“Kau.. “.
Plakk
Terdengar mengaduh setelah sebuah pipi ditampar, entah siapa yang melakukan itu dan pipi siapa yang terkena tamparan.
Alina termenung dengan rasa panas di pipinya karena baru saja mendapat satu tamparan yang berhasil mendarat tepat di salah satu pipi mulusnya tanpa bisa dicegah lagi membuat Alina langsung membeku di tempat menahan air matanya, ia tidak percaya. Fano sang suami baru saja menampar dirinya. Untuk pertama kalinya selama lima tahun rumah tangga mereka Fano berani mengangkat tangannya hanya demi membela orang lain. Apalagi orang itu adalah orang ketiga dalam rumah tangganya? Sakit? Sangat, istri mana yang tidak sakit hati kecewa sekaligus marah melihat suaminya ingin menikah lagi. Dan apa semua ini? Fano menuduh Alina berselingkuh dibelakangnya, dengan tidak berperasaan nya Fano secara langsung mengatakan akan menikah lagi demi mendapatkan seorang anak dari wanita lain.
Pikiran Alina berkecamuk tidak karuan mencoba memahami semua yang baru saja terjadi hari ini apakah nyata atau hanya mimpi buruk baginya. Namun segalanya terasa nyata, bahkan saat ini hatinya begitu sakit merasakan cemburu melihat sang suami bersama wanita lain. Tapi rasa kecewanya lebih besar dari semuanya karena sang suami yang percaya begitu saja dari pada percaya pada istrinya sendiri. Alina sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak sampai jatuh membasahi pipi. Tidak ingin terlihat lemah, terlebih dihadapan mereka semua yang sudah membuat Alina sakit sekaligus kecewa. Menahan amarah yang berkecamuk dalam dirinya sambil memegangi sebelah pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Fano.
"Kau menamparku, mas". lirih Alina menatap tajam Fano dengan airmata yang sudah jatuh, namun langsung Alina hapus.
Tamparan dari seseorang yang begitu ia cintai rasanya sangatlah sakit, bukan bekas tamparannya yang sakit melainkan hatinya yang jauh terasa lebih sakit. Bagaikan ribuan jarum yang datang sekaligus menusuk tepat sasaran.
"Selama ini kau tidak pernah berbuat kasar padaku, mas. Tapi hari ini demi membela wanita lain kau tega menampar istrimu sendiri yang sudah mengorbankan segalanya sampai aku menentang ayahku sendiri hanya demi bisa menikah denganmu. Tapi apa balasanmu, mas? Kau menyakitiku begitu dalam dengan mengatakan akan menikahi wanita ini". tunjuk Alina pada Vani yang merasa senang dalam hati karena Fano lebih percaya sekaligus membelanya daripada istrinya sendiri.
"Bahkan kau menuduhku berselingkuh tanpa kau cari tahu lebih dulu kebenarannya, kau langsung menggugat ku. Dan kau sebagai seorang wanita juga harusnya kau bisa memahami perasaan wanita lain, wanita mana yang mau sampai di madu oleh suaminya sendiri. Hanya w************n dan tidak tau diri yang mau menjadi seorang madu". ucap Alina dengan menggebu-gebu mengeluarkan segala amarahnya tanpa ia tahan-tahan lagi.
"Hentikan semua ini, Alina". bentak Fano.
“Jangan membuat semuanya menjadi sulit atau aku bisa saja melakukan hal yang lebih dari pada hari ini. Sekarang pilihanmu hanya ada dua, tandatangani surat cerai itu atau menerima madumu dan putuskan semua hubunganmu dengan pria ini“. lanjut Fano menunjuk Nicho yang sejak tadi hanya bisa diam.
“Kau ingin mengancam ku, mas. Lebih baik aku hidup menjadi gembel di jalanan seperti yang ibumu katakan. Dari pada harus rela di madu oleh suaminya sendiri”. pilih Alina lalu segera menandatangani surat cerai itu dan melemparnya langsung kehadapan Fano.
Fano mengambil surat cerai itu lalu melihatnya, terlihat jelas Alina benar-benar menandatangani surat itu dan kini mereka sudah resmi bercerai.
"Dengan menandatangi ini, berarti kau mengakui perselingkuhanmu sendiri". ucap Fano tersenyum mengejek Alina.
"Bukannya lebih baik dituduh selingkuh tapi kenyataannya tidak, dari pada harus menjadi wanita bodoh jika menerima di madu oleh suaminya sendiri". balas Alina tidak mau kalah.
“Dan kau akan menyesal telah memperlakukanku seperti ini dan percaya begitu saja, mas”. lanjut Alina dengan yakin.
“Lakukan apapun yang ingin kau lakukan karena saat ini kau bukan lagi istriku, dan sampai kapanpun aku tidak akan menyesal telah menceraikan kamu”.
Fano langsung pergi begitu saja dari sana diikuti oleh Vani dan sang ibu yang merasa puas karena tidak perlu repot-repot memisahkan Fano dengan Alina lagi. Alina menatap tajam kepergian Fano dengan perasaan kecewa yang amat dalam, hingga mobil Fano pergi menjauh hilang tidak terlihat lagi.
"Kakak baik-baik saja. Maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa".
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu meminta maaf karena ini bukan kesalahanmu. Justru harusnya kakak yang meminta maaf karena kau harus menyaksikan kejadian ini".
"Tapi karena ke salah pahaman ini kakak dan bang Fano sampai bercerai".
"Mungkin ini sudah takdir kakak, lagi pula bukankan lebih baik berakhir daripada harus di madu".
"Oh iya bukannya kau harus segera pergi untuk memberikan kejutan pada pacarmu. Tapi dimana buket mu? Ah, itu dia". ucap Alina langsung mengambil buket yang sempat terjadi tadi dan untungnya buket itu baik-baik saja.
"Tapi kakak.. ".
"Kakak baik-baik saja, cepat pergi jangan buat pacarmu menunggu dirimu lebih lama lagi. Jangan khawatirkan kakak baik-baik saja dan ingat pesan kakak jangan pernah duakan pacarmu, jika kau merasa tidak cocok lagi maka bicarakan dengan baik-baik". pesan Alina sebelum Nicho benar-benar pergi.
"Pasti kak, terimakasih. Aku akan selalu ingat pesan dari kakak". teriak Nicho yang harus segera pergi karena dirinya yang memang sudah terlambat.
Setelah Nicho pergi Alina langsung mengambil ponselnya di dalam saku celananya lalu menghubungi nomor seseorang hingga beberapa saat panggilan itu tersambung. Alina hanya mengatakan tiga kata saja pada seseorang di seberang telpon, tanpa menunggu jawaban lagi Alina langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak.
“Jemput sekarang juga”.