Bab 15. Melengkapi Data

1208 Words
Astaga, ampuni aku Ya Tuhan, beri aku kesabaran berlipat ganda, jangan setipis tissue supaya aku tidak meledak karena sebuah kesongongan. Kuatkan aku menghadapi ciptaan-Mu yang unik bin ajaib ini. Naina menarik napas dalam-dalam. Dia menghembuskannya perlahan, lalu mencoba tersenyum semanis mungkin. Namun, tangannya meremas koran yang membungkus kemeja yang dia lipat serapi mungkin itu. "Baik, Pak Brian. Saya buang ke tempat pembuangan akhir, seakhir-akhirnya. Nanti pas waktu saya pulang." Naina memasukkan bungkusan koran itu ke dalam tasnya, masih dengan tersenyum meski hati dongkol tidak tertolong. "Saya mau interview," ucap Brian, tidak mengacuhkan tindakan Naina. Naina melongo mendengar ucapan Brian yang tidak dia kira itu. Hingga matanya membulat sempurna bagai mengatakan hah? Interview apa? Memangnya saya melamar pekerjaan? "Mumpung Ellen belum pulang, saya mau wawancara kamu soal isi data diri kamu ini. Siapa tau banyak yang belum diisi." Naina meneguk saliva mendengarnya. Kenapa Brian bisa menebak bahwa dia memang belum mengisi seluruh bagian data tadi? Sungguh aneh. Sekarang, dia menyesal kenapa datang ke rumah Brian dengan tergesa jika tahu Ellen ternyata belum pulang siang itu. Dengan mendengkus kecil, Naina mengikuti langkah Brian ke tangga, tergesa karena langkah Brian sangat cepat. "Kamu nggak pernah olahraga?" tanya Brian tiba-tiba. "Ng-nggak," sahut Naina terengah-engah mengikuti langkah Brian. "Saya tadi habis antar COD minuman ke beberapa tempat, jadi mohon maaf kalo napas kembang kempis gara-gara naik tangga doang, Pak." Brian menoleh dan melirik sebentar ke belakang, di mana Naina sedang menaiki tangga, lalu menatap kembali lembaran kertas yang diisi Naina. "Saya nggak mau tau kamu kembang kempis atau kenapa, cuma ini di data kamu nggak ada hobi. Malah dikosongi, makanya saya tanya kamu suka olahraga apa nggak." Keki! Kenapa aku jadi kayak kepedean gitu sih, bilang nggak pernah olahraga karena dikira dia perhatiin aku naik tangga ngos-ngosan. Ya Allah. Naina menggigit bibir, merutuki dirinya kenapa asal nyeletuk saja tanpa melihat Brian sedang membaca tulisannya. Sampai akhirnya di ruangan Brian kembali, di mana dia kemarin disidang karena minuman, sekarang dia harus melakukan interview di sana. "Silakan duduk," ucap Brian. Naina pun duduk di kursi, depan meja di mana Brian juga duduk di kursi putar seberangnya, sambil memutar kursi ke kanan dan kiri, baru duduk dia melanjutkan untuk membaca data Naina. "Kamu lulusan apa?" Naina mengerutkan dahi. Apa duda itu terkena virus pikun? Bukannya waktu awal bertemu, dia sudah menanyakannya? "Sudah saya bilang waktu itu. Saya lulusan SMU kan, Pak?" tanya Naina mencoba mengingatkan. Sepertinya dia merasa sudah menulis jenjang pendidikan terakhirnya. "Iya, tau. Maksud saya jurusan apa? Kan ada IPA, IPS, Bahasa. Terus ini kamu belum ngisi SMU mana. Banyak ini yang belum kamu isi. Cita-cita, hobi, impian kamu dan lain-lain. Apa kamu nggak bisa ngisi data dengan lengkap? Kamu kan ke sini mau jadi guru anak saya, terus misal anak didik kamu ngisi jawaban nggak lengkap, apa kamu kasih dia nilai? Nggak, kan?" cerocos Brian, menatap Naina kesal. "M-maaf, Pak. Tadi saya buru-buru ngisinya," sahut Naina beralasan. "Nih, isi dulu yang lengkap," titah Brian, meletakkan kertas pengisian data itu ke meja di depan Naina. Kenapa ini malah berasa kayak murid dimarahi sama gurunya? Naina menatap lembaran yang tadi sungguh membosankan itu. Mana sekarang dia harus berurusan lagi dengan kertas itu. Dia merogoh tas, lalu menarik sebuah pulpen dari dalam. Namun, tidak cuma pulpen saja yang keluar melainkan juga sesuatu terjatuh yang menarik perhatian Brian. "Apa itu?" tanya Brian, mendengar suara gedebuk buku kecil, tapi tebal, jatuh di lantainya. "Buku, Pak," sahut Naina. "Mana lihat, kok mencurigakan kamu bawa-bawa buku kayak yang suka nagih-nagih itu." Naina mencebik. Memangnya dia rentenir? Tangannya meraih buku kecil berwarna kuning yang tergeletak pasrah di lantai marmer berwarna putih dengan corak emas dan hitam itu. Benar-benar mewah untuk ukuran sebuah ruang kerja saja. "Ini, Pak." Naina menyerahkan buku itu, lalu kembali mengisi data yang masih kosong. Membiarkan Brian membolak-balik lembaran buku kecilnya. "Jadi kamu jualan minuman? Yang waktu itu? Sebotolnya 20 ribu? Murah amat, bahannya bukan premium, ya?" celoteh Brian. "Premium, Pak. Tapi, saya minimkan laba karena ingin menarik minat pelanggan dulu." Brian mengernyitkan dahi, sambil menunduk kedua matanya melirik Naina. "Terus, kamu naikkan harganya kalo banyak yang beli? Apa kamu kurangi isinya?" cecar Brian, membuat konsentrasi Naina buyar untuk mengisi data. Bisa-bisanya dia mengisi 'kurangi isi' di kolom hobi. "Saya naikkan harganya, tapi kalo pasar protes ya saya kurangi isinya," sahut Naina mengedarkan pandangan di atas meja demi mencari sebuah tip-ex. "Kalo produk itu berbahan premium ya harganya pasti mahal dan pasar tidak akan protes karena kualitas menunjang harga. Kamu aja yang kurang fighting mempromosikan. Kamu promosi di tempat yang harusnya tepat untuk minuman premium. Pasti ini bukan premium kali harganya cuma segitu," tegas Brian, meletakkan buku kecil itu kembali ke dekat Naina. Terserah apa kata Bapak lah, aku jadi nggak konsen ngisi data. Mana waktu berjalan katanya kemarin. "Premium, kalo Bapak mau lihat, saya akan bikin video pembuatannya besok." Hah, apa aku udah gila, buat apa coba? "Sebentar saya isi data dulu," imbuh Naina agar Brian diam. "Lagian, kamu ngelesi malah bawa buku tagihan minuman?" Rasanya Naina ingin berteriak di dalam sana. Mengeluarkan emosinya menghadapi pria yang mengesalkan sampai tingkat provinsi itu. Dia itu kalo jadi pimpinan pasti menyebalkan. "Itu kebawa, Pak," jawab Naina. Memang, tas itu selalu dibawa oleh Naina sampai buku catatan pengiriman dan jual beli minuman terbawa. Biasanya tidak masalah. Jika saja buku itu tidak jatuh. "Kamu cuma punya 1 tas?" tanya Brian lagi. Naina menghentikan tulisannya, lalu menatap ke arah Brian. Sepertinya kesabaran Naina sudah mulai terkikis cepat. "Pak, saya bukan seperti kaum wanita lainnya yang bisa gonta-ganti tas. Untuk hidup saja, setelah bercerai saya harus memutar otak bagaimana mendapatkan uang yang bisa memenuhi kebutuhan primer saya. Tas adalah kebutuhan sekunder, jadi saya belum bisa memikirkan untuk membeli banyak tas. Satu ini saya kira cukup," beber Naina, melirik ke tasnya yang memang mengenaskan. Rasanya lemas menyadari tas itu harusnya sudah dimuseumkan. "Sudah itu ngisi datanya?" tanya Brian menatap kertas di depan Naina. Pertanyaan itu agaknya membuat level marah Naina yang tadinya oranye, harus turun paksa menjadi hijau untuk menjawabnya. Orang ini dengar penjelasanku tadi nggak sih? "Sebentar, saya belum tanda tangan," sahut Naina menghela napas, mengambil kembali pulpennya dan terdengar suara ujung pulpen dan kertas beradu seperti menunjukkan kejengkelan. Kemudian Naina menyerahkan lembaran itu ke Brian. Pria itu menerimanya dan membaca lagi sambil menunjukkan mimik yang sungguh membuat Naina ingin beranjak saja dari situ. Bibir pria itu dicibirkan, dengan sesekali mengangkat kedua alisnya ketika meneliti data Naina. "Jadi hobi kamu kurang isi? Hahaha!" Tawa Brian menggelegar memekakkan telinga Naina, sampai Naina menutup telinganya. Dia bisa lupa dengan tip-ex yang hendak dicarinya tadi. "Gimana kamu nyuruh anak didik kamu buat konsentrasi kalo gurunya sendiri nggak bisa fokus?" tanya Brian. "Lagian, Bapak juga nanya-nanya aja. Mana bisa konsentrasi kalo mikir sambil ditanya-tanya gitu?" tukas Naina. Bobrok sudah benteng pertahanan sabarnya. "Harusnya bisa," sahut Brian enteng. Pria itu meletakkan begitu saja lembaran yang barusan dia baca ke meja lalu menjalin jemari dengan bersandar di kursi putar. "Itu, Ellen sudah pulang. Kamu nggak mau keluar dari ruangan saya?" Hiiih! Naina bergegas berdiri. Itulah yang dia harapkan sekarang sebenarnya. Dari tadi aku kepengen beranjak dari kursi ini, Pak! Keluar dari ruangan ini! Ruangan yang bagus, tapi merakit bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. "Permisi." Naina membungkuk pada Brian dan memutar badan dengan lega melangkah keluar dari ruang kerja Brian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD