Bab 19. Harus Menuntun Motor

1137 Words
Kepala Hendi rasanya pusing siang itu. Dia tidak sanggup bekerja sampai malam seperti biasanya. "Lur, aku nggak lembur ya? Hari ini kepalaku sakit," ujarnya pada teman-teman di kantor. "Iya, Ndi, kamu udah kerja keras bagai kuda akhir-akhir ini. Apa istri barumu minta dibangunin istana?" kelakar teman-temannya. Hendi mengerucutkan bibir. Sudah kepalanya berdenyut-denyut, sekarang diolok seperti itu. Hendi diam saja, tidak membalas olokan teman-temannya. Memang sejak menikahi Yani, dia seperti memacu diri sendiri untuk bekerja keras. Tadinya dia kira dengan dorongan Yani adalah hal positif, membuatnya lebih giat mencari uang. Nyatanya, sampai hari ini uangnya tidak terkumpul. Entah digunakan apa oleh Yani. Hendi menerawang, tiba-tiba bayangan Naina terlintas. Selama dengan Naina, dia tidak ngoyo bekerja. Lembur bukan menjadi makanan sehari-hari seperti saat ini. Jika ditanya di mana uang yang diberikan, kata Yani waktu itu, dia harus tampil cantik di hadapannya dan harus membeli skin care mahal. Padahal tadi pagi pun, Hendi melihat wajah Yani mulai kusam, tidak lagi glowing seperti dulu sebelum hamil. "To, apa wanita hamil itu kusam wajahnya?" tanya Hendi penasaran pada temannya. Paryanto sedang menyiapkan surat penjualan. Dia menoleh pada Hendi. Istrinya sudah memiliki dua anak dan dia melihat perubahan yang berbeda dalam kehamilan istrinya. "Ya kalo aku amati dari istriku sendiri sih begitu. Beda-beda ya tiap perempuan. Kalo istriku hamil dua kali juga beda efeknya. Pas hamil anakku yang pertama, laki-laki, wajahnya dipenuhi jerawat kecil-kecil, sampe lehernya hitam. Tapi pas kehamilannya yang kedua, anakku cewek, wajahnya cerah kayak tambah cantik gitu," terang Yanto. "Oh gitu," sahut Hendi manggut-manggut. "Kenapa sih? Istrimu hamil? Terus mukanya kusam?" tanya Yanto. "Iya," sahut Hendi. "Ya sabar aja. Yang bikin dia hamil kan kamu juga, kalo ada efek kehamilannya, ya harus sabar. Jadi jelek, itu istri kamu juga. Nanti kalo ngelahirin bakalan balik cantik lagi!" beber Yanto, melanjutkan pekerjaannya. Jadi, pas Naina hamil dan wajahnya berjerawat banyak, hitam-hitam di lipatan-lipatan badannya itu karena efek hamil. Hendi menerawang, berhenti mengerjakan pekerjaannya karena berpikir tentang Naina yang dulu membuatnya mual karena penampilan perempuan itu ketika hamil. Sampai Hendi tidak betah di rumah. Di samping Naina belum bisa memberinya kepuasan di ranjang, dia juga risih dengan perubahan itu. Melihat Yani yang pulang memakai celana pendek dan tank-top, rasanya gairah Hendi menyala-nyala waktu itu. Semudah mengelus kucing manja, Hendi bisa mendapatkan tubuh Yani di waktu Naina memeriksakan kandungan. "Fyuh," keluh Hendi, merasakan pegal di tubuhnya. Sekuat-kuat manusia, pasti akan ada lemahnya juga. Biasanya Hendi sehat-sehat saja, tapi mungkin karena kemarin dia telat makan, jadi sekarang tubuhnya mulai terserang penyakit. Jam menunjukkan pukul lima sore, itu artinya para pekerja bisa pulang. "Ah, akhirnya jam pulang. Pengen rebahan habis ini, badan nggak enak banget," ujarnya. "Pijetan, Ndi. Jangan cuma pijet plus-plus aja sama istri barumu," celoteh temannya. "Heleh, berisik," sahut Hendi mengemasi kertas-kertas di atas mejanya. Hendi bergegas bersiap pulang. Dia lalu memakai jaket dan menyambar kunci sepeda motornya. Dalam perjalanan, Hendi melewati beberapa tempat di pusat kota. Sekilas, dia melihat seseorang. Sampai-sampai, dia menengok ke spion. "Tadi itu, kayak Yani, tapi kok sama laki-laki. Ah, masa sih?" desisnya sendiri, menepis pikirannya. Dia pikir, Yani sedang di rumah dan tidak mungkin pergi-pergi dalam keadaan hamil muda seperti itu. Hendi sampai di rumah sore itu, tapi begitu sampai di depan pintu, pintu itu terkunci. Padahal Hendi ingin segera tiduram di kasurnya karena badan yang kurang sehat. "Yan! Yani!" teriaknya. Namun, Yani tidak ada di rumah. Hendi terpaksa duduk di teras rumahnya. Badan menggigil karena udara yang berhembus menerpa tubuh sakit itu. "Yani ini ke mana sih! Udah nggak enak badan, malah dia nggak di rumah!" gerutu Hendi, merapatkan jaket agar badannya lebih hangat. *** Naina mengusap peluh saat mencoba menstarter motor itu. Dia sengaja menuntun sepeda motor keluar gerbang agar tidak ada yang mengetahui sepeda motor itu macet. "Duh, aku ya nggak ngerti mesin. Mana bengkelnya jauh lagi," keluh Naina, menengok ke kanan dan kiri. Namun, matanya tidak menangkap adanya bengkel. Lemas rasanya. Naina duduk di pinggir jalan lalu mengambil ponselnya. Tambah lemas lagi ketika baterai di ponselnya low. "Ya Allah, capek." Naina melepas helm dari kepala. Mengusap anak rambut, menyugarnya ke belakang. Dia menunduk di atas kedua tangan yang bersilang di atas lututnya. Agak lama dia seperti itu, sambil berpikir. Sebuah mobil berhenti di sebelah Naina. Brian melihat Naina duduk di pinggir jalan. Dia menurunkan kaca mobil, menyembulkan kepalanya. "Hey Narnia! Ngapain kamu?" teriak Brian. Naina sontak kaget, mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Brian. Narnia? "Eh, anu. Saya ... nggak ngapa-ngapain, Pak. Ini saya juga mau pulang kok!" sahut Naina memakai helmnya kembali. Brian masih saja menunggui Naina di dalam mobil. Namun, dia menghadap ke depan, mengawasi Naina dari spion. "Sial, masih aja belum bisa," keluh Naina, bahkan sampai menyelah motor, kendaraan itu masih saja diam tidak berfungsi. Padahal, tadi Naina sudah mengisi bensinnya saat berangkat ke rumah Brian. Brian mengulum senyum melihat Naina yang mencoba menyelah sepeda motor itu. "Jadi, motornya macet? Huh, bilangnya nggak apa-apa, dasar tukang bohong!" Naina berhenti mencoba. Dia menatap ke arah Brian yang tidak pergi-pergi juga dari tempatnya berhenti. "Duda itu, ngapain sih di sana terus? Pergi kek, malah diem aja di situ," gerutu Naina dalam hati. Rasanya malu ketika dilihat orang kesulitan seperti itu. Naina menggaruk dahi. "Coba aku lihat, dia mau apa," gumam Brian dari dalam mobil. Naina menjalin jemarinya, mengangkat kedua tangan ke atas, terasa kretek di sendi-sendi tulang dan ototnya meregang. "Oke, mari kita mulai." Naina menuntun sepeda motornya, melewati mobil Brian. Ya, dia bertekad menuntun sepeda motor itu hingga sampai di bengkel. Brian terbelalak melihat kenekatan Naina. Dia mulai tancap gas pelan-pelan melajukan mobil, menyeimbangi kecepatan berjalan di samping Naina. Mengemudi sambil menonton perempuan itu ngos-ngosan menuntun sepeda motor mogoknya. Sesekali Brian tertawa melihat Naina. "Ih, dia itu ngapain sih? Pake ketawa-ketawa, dikiranya ini topeng monyet apa? Nggak lucu. Mana orang susah diketawain. Ck, ngapain juga nyetirnya pelan-pelan, kayak sengaja banget!" gerutu Naina. Setengah jam baru Naina bisa menemukan sebuah bengkel sepeda motor. Dia memarkir sepeda motor itu. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangannya. "Halo, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sambutnya ramah. "Iya, ini, Pak. Motor saya macet, nggak bisa distarter, nggak bisa diselah. Kenapa ya, Pak? Bisa didandani?" tanya Naina sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena berjalan lumayan jauh. Brian yang tadi ketinggalan Naina karena lampu merah, sekarang berhenti di seberang jalan karena mengawasi Naina. Brian keluar dari mobil dan bersandar, mengeluarkan rokoknya. "Oh, sebentar saya cek dulu ya, Mbak? Silakan duduk dulu di sana," tunjuk pria itu ke bangku panjang di depan. Naina mengangguk, lalu duduk di kursi dan mengedarkan pandangan. Bengkel itu sepertinya sepi pengunjung atau mungkin karena sudah petang. Naina menghela napas. Dia melihat di seberang. Brian sudah merokok sambil melihat lalu lalang kendaraan yang lewat. Dia bersandar di mobil yang diparkir di jalan sepi itu. "Ngapain sih itu orang? Nggak jelas banget!" sungut Naina, memutar duduknya empat puluh lima derajat agar tidak lurus pandangannya ke arah Brian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD