"Papa, aku mau siapin ruangan khusus buat belajar," celetuk Ellen yang sudah turun dari gendongan Brian.
"Eh, tung–"
Belum sempat berbicara, Ellen sudah jauh berlari ke ruang belajar yang telah lama tidak dipakai itu. Brian kaget sekali melihat betapa rajin putri kesayangannya membersihkan menggunakan vacuum cleaner yang tentu saja berat. Dia sedikit tersenyum saat melihat Ellen menolak dibantu oleh bibik pembantu rumah tangga mereka.
"Gimana ceritanya dia bisa serajin itu? Biasanya juga cuma males-malesan," desis Brian heran.
"Ellen rajin amat ya, anak papa," puji Brian dari kejauhan.
Ellen menyeka keringatnya sebentar karena sibuk dengan kegiatannya. Lalu, menoleh ke arah ayahnya.
"Iyalah, kata Papa kan Ellen anak perempuan, jadi harus rajin. Rajin bersih-bersih juga rajin belajar. Malu kalo besok tante Naina datang ke sini, tapi ruang belajarnya berantakan," sahut Ellen memberi alasan.
Brian mengerutkan dahi mendengar ucapan Ellen.
"Jadi karena wanita lulusan SMU tadi, bikin dia serajin itu? Heran, dikasih jampi-jampi apa itu anak?" gumam Brian kembali melihat Ellen melanjutkan kegiatan.
"Ellen, apa tadi tante itu sempet niup ubun-ubun kamu, Nak?" tanya Brian asal.
Ellen melotot mendengar pertanyaan itu, tidak paham juga.
"Buat apa, Papa? Nggak tuh? Masa niup-niup kayak lagi ulang tahun aja?" tukas Ellen menautkan kedua alisnya dan menggelengkan kepala.
Brian meringis mendengar sahutan Ellen. Dia lalu mengangkat bahu dan mencebik, melanjutkan kegiatannya sendiri.
Baru beberapa menit kemudian, dia mendengar Ellen bernyanyi riang. Brian membiarkan anaknya yang biasanya pendiam, tapi sekarang mau melantunkan lagu dari mulutnya. Dia hanya kembali menggelengkan kepala.
***
Di sebuah kamar kost, Naina membersihkan kamar baru dan merapikan sprei tempat tidur dibantu oleh Nimas, teman sekolahnya dulu. Kedua tangan mereka bekerja sambil bercerita. Nimas sangat terkejut sekaligus kesal mendengar bahwa Hendi ketahuan berselingkuh dengan Yani, sepupu Naina sendiri.
"Nggak tau diri banget itu bocah! Padahal dia makan juga ikut kalian, kan? Selama dia pergi, yang katanya kerja itu, dia juga belum pernah belikan kalian makanan sedikit pun, kan? Dasar, bocah nggak ada akhlak!" gerutu Nimas kesal dan gemas dengan kelakuan Yani.
"Tapi Mas Hendi suka sama dia. Buktinya, dia milih Yani ketimbang aku. Ya kalo usia, memang lebih muda dia. Tambah lagi, Mas Hendi bilang kalo dia lebih unggul soal urusan ranjang, juga pendidikan–"
"Loh, loh, dia kan yang nyuruh kamu jadi ibu rumah tangga?" potong Nimas heran.
"Iya, makanya itu. Aku jadi ngerti kalo cinta dan nafsu bisa mengubah pemikiran orang. Ck, andai aku dulu keras kepala milih nerusin pendidikanku, pasti aku udah kerja di sekolahan," desah Naina, mulai berandai-andai, buah dari penyesalannya.
"Iya, penyesalan pasti di akhir," cicit Nimas.
Mereka saling berpandangan.
"Kalo di depan namanya pendaftaran!"
Mereka tergelak sebentar, tapi tak mampu mengurangi rasa sedih Naina dan rasa sebal Nimas.
"Ah, udahlah! Semua udah berlalu. Aku malah bersyukur karena Tuhan kasih lihat aku orang-orang yang nggak patut dikasih kebaikan. Ya kan, Mas?" tanya Naina.
Nimas hanya mencebik tanpa menyahut. Dia juga tak kalah kesal dengan perlakuan Hendi pada Naina.
"Terus, rencana kamu ke depannya gimana?" tanya Nimas.
"Aku mau jualan online aja. Terus ada satu lagi, semoga aku bisa kasih les anak-anak sekolah biar ilmu yang kudapat waktu sekolah dulu bisa terasah. Impianku kuliah, Mas. Semoga aku bisa. Doain aku ya?" pinta Naina.
Nimas menganggukkan kepala mendengar rencana baik Naina itu.
"Tentu, Nai. Aku bakal doain kamu. Kamu sendiri juga ya? Doa orang teraniaya bakalan cepet terkabul," ujar Nimas masih geram dengan Hendi.
"Iya, aku akan selalu berdoa, Mas. Eh, by the way, nanti kamu mau pergi nggak, Mas?" tanya Naina, ingat rencananya.
"Mm, nggak sih. Aku mau ngerjain tugas di kost aja, Nai. Gimana? Kamu perlu apa?"
Naina meringis lalu mengajak Nimas duduk di tepi tempat tidurnya yang telah rapi.
"Gini, aku mau pinjam motor kamu, buat beli bahan makanan buat besok aku jualin. Kapan lagi aku mulai jualan online, Mas? Dimulai dari masak aja dulu. Cuaca panas gini, aku mau bikin yang seger-seger buat dijual."
Nimas tersenyum senang mendengarnya. Ada semangat Naina dalam hidupnya. Semula dia takut sahabatnya itu bakalan insecure dan larut dalam kesedihan. Namun, baru saja menggenggam surat keputusan perceraian, rasanya semangat Naina berkobar-kobar.
"Boleh banget. Bentar ya, aku ambilin kunci motornya di kamar aku," sahut Nimas.
"Makasih banget ya Nimas ... kamu baek banget. Lemah teles, yo?" ucap Naina.
"Hah?" sahut Nimas melongo.
"Gusti Allah yang bales," ujar Naina memperjelas ucapannya.
"Oh, aamiin. Kamu pake aja sesuka kamu, hari ini aku nggak pake motor. Tapi aku minta maaf nggak bisa nganterin Nai, banyak tugas yang harus dikumpulin besok," keluh Nimas memperlihatkan wajah menyesalnya.
"Iya, nggak apa-apa, Mas. Aku boleh pinjem motor kamu, itu udah nolongin aku banget," ucap Naina.
"Pake aja," kata Nimas lagi.
Sore itu, Naina bersiap untuk belanja ke toko bahan kue dan membeli sebuah show case untuk menyimpan hasil buatannya nanti. Dia ingin membuat minuman segar yang dia kemas dalam bentuk jar. Uang tabungannya selama bersuamikan Hendi, nekat dia pakai untuk modal usaha. Setelah bercerai, Hendi tidak memberinya apapun.
"Semoga usahaku lancar. Setidaknya bisa untuk membayar biaya kost, makan dan sedikit tabungan untuk kuliah nanti," harap Naina saat bersiap menyalakan mesin sepeda motor milik Nimas.
Dia pun menarik gas dan menuju ke toko bahan kue. Dalam waktu lima belas menit, dia sampai ke toko bahan kue dan memilih bahan-bahan yang dia butuhkan. Setelah itu, dia pergi ke barkas, tempat yang menjual barang bekas. Mencari sebuah show case untuk menyimpan hasil minuman yang akan dia jual nanti.
"Satu juta, Mbak."
Wajah Naina kaget mendengar harga alat pendingin itu.
"Pak, boleh kurang ya?" pinta Naina.
"Ya ... buat Mbak, sembilan ratus lima puluh deh," sahut penjualnya.
Dengan penawaran yang lama dan alot, juga sempat pusing karena panas hari itu, Naina akhirnya mendapat harga yang sesuai dengan budgetnya.
"Lumayan, tujuh ratus ribu. Aku bisa hemat, tapi ... gimana ini bawanya?" gumam Naina.
Dia harus berpikir membawa sebuah show case berukuran satu pintu itu dengan sepeda motor Nimas.
"Bisa," ujarnya sendiri menyemangati dan yakin jika dia bisa membawa benda itu dengan usahanya sendiri. Modal nekat semua karena minimnya uang di dompet.
Naina membeli sebuah tali tambang untuk mengikat kotak pendingin itu ke motornya dengan kencang. Dirasa sudah cukup, Naina pun membawa barangnya menggunakan motor Nimas.
"Semoga lelahmu jadi lillah, Mbak," harap seorang ibu di sebelahnya.
"Aamiin, Bu. Makasih."
Naina tersenyum, lalu menarik gas motor dan berlalu dari tempat penjualan barang bekas. Dia senang sekali karena mendapatkan barang yang cukup bagus dengan harga miring. Lumayan sekali untuk modal usahanya.
Inginnya lancar di jalan, tapi lampu merah menghentikan motor Naina. Dia berada di depan sendiri. Di belakangnya ada sebuah mobil hitam.
Naina melirik ke countdown timer lampu merah. Baru kurang satu detik, mobil di belakangnya membunyikan klakson. Naina kesal bukan main.
"Hih, dia itu nggak sabaran banget!" gerutu Naina, hendak menarik gas, tapi klakson mobil itu terlampau mengganggu telinganya. Naina menghela napas, menunda untuk menarik gas, malah turun dari sepeda motor dan menghampiri sopir mobil itu.
"Hey, Pak!" ujarnya, mengetuk kaca mobil.
"Jangan mentang-mentang ya di jalan! Baru aja kurang satu detik, udah dan-din dan-diiin! Apa kesabaran Anda setipis tissue dibelah sembilan belas?" tanya Naina kesal.
Kaca mobil turun dan betapa kaget Naina begitu mengetahui siapa yang ada di belakang kemudi. Tampaklah seorang pria yang tidak asing bagi Naina.
"Astaga, duda songong ini," gerutu Naina menepuk jidat.
"Kenapa aku bisa bertemu dengannya dua kali dalam sehari? Udah kayak minum obat!" gumamnya menggerutu, melipat tangan, mengalihkan pandangannya ke belakang.