Bab 18. Sepeda Motor Pinjaman

1071 Words
"Lho, katanya kalian mau datang beberapa hari lagi?" sambut Brian kaget akan hadirnya kedua orang tua yang dia rindukan itu. "Buat kejutan, kami nggak sabar kepengen ketemu sama Ellen," ujar Fatma. Matanya mengerling, memberi isyarat pada Brian agar jika ada cucunya di dalam, Brian tidak berteriak memanggil putrinya. "Sedang apa dia?" tanya Fatma. "Belajar, dia les sama seorang guru. Di ruang belajar. Sini, Pa, Ma. Aku bawakan koper-koper kalian!" ujar Brian meraih handle dua koper besar yang ada di depan kaki Patrick. "Ayo masuk, cucu kalian sedang berusaha meraih nilai bagus." "Ah, apa nilainya buruk di sekolah?" tanya Patrick lirih seiring suara langkah kaki mereka yang sengaja dipelankan. "Iya," sahut Brian, sedikit melenguh. "Dia itu kurang kasih sayang seorang ibu," tukas Fatma, mendesah berat. Merasa kasihan pada cucu perempuannya yang lucu dan sebenarnya pintar itu. "Iya, bisa jadi begitu." Brian hanya menjawab sekenanya. Sudah bosan rasanya mendengar perkataan beberapa orang tentang anaknya. Dari gurunya sampai sekarang ibunya sendiri. "Kamu nggak berniat cari pengganti ibunya Ellen?" cecar Fatma. Patrick hanya merengut mendengar pertanyaan istrinya yang seringkali dia dengar di rumah dan sekarang sampai juga ke telinga Brian. Sebagai lelaki, mungkin hasrat itu ada, tapi Patrick paham rasa hati Brian ketika dulu ditinggalkan istrinya hanya karena dia miskin. "Nggak," sahut Brian singkat, mengakhiri pertanyaan membosankan itu. "Mommy yakin Ellen akan bisa riang kalo ada ibunya–" "Mom! Jangan sampai kedatangan Mommy dan Daddy yang membahagiakan ini jadi rusak gara-gara pertanyaan sepele kayak gitu," sungut Brian. Fatma hanya mendesah, apa salahnya dia memberikan pendapatnya? Sementara kedua mata Patrick hanya meliriknya bagai menyalahkan. Seperti mengatakan, itulah akibatnya kalau mendesak putranya terus. "Ya sudah, aku taruh dulu koper kalian di kamar tamu dan nyuruh Marni buat beresin kamar tamu. Kalian istirahat dulu di ruang tengah. Setelah perjalanan panjang, pasti lelah, apalagi tubuh kalian sudah tidak seperti dulu, Mom, Dad!" seloroh Brian, masuk ke dalam kamar tamu. Patrick dan Fatma hanya menyunggingkan senyum sambil menarik kedua alis ke atas. Memang benar yang dikatakan Brian, tubuh mereka tidak lagi sekuat dulu. Patrick duduk di ruang tengah, mengendorkan otot-otot lelahnya. Sementara Fatma tidak bisa bersabar menunggu cucu satu-satunya. Dia pun berjalan ke pintu ruang belajar untuk mengintip kegiatan cucunya. Suara merdu lantunan musik lagu anak-anak yang diubah liriknya untuk menghapal pelajaran membuat Fatma ikut mengangguk-angguk mendengarnya. Betapa mudah menghapal dengan lagu kesukaan Ellen. Bahkan terdengar menggunakan lagu yang sedang viral saat ini. Fatma membuka sedikit pintu ruang belajar itu dan mengintip gurunya. Seorang wanita muda yang energik mempraktekkan gerakan untuk menarik minat belajar Ellen. Sampai-sampai pembelajaran itu bukan seperti pembelajaran biasanya. Seolah mereka sedang bermain. Namun, ketika diulang, Ellen bisa menyanyi dengan tepat dengan gerakan yang pas. Pelan-pelan Fatma menutup kembali pintu itu tanpa membuat suara. "Mommy! Ngapain?" tanya Patrick, mengagetkan Fatma, hingga nyaris berteriak. Fatma mengelus dadanya dan menghembuskan napas perlahan. "Daddy, ngapain sih ikut-ikutan ngintip?" gerutu Fatma, menepuk pelan lengan suaminya. "Penasaran kenapa Mommy lama bener di sini itu ngapain?" sahut Patrick. "Itu, ngintip Ellen belajar. Asyik banget dia belajar sampai nggak nyadar kalo aku buka pintu ini sedikit," gelak Fatma geli. "Itu, Marni udah bikinin minum. Brian juga udah duduk di ruang tengah. Kita ngobrol dulu sama dia sambil nunggu Ellen." Fatma mengangguk. Melihat Ellen sebentar, membuat rindunya sedikit terobati. Fatma mengikuti langkah suaminya ke ruang tengah. "Kamu dapat dari mana guru itu? Cantik, masih muda, energik juga bisa membuat Ellen tertarik buat belajar. Katanya, dulu sering nggak betah belajar sama guru les?" tanya Fatma usai mendudukkan p****t ke sofa. "Nemu di jalan," sahut Brian. "Bercanda kamu, mana ada nemu guru di jalan?" tukas Fatma, terkekeh dengan sahutan anaknya. Dia meraih cangkir berisi teh hangat yang sudah disiapkan oleh Marni, lalu menyesapnya. "Iya, bercanda kamu keterlaluan, Brian. Jangan kamu asal ambil guru. Setidaknya dia sudah memiliki sertifikat mengajar dari universitas ternama," imbuh Patrick. "Aku nggak bercanda, aku memang ketemu sama dia di jalan. Dia itu lulusan SMU, tapi dasar si Ellen merajuk minta dia jadi guru lesnya. Jadi, aku terpaksa memberi kesempatan buat memberi tambahan les. Katanya dia bisa," beber Brian. "Brian, soal pendidikan jangan main-main, kelak putrimu, cucuku itu akan meneruskan perusahaan. Jadi, kamu nggak boleh asal-asalan memberikan sarana pendidikan buatnya. Kamu itu gimana!" tegas Patrick. "Ya ... mau gimana lagi? Ellen yang minta, lagian ini baru trial, besok kalo nilai Ellen masih merosot, dia tidak akan aku gunakan lagi," ujar Brian. "Nunggu nilai Ellen merosot?" tanya Patrick dengan sungutan sebal. "Tapi, Dad. Aku lihat tadi, pembelajarannya cukup menarik. Ellen saja suka. Kenapa nggak dicoba dulu? Kalo suka sama gurunya, Ellen pasti suka belajarnya juga. Apa nggak kita lihat dulu perkembangannya, Honey?" tanya Fatma. "Iya, kita lihat nanti. Minggu depan Ellen akan menjalani ujian harian. Jadi aku mau lihat hasil tesnya. Kalo menunjukkan peningkatan ya dia boleh lanjut." Patrick mendesah. Baginya, waktu itu berharga. Satu minggu untuk sebuah ulangan adalah hal yang sangat berharga sekali. Namun, istri dan anaknya berkehendak lain. Lalu, Ellen adalah hak asuh Brian sepenuhnya. Jadi, dia tidak bisa memaksakan untuk memasukkan Ellen ke sebuah bimbingan belajar yang bonafide. "Oke, tapi ingat kalo nilainya menurun, dia harus segera dimasukkan ke bimbel yang mumpuni, atau ambil guru les yang memiliki predikat mengajar bagus!" tegas Patrick. "Iya," sahut Brian. "Wuaaah Grandpa! Grandma! Kok nggak bilang-bilang kalo kalian datang hari ini?" seru Ellen menghambur ke tengah-tengah ketiganya, melupakan Naina yang menyusul di belakang. "Iya! Memang buat kejutan! Udah belajarnya, Ellen? Aduh, kamu tambah cantik aja cucu Grandma!" Fatma segera memeluk cucu kesayangannya dengan erat. Rasa rindunya dilampiaskan dengan ciuman bertubi-tubi ke pipi Ellen. "Iya, tadi habis belajar." Naina menatap kegembiraan itu dengan wajah tersenyum. Menunggu celah untuk berpamitan pada mereka. Baru setelah beberapa menit, mereka berempat menoleh ke arahnya dan membuat Naina kikuk. "S-selamat petang, maaf saya guru les Ellen. Nama saya Naina. Saya mohon diri karena les sudah selesai." Naina membungkuk pada keempatnya, lalu Fatma menyunggingkan senyum melihatnya, tapi tidak dengan Patrick. "Ya, hati-hati," sahut Brian. "Baik, permisi." Naina melirik ke arah Ellen yang melambaikan tangan padanya. Naina juga melambaikan tangan pada Ellen dan tidak ingin mengganggu kegembiraan mereka dengan beranjak segera pergi dari ruang tengah. Naina berjalan ke sepeda motor milik Rina yang kali ini dia pinjam. Sebenarnya tidak enak harus meminjam satu per satu dari teman-teman kostnya, tapi mereka memaksa agar Naina tidak lagi harus pulang memakai baju lelaki. Naina memakai jaketnya, lalu mengalungkan tas ke sebuah kait. Sepeda motor itu lebih baik kelihatannya dari pada milik Nimas, tapi begitu dia starter, kendaraan itu tidak juga menyala. "Duh, gimana ini?" keluhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD