03. Bohlam Hijau Neon

2635 Words
Dana menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan mata menerawang pada plafon kamar yang gelap. Malam sudah tiba sejak ia memilih meneduh dan membawa Saras makan sate di kedai yang selalu mereka kunjungi. Bahagia itu sederhana menurut Dana. Makan sate bersama Saras adalah hal yang selalu ia nantikan di kosan ketika dirinya masih dihantui banyaknya tugas dan mata kuliah. Mendapat hibah kulit dan hati ayam dari Saras juga suatu kebahagiaan untuknya. Berharap, suatu saat nanti Saras juga memberikan hati untuknya tinggali. Tapi mungkin Dana terlalu banyak berangan. Saras hanya akan mengejar Lee Taeyong seumur hidupnya. Dana tersenyum tipis. Melihat bayangan Saras yang tersenyum lebar di langit-langit kamar membuat hatinya meringan. Dalam kurun waktu 6 tahun. Hidupnya dipenuhi dengan tawa Annira Saras. Bagaimana gadis itu mengisi harinya yang terasa kosong semenjak kepergian bunda. Bagaimana Saras dengan segala kemalasannya membuat Dana merasa gemas sendiri. Bahkan, Lani--si adik kesayangan-- mengatakan bahwa ia cemburu atas bagaimana perlakuan Dana pada Saras yang manis. Mungkin Dana salah saat itu. Dan kini, laki-laki itu jelas sudah bisa membelah diri layaknya amoeba untuk dua gadis yang ia sayangi itu. Munafik jika Dana tak mengatakan menyukai Saras. Gadis yang selalu berpikiran kusut itu nyatanya menjatuhkan hati Dana berkali-kali. Sampai rasanya, ketika ia memutuskan untuk pergi melanjutkan pendidikan, Dana ingin Saras ikut dengannya. Jadi adik tingkatnya juga tak apa. Asalkan Dana masih bisa melihat bagaimana Saras tertawa disela jadwal yang melelahkan. Nyatanya, Saras si keras kepala memilih hidup dengan kesenangannya sendiri. Dana agak kecewa, hanya sedikit sih. Karena ia tetap mendukung apapun yang Saras inginkan. Menghidupi anak-anak nyai, katanya. Dana terkekeh sekilas. Bangkit mengubah posisi terlentangnya jadi duduk tenang menatap ke luar jendela. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat dengan jelas rumah berwarna hijau toska itu ada beberapa meter dari rumahnya. Rumah Saras selalu jadi pelariannya ketika masalahnya bermunculan. Bukan Dana tidak bersyukur atas rumahnya sendiri. Tapi nyatanya, rumah Saras jauh lebih nyaman dari rumah Ayah yang mewah. Setiap hari bisa menyaksikan bagaimana mas Dafa dan Saras adu argumen. Bagaimana hebohnya mama bercerita banyak hal. Juga gelengan tak habis pikir bapak terhadap keluarganya. Dana meraih ponselnya. Melihat bagaimana detik berganti tanda waktu berjalan seperti biasanya. Laki-laki itu memilih merebahkan lagi tubuhnya. Teringat bagaimana pertemuannya dengan Saras ketika ia masih duduk di bangku kelas 10 SMA. Waktu itu, Dana masih sungkan untuk sekedar bertegur sapa dengan tetangganya itu. Lagi pula, Saras perempuan dan dia laki-laki. Rasanya aneh ketika di umurnya yang belasan itu harus berteman dengan perempuan. Tapi, kejadian cukup mengejutkan harus terjadi ketika Dana pulang sekolah bersama Saras waktu itu. Ia masih ingat dengan jelas. Bagaimana Saras remaja yang duduk di jok single harus merasa tidak nyaman atas kelakuan tidak senonoh seorang pria paruh baya di dekatnya. Punggung Saras diraba, laki-laki itu dengan keji mendekatkan tubuhnya pada Saras. Menempelkan apa miliknya pada gadis itu. Tapi keadaan yang cukup ramai membuat Saras remaja tak bisa berbuat apapun. Saras ketakutan. Ia hanya menggeser tubuhnya lebih menempel pada jendela Metro mini. Dan Dana, yang biasanya tak peduli melihat itu dengan pandangan jengah. Tak ada satupun orang dewasa yang menyelamatkan Saras. Membantu gadis itu agar tidak jadi target pria paruh baya di dekatnya itu. Bagai adegan sinetron picisan, Dana dengan wajah dinginnya mendorong laki-laki itu tanpa kata. Mengunci tangan lelaki itu dan mengedik pada salah satu temannya yang bermata sipit. Jevano--namanya, balas mengedikkan dagu ke arah Saras. Memberi isyarat dengan matanya, mengacungkan handphone yang berhasil merekam tindak pelecehan tersebut. Dana menarik Saras hingga berdiri dari duduknya. Lalu turun saat itu juga, padahal pemberhentian mereka masih di halte selanjutnya. Tidak peduli pada laki-laki itu yang langsung mengamuk di dalam Metro mini dan menyebabkan keributan. Ia merasakan tangan Saras bergetar hebat. Sama seperti beberapa jam yang lalu ketika Saras jelas ketakutan disentuh oleh laki-laki yang membuat Saras kembali merasa terintimidasi. "Gak papa?" tanya Dana dengan baju putih abu-abu masih baru, baru masuk sekolah beberapa bulan. "Eh jangan nangis," Dana yang selalu cuek nyatanya menepuk-nepuk bahu Saras menenangkan gadis itu yang masih bergetar. Bukannya diam dan tenang, Saras tambah menangis kencang ketakutan. Membuat Dana jelas kelimpungan. "Aduh jangan nangis," Kata Dana yang malah membuat tangis sesegukan Saras tak kunjung reda. "Lo adeknya bang Dafa kan? Gue anter pulang, tapi jangan nangis. Gue temen lo, gue kakak kelas lo. Gue baik," Saras menyedot ingusnya lagi. Menatap nanar pada Dana yang masih menunjukkan wajah khawatirnya. "Lo tau?" tanya Saras saat itu. Dibalas anggukan kecil Dana. Napas Saras tak beraturan dengan degup kencang di dadanya. "Gue takut.. Gue--gue rasa- rasanya--" Saras tak melanjutkan ucapannya lagi. Yang ada hanya tetesan air matanya yang menuruni pipi cubbynya dengan deras. Lalu Dana, dengan kikuk meraih bahu Saras, menepuknya menenangkan. Sama seperti ia menenangkan Lani yang selalu menangis tiap teringat bunda. Kembali pada Dana berumur 20 tahun. Laki-laki dengan kaus hitam itu menengadah pada langit malam yang kian bertabur bintang meski tak begitu jelas. Bulan yang di temani para bintang nyatanya terlihat enggan bersatu padu. Selain karena itu takdir tuhan, sepertinya bulan memang mau sendirian. Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Menatap gadis berambut panjang yang kini menekuk wajahnya dalam. Tanpa basa basi lagi, Dana mengayunkan tangan. Meminta sang adik untuk mendekat dan duduk di dekatnya. Menatap lamat-lamat pada bulan sabit di atas sana. "Kangen bunda," kalimat yang biasa Lani katakan ketika harinya terasa begitu berat. Dana tersenyum menenangkan. Membawa sang adik ke pelukannya. "Kamu udah berdoa, kan?" Lani hanya mengangguk kecil. "Kakak juga abis berdoa. Tadi, sama Saras," Lani mendongak hanya untuk menatap mata teduh Dana yang masih menikmati langit malam. "Kalo aku liat liat, mbak Saras kayak bunda ya kak?" Laki-laki itu tertegun. Kaget akan apa yang Lani katakan dengan tenang padanya. Lani juga tahu, kakaknya pasti merasakan hal yang sama. "Mbak Saras itu, punya vibe yang sama kayak bunda," ujarnya sekali lagi. Memilih menjauh dari kakaknya. Gadis berumur 16 tahun itu meraih pot bunga di jendela kamar Dana. Menatapnya nanar, masih tak bisa menerima bahwa bunda pergi secepat itu. Saat Lani masih terlalu awam pada sebuah kata perpisahan. Dan lagi, ia tak bisa menemukan bunda di manapun. Membuatnya kadang merasa bahwa perceraian lebih baik daripada perpisahan yang lebih kekal. Kematian. "Kak," panggilan Lani menginterupsi Dana untuk menoleh padanya dengan senyuman tipis. "Mau ke rumah mbak Saras," Dana mengangkat alis tinggi. "Kan udah malam. Nanti ayah tau," Lani mencebikkan bibirnya. Menghela napas panjang dengan tatapan nelangsa. Lantas menoleh memandangi jendela yang menampilkan bagian belakang rumahnya. Melihat di mana rumah Saras masih menyala terang. "Malam minggu kak. Kita beli martabak atau gorengan. Pasti Bapak suka, sambil ngopi ngopi. Kan enak, rame," Melihat bagaimana ekspresi sedih Lani saat ini membuat Dana bangkit dari duduknya. Meraih ponsel miliknya lalu menoleh sekali lagi pada Lani yang langsung tersenyum lebar dan girang. "Let's go brother!" ucap Lani dengan semangat. Berkunjung ke rumah Saras adalah suatu keharusan. Karena, seperti yang Lani katakan tadi, ramai adalah salah satu kesukaan mereka. Karena dalam empat tahun terakhir, ayah terlalu sibuk mengurus perusahaan juga urusan partai yang tak tahu kapan akan berakhir. Ayah membiarkan Lani dewasa hanya dengan bimbingan Dana yang nyatanya sekarang jauh. Meski masih menempuh pendidikan di kota yang sama. Ada di tengah keluarga Saras adalah healing untuk Dana dan Lani. Ramai, mereka suka keramaian. Mereka suka bagaimana mama juga bapak ikut memperhatikan mereka lebih dari Ayah. _-_-_-_-_- Dana selalu suka bagaimana cara keluarga Saras berinteraksi. Ngegas sana sini. Bukan sih, yang ngegas hanya ketika mas Dafa dan Saras berbicara. Lalu, bapak dan mama berebut channel televisi. Bapak yang suka bola, dan mama yang suka sinetron Indonesia yang episodenya sampai ribuan. Menurutnya, itu masih wajar. Terbukti dengan bagaimana murkanya Saras pada Dafa yang meminta air hangat untuknya mandi. Dan dengan bibir mencebik juga langkah yang sengaja dihentakkan, Saras masih mau menyiapkan air hangat untuk Dafa. Dan satu hal lagi. Entah bagaimana, Lani yang biasanya hanya berdiam diri di kamar seolah tak minat pada apapun. Langsung menyerobot duduk bersama bapak dan mas Dafa. Menonton acara dangdut di televisi. Jika di rumah? Boro-boro gadis itu akan menonton televisi. Lani dan Saras adalah dua gadis no dangdut-dangdut club. "Ras! Mau lightstik gak?!" teriakan mas Dafa menginterupsi Saras yang langsung berlari secepat kilat dari dapur. Wajahnya berseri dengan kerlipan berbinar yang jarang terlihat. Bukan sih, sebenarnya jika ia berhadapan dengan Mas Dafa, yang ada hanya tatapan dendam. Seperti sebilah pedang yang bisa kapan saja menghunus mas Dafa. "Beneran mas?" tanya Saras masih dengan wajah cerahnya. Dafa mengangguk sekilas meyakinkan adiknya yang sudah terlewat exited. Terlalu bahagia ketika mas Dafa jelas menawarinya lightstik. Berangkat ke konser memang masih kapan-kapan. Tapi kan, lightstik itu juga impiannya. Beli printilannya dulu, nanti kalau ada banyak duit Saras langsung meluncur jika NCT mengadakan tour konser ke Indonesia. "Mau nih?" Dafa malah balik bertanya. Lani yang juga penggemar NCT dengan bias yang berbeda dengan Saras --karena Saras langsung mengamuk waktu Lani bilang suka Taeyong, jadi gadis itu langsung pindah haluan ke Lee Jeno. Sama-sama bermarga Lee dan sama tampannya. Lani menatap Dana dengan wajah nelangsa. Ingin juga lightstik NCT itu. "Ya mau lah! Lightstik gitu!" ucap Saras menggebu. Mama dan bapak sudah tak peduli lagi bagaimana anak bungsu mereka sudah menggebu dengan wajah berserinya. Dua orang tua itu memilih diam sembari menatap televisi lebih fokus. Biarlah apa yang akan dilakukan oleh kedua anaknya. Dafa menarik tas ranselnya. Mata Saras memandangi itu tambah berbinar. Ia rela jadi b***k mas Dafa dalam beberapa hari dengan bayaran lightstik hijau neon berbentuk kotak impiannya. Lani ikut mendekat. Mencondongkan tubuh lebih fokus pada ransel hitam Dafa. Memandangi itu dengan wajah sama berbinarnya dengan Saras. "TADAAA!!" Dafa berseru riang dengan wajah jumawa. Wajah Saras yang awalnya berbinar langsung mengeruh begitu saja. Gadis itu jelas langsung murka pada mas Dafa. Lani jadi menjatuhkan rahang tak percaya. Ingin tertawa saat ini, tapi juga kecewa. Kecewa pada mas Dafa yang mengangkat tinggi-tinggi lightstik made in Indonesia dengan bangganya. "MAS IH. INI NASTAR BONG! BUKAN LIGHTSTIK NCT! MAS DAFA!!" Dana menahan napas. Mendadak beku, ia menggeleng kompak bersama bapak. Dana tahu letak kesalahan mas Dafa. Sedangkan bapak, mungkin saja karena tak tahan dengan kelakuan dua anaknya itu. "Malem-malem jangan teriak Saras. Malu sama tetangga!" akhirnya, bapak menyentak dua orang yang langsung melengos. Saras tanpa ampun menerjang Dafa. Bodo amat dengan lightstik barunya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya menghabisi mas Dafa dengan segala sumpah serapahnya. Dia sungguh kecewa pada mas Dafa. Apalagi wajah jumawanya tadi seolah-olah meyakinkan Saras bahwa kakaknya betulan membelikan lightstik. "Saras sakit heh! Ma, Saras nih Ma.." sewot Dafa sembari mengadu pada mama yang memilih menulikan telinga. Sibuk melipat baju di karpet bawah. "INI TUH SAMA KAYAK PUNYA VANDA! BOMNYA BTS!" "INI NASTAR BONG! MAS DAFA!!" "AMPUUUN!! HEH UDAH HEH!" Dafa memekik kesakitan ketika Saras masih gencar menggigiti lengannya. Meninggalkan bekas bekas seperti digigit grandong. "Bapak, Saras nih!" Dafa berhasil melepaskan diri. Sekuat batin mendorong kepala Saras agar menjauh darinya. Memohon ampun pada si adik yang masih kesurupan setan lightstik. "Pokoknya Saras mau lightstik yang beneran!" sentak Saras pada akhirnya membuat Dafa bernapas sedikit lega. Hanya sedikit. Karena detik berikutnya ia melotot kesal sendiri. Saras benar-benar sedang kesurupan. Terbukti bagaimana gadis bertubuh mungil itu menempel pada punggungnya. Ganti menarik kaus biru navy miliknya dengan bringas. Saras seperti tidak peduli pada badan mas Dafa yang bau asem karena belum mandi sore. Lani mengulum bibirnya. Memilih menempelkan kening pada Dana dan terkikik di balik punggung kakaknya itu. Bapak yang awalnya menatap jengah Saras dan Dafa yang masih bergulat menoleh pada Dana. Lalu menggeleng lagi. Senyumnya terbit begitu melihat Lani kini malah tergelak disusul Dana yang tak ingin adiknya krik krik sendiri. Lalu, mama dengan wajah putus asa nyatanya ikut tertawa sumbang. Pusing. Mama sungguh pusing dengan dua anaknya. Mama sepertinya benar-benar akan menukar Dafa dengan Dana, juga Saras dengan Lani. Agar rumah tak begitu bergetar dan hampir roboh karena kerusuhan keduanya. "Lani, nih Saras gak mau. Buat kamu aja," kata Bapak mengiming-imingi Lani dengan lightstik oppa Nassar. Lani tambah tergelak sembari bergidik sendiri. Meski begitu, tangannya terulur menekan tombol pada gagang lightstik menggoyangkannya di depan bapak dengan riang. "Hidup itu," Saras berhenti. Pasti, adegan di mana bapak akan memberi wejangan masalah hidup dan bersyukur selalu ada ketika Dafa dan Saras bertengkar seperti tadi. Bapak meneguk teh pahitnya dengan ekspresi biasa saja. "Hidup itu adalah tentang bagaimana kita menerima dan bersyukur. Punya Alhamdulillah, ndak punya yo wes. Kalau mau punya sesuatu yang diimpikan ya berjuang. Usaha yang tekun. Rezeki itu sudah diatur gusti Allah," Dafa memicing pada Saras dengan sudut bibir terangkat mencibir Saras. "Bapak ndak bilang ini sedang menghakimi kalian berdua," tunjuk bapak pada Dafa dan Saras yang langsung duduk tegak mengulum bibir. "Tapi Dana sama Lani juga harus dengar apa kata bapak yang ini," "Memang, bapak bukan orang pintar. Duit bapak cukup untuk sehari-hari. Alhamdulillah, cukup. Rezeki itu, ndak harus banyak, bukan hanya tentang uang. Bapak setiap hari iso kerja, iku yo rezeki. Dapat bohlam begini juga rezeki," Bapak mengacungkan lightstik Dafa--karena sampai sekarang Saras belum mau menerimanya--. Menggoyangkan benda ditangan keriputnya dengan wajah heran. "Ini loh belinya pake duit. Urip iku sing ngelesa. Jaman bapak dulu ndak ada tipi begini. Yang punya cuma pak Darman, juragan di kampung bapak dulu. Bapak iso urip ngasi saiki. Semuanya tergantung bagaimana kita bersyukur atas apa yang kita miliki ini," "Berarti, Lani gak punya Bunda. Lani juga harus bersyukur?" tanya Lani tiba-tiba dengan suara parau. Bapak agak tersentak. Begitu pula dengan Mama yang memundurkan tubuh mendekat pada Lani di belakangnya. Dana menghela napas panjang. Mengulum bibirnya. Saat di mana Lani akan membahas mengenai ketidak adilan di dunia versi Lani akan dimulai. Bapak tersenyum tenang. Membiarkan mama mengusap puncak kepala Lani lembut. Kemudian merengkuh tubuh gadis itu seperti mama memeluk Saras setiap harinya. "Gusti Allah sing nduweni kerso," kata bapak dengan senyum menenangkan. Menatap Dana tepat. "Bunda jadi ndak sakit lagi, Lani jadi lebih mandiri kan?" "Gusti Allah mboten sare, ndu. Pasti doa kalian selalu didengar. Kamu sekarang kehilangan bunda. Tapi, suatu saat nanti ada sesuatu yang bisa mengobati bagaimana rindunya Lani sama bunda," mama mendambahi. Kini memeluk Lani lebih erat. Disusul Saras yang ikut menghambur mengacak puncak kepala Lani dengan gemas. "Gusti Allah maha pencipta. Pemilik segalanya. Jika bunda milik Dana sama Lani. Maka Allah punya hak yang lebih dari kalian. Allah yang menciptakan bunda jadi bidadari buat Dana sama Lani. Jadi, Allah juga yang akan mengambil bunda dari kalian. Semuanya sudah ditulis di lahul mahfudz," "Sebelum manusia terlahir ke dunia, nama mereka sudah tertulis jelas di langit sana. Si A yang nantinya lahir tanggal sekian. Meninggal tanggal sekian. Siapa jodohnya, bagaimana hidupnya nanti, rezeki yang didapatkan bagaimana. Semua itu, Allah sudah atur seadil mungkin." "Tapi pak," bapak menoleh. Hanya untuk mendapati putri bungsunya menatap nanar lightstik oppa Nassar dengan perasaan kecewa. "Saras masih mau lightstik NCT. Dan mas Dafa, udah bohong sama Saras," Bapak menggeleng lagi. Menekan tombol kecil di gagang benda itu. Memancarkan cahaya warna warni. "Ini dulu. Nanti, kalau Dafa punya uang, bapak yang belikan ke Alam Sutra," "Kenapa nunggu Dafa yang punya uang? Dafa kira, bapak yang mau belikan sama duit bapak?" Bapak tertawa. Menepuk bahu Dafa dengan kerutan di wajah yang semakin jelas terlihat. "Karena kamu udah bohongin Saras, gak oleh loh goroh." "Ojo mbok ngumbar ngumbar janji Daf. Adekmu iki lho, wes ngerti Saras gak iso di bohongi," Pada akhirnya, Dafa dengan segala jenis keterpaksaannya. Membuat perjanjian hitam di atas putih. Mengiyakan bahwa dia akan membelikan Saras Lighstik hijau milik NCT kesayangannya. Merana. Sungguh Dafa tak tahu bahwa Nastar bong yang tengah viral tak bisa menggantikan benda bercahaya yang sama seperti milik Lee Taeyong. Dana mengulum bibir. Menepuk puncak kepala Lani dengan sayang. Kata-kata bapak setiap malam minggu memang tak berubah. Masih seputar bagaimana rezeki datang dan kewajiban untuk bersyukur. Dana selalu mengingat hal itu. Ia bersyukur. Bahwa kepergian bunda dengan tenang, yang nyatanya membuat hatinya hancur tak karuan selama beberapa tahun belakangan. Mengenalkannya dengan keluarga Saras yang selalu ramai dan harmonis. Kapan-kapan, Dana ingin mengajak ayah untuk menikmati obrolan ngalor ngidul seperti tadi. Dana rindu pada sosok ayah yang dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD