Bab 12. Dapat Bantuan

1232 Words
"Meresahkan!!" jerit keempat perempuan itu, dengan gaya masing-masing usai Naina mengatakan soal Brian yang telanjang d**a. Maya menutup wajahnya dengan menggoyang-goyangkan kepala, Rina menggigit jari-jarinya, Dina melotot seperti kedua bola mata akan melompat dari tempatnya, Nimas meringis-ringis menengok ke kanan-kiri perlahan di mana teman-temannya berekspresi tidak jelas. "Topless?" tanya Maya. "I-iya," sahut Naina cengar-cengir. "Jadi, terus, gimana bentuknya itu d**a?" tanya Dina makin penasaran. . "Iya, jadi pengen ngerti bentuk d**a duda," celetuk Rina. Naina menggigit bibir dan memejamkan kedua matanya. Terbayang sewaktu tidak sengaja dia melihat d**a kotak-kotak itu. "Tunggu, dadanya kayak iklan L-Men atau Semen??" celetuk Rina, membuat semua meledakkan tawa. Bayangan Naina buyar seketika. Dia ikut tertawa, tapi kemudian meringis ketika kotak-kotak itu terbayang lagi. "Udah, udah, kalo dilihat dari baju yang dipakai Naina, nggak mungkin duda itu gendut. Ya kan, Nai?" tembak Nimas. "Iya, nggak gendut. Dia ... Dadanya kotak-kotak sih," beber Naina. Keempatnya makin terbelalak, mendekat ke arah Naina dengan antusias. "Berapa? Enam? Apa delapan?" tanya Nimas. Naina menggosok rambutnya mendengar pertanyaan itu. Kacau sekali pertanyaan-pertanyaan gadis-gadis jomlo itu. "Ah! Aku nggak sempat ngitungnya, Mas! Malulah aku masuk ke mobil, tiba-tiba lihat kotak-kotak roti sobek, merem lah aku! Nggak mungkin aku mengamati apalagi ngitung! Ngaco aja," sungut Naina. Semua tergelak mendengar ucapan Naina. Namun begitu, Nimas merasa lega karena Naina masih sepolos dulu ketika sebelum menikah dan meski sudah pernah menikah, tapi dia tidak haus akan nafsu belaka. Ada beberapa yang sudah merasakan ranjang, setelah bercerai jadi gampangan terhadap lelaki. "Kali aja, Nai, kamu penasaran terus ngitung," celetuk Rina, di sela tertawanya. "Nggak!" sahut Naina, membantah ucapan Rina, tapi kemudian tertawa bareng teman-teman kostnya. "Udah ah, aku mau mandi dan ganti baju dulu," pamit Naina karena merasa gerah menggunakan baju Brian. "Eh, ganteng nggak pak dudanya!" teriak keempatnya menggoda Naina. "Biasa aja!" sahut Naina, diikuti gelak tawa mereka. Naina masuk ke kamar mandi, melepas baju Brian yang melekat di tubuhnya. Meski bau parfum berkelas itu enak sekali di hidung Naina, tapi dia tidak mau memakai baju Brian sampai tidur. Apalagi kalau ingat sikap arogan Brian. "Apa jadinya kalo aku ceritain omongan-omongan duda itu sama temen-temen satu kost? Bisa diolok habis aku. Duda gila," sungut Naina, segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin malam itu. *** Brian masuk ke dalam, menengok ke kamar Ellen. Dia melihat putri kecilnya sudah tertidur pulas malam itu. Brian mendekat, membenahi selimut Ellen dan mencium keningnya. "Good night, Dear." Brian menjauh, membiarkan Ellen yang tidur dengan napas halus dan mimpi indahnya. Dia perlahan keluar dan menutup pintu kamar Ellen. Malam itu, Brian membersihkan diri, memakai baju tidur, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ketika memejamkan kedua mata, terbayang wajah Naina yang menutup wajah saat masuk ke mobil dan mendapatinya telanjang d**a. "Pfftt, dasar bodoh," gumam Brian, menertawakan tingkah polos Naina yang dia ingat tadi. *** Keesokan harinya, Naina sibuk memasang banner yang dibuatkan oleh teman-teman kostnya. Namun, dia kesulitan memasang banner itu. Apalagi, teman-temannya sudah berangkat beraktivitas. Naina merasa sungkan kalau harus meminta bantuan teman-temannya lagi. Padahal bukan hanya banner yang mereka buatkan, melainkan juga stiker nama dan nomor Naina untuk ditempelkan di setiap jar. Sungguh teman-teman yang baik padahal mereka belum lama kenal. Jadi, Naina akan berusaha memasang sendiri banner itu. Banner itu dia rentangkan di depan pintu. Mengukur panjang dan lebarnya. Tersenyum ketika menyadari betapa besar banner yang dibuat oleh teman-teman kostnya. Juga gambar minuman yang dibuat oleh Dina, kelihatan sangat menyegarkan. Semoga promosinya berjalan lancar. Naina mulai bergerak. Namun, dia tidak bisa menemukan peralatan yang bisa digunakan untuk memasang banner itu. Celingukan di dalam sampai di gudang, tidak ada satupun alat yang bisa digunakan. "Namanya aja kost perempuan, mana nyimpen barang-barang pertukangan?" gumamnya, meletakkan jari telunjuk di bibir. Berpikir sebentar, lalu keluar lagi. "Aku butuh palu sama paku ini," gumamnya, menengok ke kanan dan kiri. Namun, angin bertiup tenang. Menunjukkan bahwa sepertinya tidak ada yang bisa dia mintai bantuan. Tidak menyerah dengan keadaan itu, Naina berpikir dan kemudian berniat membeli palu dan paku di toko besi. Naina baru akan melangkah masuk lagi untuk mengambil dompetnya. Tiba-tiba, seseorang berdeham, menghentikan langkah Naina. Deheman itu membuatnya menoleh ke belakang. Seorang lelaki berbaju merah mendekatinya. Senyumnya terkembang cerah sekali, sampai tidak terkalahkan oleh sinar mentari. "Mau cari siapa ya, Mas?" tanya Naina ketika melihat pria muda yang berusia sekitar 20an tahun itu. "Saya nggak cari siapa-siapa, Mbak. Tadi saya lihat dari kaca jendela rumab saya, Mbak kesulitan masang banner. Benar, kan? Mau saya bantu?" tanya pria itu. "Eh, maaf. Anda siapa, ya?" tanya Naina, merasa belum mengenal lelaki itu. Ternyata, sedari tadi ada yang memperhatikannya. "Oh iya, kita belum kenalan. Nama saya Alfa. Saya tinggal di situ, keponakan Pak RT," ucapnya, mengulurkan tangan. Naina meringis, membalas uluran tangan Alfa. Cowok berambut ikal itu tersenyum padanya saat Naina menjabat tangan Alfa. "Naina. Bisa panggil saya Ina," ucapnya, memperkenalkan diri. "Oh ya, Mbak Ina. Nama yang beautiful sekali. Boleh saya bantu?" tawar Alfa. "B-boleh, tapi lepasin dulu tangannya ya, Mas Alfa?" pinta Naina, melihat tangannya masih digenggam oleh Alfa. "Ealah, iya, maaf, Mbak Ina. Maaf, soalnya tangannya halus nian seperti silk," ujar Alfa, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malu sekali rasanya lupa melepaskan tangan saat berkenalan. Wajah Naina yang cantik, membuat Alfa terkesima melihatnya sejak pertama kali bertemu. Hari itu, kesempatan besar baginya mendekati Naina karena melihat dia kesulitan memasang banner. "Maaf, tapi saya bingung karena nggak ada palu sama paku. Sebenarnya saya mau beli di toko bangunan. Jadi, mohon ditunggu–" "Saya punya kok, tunggu Mbak Ina!" seru Alfa bersemangat. Sebelum Naina mencegah, pria itu sudah berlari saja kembali ke rumahnya. Naina menggelengkan kepala melihat kelakuan Alfa. Naina pernah melihat Alfa pergi kuliah. Namun, tidak terlalu dia perhatikan. Malah sekarang pemuda itu yang menawari bantuan padanya. Tak lama, Alfa keluar membawa palu dan paku. Semangat sekali sampai rela bolak-balik demi mengambil peralatan seperti tangga lipatnya juga. Semangat sekali Alfa memasang banner di tembok atas pintu rumah kost. Sepuluh menit kemudian, semua beres. Naina tersenyun puas melihatnya. "Wah, makasih ya, Mas Alfa? Kalo tanpa bantuan Mas Alfa, sampe sekarang mungkin saya belum bisa masangnya." Alfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa tersanjung dengan pujian Naina. Kelihatan bangga sekali di raut wajahnya. "Biasa aja, Mbak Ina. Em, jualan es ya, Mbak?" tanya Alfa berbasa-basi setelah membaca banner yang baru saja dia pasang. Naina baru tersadar bahwa dia belum membuatkan minum untuk Alfa yang sudah membantunya itu. "Iya, eh, ayo masuk dulu. Saya ajak nyicip creamy drink buatan saya yuk, Mas!" ajak Naina. "Sebagai tanda terima kasih saya, Mas." Binar ceria bagai mendapat durian runtuh dengan ajakan Naina, Alfa menggosok kedua telapak tangannya. "Ayo aja, Mbak Ina! Dengan senang hati!" Naina melongo melihat cowok itu bersemangat mencicipi minuman buatannya. Apa memang tujuan Alfa ingin minumannya gratis? Entahlah. Naina meringis seraya masuk ke dalam ruang tamu. Mempersilakan Alfa duduk di sana. "Tunggu sebentar, saya ambilkan dulu ya, Mas Alfa? Belum saya masukkan ke show case tadi. Mau yang buah, Milu, apa buko pandan?" tanya Naina. Alfa tersenyum tipis mendengar jenis minuman yang disebutkan oleh Naina. "Terserah Mbak Ina aja. Saya yakin bikinan Mbak Ina semuanya enak," balas Alfa dengan senyum manis. "Kalo kurang manis, lihat Mbak Ina udah jadi diabetes," imbuhnya. "Bisa aja, tunggu ya?" tukas Naina, mengibaskan tangan kanan. "Iya, saya wait sabarly, Mbak Ina." Naina beranjak masuk sambil menahan tawa mendengar ucapan Alfa. Remaja itu menunggu Naina dengan sangat sabar. Sesekali dia tersipu-sipu jika melihat Naina sedang mengambilkan minuman untuknya di dapur yang kelihatan dari ruang tamu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD