Bab 11. Jadi Pake Apa

1120 Words
"Kenapa kamu lihat saya kayak lihat hantu?" tanya Brian, melihat Naina yang sedang menoleh ke samping. Bayangan di kaca pintu mobil, wanita itu memicingkan mata seperti ketakutan. "Ng-nggak, saya cuma kaget aja." "Bisa kamu hadap depan aja? Saya jadi nggak nyaman kalo kamu meringis-ringis ketakutan begitu. Jadi nggak konsen nanti nyetirnya." Naina beringsut, memperbaiki duduknya tanpa menjawab pertanyaan Brian. Dia pun menghadap depan mati-matian melebarkan kedua matanya. "M-makasih, Pak." "Makasih buat apa?" sahut Brian seraya memundurkan mobil. "Buat bajunya ini, jadi bikin Bapak nggak pake baju," balas Naina. Usai meluruskan mobil di jalan dan melaju meninggalkan toilet umum itu, Brian baru menjawab Naina. "Nggak apa-apa. Lagian saya masih pake celana kok. Kalo kamu yang nggak pake baju, bisa bahaya." Naina mengerutkan dahi lalu menoleh karena ingin tahu mimik wajah Brian ketika membicarakan itu. Namun, kembali dia melihat sebentuk kotak-kotak yang nyaris sesempurna iklan s**u pria itu di belakang kemudi. "Astaga," desis Naina tidak jadi melihat mimik wajah Brian dan balik melihat ke depan. "Nggak masalah kan, saya nggak pake baju? Atau kalo masalah, itu baju saya yang kamu pake dikembalikan aja," celetuk Brian asal. Naina cepat-cepat menutupi dadanya sendiri dengan tasnya. "Nggak masalah!" sahutnya cepat, membuat Brian sedikit menoleh padanya. "M-maksud saya nggak masalah, Pak. Kalo saya lepas ini baju, saya yang bermasalah." Naina meringis, mempererat dekapan tasnya. Merinding juga lama-lama dekat pak duda. "Saya nggak minat sama kamu," ucap Brian datar. Naina mendekik, keki sekali mendengarnya. "Saya juga nggak minat sama Bapak. Cuma saya menjaga harga diri saya." Brian diam mendengar ucapan Naina. Dia pun melanjutkan mengemudi di jalan raya yang lumayan banyak kendaraan itu. "Belok kanan apa kiri?" tanya Brian tiba-tiba ketika mobil sampai di pertigaan jalan. "Kiri, Pak," sahut Naina. Brian memutar kemudi ke kiri setelah lampu hijau menyala. "Lurus apa belok?" tanya Brian lagi. "Lurus, Pak. Sekitar 700 meteran lagi, ada masjid, belok kanan." Brian tidak menjawab, hanya mengangguk saja. "Suami kamu?" tanya Brian, melirik ke arah Naina. "Maksudnya?" Naina tidak mengerti dengan pertanyaan itu. "Suami kamu di rumah nggak? Nanti saya nggak enak karena udah nganterin kamu. Dia bisa cemburu, kan?" jelas Brian. "Oh, itu. Bapak tenang aja, saya udah cerai sama suami saya. Saya juga tidak punya anak. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Brian mengangkat kedua alisnya mendengar penjelasan Naina. "Bapak juga tidak perlu khawatir saya akan menggoda Bapak, karena itu bukan sifat saya. Meski harus menjalani sulitnya hidup, tapi akan saya jalani sesuai dengan jalur yang benar," tambah Naina dengan tegas. Brian melirik ke samping sebentar sembari mengulum senyum. "Oke, ini masjid, belok kanan?" ulangnya. "Iya, benar." Brian membelokkan mobil dengan hati-hati sesuai dengan arahan Naina. "Di depan, ada gang Delima. Tolong berhenti di situ aja, Pak. Saya bisa jalan sendiri masuk ke gang. Makasih atas kebaikan Bapak yang mungkin tidak bisa saya balas," ucap Naina sungguh-sungguh. "Kenapa nggak diantar sampai depan rumah?" tanya Brian. "Saya cuma kost, Pak. Nggak enak sama teman-teman kost, juga nggak enak sama ibu kost kalo saya pulang malam diantar sama laki-laki," sahut Naina datar, seiring dengan berhentinya mobil tepat di depan gang yang bertuliskan 'Delima'. "Makasih sekali lagi, Pak." Naina membuka seatbelt, kemudian membuka pintu mobil. Dia keluar dari mobil dengan perasaan was-was. Tentu saja tidak enak jika ada orang yang dia kenal memergokinya turun dari mobil meski dia tidak melakukan apapun. Terlebih, dia memakai baju seorang lelaki. Naina membungkuk ke mobil Brian, lalu mobil itu melaju lagi. Brian menatap spion, melihat Naina sudah menghilang masuk ke gang. Senyum kecil terbit di wajahnya. *** Naina membuka pintu dengan sangat hati-hati dan perlahan. Dia mengendap masuk ke dalam rumah. "Taraaaa!!" Suara Nimas, Maya, Dina dan Rina membuat jantung Naina serasa mau copot. Lampu seketika terang benderang dan keempat teman kost sudah menyambutnya dengan sebuah banner promosi minuman. Hening. Naina menatap mereka, meneguk saliva. Sedangkan keempat gadis itu menatapnya dari atas ke bawah. "Nai, dari mana kamu? Kok pake baju cowok?" tanya Nimas mendahului, mewakili pertanyaan di benak tiga gadis lain. "A-anu," sahut Naina, bingung juga mau menjelaskan dimulai dari mana. Akhirnya keempat gadis itu mendudukkan Naina di ruang tamu. Mereka menatap tajam ke arah Naina. Sebelumnya, Rina, Maya dan Dina mendengar kisah pilu Naina dari mulut Nimas, lalu mereka berniat mendukung usahanya dengan membuatkan banner promosi yang besar, tapi sekarang pikiran mereka agak terganggu dengan penampilan Naina. Naina menunduk, memelintir ujung kemeja Brian yang dia pakai. Dia tidak menyalahkan empat gadis yang pasti berpikiran buruk terhadapnya, karena mereka belum mengerti duduk persoalannya. "Sekarang, jawab pertanyaanku, Nai!" ujar Nimas yang selalu memulai karena dia merasa bertanggung jawab dengan apa yang dikatakan pada teman-temannya. Jika Naina berbuat kotor, dia akan malu sekali tentunya. "Itu baju siapa?" tanya Nimas beberapa detik setelah Naina menganggukkan kepala. "I-ini baju papanya Ellen, anak yang aku kasih les," sahut Naina lirih. "Kok bisa pake baju itu?" timpal Maya, melipat kedua tangannya ke d**a. Meski baru kenal beberapa hari, tapi di tempat kost itu mereka berkomitmen untuk menjadi saudara. Jadi, rasanya Naina adalah anggota keluarga baru di sana. "I-iya. Aku cerita, tapi kalian jangan berpikiran buruk dulu, ya?" pinta Naina, takut-takut melihat keempat orang yang sejatinya hanya ingin melindunginya dari perbuatan buruk. "Oke, cus," ucap Dina. Naina mencoba menyunggingkan senyum, tapi empat orang itu tidak menanggapi senyumannya. Wajah mereka semua serius, di depan Naina yang duduk sendirian seperti dihakimi. "Emm, begini. Tadi kan aku mau naik angkot, tapi karena kemalaman, Ellen nggak ngebolehin aku naik angkot. Jadi, bapaknya Ellen terpaksa nganterin aku–" "Mampir-mampir?" potong Rina. "Iya, eh maksudku gini. Tadi kan dia bawa mobilnya ngebut banget. Aku pusing sampai akhirnya muntah. Nih, baju kotorku," tunjuk Naina ke lipatan baju yang dia bawa. Masih menatapnya tajam, Naina meneguk saliva membalas tatapan empat orang yang berubah menjadi polisi yang menginterogasinya habis-habisan itu. "Terus, karena bajuku kotor, jadi dia menghentikan mobilnya di toilet umum. Aku bersih-bersih baju, jadi kan bajuku basah. Dia nawarin baju kering, eh ternyata itu baju yang dia pakai," beber Naina lirih, menatap empat orang yang mulai santai tatapannya. "Oh, jadi gitu? Ah, kirain kamu mau nekat ngelakuin hal-hal yang buruk Nai. Kami kan nggak mau kamu kayak gitu. Maaf, ya?" ujar Nimas. "Nggak, aku nggak akan pernah ngelakuin hal-hal seperti yang kalian maksud. Meski bagaimanapun sulitnya mencari uang demi impianku." Keempatnya merasa sangat lega. Mereka memeluk Naina dan menunjukkan banner baru yang sangat besar untuk ditempel di depan pintu rumah kost. "Bagus banget!" puji Naina. "Makasih ya?" ucapnya haru. Mereka membicarakan banner itu dengan seru. Dari designnya, tukang banner yang ganteng, sampai hasilnya yang di luar ekspektasi. Baru seseru itu, Dina masih berpikir soal baju yang dipakai oleh Naina. "Eh, Nai. Terus, bapaknya Ellen pake baju apa kalo baju dia kamu pake?" celetuk Dina. Naina meringis mendengarnya. "Dia ... ga pake baju." "Kelihatan dalemnya!?" teriak mereka bersamaan. "I-iya," sahut Naina meringis lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD