"Makasih, Mbak Ina. Seger banget minumannya. Seseger yang ngebikin," puji Alfa.
Naina mendekik mendengar ucapan Alfa. Remaja itu tampak sangat mengidolakan Naina. Dia masih saja duduk di ruang tamu dan seperti lama-lama menikmati minumannya.
"Mbak Naina kerja?" tanya Alfa.
"Mm, rencana mau bebikinan ini aja, Mas Alfa. Kalo untuk kerja, kayaknya saya lebih kepengen berwirausaha," papar Naina.
"Wah, udah nama dan orangnya cantik, pandai bebikinan, terus jiwa bisnisnya jalan. Super sekali Mbak Ina ini," puji Alfa.
Alfa baru akan berbicara lagi, tapi suara teriakan terdengar memanggilnya. Alfa meringis menatap Naina.
"Maaf, Mbak Ina. Sebenarnya saya mau nemenin Mbak Ina. Bahaya sendirian di kost, tapi masalahnya emak saya manggil. Maaf ya, Mbak?" ucap Alfa dengan wajah menyesal.
Namun, sejujurnya dalam hati Naina merasa lega karena panggilan ibu Alfa membuatnya lega karena Alfa baru mau beranjak dari duduknya. p****t Alfa seperti sudah nyaman dengan posisinya sejak setengah jam tadi. Naina tidak enak pada para tetangga jika melihat Alfa bertamu dan hanya ada dirinya di rumah kost.
"Alfa!!"
Teriakan yang kedua membuat Alfa benar-benar beranjak dan bergegas memakai sandalnya keluar dari rumah kost diantar oleh Naina.
"Mbak Ina, boleh kan malam minggu saya ngicipin minuman lagi? Yang mango belum lho, Mbak? Nanti saya jadi miss sama Mbak, eh, rasa minuman yang memabukkan hati, eh maksud saya menyegarka–"
"Alfa!!"
"Ck, iya Mak! Bentar dong! Nggak sabaran banget sih jadi orang?" gerutu Alfa, membawa peralatan yang dia bawa di depan rumah kost.
"Permisi ya, Mbak Ina. Jaga hati, eh maaf jaga diri Mbak Ina. Pokoknya kalo ada apa-apa, saya always readih buat Mbak."
Naina meringis mendengar ucapan Alfa yang lucu itu. Dia menatap kepergian Alfa, berlari pulang ke rumahnya karena panggilan emaknya tambah kencang.
Naina menggelengkan kepala, lalu menutup pintu rumah kost.
"Ada-ada aja orang nih," gumam Naina. Dia melanjutkan untuk mengemas minumannya.
***
Yani mengelus perutnya. Dia masih penasaran dengan minuman buatan Naina. Baru rebahan, dia melihat status Naina yang meski sudah dia bisukan, tapi masih saja dia buka.
"Asem, yang ini rasanya gimana ya? Ada tiga varian berbeda. Mana yang mukbang mukanya bikin mupeng lagi," gumam Yani, meneguk ludah.
Gelisah sekali ibu hamil itu, kelimpungan memikirkan cara untuk mendapatkan minuman yang dipamerkan oleh Naina.
"Kata mama, kalo hamil harus dituruti kemauannya. Biar bayinya nggak ngecesan. Mas Hendi ini, nggak bisa nurutin kemauan bayi ini," sungut Yani.
Yani menggulirkan layar ponsel untuk menghubungi selingkuhannya yang dia sembunyikan dari Hendi. Sebenarnya saat tau hamil, dia sudah berjanji dalam hati agar tidak bertemu dengan selingkuhannya. Namun, hari itu tangannya gatal meminta tolong selingkuhan yang sudah satu bulan tidak dia temui.
"Halo, Mas Abdul?" sapa Yani, sebelum pria di seberang menyambutnya.
"Kamu siapa?"
Wajah Yani pias. Di segera menutup panggilannya setelah mendengar suara wanita di ujung sana.
"Haduh, deg-degan aku. Apa yang angkat istrinya ya?" gumam Yani.
Dia mengelus dadanya yang nyaris copot jantung karena suara perempuan itu. Takut kalau istri Abdul yang mengangkat panggilannya, Yani main aman dengan memblokir nomor Abdul.
"Tenang, masih ada Mas Kenang, Mas Ratman, sama Mas Yuliono. Cap cip cup kembang kuncup. Ah, Mas Kenang," ujarnya tersenyum senang.
Yani memencet nomor Kenang. Cinta pertamanya sewaktu tiba di kota itu. Orang yang memperkenalkannya cinta, tapi sayang pria itu buaya. Jadi, Yani patah hati meski dia masih saja mau berhubungan dengan lelaki itu karena gombalannya membuat Yani melambung-lambung ke atas awan. Karena patah hati itu, dia memacari banyak cowok hanya untuk membuktikan dirinya cantik.
"Halo," sambut suara di seberang.
Sengaja, Yani menunggu agar tidak terulang seperti yang pertama tadi.
"Halo, Mas Kenang. Apa kabarnya, Mas?" tanya Yani berbasa-basi.
Kenang menyambut Yani seperti biasanya, tanpa membuatnya kecewa. Malah, selalu menghibur Yani. Begitu pula jika sedang bertengkar dengan Hendi, Yani pasti menghubungi Kenang. Hasilnya, mood dia balik lagi.
"Mas, aku kepengen minuman, tapi suamiku pelit. Nggak mau beliin, padahal murah lho. Cuma 20 ribu!" ujar Yani berapi-api.
"Lho, ya beli aja. Apa sih yang nggak buat kamu, Yan? Mana tokonya? Aku beliin, pake gofud ya?" tawar Kenang.
"Tapi di gofud belum ada, Mas Kenang? Harus COD, Mas. Gimana? Mau, ya?" rayu Yani.
"Hmm, gimana, ya? Tapi nanti kamu kasih aku apa?" tantang Kenang.
"Kalo mau beliin aku by COD, aku kasih kamu cium pipi," janji Yani.
"Hah, cium pipi harganya 20 ribu, mahal amat?" keluh Kenang.
"Apa, Mas? 20 ribu mahal? Ya udah, mau cium apa?" tantang Yani.
"Bibir kamu yang ranum, seranum mendoan dong, Yan!" pinta Kenang.
"Oke! Siapa takut!" sahut Yani.
"Sip, ditunggu ya? Kirimin nomor penjual minumannya dong! Sekarang, mumpung aku lagi istirahat," ujar Kenang.
"Iya, tunggu. Aku tutup telepon dulu, baru kukirim ya? Aku tunggu siang ini ya, Mas? Mumpung rumahku sepi, lho?" goda Yani.
"Wah, siap Gan!" sahut Kenang.
Bagai kucing disodori ikan asin. Siapa yang menolak?
Akhirnya, Kenang menghubungi Naina setelah dia mendapatkan nomor dari Yani. Namun, ternyata siang itu hanya tersisa dua jar buko pandan. Kenang akhirnya memesan dua buko pandan itu dan melakukan COD dengan Naina sorenya.
Naina meminjam sepeda motor Nimas setelah Nimas pulang kuliah. Dia harus mengantar 11 jar minuman sore itu.
"Nai, mendingan kamu pake jasa gofud, sopifud biar kamu nggak repot. Nanti minta tolong Dina, pasti dia bisa."
"Kamu bener, Mas. Aku harus nunggu pinjam sepeda motor kamu buat ngirim barang. Jadi ngerepotin kamu, juga aku sendiri."
"Ya udah, nanti kita bicarain. Sekarang kamu bikin 20 habis kan? Nah, besok tambah lagi, Nai. Ini temenku aja kehabisan mau nyicipin karena aku kirim video promonya," tukas Nimas.
"Wah, iya, maaf ya, Mas? Hari ini panas, jadi laris. Aku keluar dulu, ya?" pamit Naina, membawa satu kardus stereofoam untuk membawa 11 jar minuman pesanan orang.
"Oke, hati-hati Nai."
"Iya," sahut Naina.
Naina menyelesaikan pengantaran barangnya, sampai di alun-alun bertemu dengan Kenang yang sudah menunggu.
"Kak Kenang? Maaf ya, Kak? Nunggu lama. Ini, dua jar buko pandan, ya?" tutur Naina menyodorkan sebungkus kresek transparan berisi dua jar buko pandan.
Kenang menatap Naina dengan pandangan lekat. Naina agak aneh dilihat seperti itu.
"Empat puluh ribu ya, Kak?"
"Kamu cantik-cantik kok mau jualan minuman kayak gini? Ikut kerja aku aja, jadi pegawai pabrik," ujar Kenang, menerima kresek itu dan menyerahkan empat lembar uang puluhan ribu.
"Mm nggak, Kak. Makasih. Mari," ucap Naina, permisi dari hadapan Kenang.
Bergidik rasanya Naina dengan pandangan Kenang.
"Huh, suka duka ngirim barang ya kayak gini. Ketemu banyak orang yang bermacam-macam aja sifatnya," keluh Naina.
Namun, rasanya lega ketika selesai mengirim barang ke pemesannya. Dia mengantongi dua ratus dua puluh ribu rupiah. Lumayan sekali buatnya. Sekalian Naina akan membeli bahan-bahan untuk membuat menu keesokan hari.
***
Yani melotot mendengar ucapan Kenang.
"Cantik? Dia itu sepupuku. Murahan, tau? Coba kamu goda dia dikit, pasti kena. Mana cantikan aku dari pada dia, kan?" cerocos Yani.
"Sepupu? Kenapa pake belinya lewat aku? Bukannya kamu bisa nyuruh dia datang buat nganterin ke rumah sekalian main ke sini? Boleh kan sama suami kamu?" tanya Kenang heran.
"Eh, emm ... sepupu jauh sih, jadi aku nggak enak. Juga nggak enak kalo dia nggak mau dibayar. Iya, nggak enak kan kalo dia nggak mau dibayar?" kilah Yani.
"Oh, kirain. Aneh banget nggak mau dianterin. Jadi, mana nih ciumannya? Kayanya mau cium di bibir?" tagih Kenang.
Yani menoleh ke kiri dan kanan. Lalu menutup pintu rumahnya. Kemudian melingkarkan kedua tangan ke leher Kenang. Tanpa babibu lagi, dia mencium bibir Kenang, memagutnya dalam-dalam karena memang ciuman Kenang berbeda dengan pria manapun menurut Yani. Membuatnya ketagihan, juga karena ciuman pertamanya dari Kenang.
Baru mencium bibir Kenang, pintu diketuk oleh seseorang.