“Tidak mungkin.. “.
"Kamu ingin menceraikan aku, mas?".
Surat cerai, yaa Fano baru saja memberikan Alina surat cerai dari pengadilan. Dia ingin menceraikan Alina dengan tuduhan perselingkuhan. Dunia Alina seketika runtuh, orang yang selalu Alina anggap sebagai imam dalam rumah tangganya dengan setulus hati justru menjadi orang yang juga menorehkan luka di hatinya. Dengan tega menuduh dirinya berselingkuh yang jelas-jelas hal yang tidak pernah Alina lakukan.
"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan kepadamu, mas? Kalo Nicho bukan selingkuhanku, dia hanya berniat membantuku saat aku ingin terjatuh”. jelas Alina pada Fano.
“Membantu dengan berpelukan begitu mersa, bahkan kalian terlihatlah begitu serasi dan bahagia saat berbicara berdua saja”. ucap Fano memberi senyuman mengejek pada Alina.
“Semua tidak seperti yang mas Fano pikirkan.. “.
“Aku tidak peduli, sekarang tanda tangani surat itu”. potong Fano tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Alina lagi.
“Tidak, jika aku tanda tangani sama saja aku mengakui jika aku memang selingkuh. Sampai kapanpun aku tidak akan tanda tangan”. tolak Alina dengan tegas.
“Dasar keras kepala sudah ketauan selingkuh masih saja mengelak, kau tidak mau tanda tangan pasti karena tidak ingin hidupmu menjadi gembel di jalanan bukan setelah bercerai dengan Fano, dasar tidak tau malu”. hina ibu Fano.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di depan toko bunga milik Alina membuat semua mata tertuju pada mobil itu dan tidak lama seorang wanita berpakaian ketat juga mini keluar dari dalam mobil dengan anggun, dress body selutut berwarna merah yang melekat ditubuh wanita itu membuat penampilannya terlihat seksi.
“Mas Fano”. panggil wanita itu dengan mendayu-dayu.
Alina langsung terkejut sekaligus syok saat mendengar wanita itu memanggil sang suami dengan manja lalu menghampiri Fano, bahkan wanita itu secara terang-terangan merangkul lengan Fano dengan manja dan Fano terlihat tidak merasa keberatan sedikitpun dirangkul wanita itu.
"Kenapa tidak tunggu di kantor saja? Kenapa malah datang kemari? Di luar cuacanya sedang panas". tanya Fano begitu perhatian.
"Kau membuatku menunggu lama, aku bosan jadi aku putuskan datang kemari saja". jawab wanita itu dibuat manja.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama".
"Tidak apa-apa, mas".
Alina menatap tidak percaya, terdiam melihat perlakuan Fano yang begitu perhatian juga lembut pada wanita itu membuat Alina merasa sakit hati dikhianati sekaligus merasa kecewa.
"Siapa wanita ini, mas?". tanya Alina dengan rasa sesak yang menusuk hatinya.
"Ah, mas Fano pasti belum memberitahumu siapa aku? Jadi aku yang akan memperkenalkan langsung padamu, mbak Alina". jawab wanita itu menatap Alina.
Bahkan wanita itu sudah tau nama Alina tapi sebaliknya Alina tidak tau siapa wanita yang saat ini terlihat begitu akrab dengan suaminya.
"Aku Vani, calon istri mas Fano". lanjut wanita bernama Vani itu dengan bangganya.
Deg
"APA?".
"Kenapa, mbak Alina tidak percaya? Kalau begitu tanya saja pada mas Fano siapa aku".
"Apa benar itu, mas?".
"Iya".
"Tega kau melakukan ini padaku, mas".
“Kenapa tidak? Jika aku tidak bisa mendapatkan anak darimu, bukankah aku masih bisa memiliki anak dari Vani. Jadi, jika kau masih keras kepala tidak mau tanda tangan berarti kau siap untuk memiliki madu karena aku dan Vani akan segera menikah”. ucap Fano dengan tidak berperasaan nya mengatakan tidak bisa memiliki anak dari Alina.
“Aku bukannya tidak bisa memberikanmu anak, mas. Tapi Tuhan yang belum memberikan kesempatan itu pada kita dan asal mas tau sampai kapanpun aku tidak akan sudi di madu. Apalagi dengan wanita seperti dia yang sudah jelas-jelas pria yang bersamanya sudah beristri tapi tetap saja dia mau menjadi madu”. bela Alina lalu menunjuk wanita yang saat ini berdiri di samping sang suami yang bernama Vani.
“Kau yang tidak pantas berbanding denganku yang jelas-jelas aku adalah putri dari keluarga kaya, sedangkan kau hanya wanita dari keluarga miskin. Lihatlah penampilanmu saat ini, bahkan kau sudah menikah dengan mas Fano tapi tidak bisa menjaga penampilanmu, pantas saja mas Fano ini menikah lagi karena dia bosan melihat istrinya sendiri “. bantah Vani tidak terima dengan perkataan Alina.
“Apa bagusnya berasal dari keluarga kaya jika kau saja mau menjadi w************n dengan hadir dalam rumah tangga kami sebagai seorang madu”. ucap Alina dengan berani.
“Kau.. “.
Plakk
Terdengar mengaduh setelah sebuah pipi ditampar, entah siapa yang melakukan itu dan pipi siapa yang terkena tamparan.