Bab 8. Cuma Bawa Satu

1113 Words
Hendi pulang ke rumah dengan perasaan tidak enak. Benar saja, Yani mengamuk padanya. "Mas! Kamu tega ya sama istri sendiri! Masa kamu malah beliin minuman buat temen-temen kamu! Tega kamu ya, Mas! Siapa yang ngidam duluan, eh siapa yang minum!" sembur Yani ketika Hendi baru saja sampai di rumah. "Bentar, Dek. Aku capek–" "Masa bodo! Aku kesel banget sama kamu, Mas!" omel Yani, menghentakkan kakinya ke lantai. "Maaf ya, Dek. Temen-temen pada minta traktir, jadi aku nggak bisa nolak karena mereka juga sering traktir aku. Kamu kan udah beli sama Naina?" tukas Hendi, melepaskan sepatunya. Penat bekerja tambah penat saat istrinya menyambut dengan amukan. "Udah beli gimana? Gara-gara Mas Hendi, Naina nggak jadi jual itu minuman dia!" sungut Yani. "Nggak jadi gimana?" tanya Hendi. "Nggak tau, pokoknya dia langsung cabut aja, mungkin disangkanya aku nggak bayar! Padahal baru mau aku ambilin duit," cerocos Yani dengan berapi-api. "Pokoknya sekarang Mas harus tanggung jawab! Cariin aku minuman kayak gitu. Aku mau minuman yang sama kayak bikinan Naina itu!" Yani berbalik, berjalan cepat ke kamarnya dan menutup pintu dengan sangat kencang. Hendi sampai mengelus d**a mendengarnya. Selama dengan Naina, dia belum pernah mendengar bunyi pintu dibanting seperti itu. "Astaga," desis Hendi, meletakkan tangannya di paha. Dia berpikir bagaimana mendapatkan minuman seenak yang dia minum dengan teman-temannya tadi. Hendi mengeluarkan ponselnya, mencari beverage seperti itu secara online, tapi nyatanya belum ada yang menjualnya di kota. "Apa aku harus pesen lagi sama Naina? Mana lagi tongpes? Diam-diam Naina memerasku tadi ya, memaksa buat beli produknya, huh!" sungut Hendi. Lemas rasanya, pulang-pulang bukannya bisa rebahan melepas lelah, tapi malah ketambahan pikiran. *** Naina menatap wajah Ellen yang tampak senang mendengar penjelasannya. Padahal, tadi di sekolah dia belum paham soal hitung-hitungan bertingkat, tapi sekarang dia mulai paham. "Nah, jadi gitu ya caranya? Bisa, kan? Pasti Ellen bisa." Ellen makin yakin akan kemampuannya karena Naina menanamkan kepercaya-dirian terhadapnya. "Bisa, lama-lama pasti bisa. Gitu kan kata Tante?" sahut Naina. "Iya, tapi kayaknya nggak lama kok, bakal cepet bisanya Ellen," ujar Naina, menyibakkan anak rambut gadis kecil itu agar tidak menutupi wajahnya. Ellen tersenyum riang, begitu pula dengan Marni yang duduk di depan pintu ketika melihat wajah anak majikannya. Tidak pernah dia melihat Ellen sesemringah itu. Marni tersentak ketika Ellen mulai meraih jar yang diberikan oleh Naina tadi. Dia pun cepat-cepat beranjak dan masuk begitu saja ke ruang belajar. "Ellen, minum tehnya dulu aja, ya? Kata papa Ellen jangan minum yang ... eh, manis-manis," ujar Marni meringis pada Naina dengan wajah tidak enak. "Lho, kenapa? Bukannya teh yang dibikin Bik Marni juga manis? Aku mau minum bikinan Tante Naina! Tenggorokanku kering banget! Aku dari tadi kepengen minumannya, Bik!" rengek Ellen. Raut wajah Marni tampak menyesal sekali. Ingin rasanya memberikan jar berisi minuman itu ke tangan Ellen, tapi dia lebih takut dengan peringatan Brian tadi. "Ellen, please. Bibik nanti dimarahi papa Ellen. Jadi, Ellen nurut, ya?" pinta Marni dengan merengek juga pada Ellen yang sudah mulai memerah matanya. "Saya bikinnya pake bahan-bahan berkualitas kok, Bik. Itu juga baru, bukan bikinan lama. Terus bahan dasarnya kan buah-buahan sama s**u. Apa Ellen punya alergi sama s**u?" tanya Naina, meraba-raba permasalahan. Marni menggelengkan kepala dengan pertanyaan Naina. Dia hanya meringis lagi, benar-benar tidak enak dan tidak habis pikir pada Brian. Namun, apa daya dia harus menuruti perintah Brian yang utama. "Tidak boleh, Ellen." Marni terpaksa merebut jar yang sedang dia dan Ellen pegang. Lalu, membawanya ke tempat Brian dan membiarkan Ellen menangis. "Tante Ina, aku belum minum sedikitpun. Tapi papa jahat nggak ngebolehin aku minum itu!" jerit Ellen, luruh di atas karpet dan menangis tanpa henti. Naina memijat keningnya dengan perilaku Brian. Dia sendiri menyesal karena telah membawakan minuman yang niatnya hanya untuk membuat Ellen senang, tapi ternyata malah menangis seperti itu. Naina memeluk Ellen dan membiarkannya menangis di dalam pelukannya. Hal itu dia lakukan agar Ellen mengelola emosi dan berhenti menangis setelah puas meluapkan emosi. "Udah?" tanya Naina. Ellen mengangguk ketika tangisnya mereda lima menit kemudian. Waktu yang panjang untuk bersabar menghadapi anak rewel. "Nah, mungkin papa nggak mau Ellen sakit karena minum sembarangan. Meski buatan Tante Naina itu sudah Tante pastikan dalam kondisi baik, tapi mungkin papa Ellen nggak mau Ellen sakit perut dengan kandungan yang mungkin bisa membuat alergi," terang Naina, mencoba memberi pengertian pada Ellen. "Iya, Ellen ngerti." Rasanya iba melihat Ellen seperti itu, tapi apa daya dia hanya guru les dan tidak memiliki hak mengasuh anak Brian. Terdengar suara langkah Marni yang mendekat. Lalu, wanita itu meringis lagi pada Naina. "M-maaf, Bu Guru, Pak Brian mau bicara di ruang kerjanya, di atas. Ellen biar sama saya," tuturnya mendekati Ellen dan mengelus lengannya. "Baik, Bik." Naina berjalan keluar dari ruang belajar. Dia sempat mendengar Marni meminta maaf pada Ellen atas apa yang barusan dia lakukan. Naina berjalan menelusuri tangga ke atas. Meski tidak merasa bersalah, tapi rasanya deg-degan juga dengan sikap Brian. Naina melihat sebuah ruangan di sudut. Dia yakin itu adalah ruang kerja Brian karena ruangan itu adalah satu-satunya ruangan yang pintunya terbuka. Naina mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka karena menunjukkan kesopanannya. "Permisi," ucapnya di depan ambang pintu. "Masuk aja," sahut Brian di dalam. "Baik," balas Naina, melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Brian sedang berdiri bersandar ke meja kerjanya, dengan memegangi jar minuman yang Naina bawa untuk Ellen tadi. Naina meneguk salivanya. Apa yang dia lakukan tidak sejalan dengan cara asuh Brian? "Apa ini?" tanya Brian menunjukkan jar minuman itu pada Naina. "Itu ... minuman, Pak." "Siapa bilang ini hamster? Jelasin minuman apa ini?" tukas Brian. "Itu s**u dicampur potongan jelly buah, potongan buah anggur, strawberry, mangga, leci sama sedikit biji selasih," jelas Naina, berasa di depan juri master chef yang paling galak. "Hm," sahut Brian, membuka jar itu lalu mengambil sendok plastik dari dalam kantong. "Harusnya kamu tau kalo bawa-bawa makanan atau minuman itu tidak saya perbolehkan. Apalagi untuk anak saya. Bukannya overprotective, tapi saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap anak saya satu-satunya itu," beber Brian. Tangan lelaki itu menyendok minuman itu, lalu memasukkan ke dalam mulutnya. "Baik, Pak. Mohon maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi," ujar Naina dengan penuh penyesalan. "Jadi, apa konsekuensi kamu jika kamu membawa makanan atau minuman lagi?" tanya Brian. "Terserah, Pak." Brian memutar kedua bola matanya mendengar sahutan Naina. "Dasar wanita, hobi banget sama kata terserah. Baik, aku tidak akan memperbolehkan kamu buat ngajari Ellen lagi." Naina menghela napas, tapi lalu terbelalak melihat jar yang isinya tinggal beberapa sendok itu. Cepet banget. Dia haus apa doyan? Brian sampai memiringkan jar untuk mengeluarkan isi terakhir masuk ke mulutnya. Naina mengalihkan pandangan ketika Brian menatap kepadanya. "Kamu cuma bawa satu?" tanya Brian. "Lah, iya. Harusnya buat Ellen, tapi diminum Bapak sampai habis," sahut Naina. Tidak mengerti dengan duda membingungkan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD