004. Kami Baru Saja Bercerai

826 Words
“Jemput sekarang juga”. Alina menggenggam erat ponselnya dengan perasaan yang berkecamuk. Memilih tetap berdiam diri di tempat tanpa berniat masuk ke dalam toko miliknya sampai orang yang ia telpon datang. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Alina dan tanpa menunggu sang pemilik mobil ke luar Alina justru langsung membuka pintu samping pengemudi lalu masuk ke dalam mobil. "Kenapa kau lama sekali?". omel Alina pada sang pengemudi sambil memasang seat belt. Membuat sang pemilik mobil hanya geleng-geleng mendengar omelan wanita yang baru saja masuk ke dalam mobilnya dan duduk di samping dirinya begitu saja. "Kenapa? Kau berubah pikiran secepat ini". tanya sang pemilik mobil yang tidak lain adalah seorang pria yang kini sedang menatap ke arah Alina. "Akan aku jelaskan semuanya nanti tapi bisakah sekarang kita jalan dulu, aku ingin segera pergi dari tempat ini". pinta Alina pada sang pria dengan wajah memohon. "Oke.. Oke, kita pergi sekarang my Queen". sahut Rhaka langsung menjalankan mobilnya kembali. Pria itu adalah Rhaka, kakak kandung Alina yang sebelum mendapat telpon. Rhaka masih dalam perjalanan menuju ke kantornya. Namun, tiba-tiba saja adiknya itu menghubunginya dan memintanya untuk menjemput. Akhirnya Rhaka memilih balik arah menuju ke tempat sang adik dan membatalkan untuk pergi ke kantor. Sepanjang perjalanan Alina hanya diam saja menatap ke arah luar jendela dengan pikirannya yang masih kacau. Dadanya terasa sesak menahan sakit juga rasa kecewa yang amat besar akan perlakuan mantan suaminya yang dengan mudahnya menceraikan dirinya hanya karena Alina yang belum juga kunjung hamil selama lima tahun pernikahan mereka. Padahal mereka sudah berusaha dengan keras hingga sampai menjalankan program hamil. Alina selalu bersabar karena ia percaya suatu saat ia bisa hamil hanya saja Tuhan masih menundanya, namun ternyata sang suami yang tidak bisa untuk bersabar lagi hingga memutuskan untuk bercerai atau mungkin juga tuntutan dari orang tua Fano yang menginginkan segera memiliki cucu hingga membuat Fano lebih memilih keputusan kedua orang tuanya untuk menikah lagi ketimbang bertahan bersama Alina yang tidak juga hamil. Di tambah Alina juga sempat mendengar pembicaraan Fano dengan sang ayah mertuanya yang mengatakan jika saat ini perusahaan sedang kekurangan dana dan Alina berniat untuk membantu, namun ia urungkan. "Batalkan permintaanku, kak". ucap Alina masih fokus menatap ke luar jendela. Awalnya Alina memang ingin membantu perusahaan Fano yang masih butuh suntikan dana, hingga Alina memutuskan menghubungi sang kakak dan berniat membantu melalui sang kakak. Dan hal itu tentunya tidak akan sulit bagi sang kakak mengingat betapa kayanya keluarga mereka. Keluarga Bhaskara hanyalah bagian kecil dibandingkan dengan keluarga mereka yang memiliki tingkat kejayaan di atas. Namun niat baik Alina batal mengingat apa yang terjadi pada dirinya tidak bisa ia terima begitu saja. Rhaka yang sedang fokus menyetir sedikit bingung akan permintaan sang adik yang tiba-tiba membatalkan untuk menjadi bagian dari perusahaan adik iparnya itu. Ditambah sejak tadi adiknya itu lebih banyak diam dan memilih menatap ke luar jendela. "Kenapa? Tidak biasanya kau akan berubah pikiran dengan begitu cepat. Apa suamimu sudah lebih dulu mendapatkan investor yang lebih kaya dari kakakmu ini?". tanya Rhaka dengan sedikit menggoda sang adik untuk mencairkan suasana, namun jawaban sang adik justru membuat Rhaka merasa ada hal yang tidak beres. "Entahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan masalah mereka". acuh Alina. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui? Atau kau sedang bertengkar dengan Fano". cecer Rhaka dengan banyak pertanyaan. "Aku dan mas Fano, kami baru saja bercerai". jawab Alina menahan sesak di dadanya. Hingga terdengar suara ban mobil yang beradu dengan jalan aspal dengan nyaring karena dipaksa berhenti secara tiba-tiba. Ciittt Alina hampir saja terpentok bagian depan mobil jika saja dirinya tidak memakai seat belt dengan benar. "APA?". Teriak Rhaka karena terkejut sekaligus syok mendengar ucapan sang adik hingga tanpa sadar ia langsung menginjak rem mobilnya. Dan untungnya tidak ada kendaraan lain di belakang mobil Rhaka hingga membuat mereka aman tanpa menimbulkan kecelakaan lalu lintas. "Apa yang kakak lakukan? Kakak ingin membuat kita celaka dengan mengerem mendadak seperti ini". tanya Alina memarahi sang kakak. "Justru kau yang ingin membuat kita celaka, dengan mengatakan hal itu. Jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu". sangkal Rhaka menatap sang adik. Rhaka menyangkal segalanya seakan tidak bisa percaya dengan perkataan Alina tentang perceraian mereka, sebab Rhaka tau betul jika Alina sangat mencintai Fano. Cinta pertama dalam hidup Alina sampai sang adik rela pergi dari rumah meninggalkan semua yang ia miliki demi hal yang sangat berarti bagi sang adik. "Apa aku terlihat bohong?". "Tapi, apa alasan kalian bisa bercerai begitu saja? Bukankah kalian saling mencintai". "Akan aku ceritakan semuanya tapi sebaiknya kita cari tempat yang nyaman untuk bicara lebih dulu, tidak mungkin aku harus cerita di tengah jalan seperti ini kak". ucap Alina melihat mobil mereka masih berhenti di tengah jalan raya. "Baiklah". Rhaka kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan mereka hanya saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga mobil Rhaka terhenti di suatu tempat yang justru membuat kedua mata Alina langsung membulat lalu menatap ke arah sang kakak. "Kenapa kita malah ke sini, kak?".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD