Antika menutup wajahnya menahan tangis hingga badannya bergetar. Dia ingin sekali menyangkal tuduhan itu, tetapi mulutnya seakan terkunci dan tak membiarkan dia untuk membela diri.
Melihat Antika seperti itu Mama Yola langsung memeluknya. "Sayang, Mama yakin itu bukan kamu. Entah apa yang membuat Dendra begitu yakin dan sangat mempercayai video itu. Tapi kamu jangan khawatir, Mama akan membuat Dendra menyadari kekeliruannya itu."
Antika mengangguk kecil di dalam pelukan calon mertuanya, dia tak mampu mengucapkan sesuatu karena lidahnya terasa kelu saat mengetahui calon suaminya yang sangat tega menuduhnya serendah itu.
"Astaga, menyebalkan!" gerutu Dendra saat melihat Mama Yola yang memeluk Antika. "Seharusnya beliau memeluk dan menenangkanku. Di sini akulah yang ditipu, akulah yang kecewa, akulah yang sakit hati, aku ... bukan Antika!" geramnya semakin emosi.
"Baiklah, sebaiknya sekarang kita duduk dulu." Pak Fauzan calon mertua Dendra itu mencoba menenangkan diri. Dia berharap dengan duduk Dendra bisa berpikir dengan sedikit lebih jernih.
Setelah semuanya duduk, Pak Fauzan kembali berbicara. "Sekarang Bapak mau bertanya sama kamu Dendra, video itu siapa yang mengirimkannya? Bagaimana kalau sekarang kita tanyakan langsung padanya, apakah itu benar Antika atau bukan. Jika benar itu Antika, maka Bapak sendiri yan akan menghukumnya dan kamu boleh membatalkan pernikahan ini. Akan tetapi jika Video itu tidak benar, maka kita akan memperkarakan orang yang telah mengirimkan video itu."
Dendra yang telah bersumpah akan merahasiakan identitas pengirim video ini langsung menggeleng cepat. "Tidak perlu kalian tau siapa dia, yang harus kalian tahu kalau video ini Asli, karena di sini terlihat jelas wanita yang di video ini adalah Antika!"
"Dendra!" teriak Mama Yola menatap Dendra penuh marah. Wanita cantik yang kini wajahnya basah oleh air mata itu benar-benar tidak menyangka jika putranya semudah itu percaya pada video yang belum tentu benar tersebut.
"Mengapa Mama jadi marah padaku? Sial! Seharusnya perempuan itu yang menerima kemarahan Mama juga semua orang yang ada di ruangan ini," gumam Dendra menatap sinis pada Antika yang menyembunyikan dirinya ke dalam pelukan ibunya
"Terserah kalian mau bilang apa, yang pasti aku tidak akan mau menikah dengan perempuan murahan itu!" Dendra menunjuk Antika sehingga membuat wanita itu melepaskan diri dari pelukan ibunya.
"Mas! Aku bersumpah, itu bukan aku. Apa kamu tidak bisa meluangkan sedikit waktu untuk menyelidikinya terlebih dahulu?" Antika menatap lelaki itu penuh harap.
"Tidak!" jawab Dendra tegas.
"Kenapa, Mas?" tuntut Antika dengan pertanyaan singkat. "Kita akan hidup selamanya, dan setiap masalah akan datang silih berganti, bahkan lebih dari ini. Jika masalah seperti ini saja kamu mengambil keputusan dengan begitu mudahnya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu, maka bagaimana kita akan menghadapi masalah-masalah lainnya nanti, Mas?"
"Tidak ada nanti, karena semua akan diakhiri saat ini juga." Dendra tetap ngotot dengan keputusan yang telah diambilnya.
"Jadi, kamu benar-benar akan membatalkan pernikahan kita?" tanya Antika dengan bercucuran air mata.
"Iya! Ini lebih baik dari pada aku hidup bersama wanita busuk yang sok suci!" Dendra berkata dengan ucapan yang merendahkan Antika.
"Mas! Aku mohon, cobalah untuk memikirkannya lagi. Kita sebaiknya menyelidiki dulu kebenaran video itu." Antika berusaha merubah keputusan Lelaki yang tengah menatapnya penuh kebencian itu.
"Tidak, keputusanku sudah bulat. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan merubah keputusanku," ucap Dendra keras kepala.
"Lalu bagaimana dengan cinta kita? Bagaimana dengan janji dan harapan yang telah kita sepakati?" tanya Antika sembari menghapus air matanya.
"Semuanya akan berakhir hari ini juga." jawab Rendra sedih. Sebenarnya dia begitu mencintai Antika, dia sangat berharap akan bersama dengan Antika untuk selamanya. Tapi video itu telah menghancurkan semua impiannya yang telah dibangun bersama kekasih hatinya itu.
"Bagaimana jika seandainya video itu tidak benar, Mas?" tanya Antika.
"Aku yakin Video itu benar. Dia tidak mungkin membohongiku. Seandainya ada yang berbohong sudah pasti orang itu adalah kamu!"
Antika menatap marah pada Dendra yang telah menilainya begitu rendah, pipinya yang basah oleh air mata menyatakan betapa kecewanya ia pada lelaki yang telah berjanji akan menjadi imamnya itu.
Ruangan yang tadi dipenuhi tawa bahagia kini menjadi hening dan penuh dengan tanda tanya. Semua terdiam menatap Dendra dengan rasa tak percaya, mereka tidak menyangka kalau lelaki yang terkenal pintar dalam menyelesaikan masalah itu akan mengambil keputusan semudah ini. Padahal sangatlah mudah untuknya mencari tahu video itu palsu atau tidak.
Antika mencoba meredamkan emosi di hatinya. Dari sini dia bisa menilai kalau lelaki yang telah melamarnya itu ternyata pikirannya tidaklah sedewasa usianya. Usia tiga puluh sembilan tahun seharusnya usia yang sudah bisa menyelesaikan masalah dengan pikiran tenang, bukannya seperti Dendra yang mengambil keputusan tanpa pikir panjang untuk menyelidikinya terlebih dahulu.
Antika pikir, lelaki seperti Dendra tidaklah pantas menjadi suaminya. Dia memilih untuk menerima kehendak Dendra yang menginginkan batalnya pernikahan mereka.
Bukan karena dia mengakui video itu benar dirinya, tapi dia lebih memilih tidak ingin hidup dengan orang yang telah menilai rendah dirinya.
"Baiklah jika itu keinginan kamu, Mas." Antika mengangkat wajahnya menatap Dendra tajam. "Aku tidak akan memaksakan. Aku juga tidak mau menikah dengan lelaki bodoh yang tidak bisa menimbang masalah yang ada sebelum mengambil sebuah keputusan."
Semua mengalihkan pandangan menatap Antika tidak percaya. Sebenarnya Dendra pun tak percaya mendengar keputusan wanita yang wajahnya basah oleh air mata itu. Tapi Antika berkata dengan wajah tenang meski ada getar kesedihan dan kecewa pada nada suaranya.
"Bagus, ternyata kamu sadar diri. Kamu tahu kan kalau aku ini lelaki terhormat, jadi aku tidak ingin nama baikku rusak karena kamu seorang perempuan jalang." Dendra bernapas lega karena Antika bersedia membatalkan pernikahan mereka hari ini.
"Aku bukan perempuan jalang seperti yang kamu tuduhkan, yang jalang itu adalah orang yang telah memfitnahku," ucap Antika dingin.
"Sekarang dia berhasil membatalkan pernikahan kita, tapi aku yakin suatu saat dia akan datang padamu dan mengakui kebohongannya hari ini." Antika berkata dengan begitu tenangnya. Padahal hatinya telah menjulang emosi yang menggunung, tapi sekuatnya dia menahannya agar tidak meledak. Dia tidak ingin orang tuanya akan marah karena melihat dirinya bersedih.
"Nanti, jika saat itu tiba aku yakin kamu akan sangat menyesali keputusanmu hari ini!" Antika menghapus air mata di pipinya dengan kedua tangan yang gemetaran.
"Terserah!" Dendra mengibaskan tangannya mengabaikan ucapan Antika. "Kalau begitu, semuanya bubar! Pernikahan ini, batal!"
"Tidak! Pernikahan ini tidak boleh dibatalkan!" teriak Rendra saudara kembar Dendra. "Biarkan aku menggantikan Dendra untuk menikah dengan Antika!" teriaknya lantang dan membuat semua orang tercengang.