Bab 5. Tidak Lebih Baik

1185 Words
Kedua mata Yani menyipit kesal saat membaca balasan dari sepupunya. "Sold out? Dalam waktu lima menit? Nggak mungkin!" gerutunya dalam hati. Yani bergegas menghubungi Hendi. Ketika melihat postingan Naina, dia tidak mengerti kenapa ingin sekali mencicipi minuman segar itu. Dina bekerja di perusahaan entertainment dan dia bisa membuat video menarik untuk minuman yang dibuat oleh Naina. Beruntung sekali, Dina menawarkan diri membuat video dengan durasi singkat dan gratis untuk Naina. Ya, salah satu orang yang tertarik melihatnya adalah Yani. Wanita itu mengelus perutnya yang masih rata. "Mas Hendi, itu Mbak Naina bikin minuman dan diposting buat jualan. Tapi pas aku hubungi, kenapa dia nggak mau produknya aku beli? Mas, jabang bayi ini kepengen minum itu, Mas. Please, beliin buat aku dan bayi kamu ini," rengek Yani saat Hendi telah mengangkat panggilannya. "Tapi aku lagi kerja, Sayang." Sahutan Hendi membuat bibir Yani mengerucut. Wanita bernama Suryani itu, sangat kesal karena Hendi lebih mementingkan pekerjaannya. "Mas, nggak bisakah kamu sebentar meluangkan waktu? Kasihan ini si jabang bayi kalo harus nahan maunya. Nanti bisa-bisa ngecesan kalo lahir, Mas!" desak Yani, seraya mengelus perutnya lagi. Jangan ditanya, mereka sudah menikah siri sejak satu bulan lalu, sebelum hakim mengetuk palu atas perceraian Hendi dan Naina. Tadi pagi Yani menunjukkan dua garis merah di alat pengecek kehamilan yang dia pakai kepada Hendi. Terdengar Hendi meminta bantuan pada temannya atas pekerjaan yang tertunda. Lalu, dia menyahut Yani. "Iya, Sayang. Nggak maulah punya anak ngecesan. Sebentar, kamu tenang aja. Aku bujuk si Naina buat bikin lagi khusus untuk kamu. Masa buat sepupunya aja nggak bisa?" ujar Hendi. Senyum di wajah Yani terbit mendengar ucapan Hendi. "Mas Hendi bisa aja bikin aku seneng? Gitu dong, kalo wanita hamil itu harus bahagia, Mas. Biar nanti dedek bayinya lahir sehat dan pintar," balas Yani. "Iya, iya, apa sih yang nggak buat kamu? Tunggu bentar ya, Sayang. Aku pastikan nanti Naina antar minuman buatannya ke rumah." "Oke, Mas. Makasih banget. Buruan ya?" pinta Yani di akhir pembicaraan. Hendi mendesah. Dia harus menghubungi Naina lagi, untuk merayu agar mau mengantarkan minuman yang dijualnya pada Yani. "Apa dia mau, ya?" gumam Hendi. Hendi penasaran. Sebelum dia menghubungi Naina, dia mencari postingan mantan istrinya itu. Memang, video yang dibuat oleh Dina bukan kaleng-kaleng meski hanya beberapa detik. Minuman itu memang tampak menyegarkan. Apalagi, modelnya Maya dengan mimik sempurna sedang mencicipi segarnya minuman produk Naina. Ala-ala mukbang, dia mampu membuat pemirsa postingan merasa kehausan. Hendi meneguk ludahnya melihat video itu sampai dia ulang-ulang. "Lihat apa sih, Hen?" tanya Roy, rekan kerjanya di pabrik tekstil. "Ini, mantan istriku tuh buat minuman. Dia jual, kayaknya enak. Seger gitu pas panas-panas gini," sahut Hendi, memperlihatkan video yang diupload Naina di status media sosialnya. "Mau minumannya apa mau orangnya? Kamu haus minuman apa haus kasih sayang? Heh?" tanya Roy. "Enak aja kamu. Aku udah nikah lagi, jadi nggak kenal haus kasih sayang tuh. Nggak kayak kamu, jomlo. Kamu tuh yang sebenernya haus kasih sayang!" tukas Hendi. Roy mencibir, lalu merebut ponsel Hendi yang memutar video Naina terus menerus. Dia tertarik melihat minuman itu. "Kamu mau order, Hen? Aku nyoba satu ya sekalian? Suruh anterin ke sini yang buko pandan. Pake ongkir juga oke," pinta Roy, seraya menyerahkan balik ponsel Hendi. "Oh, siap." Hendi berpikir sejenak, lalu mendapatkan ide. Dia pun menyingkir sebentar dari pekerjaannya dan menghubungi Naina. "Roy, pinjem HP kamu." *** Naina menatap senang ke show case. Dari lima belas jar, sudah tujuh yang terjual dalam waktu lima belas menitan. Itu karena tadi Maya membawa lima jar untuk dia tawarkan ke kost sebelah, tempat kost teman-teman sekampusnya. Beberapa menit kemudian, kelimanya laku terjual habis. Lalu, tiga jar dibawa oleh Rina ke klinik tempatnya bekerja menjadi admisi di bagian pendaftaran. Dia bilang juga sudah dibeli oleh dokter tiga-tiganya. "Yuk, laris-laris," ujarnya menepuk show case. Satu jar dia jual dua puluh ribu dan teman-teman kostnya tidak mengambil untung. Dengan harga segitu, cukup murah untuk ukuran 400ml jar. Baru saja dia selesai menepuk show case, ponselnya berbunyi. Naina mengerutkan dahi melihat nomor tidak dikenal yang menghunginya. Dia mengangkat panggilan itu. "Halo?" "Nai, aku mau order satu minuman kamu buat Yani. Kenapa kamu nolak? Kan kamu bisa bikinin satu aja. Dia lagi hamil dan ngidam minuman kamu." Baru saja dia mengenali suara menyebalkan itu. Mantan suaminya! Tunggu. Hamil? Yani hamil? Naina menarik napas dalam-dalam. Hatinya tidak terima mendengar itu. Baru kemarin dia menerima ketok palu hakim, sekarang dia sudah mendengar kabar bahwa Yani hamil. "Hamil dengan siapa?" tanya Naina spontan. "Kok dengan siapa, ya dengan akulah. Aku udah nikah sama dia bulan lalu. Jadi, wajar kalo dia hamil sama aku." Naina tersenyum kecut. Namun, ada rasa menyayat dalam hatinya mendengar itu. Betapa mudah Hendi memberikan berita kehamilan Yani padanya setelah pengkhianatan yang meluluh lantakkan hatinya. Bayangan tentang Yani yang kemarin dia pergoki dengan pria lain membuatnya mencibir. Namun, Naina tidak akan memberitahu Hendi. Itu bukan urusannya lagi. "Aku nggak mau, Mas. Minumannya udah habis," sahut Naina. "Kamu nggak bisa bikin lagi? Ini aku pake nomor temen. Dia mau pesen. Kalo mau mau bikinin buat Yani, aku kasih tau temen-temenku di sini. Mereka pasti mau beli," bujuk Hendi. Hanya untuk sebuah jar minuman yang diminta Yani, Hendi rela membantu menawarkan minuman buatan mantan istrinya pada teman-temannya. Naina mengerutkan dahi. Dia menyeringai berpikir tentang keuntungan. Tidak perduli lagi siapa yang membelinya, asal produknya habis terjual. "Asal ada tujuh orang yang beli, aku mau anterin semuanya. Satu ke Yani, tujuh ke temen-temen kamu," tantang Naina. "T-tujuh?" ulang Hendi, menghitung teman-temannya yang berjumlah lima di ruang administrasi. "Dua siapa lagi?" gumam Hendi. Terpaksa, dia merogoh koceknya untuk membeli dua jar lagi. Nanti gampang dikasihin ke satpam. "Oke," sahut Hendi. Naina menyeringai penuh kemenangan. Dia menyanggupi permintaan Hendi dan segera mengemas orderan. Dia meminjam lagi sepeda motor Nimas yang sedang mengetik tugas di kamarnya. "Sebentar kok, Mas." "Iya, pake aja, Nai. Udah kubilang dua hari ini aku daring kuliahnya. Kamu bisa pake itu motor nganggur," sahut Nimas yang tahu sifat Naina yang tidak enakan. "Makasih sebelumnya, Mas." Nimas tidak tahu ke mana perginya Naina. Setahunya, Naina hanya mengantar pesanan, tapi tidak tahu kalau pesanan itu untuk Hendi dan Yani. Naina melajukan sepeda motor, membawa delapan jar minuman di dalam kotak. Hendi menunggunya di depan kantor dan menerima tujuh jar itu. "Berapa semua?" tanya Hendi menatap wajah kasihan Naina. "Delapan jar jadi seratus enam puluh ribu," sahut Naina, tidak perduli dengan pandangan Hendi. "Tujuh ya? Yang satu nanti kamu minta ke Yani uangnya. Kan, kamu mau anterin ke sana? Satu lagi, jangan bilang kalo kamu habis ke sini, Nai." Naina mencebik. Apa susahnya membayarkan satu jar untuk istri sendiri? Namun, dia tidak mau memperpanjang masalah. Menemui Hendi saja dia sebenarnya malas, hanya karena berjuang pecah telor menghabiskan dagangan, dia memecahkan rasa malas itu. "Oke. Makasih." Naina menerima uang pas dari Hendi, lalu berbalik ke motor yang dia parkir tanpa berpamitan pada Hendi. "Biasanya wanita itu habis pisah sama suaminya kelihatan lebih baik, tapi nggak juga kalo kamu, Nai." Naina yang sudah memunggungi Hendi, menghentikan langkahnya mendengar suara itu. Dia lalu menatap ke depan, menggelengkan kepala dan tersenyum masam. Naina lebih memilih melanjutkan langkah lagi, melupakan sakit yang lagi-lagi ditorehkan oleh Hendi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD