Bab 7. Kenapa Kasih Minuman

1117 Words
Naina meletakkan cangkir yang masih berisi setengahnya ke atas meja. Dia lalu berdiri untuk mengimbangi Brian karena pria arogan itu tidak mau duduk. Malah menanyai Naina seraya memasukkan kedua tangan di saku celana panjangnya. Tatapannya pun datar sekali. Membuat Naina tidak nyaman, tapi dia harus menjawab pertanyaan Brian. "Begini, Pak. Metode saya seperti menghapal pelajaran dengan menyanyi, mengitung dengan jari, terus–" Brian memutar kedua bola matanya, membuat Naina malas melanjutkan kalimat yang mungkin terasa remeh bagi Brian. Namun, ada sebuah ide di benaknya. "Terus dengan kasih sayang seperti seorang ibu untuk anaknya." Brian melotot mendengar perkataan Naina. Dia menyeringai heran. "Maksud kamu, mau gantiin mamanya Ellen?" tanya Brian. "Eh, bukan! Maksud saya, saya akan mengajar Ellen dengan kasih sayang. Bukan mau jadi pengganti ibunya," sahut Naina sedikit bersungut. Dia kira aku gampangan? Jadi mama Ellen kan otomatis berarti mau jadi istrinya? Amit-amit. Naina mendengkus setelah membatin Brian karena kesal. "Asal kamu tau aja, yang antre buat jadi mama Ellen itu banyak," celetuk Brian. Ih, informasi apa itu? Nggak penting. "Saya juga nggak berminat, Pak. Saya cuma memenuhi permintaan Ellen buat ngajarin dia aja. Itu pun layanan gratis kalo Bapak nggak puas," celoteh Naina. Kesal, sekalian aja menumpahkan kekesalan. Biar kalau Brian mengusirnya dari rumah itu, dia pun siap. "Saya? Puas sama layanan kamu?" ulang Brian. "P-puas sama layanan ... maksud saya melayani Ellen, bukan Bapak. Kalo melayani Bapak udah tugas yang lainnya, bukan saya!" sahut Naina cepat. Gila apa ini orang ngomongin layanan-layanan yang memuaskan? Aku emang janda, tapi janda berkelas. "Asal kamu tau, saya nggak bisa dilayani asal-asalan." Giliran Naina sekarang yang memutar kedua bola matanya. Kenapa obrolan tentang pelayanan masih saja berlangsung? "Sebodo amat, Pak. Saya melayani pembelajaran Ellen. Bukan bapaknya!" sahut Naina sewot. Seringai di wajah Brian melihat Naina bersungut. Entah kenapa rasanya menyenangkan berdebat kusir dengan wanita itu. "Selamat sore, Tante Ina! Ellen udah siap belajar," sapa Ellen yang turun dari lantai atas. "Wah, cantik dan harum. Itu artinya Ellen memang sudah benar-benar siap belajar. Tadi bobok siang, nggak?" tanya Naina, berjongkok menatap wajah Ellen yang dia rasa memang mirip ayahnya yang songong itu. Semoga sikap songongnya nggak diturunkan pada anaknya ini. "Nggak," sahut Ellen dengan bibir mengerucut. "Lho, kenapa? Bobok siang kan gunanya buat mengistirahatkan otak yang sudah bekerja keras dari pagi sampai siang? Jadi, itu perlu, Ellen. Biar otak jadi segar lagi pas bangun tidur," papar Naina. "Oh, jadi bobok siang itu ada gunanya ya, Tante?" tanya Ellen melebarkan kedua matanya. Belum ada yang menjelaskan fungsi tidur siang kepadanya selama ini. Brian hanya melengos mendengarnya. Dia melirik ke jam dinding. "Bu Guru, jam berjalan ya?" tukasnya, memotong obrolan kedua perempuan berbeda usia itu. Ingin rasanya Naina mengelus d**a. Apa semua harus sat-set tembak langsung tanpa pemanasan dulu? Berenang aja kalo nggak pake pemanasan bakal kram. "Iya, baik, Pak Brian. Saya mulai sekarang. Untuk kelebihan menitnya, nanti saya tambah, begitu?" ujar Naina menyipitka kedua mata dan tersenyum masam ke arah Brian. "Nah, begitu. Ellen, langsung aja ke ruang belajar ya? Jangan buang-buang waktu buat mengobrol hal-hal yang nggak penting. Yang penting belajar, oke? Tanya kalo kamu nggak paham." Ucapan Brian tampaknya membuat Ellen agak mendengkus, tapi mau tidak mau dia harus melangkah ke ruang belajar karena memang itu permintaannya pada sang ayah. Konsekuensinya, dia harus tertib belajar. "Jangan sampai dia kecewa. Tadi dia sendiri yang membereskan ruang belajarnya dengan semangat karena menyambut kedatangan guru lesnya," tegas Brian, berbisik pada Naina ketika Ellen sudah berjalan membuka pintu ruang belajar. Sesungging senyum mendengar ucapan Brian karena semangat Ellen. "Itu yang membuat anak saya tidak tidur siang ini. Jadi kalo dia mengantuk, jangan paksa dia untuk belajar. Otaknya belum istirahat tadi." Naina menghela napas mendengar lanjutan ucapan Brian. Dia menatap Brian dengan senyum terpaksa. "Itu artinya dia bertanggung jawab. Saya akan lanjut menyusul Ellen. Jadi, mohon maaf Anda sudah selesai dengan saya? Waktu saya sangat berharga." Brian tercekat mendengar ucapan Naina. Dia hanya mendekik keki dan berhenti bicara. Membiarkan Naina berjalan menyusul Ellen yang sudah melambaikan tangan dan memanggilnya ke ruangan belajar. Brian menatap punggung Naina. Agak merasa kegalakan Naina dan menyeringai melihat wanita itu. "Menarik," desisnya. *** Marni terkantuk-kantuk karena duduk di samping ruang belajar dengan jendela yang menghembuskan angin sepoi-sepoi. "Ngantuk banget, mendingan aku nyeterika sambil nyetel dangdut kalo kayak gini. Mana anginnya enak lagi," gumamnya. "Kenapa juga Pak Brian nyuruh aku nungguin Ellen belajar?" imbuhnya bergumam. "Bik Marni, kenapa duduk di situ?" tanya Ellen kaget ketika keluar dari ruang belajar malah menemukan Marni sedang duduk di lantai sambil tidur menempel ke tembok. "Eh, anu. Bibik cuma disuruh ... maksudnya bibik lagi ngadem, iya ngadem aja di sini," sahut Marni. "Oh ... Bik, tolong bikinin minum Tante Ina, dong. Kayaknya haus." Marni menepuk jidatnya, lalu bergegas beranjak dari simpuh dan berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman. Kemudian dia membawa sebuah nampan masuk ke dalam ruang belajar. Dia melihat Ellen menyanyi dengan Naina. Marni tersenyum melihat semangat keduanya. Meski sudah membuatkan minum untuk menyambut wanita itu tadi, tapi satu jam yang berjalan pasti membuat tenggorokan Naina kering. Apalagi, cuaca sedang panas. "Bu Guru, maaf ini minumnya. Sampai haus ya, Bu? Maaf ya, Bu? Kelamaan," ucap Marni meletakkan dua gelas berisi teh dan dua toples cemilan di atas meja. "Bik, tadi Ellen bilang kalo Ellen nggak usah karena Tante Ina bikinin Ellen minuman. Tuh, adi atas meja!" tunjuknya ke meja yang sama. "Oh, ini? Wah, kayaknya seger ya?" tukas Marni. "Ibu mau? Besok saya buatkan lagi," tawar Naina. "Bu Guru nggak usah repot-repot. Malah saya jadi nggak enak. Oh iya, panggil saya Bik Marni aja ya Bu Guru?" celoteh Marni. "Baik, Bik Marni. Besok kalo saya ke sini, saya bawain juga buat Bibik," ujar Naina tersenyum dengan tingkah polos asisten rumah tangga Ellen. "Terima kasih sebelumnya, Bu Guru." "Sama-sama ya Bik Marni." Lalu, Marni keluar agar tidak mengganggu waktu belajar Ellen. Baru melangkah sampai ke ruang tamu untuk mengambil cangkir minum Naina, dia terkejut melihat Brian berdiri di sana. "Gimana, Bik?" tanya Brian. "Emm, sepertinya kalo saya lihat, Ellen senang-senang aja belajar dengan bu guru yang ini, Pak. Dia kelihatan ceria dan semangat. Tambah lagi, tadi dia sempat keluar buat minta dibikinin minum buat gurunya," beber Marni. "Jadi nggak bosen kayak biasanya?" tanya Brian. "Iya, kayaknya sih nggak bosen. Tadi dia senang juga karena dibawain minuman dari bu gurunya itu," papar Marni. Kedua mata Brian melotot mendengar penjelasan Marni. "Kenapa kamu nggak suruh dia menunda minum? Dilarang meminum atau memakan pemberian orang asing! Ingat itu!" tegas Brian melotot pada Marni. "B-baik, Pak. Maaf, saya teledor." "Suruh Ellen untuk tidak minum di saat les!" titah Brian dengan kesal pada Marni. "Baik, Pak!" sahut Marni bergegas berjalan lagi ke ruangan belajar. "Apa-apaan, pake ngasih anakku minuman? Mau menghipnotis? Apa kasih obat tidur?" gerutu Brian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD