"Mbak, aku mau minta garam, eh maaf—"
Seorang tetangga menjadi kikuk, karena biasa membuka pintu rumah Hendi jika ingin minta sesuatu pada Naina. Namun, sekarang malah melihat Yani dengan lelaki yang tidak dikenal. Berciuman lagi.
"Mbak Naina sekarang udah nggak di sini. Kamu nggak tau apa, kalo dia udah cerai sama Mas Hendi?" beber Yani yang buru-buru melepaskan pelukannya ke Kenang.
"Ya ampun, maaf baru tau. Lah, Mbak Yani ini–"
"Ini tadi benerin kerah teman saya. Katanya sobek tadi, jadi mau saya bantu jahit," kilah Yani, mencari alasan cepat di benaknya.
"Mm, maksud saya ... kok Mbak Yani masih tinggal di sini? Kan, Mbak Yani sepupunya Mbak Naina?" tanya Reni, tetangga Hendi itu.
"Oh, saya udah nikah siri sama mas Hendi. Maaf, saya ada urusan habis ini," ujar Yani, dengan nada mengusir Reni.
"Hah? Oh, maaf. Ya udah kalo gitu, saya permisi," pamit Reni dengan segudang tanya di benaknya.
Bagaimana bisa sepupu merebut suami Naina? Lalu, apa penglihatannya tadi benar kalau melihat Yani mencium tamunya.
Reni menghela napas, lalu tidak ambil pusing lagi dan berjalan kembali ke rumahnya untuk mematikan kompor dan mengambil uang untuk membeli garam.
"Sial, hampir aja ketahuan. Udah kayak maling aja orang itu. Gara-gara Naina yang selalu mengijinkan orang minta bahan makanan ke rumah, jadinya mereka bebas masuk aja. Huh, sialan," gumam Yani.
"Ah, di sini nggak nyaman. Aku mau pulang aja, Yan. Udah deh, cukup ciumannya. Aku mau balik kerja," tukas Kenang, memakai jaketnya lagi.
"Nggak apa-apa, Mas?" tanya Yani tidak enak.
"Nggak apa-apa, lagian kurang sepuluh menit lagi aku udah masuk kerja lagi."
Yani menghela napas. Dia tersenyum lega.
"Ya udah, maaf ya, Mas? Jangan kapok kalo aku mintai tolong. Suamiku itu, nggak bisa diandalkan!" sungut Yani.
Kenang menepuk dadanya, menatap mesra pada Yani.
"Tetep akang ini yang nomor satu, kan? Kamu sih, nggak mau aku nikahin. Malah maunya jadiin aku selingkuhan," ujar Kenang, mencolek hidung Yani yang memiliki tahi lalat itu.
Yani tersipu. Dalam hatinya dia menolak menjadi istri Kenang karena pria itu suka ganti-ganti cewek dan punya pacar lebih dari satu. Kesetiaannya nol besar, tapi cinta pertamanya.
Ah, bagaimana ya? Kalo jadi istrinya kan makan ati, tapi aku nggak bisa lupain dia. Jadi jalan satu-satunya ya cuma jadi pacarnya aja.
"Ya udah, Yan. Aku pamit dulu ya?"
"Iya, Mas."
Kenang pergi meninggalkan Yani. Wanita iti bergegas membuka kresek berisi dua jar berisi buko pandan. Dia langsung mencicipi segarnya minuman itu. Dengan rakus, karena saking enaknya, tanpa terasa dia habiskan dua jar itu dengan cepat.
"Ah, seger banget. Pas banget ini sama cuaca panas kayak gini, terus paa juga sama iklannya. Eh, aku ngomong apa sih? Kenapa muji-muji bikinan Naina?" gumam Yani menutup mulutnya.
***
Naina memasukkan laba penjualan minumannya untuk hari ketiga dia berjualan ke dalam kaleng. Dia berniat untuk giat menabung. Setelah menulis keuntungan dan modalnya di sebuah buku, Naina jadi ingat untuk mengisi lembaran pengisian data yang diberikan oleh Brian.
"Ah, ada-ada aja sih pak duda itu? Kayak pegawai aja suruh ngisi data? Nggak sekalian bikin curriculum vitae?" gumam Naina.
Meski merasa heran, tapi dia mengisi juga lembaran itu. Siapa tau, Ellen cocok belajar dengannya walau Naina tidak nyaman dengan bapaknya.
"Demi cuan, apapun aku lakukan asalkan halal dan berjalan di jalan yang benar," gumam Naina, seraya mengisi lembaran itu.
"Nama, alamat, nomor HP, pengalaman kerja ... dia ini mau mengolokku apa gimana sih? Udah tau aku nggak ada pengalaman?" gerutunya.
Naina melanjutkan pengisian itu.
"Hobby? TTL? Pendidikan terakhir? Ish, kosongin aja kenapa?"
Naina mempersingkat waktu mengisi data itu tanpa harus berpikir banyak. Dia memasukkan lagi lembaran kertas yang sudah dia isi kembali ke dalam map transparan.
Hari itu Hari Rabu dan Naina bersiap lagi untuk pergi ke rumah Ellen. Dia sengaja agak awal datang agar tidak pulang petang seperti kemarin. Hanya, kemarin itu gara-gara dia bawa minuman, jadi harus disidang ringan oleh pak duda.
Naina memakai kemeja berwarna pink muda dipadu dengan celana jeans dan mengikat rambutnya ekor kuda. Cukup dengam bedak murah dan lipbalm saja yang menghias wajahnya. Tidak neko-neko. Tidak ada yang menyangka perempuan itu adalah seorang janda melihat penampilannya.
"Baju pak duda," gumamnya mengingatkan dirinya sendiri.
Kemeja putih yang sudah dia seterika, dia lipat rapi dan diberi semprotan pewangi itu dia bungkus dengan kertas koran. Kemudian memasukkannya ke dalam tas.
"Ready," gumamnya, mematut diri ke cermin. Lalu yakin tidak ada yang ketinggalan, dia pun keluar dari kamar.
"Mau ngelesi Ellen?" tanya Nimas yang duduk di ruang tamu bersama dengan Maya. Mereka tidak ada kuliah sore itu dan memilih bersantai.
"Iya," sahut Naina.
"Nih, bawa aja motorku. Terus itu minumannya kan masih di show case kalo ada yang beli, harganya 20 ribu semua?" tanya Nimas, melemparkan kuncinya ke arah Naina dan refleks Naina menangkapnya.
"Iya, 20 ribu semua, tapi Mas, aku mau pake angkot aja. Kalo kamu hari ini mau pake motor–"
"Heleh, pake aja! Apa kamu mau nebeng pak duda lagi? Terus mabuk darat lagi?" tanya Nimas, mengulum senyum.
"Nggak! Makanya aku awalin datengnya ini, biar nggak malem-malem pulangnya. Ya udah, aku bawa motor kamu dulu, ya?" ijin Naina meringis, betapa baiknya Nimas padanya.
"Pake jaket, Nai. Nanti pak duda minjemin jaketnya lagi," goda Maya sambil ngemil pisang goreng yang dia beli di ujung jalan.
"Eh, iya bener."
Naina berlari masuk ke kamarnya lagi, lalu memakai jaketnya. Tidak maulah dia dipinjami lagi. Bisa-bisa suruh bayar sama pak duda.
Maya dan Nimas tertawa dengan kelakuan Naina sampai Naina keluar lagi dari kamarnya.
"Aku berangkat dulu ya?" pamit Naina berlari keluar, tidak peduli kedua temannya menertawakan.
"Iya, hati-hati lho Nai!" teriak Nimas.
"Don't worry!" sahut Naina.
Naina menaiki sepeda motor Nimas untuk menuju ke rumah Ellen. Beberapa menit kemudian, seorang satpam yang sudah mengenali Naina ketika pertama datang, membukakan pintu gerbang.
"Sore, Bu Guru," sapa pria itu.
"Sore Pak Satpam, makasih," ucap Naina.
"Tumben bawa motor?" tanya satpam.
"Iya, biar nggak ngerepotin pak dud– eh, pak Brian maksud saya," sahut Naina nyaris keceplosan menyebut duda.
"Hehe, iya Bu Guru, silakan masuk."
Naina menganggukkan kepala, lalu mengendarai motornya masuk ke dalam halaman rumah.
Tepat di saat Brian keluar juga dari mobilnya. Ternyata beberapa menit lalu, Brian juga baru saja pulang dari bekerja.
"Motornya buluk," celetuk Brian melewati Naina.
Kedua mata Naina melotot mendengar celetukan Brian. Dia meremas tangannya, andai itu bukan Brian, ayah Ellen, dia sudah menonjoknya saja. Kesal bukan main.
Songongnya keterlaluan duda ini.
"Iya, kamu kaum menengah ke bawah seperti saya ini memang bisanya memakai motor seperti itu, Pak Brian. Malahan meski bautnya lepas satu, atau ada bagian yang karatan, pasti kami perbaiki sebisa mungkin asal kendaraan itu bisa jalan aja, udah alhamdulillah," papar Naina menahan emosi.
Brian hanya berhenti mendengarkan sejenak lalu berjalan lagi masuk. Dia dengar, tapi tidak menyahut balasan Naina terhadap kalimatnya.
"Kamu bisa duduk, Ellen belum pulang. Tunggu aja. Sini, itu data kamu udah diisi, kan?" tanya Brian tanpa menoleh pada Naina.
Walau kelihatannya cuek, tapi nyatanya dia tau yang aku bawa.
"Ini, Pak."
Naina menyerahkan map transparan itu ke tangan Brian. Setelah diterima oleh Brian, dia teringat sesuatu.
"Oh, iya. Sama ini, saya mau mengembalikan baju Anda. Sudah saya cuci, saya seterika, pokoknya bersih, harum dan rapi."
Naina menyengir kuda mengambil bungkusan rapi koran yang isinya kemeja Brian itu, lalu menyerahkannya pada Brian dengan membungkuk tanda terima kasih.
Namun, apa tanggapan Brian?
"Buang aja."