar pelukan hangat. Lalu ini, apa ini? Ciuman? "Kapan?" tanya Dana lirih. "Waktu gue kelas dua. Lo minum dari leher botol yang sama. Sama gue," Dana dibuat tenganga lebar dengan penjelasan cepat Saras. Kepala saja hampir dua, tapi yang begini Saras masih begitu percaya? "Iya kan Na? Lo waktu itu cium gu--" Saras membeku. Begitu merasakan sengatan yang membuatnya merasa panas tiba-tiba. Ia tak tahu harus apa ketika bibir Dana jelas menempel pada bibirnya sendiri. Panas, ia merasa kegerahan padahal cuaca tadi masih begitu dingin. Saras mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya gadis itu memilih memejamkan mata. Dana menjauhkan diri dengan tatapan teduhnya. "Udah?" Saras masih hilang kata. Seperti ada ledakan bom dalam dadanya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Bukan hanya karena terkejut. Tapi juga karena Andana yang berhasil membuatnya seperti disambar petir di siang bolong. Dan Dana, dengan wajah kalemnya. Mengusap lembut puncak kepalanya. Seolah tak terjadi apapun. Padahal Saras ingin pingsan saat ini juga. "Dana, gue mau meninggoy," dan begitu saja. Dana tertawa. Membawa Saras dalam dekapannya. -_-_-_- Dana memang sialan. Apa laki-laki itu tidak punya perasaan sampai bertemu Saras untuk kali pertama setelah kejadian itu tak membuatnya ingin terjun dari lantai 23 gedung baru SM? Saras benar-benar tak habis pikir. Tapi, ia juga tak mengatakan apapun pada Dana. Masih bersikap seperti Saras yang biasanya. Masa bodoh. Namun, hatinya tentu tidak baik-baik saja. Beratus-ratus kali Dana mengatakan bahwa laki-laki itu mencintainya, Saras tetap biasa saja. Tak melarang juga tak pernah membahas hal itu dan mengatakan bahwa Saras juga mencintainya. Jauh dalam lubuk hatinya. Nama Andana Gibran akan selalu berdampingan dengan Lee Taeyong. Dan mungkin saja, setelah kejadian itu prosentase antara Taeyong dan Dana berubah. Andana ada di tempat lebih tinggi dari Taeyong. Saras bisa menjamin itu. Melihat Dana yang kini tersenyum mendengar celotehan kawan-kawannya dari layar laptop. Membuat Saras terus memperhatikan bibir tipis Dana. Dan begitu saja, sekelebat bayangan malam itu terus berputar dalam ingatannya. Benar apa katanya waktu itu. Saras ingin meninggoy. Dana benar-benar mempermainkannya. Di saat hatinya mulai bergerak merespon dan mengalihkan segala ketakutannya, nyatanya laki-laki itu bersikap masa bodoh. Saras ingin berteriak dalam hening. Hatinya sudah berteriak memaki Dana sejak kemarin. Alih-alih mengatakan yang sesungguhnya, Saras hanya mengulum bibirnya. Gengsi. Gadis itu langsung mengambil handphone miliknya yang tergeletak mengenaskan di meja depan televisi. Menghindar adalah cara terbaik. Terlebih Dana yang kini mengambil salah satu makalah di dekatnya memperhatikannya lama. Tersenyum tipis pada Saras yang jadi tak fokus. Ck. Ayolah Dana. Saras ingin tenggelam di laut mati sekarang. Saras tak bodoh dengan yang namanya ciuman. Beratus drama yang ia tonton sejak jaman sekolah nyatanya memberi banyak edukasi. Iya, meski Saras sama sekali tak pernah melakukan hal-hal aneh. Hanya saja, Saras melirik Dana. Oke. Manusia berjenis kelamin laki-laki yang notabennya adalah si tetangga tiba-tiba membuat jantung Saras hampir melompat keluar. Meski hanya sebuah kecupan singkat. Tapi ini yang pertama. Saras tak menganggap Dana merebut fist kissnya. Tapi, ya tetap saja. Saras dengan segala rasa halunya. Mungkin, Dana akan hadir dalam sejumlah bayangan Saras menggeser posisi Taeyong yang awalnya ada di kasta tertinggi. Memilih bangkit dan menyalakan televisi. Saras mencari channel terbaru drama yang tengah ditayangkan. Ia sungguh menanti banyak drama manis untuk tahun ini. Hidupnya sudah terlalu berat hanya untuk mencerna dan mencari dalang dari suatu masalah yang rumit di salah satu drama yang ia tonton. Sembari memeluk toples berisi keripik singkong, Saras mencermati setiap adegan di layar televisinya. Kadang, Saras akan berpikir banyak hal. Apakah seks di Korea atau bahkan dunia terlalu bar bar? Atau malah dirinya yang memang terlampau menarik diri? Gadis itu masih fokus memandangi layar televisi ketika Dana menoleh padanya. Tangan besar Dana terulur untuk mengambil keripik dari toples yang sama. Wajah kalemnya seolah menjerumuskan Saras pada ketenangan dalam tatapan teduhnya. Laki-laki itu kembali fokus pada laptopnya. Masih mengerjakan tugas bersama teman satu kelompoknya. Satu kata yang mewakilkan Saras untuk menghadapi tugas dan segala urusannya. Ribet. Saras sudah disodori segepok uang di atm setiap bulan. Jadi jika sehari ia dihadiahi tugas dari para dosen, maka dapat dipastikan Saras akan mundur tiba-tiba dari jenjang pendidikannya. Salah satu alasan kenapa gadis itu tak mau gap year tahun lalu. Tapi melihat Dana yang selalu santai tapi juga cepat dalam proses pembelajaran. Agaknya membuat Saras sedikit tergiur untuk mengintip makalah milik Dana yang dibiarkan terbuka. "Dana," panggilnya berhasil membuat Dana menoleh dengan kedua alis terangkat. "Gue mual," Dana hanya terkekeh. Mengacak rambut Saras yang seperti sarang burung karena belum disisir sejak pulang bekerja tadi. Bagaimana Saras tidak mual melihat makalah yang begitu banyak? Berjilid jilid dengan lembar cover berbeda. Andana mungkin benar-benar akan menggila dengan tugas-tugasnya. Pun, ini masih dalam masa libur semester genap. "Dana, lo beneran mau sidang dekat dekat ini?" Saras bertanya. Mendapat anggukan cepat Dana membuatnya menghela napas. Sukses mendapat tatapan bingung Dana di sampingnya. Kedua alis Dana sudah menukik mendengar helaan napas panjang itu. Bukannya menjelaskan ada apa, Saras justru memasang wajah bingungnya. "Enggak. Maksud gue, jangan terlalu capek. Nanti lo bisa stres," Andana hanya tersenyum. Kembali mengusap puncak kepala Saras. Laki-laki itu masih dalam posisi yang sama. Menatap Saras dalam tatapan teduhnya yang menyejukkan. Tentu, Saras sangat menyukai iris mata itu. Dana selalu bisa membuatnya tenggelam dalam rasa nyaman. "Gue mau cepat lulus Ras. Biar gue bisa mengimbangi lo," Saras menatap Dana bingung. Dari bagian manakah Dana akan mengimbangi Saras? "Bagian mana yang buat gue lebih tinggi dari lo?" tanya Saras dengan tatapan bingungnya. "Ras. Gue mau cepet kerja," "Biar?" "Biar gue tau, gimana posisi lo saat ini," Dana tersenyum. "Terima atau enggak, gue mau memaksakan diri," Saras tergelak dengan kalimat terakhir Dana. 'Memaksakan diri' benar-benar anak pak Iwan ini. "Kayaknya ya Na. Gue juga mau memaksakan diri," Saras menyandarkan punggungnya ke sofa. "Kok tiba-tiba gue pengen juga ya kuliah," 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD