Ketukan di pintu membuat Saras yang tengah menatap layar laptopnya jadi berdecak. Posisinya saat ini sudah terlalu nyaman untuk sekedar membuka pintu yang masih diketuk pelan oleh seseorang. Ia menoleh, hanya untuk memastikan Lani masih berkelana dalam alam mimpinya.
Kasihan anak itu. Tadi malam bergadang hanya untuk mengatakan pada Saras bahwa Lani merindukan bunda.
"Ras?" panggilan yang ternyata dari Dana itu sukses membuat Saras berguling kecil. Lalu merangkak membuka pintu kamarnya dengan wajah kusut.
"Kenapa?" tanya Saras dengan pelan.
"Lani masih tidur?" tanya Dana. Dibalas anggukan Saras.
Gadis itu menggeser tubuhnya. Membiarkan Dana masuk ke dalam kamarnya untuk memeriksa keadaan Lani. Mata Lani yang terpejam membengkak. Sudah dapat dipastikan, bahwa semalaman adiknya itu menangis.
Dana memilih untuk duduk di sisi Saras yang meneruskan kegiatan akhir pekannya. Menonton drama dan acara dari korea. Laki-laki itu sudah biasa jadi teman Saras menonton drama. Dicekoki sejak lima tahun yang lalu. Pada akhirnya, Dana juga mendambakan Kim Jiwon juga Irene Red Velvet.
Saras menegakkan tubuh. Menoleh kanan kiri sebagai bentuk senam karena tubuhnya mulai pegal dari sehabis subuh langsung menyalakan laptop dan menonton drama. Tak peduli semalam dia hanya bisa tidur beberapa jam saja.
Saras menatap Dana ketika kepalanya menoleh ke sebelah kiri. Wajahnya masih datar, kemudian tak banyak bicara lagi kembali bersandar pada dipan di belakangnya.
Dana hanya menghela napas. Ikut bersandar. Menyisir rambut Saras yang kusut barangkali belum di keramas selama beberapa hari.
"Ras," celetuknya. Yang hanya dibalas gumaman kecil Saras yang fokus pada dramanya. Meski memakai earphone, Saras tidak sebudek itu untuk mendengar suara lirih Dana.
"Semalam tidur jam berapa?" Saras hanya mengedikkan bahu. "Lani repotin lo lagi ya?"
Saras mendengus kecil. Menekan spache untuk menghentikan penayangan. Gadis itu menatap Dana lamat-lamat. Senyum kecilnya terbit, melirik Lani yang terlihat tak terganggu sama sekali.
"Dia kangen bunda Na," jawabnya lirih. "Dia gak bisa tidur sampai hampir pagi,"
Dana menghela napas panjang. Selalu begini. Jika sudah terlalu rindu, maka Lani tak akan bisa tidur. Mungkin, alasan utama gadis itu memilih menginap hanya untuk mengatakan pada Saras, bahwa ia sangat merindukan bunda.
"Ras," panggil Dana sekali lagi. Yang dibalas gumaman kecil Saras. "Makasih ya,"
Saras melepas earphone putihnya. Dengan wajah sok galak dan kedua alis menukik tajam. Gadis itu mendengus tepat di depan wajah Dana.
"Kayak sama siapa aja sih Na. Jangan pernah ngerasa sungkan. Lo, Lani, bahkan si Nino anak tetangga depan aja pasti diterima di sini," kata Saras dengan nada bercanda.
Tapi detik berikutnya, wajah garang itu melembut. Gadis itu mengusap pelan puncak kepala Dana.
"Gue berterimakasih, lo jadi abang yang baik buat Lani," Andana hanya tersenyum. "Lo udah berjuang buat bikin Lani bahagia. Tapi kembali lagi Na, lo gak akan bisa menggantikan bunda. Begitu pula dengan mama atau bahkan gue sekalipun."
Dana menatap Saras teduh. Setiap melihat bagaimana wajah lembut Saras, suaranya, sentuhannya, bahkan hanya kata terimakasih dan semangat. Adalah hal candu untuk hidup Andana selama beberapa tahun belakangan. Andana menyukai semua yang ada pada diri Saras.
"Ras," lagi-lagi, Saras hanya bergumam. "Tunggu gue,"
Saras mengangkat kedua alisnya bingung. "Tunggu gimana? Bukannya lo di sini?" tanya Saras dengan nada heran. Wajahnya kembali sulit ditebak.
Andana menatap Lani sekilas. Lalu kepalanya mendongak. Melirik pada gambar besar Taeyong di sisi ranjang Saras. Bagaimana bisa, laki-laki berwajah dingin itu mampu membuat Saras kegirangan sedangkan dirinya tidak? Kurang apa seorang Andana Gibran untuk Annira Saras Ayudia?
Dana tersenyum tipis. "Gue cuma mau lo tunggu gue, Ras."
Saras memandangi itu penuh selidik. Siapa tahu nanti Dana akan melepas poster besar Taeyong dari dinding kamarnya. Tidak. Itu adalah mimpi terburuk Saras.
Barangkali, arti tunggu versi Andana dan Saras berbeda. Tapi Saras tak mau menyimpulkan apa arti sebenarnya menurut Dana. Karena Saras tidak mau merasa jatuh semakin dalam. Saras merasa, bahwa ia dan Dana ada di dua titik yang berbeda. Jika kutub Utara dan Selatan dalam magnet saling disatukan, kedua ujungnya akan saling tarik menarik. Namun jika kutub itu adalah bumi. Selamanya Saras tak akan bisa menggapai Andana dalam hidupnya.
"Dana," panggil Saras pada akhirnya. "Kalo mau pergi, pamit ya,"
Sekarang, giliran Dana yang mengerutkan kening dengan bingung. Tapi tak lama, laki-laki itu mengangguk kecil dengan senyum hangatnya.
"Ras. Dalam hidup, ada fase di mana kita bertemu untuk pertama kali, lalu terjadi interaksi dan saling mengenal satu sama lain. Jika dalam pertemuan ada perpisahan. Maka, aku gak akan pernah mengucapkan sepatah kata pamit buat kamu,"
Saras geming. Tertegun akan ucapan Dana. Darahnya terasa berdesir hanya dengan kata-kata sederhana Dana. Laki-laki itu, selalu membawa Saras ke dalam lingkaran kebingungan untuk dirinya sendiri.
"Aku gak akan pernah berniat untuk pamit. Karena sampai kapanpun, kamu anggap atau enggak. Prinsipku tetap sama, kamu adalah rumah. Ras,"
Saras membeku di tempatnya. Menatap Dana dengan kedua bola matanya yang bergerak cepat tak tentu arah. Bukan hanya sekali Dana berkata demikian. Tapi untuk yang kesekian kalinya, Saras merasa hatinya berdenyut nyeri begitu hebat.
"Aku boleh peluk?" Saras hanya mengangguk lemah.
Membiarkan tubuh besar Dana merengkuhnya. Memberi kehangatan ditengah kegamangan dalam pikiran masing-masing. Baik Dana ataupun Saras punya kekhawatiran masing-masing. Dan itu, masih terlalu abu-abu untuk disimpulkan.
"Saat Lani bilang kangen bunda. Aku juga, Ras." kata-kata yang keluar dari bibir Dana membuat Saras tanpa malu membalas pelukan hangat itu. Menepuk puncak kepala Dana meski kesusahan dengan jarak tingginya.
Saras menepuk pelan punggung Dana. "Jangan pernah capek untuk bilang kamu kangen bunda. Mungkin, bunda udah tau kamu kangen. Tapi aku gak pernah tau kalo kamu butuh rumah untuk saat-saat itu,"
Keduanya hening lagi. Hanya untuk memberi tahu pada diri mereka, bahwa hati dan jantung mereka masih aman untuk saat ini.
Dana menghirup aroma strawberry yang menguar dari tubuh Saras. Laki-laki itu tak pernah suka pada strawberry. Entah itu selai, minuman atau buah yang baru dipetik dari kebunnya. Tapi menghirup aroma manis dari tubuh Saras ini seakan jadi magnet tersendiri untuknya mengeratkan rengkuhan pada gadis itu.
Mungkin perempuan lain lebih banyak menggunakan aroma parfum yang lebih rumit tapi menenangkan. Tapi rasa manis dari aroma tubuh Saras selalu menenangkan Dana. Tidak perlu parfum berharga ratusan bahkan jutaan rupiah.
"Dana," panggilan Saras membuat Dana melonggarkan pelukannya setelah sekian menit dalam posisi yang sama. Saras melirik pada ranjangnya. Lalu merambat ke atas. "Maaf, tapi mungkin Taeyong marah sama lo,"
"Sebagai istri yang berbak--"
"Katanya lo mau gue nikahin?" sewot Dana dengan gaya menggebunya. "Oke. Yong, coba lo jangan porotin Saras sehari aja. Bisa?"
Dana bahkan maju mendekat pada sisi ranjang Saras. Hanya untuk mensejajarkan wajahnya dengan poster Taeyong yang terpampang jelas di dinding. Laki-laki itu memegangi ujung poster, dan melihat betapa paniknya Saras untuk menghentikan aksinya.
"Dana. Don't touch my hubby!"
Dana berdecak. Kini meraih tubuh Saras lagi, mendekap tubuh Saras lebih erat. Menghalangi pandangan gadis itu dari Taeyong tanpa memedulikan Lani yang sedari tadi merasa terganggu karena suara bising Dana dan Saras. Tapi gadis itu merasa terhibur sekaligus kesal.
Jadi begini kelakuan kakaknya jika bersama Saras? Friendship macam apa mereka itu?
Tapi biarlah, Dana tahu batasan dan Saras pasti akan menendang Dana jika kakaknya itu macam-macam. Jadi, biarkanlah Lani tidur dengan nyaman. Setidaknya, dia juga bisa mendapat berita terbaru tentang percintaan Dana yang stuck pada Saras sejak empat tahun yang lalu. Miris.
_-_-_-_-_-
Dana mengacak rambut basahnya. Baru saja mandi di sore penghujan ini. Laki-laki itu menatap pantulan dirinya di cermin. Kata orang-orang, Andana adalah sosok bunda dalam bentuk laki-laki. Begitu persis dengan garis wajah lembut.
Kepergian bunda tujuh tahun lalu jelas masih membekas. Tak ada sapaan hangat bunda tiap pagi, atau senyum bunda yang terlampau manis. Dana memang tak sekecil Lani. Tapi bagaimana dirinya menjaga Lani sendiri, mengatakan pada gadis itu bahwa hidupnya masih panjang. Ada banyak mimpi yang harus mereka capai, juga kebahagiaan yang meski tak utuh, Lani akan merasakannya.
Dana terpekur dalam lamunannya. Gerimis sore itu mengingatkannya pada beragam rasa sakit. Ia suka hujan, bagaimana suara tiap tetes air langit itu beradu dengan tanah memang memanjakan telinganya. Aroma yang menguat setelah hujan juga sama enaknya.
Saras dengan segala pola pikir randomnya, pernah bertanya satu hal padanya.
"Na, hujan itu turun atau jatuh?" tanya Saras saat itu. Sembari menengadahkan tangan di depan Indomaret. Menikmati setiap tetes hujan di telapak tangannya.
Dana berpikir sejenak. "Hujan itu turun," jawabnya dengan wajah kalem. "Karena hujan gak pernah keberatan untuk membasahi dan menghijaukan bumi. Kamu tau, kenapa aku bilang hujan itu turun, bukan jatuh?"
Saras hanya mengedik tak begitu paham dengan pertanyaan Dana. Atau mungkin, gadis itu memang tak mau ribet menjawab. Membiarkan Dana menjawab sendiri pertanyaannya.
"Hujan itu turun, karena jika hujan itu jatuh. Itu hanya sebuah keterpaksaan. Karena turun dan jatuh adalah dua hal yang berbeda,"
Saras menoleh. Hanya untuk mendapati laki-laki di sebelahnya menatap nanar pada langit mendung di atas mereka.
"Hujan turun tidak pernah terpaksa. Sederas apapun ia turun, tidak pernah sekalipun mengeluh mengapa ia harus turun dari tempat yang lebih tinggi. Mungkin, jika itu manusia. Mereka gak akan mau ada di posisinya. Dilambungkan tinggi oleh matahari, tapi kemudian diturunkan lagi ke bumi,"
"Manusia punya fase yang sama. Mungkin, roda yang berputar selalu bisa jadi acuan bagaimana keadaan manusia di saat yang berbeda. Tapi hujan, proses terjadinya hujan juga sama. Berputar dengan siklus siklus di dalamnya."
Saras hanya menatap Dana. Memandang bagaimana laki-laki itu menyisir setiap penjuru langit. Menengadah, lalu menurunkan pandangan hanya untuk melihat bagaimana tetesan air itu menyatu dengan tanah.
"Coba bayangin, kalau hujan itu jatuh. Pasti mereka akan protes pada tuhan, kenapa mereka jatuh? Jatuh itu sebuah keterpaksaan. Mereka gak akan pernah menyangka akan jatuh. Tapi kalau turun, mereka yang punya inisiatif sendiri. Hujan akan bertanya ketika dia jatuh. Kenapa rasanya jatuh lebih menyakitkan daripada turun?"
"Tapi, kenapa orang yang jatuh cinta gak pernah mengeluh karena mereka itu jatuh? Katanya, jatuh itu sakit dan sebuah keterpaksaan," gumam Saras dengan pandangan nanar.
"Karena jika jatuh itu sakit, maka cinta adalah alasan dari rasa sakit itu. Kalo orang benar-benar jatuh cinta, sesakit apapun rasanya, pasti mereka memilih untuk tetap tinggal dan bertahan."
"Karena cinta?" tanya Saras dengan kekehan di akhir kalimatnya. Gadis itu menggeleng kecil. "Jangan terlalu percaya cinta, cinta itu cuma racun,"
Dana hanya mengangguk singkat. Entah setuju atau tidak dengan ungkapan Saras padanya yang menutup percakapan mereka di depan Indomaret sore itu.
Mungkin, cinta bagi Saras adalah racun. Tapi untuk Andana, cinta itu penyembuh.
Ia sadar satu hal. Bahwa dari dulu, dirinya dan Saras tak pernah ada dalam satu garis yang sama. Tak pernah punya pandangan yang sama. Justru, keduanya sering punya anggapan berbeda setiap membahas sesuatu. Seperti yang Saras ungkapkan. Dia dan Dana adalah dua kutub yang berbeda.
Tergantung, apakah mereka adalah kutub dalam magnet yang saling tarik menarik. Atau kutub bumi, yang tak akan pernah bisa bertemu.
Tahu kenapa setiap puzzle memiliki bentuk yang berbeda? Karena mereka akan saling menempel dan tetap bertahan meski memiliki bentuk tak serupa.
Begitu pula anggapan Dana mengenai Saras. Gadis itu tak suka hati ayam, tapi Dana selalu menerima ketika Saras menawarinya. Saras tak begitu suka hujan, tapi tetap mengikutinya untuk hujan-hujanan dari halte depan menuju rumah.
Berbeda bukan berarti tak bisa berdampingan. Dan Andana, selalu ingin jadi seseorang yang pas untuk Saras.
Dana tersentak mendengar langkah kaki yang semakin terdengar keras di gendang telinganya. Hanya berselang beberapa detik, pintu kamar diketuk dari luar. Membuatnya langsung memutar knop pintu dan menemukan ayah berdiri di sana. Dengan wajah dinginnya.
"Kenapa semalam Lani gak tidur di rumah?"
Dana mengeratkan buku jarinya. Membiarkan tangan kanannya meremas handuk yang baru dipakai olehnya. Apa tidak bisa, ayah menyapa Dana dengan kalimat yang lebih baik?
"Apa ayah juga pulang semalam?" alih-alih bertanya kenapa atau mengutarakan alasannya, Dana balik menyerang ayahnya.
Ayah mengeraskan rahang. "Jangan pernah berbuat hal yang perlu timbal balik, Andana."
Dana yang awalnya masih kalem kini menyorot ayah dengan tatapan nanar. Ayah tak akan pernah tahu bagaimana rasanya diabaikan. Ditinggalkan. Tidakkah cukup tahu ayah tentang derita Dana dan Lani kehilangan sosok bunda? Apakah ia juga akan kehilangan sosok ayah?
"Yah. Pak Suripto gak pernah minta kita buat membalas kebaikannya. Tapi kenapa Ayah selalu anggap keluarga mereka begitu? Apa Ayah lupa, orang pertama yang selalu Ayah mintai tolong adalah mereka?"
Dana masih tak habis pikir. Bagaimana bisa wakil rakyat tak memedulikan tetangganya sendiri?
"Kita bukan kerabat mereka,"
"Tapi setidaknya, mereka lebih peduli sama Dana dan Lani dibanding Ayah."
Dana menutup pintu kamarnya dengan hati yang teramat sakit. Dadanya terasa sangat sesak. Bisakah ayah membiarkannya mencari jalan untuk bahagia dengan caranya sendiri?
Ayah hanya menuntutnya untuk sempurna di setiap hal. Berbakti adalah sebuah alasan klasik Dana agar selalu mengikuti apa yang ayahnya minta. Tapi untuk menjauh dari keluarga pak Suripto tidak akan pernah bisa Dana lakukan.
Sudah cukup sakit Dana kehilangan bunda. Lalu ayah yang berubah lebih dingin. Keluarga Saras adalah rumah yang hangat untuknya singgahi. Karena untuk tinggal, rasanya Dana hanya ingin bersama Lani, bunda, juga ayah. Sekali lagi, keluarga Saras adalah sebuah penyembuhan untuk lukanya dan Lani.
Sosok bapak dan mama yang selalu membuatnya merasa jadi anak yang dimanja. Sosok mas Dafa yang meski gampang sewot nyatanya baik hati. Juga, sosok Saras yang selalu punya senyum lebar dan pelukan hangat ketika Dana merasa asing pada dirinya sendiri. Dan ayah. Ayah tak akan pernah bisa mengerti. Bahwa harta yang mereka punya tidak selalu bisa menghangatkan hati yang terlampau beku dan mungkin saja, tak akan pernah berfungsi lagi.