Gelisah~

1025 Words
Matahari sudah menampakkan sinar nya, Lita yang hari ini tidak berangkat sekolah karena tidak ada jadwal remidi memilih untuk berdiam diri di rumah. Lita memang sengaja tidak ingin kemana-mana sebelum pertandingan basket itu di mulai. Ia merasakan perut nya keroncongan yang minta untuk di isi. Lita turun ke bawah, di meja makan ia lihat mama, papa dan kakak nya sedang sarapan. Jarang sekali lita sarapan bersama mereka, Lita lebih suka sarapan sendiri. Wati yang melihat adik nya heran karena tidak biasanya Lita mau sarapan bersama, "tumben kamu mau sarapan bareng?" "aku ke kamar lagi ni kalo ada yang protes", ancam Lita yang merasa kehadiran dirinya tidak di nanti keluarga nya. "jangan ngambek dong, aku kan bercanda. kan emang gak biasa nya kamu mau sarapan bareng". Anton hanya tersenyum melihat perdebatan kedua gadis nya yang kini sudah menginjak dewasa. Alifah menawarkan sarapan pada Lita, "mau nasi goreng apa sarapan roti selai?" "nasi goreng aja ma". Karena bagi Lita sarapan roti selai tidak lah mengenyangkan. Lita makan dengan lahap nya, ia merasakan perut nya sangat lapar akibat semalam berpikir terlalu keras atas semua ucapan Wahyu. "kamu libur sekolah?" tanya Anton pada lita. "gak ada jadwal remidi, jadi di rumah aja" "tumben" sahut kakak nya yang heran, tidak biasa nya Lita libur sekolah dan berdiam diri di rumah, ada apa kah gerangan?? Selesai sarapan Anton dan Alifah segera pergi untuk mengurus perusahaan mereka, Alifah memang ikut terjun dalam mengurus perusahaan. Wati dan Lita pun ikut beranjak dari tempat duduk nya dan menuju ke kamar masing-masing. Di kamar Wati sedang menyiapkan tas nya untuk segera pergi ke kampus, terdengar suara di ambang pintu yang membuat nya kaget, "kakak sengaja mau ngenalin aku ke Wahyu?" "kalo iyaa??" "kenapa repot-repot ngenalin aku sama cowok?" "kakak lihat kamu gak ada tertarik nya sama sekali dengan hal percintaan, dan asal kamu tau Wahyu menyukai mu sejak lama, sayang". Wati menyenggol lengan lita dan beranjak untuk berangkat ke kampus. "kenapa mesti Wahyu?" pertanyaan Lita membuat langkah Wati terhenti saat ia akan menuruni tangga, Wati berbalik badan dan mendekat pada lita, "Wahyu itu pria yang baik, tampan, pinter dan asal kamu tau di luar sana banyak banget cewek yang nyari perhatian ke dia, tapi dia gak mau. dia siapin hati nya buat kamu. jadi siapin diri yaa adik ku yang cantik". penjelasan Wati membuat Lita tak mampu bergerak dari tempat nya berdiri, Wati yang menyadari hal itu segera membuyarkan lamunan nya. "hey sadar, ngapain ngelamun di situ? ngelamun di kamar aja sana" . segera lita berjalan ke kamar denga perasaan tak karuan. Hati nya kini gelisah, tidak biasa nya. Lita kepikiran bagaimana kondisi ibu Wahyu sekarang? sudah membaik atau belum? kenapa aku jadi kepikiran dia terus sih, bikin gelisah aja~ gumam Lita dalam hati. Bel pintu rumah nya berbunyi, Lita yang menyadari tak ada orang di rumah nya segera ia turun ke lantai bawah dan membuka pintu nya. betapa terkejut nya dia saat tau siapa yang datang. Wahyu! ngapain dia kesini? "Lit, kok ngelamun sih?" Wahyu membuyarkan lamunan nya. "eh iya! ngapain kesini? cari kakak ku?" "nyariin kamu", wahyu memberikan sebungkus plastik berisikan ice cream pada Lita. "apa ini?" "ice cream, udah yaa aku pulang. aku cuman mau ngasih itu aja" "gak masuk dulu?" "hah? gimana Lit?" "eh enggak! gimana keadaan nyokap kamu?", Lita tidak menyadari ia kini sedang salah tingkah dengan kehadiran wahyu. "sudah sembuh, sudah gak demam". "syukur lah". Lita masih mematung di hadapan Wahyu dengan membawa kantong plastik berisikan ice cream, Wahyu lagi-lagi berpamitan, "aku pulang dulu ya, jangan lupa di makan" "iyaa, thanks yu". Wahyu tersenyum pada lita dan menyalakan motor nya kemudian pergi dari hadapan lita. Lita yang masih bingung dengan sikap dan perasan nya sendiri membuat hati nya terasa sesak. ada yang tidak beres! Lita kembali ke kamar nya dengan hati berdebar, kenapa ini? ada apa ini? bukankah aku Uda biasa di kasih cowo ice cream seperti ini? kenapa kali ini rasanya beda? saat Lita hendak membuka ice cream terdengar ketukan pintu lagi, Wahyu balik lagi? secepat kilat ia memasukan ice cream ke dalam lemari pendingin terlebih dahulu. ceklek! "ah kamu dik" "emang kamu nungguin siapa?" tanya didik karena saat membuka pintu terlihat wajah kekecewaan pada lita. "nggak siapa-siapa, duduk di luar aja ya, di rumah gak ada orang". Sengaja Lita tidak ingin didik berlama-lama di situ, karena ia ingin lanjut memikirkan perasaan nya yang sedang gelisah ini. "keluar yuk", didik yang saat itu terlihat memakai kaos memperlihatkan lengan kekar nya, didik memang suka nge-gym, banyak wanita yang ingin menjadi pacar nya tapi didik tidak tertarik dengan beberapa wanita yang mendekati nya. "ah aku lagi males keluar". "tumben, kenapa?" tiba-tiba Lita teringat dengan kejadian semalam saat Wahyu memegang tangan nya membuat jantung Lita berdetak tak beraturan, "coba deh kamu pegang tangan ku", Lita menyodorkan tangan nya pada didik meminta agar didik memegang nya, Lita ingin tau apa sama berdebar nya saat Wahyu memegang tangan nya, "buat apa?" tanya didik heran, "Uda pegang aja, bentar doang". didik melakukan nya, tapi aneh nya Lita tidak merasakan getaran yang ia rasakan semalam, jadi kenapa aku semalem deg-deg.an? Lita segera melepas tangan nya dari genggaman didik, "thanks yaa, sorry hehe" sambil nyengir kuda ia melihat didik yang kebingungan dengan tingkah nya. "aku semalem salah liat apa emang bener kamu ya? kamu semalem keluar ya sama cowo pake motor CB?" tanya didik yang lagi-lagi membuat jantung Lita tak beraturan. "ya, kok kamu tau?" "siapa dia?", tanya didik dengan rasa penasaran nya, didik selalu tau dengan siapa lita keluar, karna teman laki-laki Lita kenal semua dengan didik, tapi tidak dengan Wahyu, semalam ia melihat Lita saat pulang di antar oleh Wahyu. "temen kakak ku" "kok kamu peluk dia?" Deg! jantung nya serasa mau copot saat didik mengatakan itu, ia teringat kembali bagaimana nyaman nya berada di punggung Wahyu. "aku ketiduran waktu di bonceng dia". "oh" jawab didik singkat. Didik merasa cemburu saat melihat Lita di bonceng mesra dengan pria lain. karena Lita tak pernah melakukan itu sekalipun sama didik. Didik yang mengetahui Lita sedang tidak baik-baik saja segera ia izin untuk pulang, "yaudah aku balik dulu ya" "iya, hati-hati dik" Didik hanya mengangguk dan segera ia nyalakan mesin motor nya dan berlalu meninggalkan rumah Lita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD