"Jadi, gimana? Kamu nggak mau nyingkirin sepeda motor kamu itu buat kasih jalan saya?"
Suara datar yang mulai membuat Naina panas karena emosi. Seharusnya dialah yang marah karena diburu-buru jalan pas lampu hijau nyaris menyala, tapi seolah pria itulah si pemilik jalan.
"Minta maaf dulu," tukas Naina.
Terdengar gelak tawa dari dalam mobil. Naina melirik sebal pada pria yang terbahak seolah tidak ada beban di kepalanya.
Para pengendara kendaraan lain banyak yang membunyikan klakson dan melewati mereka dengan memaki kesal. Namun, keduanya tidak perduli. Untungnya, bukan jalan raya yang dilalui banyak kendaraan, jadi sekarang tinggal mereka berdua di lampu merah.
"Sekarang Anda bisa tertawa, tapi ingat tadi lampu masih merah dan countdown timer masih di angka satu dan dengan konyolnya Anda membunyikan klakson! Bukankah itu sangat tidak sopan sekali?" beber Naina, melipat kedua tangannya.
Terik mentari tidak lagi dia hiraukan, yang penting sekarang dia harus memberi pelajaran lelaki songong itu.
"Sopan? Hey, ini jalan raya, bukan arena kerja. Jadi kesopanan nggak diperlukan. Udah, sekarang singkirin sepeda motor kamu itu dari depan mobil saya. Saya lagi dikejar waktu!" geram Brian.
Naina mendengkus. Sungguh pria arogan itu tidak mau meminta maaf padanya sama sekali. Dia melirik ke lampu hijau yang sudah mulai akan bergulir ke merah. .
"Oke, Anda nggak lihat saya sedang kesulitan membawa barang itu dan Anda asal dan-din dan-din aja! Baik, silakan Anda menikmati waktu Anda di jalan," ujarnya, menaiki sepeda motor lalu menunggu saat lampu bergulir ke kuning dan menancap gas ketika lampu kuning sudah habis.
Brian mendengkus kesal melihat dirinya tidak bisa mengejar lampu hijau.
"Sial banget. Siapa tadi namanya? Narnia? Huh, kurang asem!" gerutunya memukul kemudi, lalu matanya menangkap sosok kecil Naina di kejauhan sedang mengangkat tangannya, seolah menjadi pemenang di sebuah sirkuit.
"Awas kamu, Narnia," omel Brian.
Naina tertawa melihat mobil Brian terjebak di lampu merah lagi, padahal itu adalah lampu merah terlama di kota. Dia melaju pulang ke kost untuk segera membuat rencana.
"Ya ampun, kamu bawa show case ini sendirian, Nai?" sambut Nimas takjub melihat Naina bisa membawa pulang sebuah kotak pajangan minuman sendirian.
"Bisa, yakin aja. Cita-citaku kan jadi power rangers merah," gelak Naina.
"Iyalah, kita kan geng power rangers dulu, Nai. Sini, aku bantuin. Kamu buka itu talinya," ujar Nimas memegangi show case berwarna merah di atas sepeda motornya dan berpikir heran sekali bagaimana Naina bisa mengangkat benda seberat itu lalu mengikatnya dengan kencang sampai membawanya ke kost-an.
"Yuk, bantu angkat ini," pinta Naina setelah berhasil membuka tali tambang yang mengikat show case itu.
Kedua perempuan itu membawanya ke ruang tengah, di mana mereka biasa menerima tamu.
"Nah, taruh sini aja, Nai. Kali-kali pas ada tamu pada tertarik buat beli," tutur Nimas.
"Iya, bener, Mas. Nih kunci motornya, makasih banyak ya? Aku mau mulai bikin minuman. Kamu nyelesein tugas aja," ujar Naina menyerahkan kunci motor ke tangan Nimas.
"Semoga sukses ya Nai."
Naina mengangguk semangat, lalu berjalan ke dapur. Dia baru membuat trial sebuah minuman dengan buah dan s**u evaporasi. Naina membuat lima jar yang akan dia bagikan gratis pada penghuni kost. Sekalian melihat respon mereka.
"Seger, ini pake apa nih creamy kayak gini?" tanya salah satu penghuni kost, Rina.
Naina melakukan ini juga karena dia ingin berkenalan baik dengan para penghuni kost. Ada tiga perempuan selain mereka di kost-kostan itu. Rina, Maya dan Dina.
Mereka bertiga mencicipi minuman bikinan Naina dan semua menyukainya. Padahal, Naina ikut resep di buku yang pernah dia beli, tapi belum pernah dia praktekkan sama sekali.
"Rahasia lah, nanti kamu saingan lagi sama Naina. Ini mau dijual, kan? Aku bantu promosi Nai," serobot Maya.
"Hooh, aku juga bawa temen-temenku beli kalo udah dipajang di depan situ," tukas Dina.
"Syukurlah," ucap Naina senang.
Setelah bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan, sekarang dia dikelilingi oleh orang-orang baik seperti teman-teman kost barunya. Mereka berlima menikmati minuman buatan Naina seraya membicarakan banyak hal sampai malam.
***
Keesokan harinya, Ellen bangun dan bersiap untuk ke sekolah seperti biasanya. Dengan dikepang dua seperti yang biasa dilakukan oleh pembantu rumah tangganya, yaitu Bik Marni, dia duduk manis di ruang makan. Ellen menunggu ayahnya masuk ke ruang makan.
"Wah, udah siap ya anak papa?" sapa Brian, mencium kening Ellen yang berbau bedak bayi.
"Siap banget, Papa!" sahut gadis kecil berlesung pipi itu dengan semangat.
"Nah, gitu dong setiap hari. Jadi kan papa juga seneng. Makan sendiri ya?" ujar Brian, menyendokkan nasi ke piring Ellen, dengan menyertakan udang goreng tepung buatan Bik Marni.
"Iya, kan udah besar," sahut Ellen.
"Papa, tante Ina itu cantik ya? Mama Ellen kayak dia nggak kira-kira?" celetuk Ellen, membuat Brian yang sedang meminum kopinya tersedak.
Brian meraih tissue lalu mengelap bibirnya yang basah karena memuncratkan sedikit kopi karena celetukan Ellen. Masih terbayang rasa kesal ketika dia harua terjebak di lampu merah karena ulah Naina.
"Semua wanita cantik menurut porsinya masing-masing, Ellen. Udah, kamu makan aja. Nanti telat lho berangkatnya?" ujar Brian. Aslinya ngeles dengan pertanyaan Ellen.
"Iya, Papa. Nanti sore jadi, kan?" tanya Ellen.
"Soal apa?" tanya Brian pura-pura lupa.
"Lesnya sama tante Ina, masa Papa lupa? Kayaknya tante Ina itu baik dan sabar deh, Pa."
Brian mencebik mendengar pujian itu.
Sabar? Baik?
Kalo iya, pasti dia tidak turun dari sepeda motor dan mengetuk kaca pintu mobilnya hanya untuk protes tentang klakson kemudian memintanya untuk memohon maaf.
"Iya kan? Tante Ina itu–"
"Jangan pernah menilai seseorang yang baru pertama kamu temui, Ellen Sayang. Besok pas si Narnia itu datang, papa akan minta Bik Marni buat mengawasi. Kita belum mengenalnya dengan baik, oke?" tegas Brian menatap tajam pada anaknya yang seolah tergila-gila pada manusia bernama Naina itu.
"Narnia?" ulang Ellen mengerutkan dahi.
"Iya, nanti yang mau ngajarin kamu."
"Tapi namanya–"
"Ini jam berapa, Ellen? Kamu mau berdiri di depan kelas karena telat?" tanya Brian menyendokkan nasi terakhir Ellen dan menyuapi gadis kecilnya.
Ellen patuh. Dia tidak lagi memprotes ayahnya. Setelah minum s**u, dia turun dari kursi makan, lalu mengalungkan tas ransel yang berisi buku-buku pelajaran hari itu.
Sementara itu, Naina membuat lima belas jar minuman dan meletakkannya di show case lalu membuat iklan di statusnya. Baru selesai mengupload foto minuman, dia melihat status mantan suaminya.
"Cincin pernikahan?" gumam Naina.
Dia tersenyum miris melihat status suaminya. Bahkan, cincin itu lebih besar dari miliknya dulu yang diberikan ketika menikah.
"Betapa mahal harga seorang w************n itu bagimu, Hendi. Baru saja bercerai, laki-laki itu udah ngebet kawin."
Suara notifikasi ponsel mengagetkan Naina. Seharusnya dia senang karena mendapatkan pesanan setelah beberapa menit memposting jualannya, tapi wajahnya malah kecewa.