Bab 6. Mendatangi Rumah Brian

1217 Words
"Mau lebih baik atau lebih buruk, itu urusanku. Ngapain juga dia ngurusin," desah Naina. Baru mantan suaminya sudah membuat kesal. Meski perasaannya tidak enak, tapi dia harus melaksanakan konsekuensi bahwa dia harus mengantarkan sebuah jar minuman ke rumah Hendi. "Ah, anggap aja aku nggak kenal sama Yani." Naina menenangkan hatinya yang sudah tidak karuan setelah bertemu dengan Hendi, mantan suaminya tadi. Meski berlagak cuek, tapi sebenarnya dia sangat marah. Namun, kembali soal jual beli yang dia gunakan untuk menjernihkan pikiran. "Yang penting dia beli semua minuman ini. Lumayan kan, bisa buat modal lagi. Soal ucapannya bisa aku balas kalo usahaku udah sukses." Naina melajukan motor ke rumah Hendi. Sekitar sepuluh menit, dia sampai di depan rumah bercat biru. Cat baru, dan dia yakin bahwa itu adalah permintaan Yani. Naina menatap rumah pemberian mantan mertuanya. Banyak sekali kenangan indah di sana sampai kedatangan Yani merusak segalanya. Namun, Naina bersyukur bahwa dia tidak harus menjalani hidup dengan seorang pengkhianat seperti Hendi, yang hanya mementingkan penampilan semata. "Permisi!" Naina mengetuk pintu rumah. Aneh rasanya, tapi memang begitulah kenyataan pahit yang harus dia terima. "Ya," sahut wanita dari dalam. Naina menyimpan amarahnya agar tetap tenang jika Yani keluar dari dalam rumah. Wanita berdaster yang sebenarnya tampak biasa di mata Naina, tapi kenapa suaminya malah lebih memilih wanita itu, keluar dengan menatap Naina. "Ini, katanya pesen minuman?" ujar Naina, menyodorkan sebuah jar berisi jelly berwarna-warni, sagu mutiara dengan campuran s**u. "Hah? Katanya habis?" balas Yani. Naina menghela napas, berusaha tetap waras menghadapi Yani. Dulunya wanita itu tidak demikian, tapi entah kenapa hidup selama satu tahun di kota, banyak sekali perubahannya. "Kata Hendi kamu ngidam. Jadinya aku bawain satu," ujar Naina. "Oh, taroh aja di meja situ." Naina mendelik mendengarnya. Apa susahnya menerima dari tangannya? "Kenapa nggak mau nerima? Aku nggak mau masuk," sahut Naina mulai kesal. "Kalo mau jadi kurir ya pelayanannya harus bagus. Cuma suruh naroh di meja aja nggak mau, gimana kasih pelayanan yang baik? Kalo ada produk ini di aplikasi belanja online, udah aku kasih bintang 1 buat kurirnya!" maki Yani. Kesabaran Naina habis sudah. Dia sudah rela berbesar hati mendatangi rumah Hendi hanya untuk memberikan pesanan Yani, tapi apa sikapnya? "Mau dibeli nggak?" tanya Naina. "Udah dibayar sama Mas Hendi kan? Ya udah taroh aja di meja!" sahut Yani. "Heh, Mas Hendimu yang pelit itu belum bayar tauk! Kamu yang suruh bayar sendiri tadi! Mana dia traktir teman-temannya. Dia beli tujuh jar minuman ini, lalu dia bagi ke teman-temannya! Tapi punyamu, nggak dia bayar!" Persetan, meski Hendi sudah mewanti-wanti agar dia tidak memberitahu Yani, tapi Naina tidak perduli lagi. Yani yang membuat kesabarannya menipis. Naina tidak takut kehilangan pelanggan seperti Yani. "Bohong! Kamu pasti udah dibayar sama Mas Hendi!" tukas Yani, mulai gusar. "Kamu punya HP kan? Hubungi aja suami kamu itu, tanya!" sahut Naina sewot. Dia masih menahan satu jar minuman yang ada di tangannya. Menunggu saat Yani nengambil ponsel, lalu menghubungi Hendi di depan Naina. Naina berani saja menunggu karena memang dia benar. Yani melakukan video call dengan Hendi. "Mas, ini minuman udah dibayar, kan?" tanya Yani. "B-belum, Dek. Kamu bayar sendiri, ya? Gimana mau bayarnya? Kan nggak ketemu sendiri sama kakak sepupumu yang kumal itu." Hati Naina makin jengkel dengan perkataan Hendi. Ternyata di belakangnya, Hendi mengatai macam-macam. Mentang-mentang Yani sekarang berpenampilan modis, berbeda jauh dengan saat dia datang pertama kali. "Apa, Bang? Tadi kamu nggak ketemu aku? Mau aku tontonin CCTV kantor kalo kamu pesen minuman tujuh jar buat teman-teman kamu?" tanya Naina, mendekati Yani agar bisa melihat wajah menyebalkan Hendi. "Bener gitu, Mas??" tanya Yani kesal. "I-iya, maaf, Dek. Aku kan beliin semua teman karena biar Naina mau nganterin ke rumah. Biar kamu seneng, Dek. B-bayar sendiri dulu, ya? Nanti aku ganti di rumah," bujuk Hendi. Naina menyeringai saat Yani menatapnya dengan pandangan kesal ketika terbukti bahwa Hendi memang mentraktir teman-temannya dan tidak membayarkan minuman istrinya. "Bentar, aku ambilin duit." Naina mendengkus, meremehkan Yani. Ini saatnya memperlihatkan harga diri. Apa yang dilakukan Yani, mematahkan prinsipnya tadi soal asal dapat cuan. "Nggak usah, masih ada yang mau membeli minuman ini dengan sopan dan baik. Aku nggak sudi lagi nganterin minuman buat kamu beli." Yani tampak terbelalak mendengarnya. Sungguh, dia sebenarnya ngidam sekali, tapi Naina sepertinya sudah sangat kesal dan hanya bisa membiarkan Naina membawa kresek berisi minuman itu ke sepeda motornya. "Heh, nggak bisa gitu! Aku udah order! Kamu bisa aku viralkan!" teriak Yani. "Aku punya video kamu sama aki-aki, itu bisa lebih viral ketimbang kejadian ini," ledek Naina. "Ish! Menyebalkan!" gerutu Yani, menggeram karena tidak bisa memastikan ponsel Naina benar-benar rusak waktu itu atau tidak. Dengan cuek, Naina meninggalkan rumah itu. Puas rasanya bisa membuat Yani kesal. "Sialan, kenapa waktu itu nggak aku buang saja ponselnya. Ih, kenapa aku nggak mikir dia pake ponsel siapa buat posting video promonya itu," gumam Yani. Naina tertawa bahagia di sepanjang jalan. Baru kali ini ada seorang penjual senang sekali produknya tidak jadi dibeli. Rasanya harga dirinya lebih utama, meski sebelumnya dia harus merendah demi cuan. "Udahlah, empat belas jar itu sudah ada labanya. Eh, astaga. Udah jam berapa ini?" keluh Naina saat melihat waktu di jam tangan. Jantung berdetak kencang karena kaget menyadari bahwa ada janji untuk mendatangi rumah Brian, menemani Ellen belajar. Naina memacu kuda besi milik Nimas setelah mengisi bensin sebagai tanda terima kasih karena mendapat keuntungan dan kemudahan dalam usahanya. "Kenapa, Nai?" Nimas kaget melihat Naina bergegas mandi dan berganti baju keluar dari kamar. "Aku harus ngelesi sekarang. Maaf, Mas. Ini kunci motornya. Udah, nanti aku naik angkot aja." "Tapi, Nai–" "Maaf, aku buru-buru, Mas!" teriak Naina usai meletakkan kunci motor di meja sebelah pintu kamar Nimas. Nimas yang beranjak tak lagi melihat bayangan Naina. Padahal, andai Naina meminjam lagi sepeda motornya, dia tidak masalah. "Ya ampun, Nai. Perjuangan bener. Semoga sukses aja menggapai keinginan kamu." Nimas menggelengkan kepala melihat kepergian Naina. *** Naina menatap kartu di tangannya. Dia tahu tempat lokasi rumah Brian. Naina sudah menyangka dia akan memberi tambahan les untuk anak orang kaya. Dia tidak tahu apa pekerjaan Brian, tapi dia yakin Brian adalah orang kaya karena tinggal di kawasan yang cukup elite. Benar saja. Sekarang dia mendatangi satpam di depan perumahan elite tersebut. Setelah bertanya, satpam itu mengantarkan Naina ke rumah Brian. "Mari, silakan masuk." Seorang pembantu rumah tangga berusia paruh baya membukakan gerbang rumah. Dia sangat ramah mempersilakan Naina masuk ke dalam. Dari depan, rumah itu mewah menurut takaran Naina. Dia sedikit sungkan, tapi demi Ellen dia mau masuk juga. "Ditunggu dulu di sini, Bu. Ellen baru mandi," ujar Bik Marni mempersilakan Naina untuk duduk di ruang tamu. "Baik, Bu," sahut Naina, duduk di ruang tamu. Sofa empuk menyambut bobotnya. Sungguh, rumah itu seperti yang ada di sinetron-sinetron. Baru saja Naina mengagumi rumah Brian, Bik Marni datang membawakan minuman dan cemilan. "Silakan diminum," tuturnya. "Nggak usah repot-repot, Bu." Bik Marni tersenyum. "Nggak repot. Saya siapin Ellen dulu ya, Bu? Dia masih harus dibantu ganti pakaian," ujar Marni memohon diri untuk mengurusi Ellen di kamar atas. Naina mengangguk tersenyum. Dia membawa sebuah kresek berisi minuman yang nantinya akan dia berikan pada Ellen. Dari pada dia jual pada Yani, mendingan dia berikan pada anak les perdananya. "Gimana metode pembelajaran Anda? Sudah disiapkan?" Suara seorang pria menggelegar di telinga Naina. Ini kali kedua pria itu mengagetkan Naina. Sekarang, dia nyaris tersedak karena baru meneguk teh yang dibuatkan oleh Marni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD