Rendra yang sedari tadi tak terlihat tiba-tiba datang, kemudian berjalan dengan mantapnya menghadap pak Gunawan dan Pak Fauzan. Lelaki yang begitu mirip dengan Dendra itu mengulurkan tangan pada Pak Fauzan lalu mencium takzim tangan bapak kandung Antika itu.
"Pak, izinkan aku menggantikan Dendra untuk menikah dengan Antika," ucap Rendra bersungguh-sungguh. "Aku tau akan sulit bagi kami berdua untuk membangun rumah tangga tanpa pondasi cinta, tapi demi nama baik keluarga kita, aku bersedia menerima dan akan mencintai Antika." Rendra berkata dengan tegas dan lancar.
Mata Dendra melotot tidak percaya menatap saudara kembarnya itu mampu berkata dengan penuh keyakinan. Entah datang dari mana keberaniannya kali ini, Rendra yang sangat takut dengan sebuah hubungan serius, tapi dia malah bersedia menikah saat ini juga.
"Tapi Ren, apa kamu bisa menjalani sebuah hubungan dan tanggung jawab sepenuhnya berada di pundak kamu?" tanya Pak Gunawan ragu.
Bukannya tanpa alasan Pak Fauzan meragukan kesungguhan putranya itu, dia tahu betul kalau Rendra tidak mau terikat hubungan dengan satu perempuan saja. Bahkan Pak Fauzan sudah lelah dengan kedatangan wanita muda yang mengaku dihamili oleh putranya itu, tapi entah bagaimana pula akhirnya perempuan-perempuan itu menghilang dan tak pernah menemui pria yang sudah sangat menginginkan kehadiran cucu itu.
"Insya Allah aku siap dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah bersama Antika," jawab Rendra yakin.
Dendra mencebik mendengar Rendra berkata dengan optimisnya. "Kamu tidak akan menyesal, kan. Mau menikah dengan wanita mur*han bekas banyak orang?" tanya Dendra sedikit kesal, sejujurnya ada rasa tak rela ketika mengetahui wanita yang sangat dicintainya malah akan menikah dengan saudaranya sendiri.
"Insya Allah, aku tidak akan menyesal. Aku dan Antika akan berusaha kembali ke jalan yang benar," lanjut Rendra tetap yakin dengan keputusannya.
"Terserah kamu saja, aku hanya sekedar mengingatkan. Toh kalian memang cocok, sama-sama orang yang gak benar," ucap Dendra ketus untuk menutupi gemuruh di dalam dadanya.
Tiba-tiba rasa cemburu menyerbu, sehingga membuat dia merasakan sakit di dalam d*da yang luar biasa. "Entah mengapa, rasanya aku tidak rela jika pengantin wanitaku harus menikah dengan kembaranku. Hah, Sial! Mengapa kini aku malah berat melepaskan Antika," keluhnya di dalam hati.
"Dendra, sadar! Antika wanita mur*han yang tidak pantas menjadi istrimu!" seru Dendra di dalam hati untuk mensugesti dirinya agar lebih kuat dan tak sakit hati.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Pak Gunawan lagi.
Rendra mengangguk mantap tanpa menjawab dengan kata-kata sehingga membuat Dendra semakin keheranan. Beberapa pertanyaan berputar di otak Dendra, tentang mengapa Rendra yang begitu yakin mau menikah dengan wanita yang akan membuatnya malu. Bukan hanya dia, tapi nama baik keluarga akan tercemar jika suatu saat kedok Antika terbongkar di muka umum.
"Bagaimana ini Zan?" tanya Pak Gunawan pada pak Fauzan.
"Sebaiknya kita tanyakan pada Antika." Pak Fauzan melangkah mendekati Antika yang tengah menghapus air matanya.
Sementara Dendra hanya diam mencoba menenangkan isi kepalanya yang riuh menyatakan untuk mempertahankan Antika, tapi egonya lebih memilih untuk membiarkan kedua orang yang dianggapnya b*jingan itu bersatu.
"Dendra Alannuary, apakah kamu benar-benar akan membatalkan pernikahan ini?" tanya Pak Fauzan dengan suara bergetar.
Sesaat Dendra tertegun, sebenarnya dia tidak ingin membatalkan pernikahan ini karena dia sangat mencintai Antika. Akan tetapi ketika ia mengingat video yang menjijikkan itu membuatnya mengangguk dengan kuat.
"Ya, aku membatalkan pernikahan ini dan mempersilahkan Antika untuk bersama dengan lelaki mana pun yang dia mau," akhirnya kata yang sangat tak diinginkannya pun itu keluar bersama rasa sedih yang kian menusuk hatinya.
"Baiklah, kalau begitu. Pernikahan akan di lanjutkan dengan bergantinya pengantin lelaki, dari Dendra Alannuary yang akan digantikan oleh Rendra Alannuary." Pak Fauzan mengusap wajahnya.
Saat ini dia pasti sangat bingung, sedih dan marah. Tapi dia lelaki tua yang sudah berpengalaman hidup, sehingga dengan mudah dia menyembunyikan keresahannya.
"Silahkan lanjutkan pernikahan ini, aku mau pergi keluar." Dendra merentangkan tangan lalu tanpa menoleh lagi dia melangkah dengan cepat meninggalkan rumah Antika. Meninggalkan semua orang yang menatapnya penuh tanya.
***
Dengan menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya Dendra yang ditemani oleh sahabatnya itu kini sudah tiba di rumah Damiri Abdinata–kakek Dendra yang berada di sebuah desa terpencil.
Kakek Damiri memang tidak bisa menghadiri pernikahan Dendra karena kondisi fisiknya yang mudah lelah. Beliau hanya merestui dan memberi doa terbaik untuk cucunya. Meskipun sudah tua beliau tetap bertahan hidup di desa karena ingin menjaga perkebunan kopi yang penuh kenangan bersama almarhum istrinya. Di desa ini beliau ditemani oleh Nana-anaknya Tante Marni.
Dendra berdiri di depan rumah panggung yang terbuat dari kayu, meskipun sudah tua tapi rumah ini masih terlihat kokoh berdiri di atas beberapa tiang yang menopangnya. Dari belakang terlihat asap tipis yang menandakan Nana sedang memasak sesuatu.
Dengan langkah cepat Dendra yang disusul Aji menaiki tangga belakang, kemudian dengan hati-hati dia masuk dengan maksud hendak mengagetkan sepupunya itu. Akan tetapi kenyataannya terbalik, lelaki yang bergelar bujang lapuk itu malah kaget ketika melihat seorang remaja yang tengah memotong tempe sambil berbincang akrab dengan kakek Damiri. Bahkan dia menyuapkan potongan tempe goreng ke mulut kakeknya Dendra itu.
"Siapa dia? Dia bukan saudara dari pihak kakek ataupun nenek. Anak tetangga juga bukan, karena aku mengenali setiap penduduk kampung yang mayoritas pekerja di kebun kopi milik kakek," gumam Dendra yang ditanggapi Aji dengan menggelengkan kepala.
"Ya, Kakekku adalah pemilik perkebunan kopi di sini. Beliau lelaki tua yang kaya. Jangan-jangan, wanita ini tertarik dengan warisan kakek sehingga dia bersedia menikah dengan lelaki tua yang sudah mendekati ajalnya. Hah, awas saja. Takkan kubiarkan itu terjadi."
"Assalamualaikum!" Dendra sengaja mengeraskan suara sehingga dua orang itu terlonjak kaget.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
Kakek Damiri merentangkan tangannya sambil berjalan mendekati Dendra. "Oh, cucuku sayang. Sudah hampir dua bulan kamu tidak menemui kakek. Kamu sibuk sekali menyiapkan pernikahanmu sampai tidak bisa menyempatkan waktu untuk menjenguk kakekmu ini." Kakek Damiri memeluk dan menepuk-nepuk punggung cucunya.
"Eh eh eh, tapi mengapa kamu ke sini? Hari ini kan hari pernikahanmu." Kakek Damiri melepaskan pelukannya dan menatap Dendra penuh selidik.
"Aku tidak jadi menikah," jawab Dendra dengan muka ditekuk.
"Kenapa?" Kakek Damiri menarik kedua lelaki yang baru saja datang untuk duduk di kursi persis di hadapan remaja perempuan yang tetap santai memotong tempe.
Aji duduk di samping Dendra sementara matanya menatap ke wajah bening di hadapannya tanpa berkedip. Seketika Aji memiliki hasrat terhadap tubuh segar yang ada di hadapannya. "Ini buat Gue aja ya, Ndra," bisik Aji penuh nafsu.
"Dasar lelaki m***m, liat yang mulus dan bening pasti pengen dinikmati." Dendra hanya menggeleng heran dengan sahabatnya, dia sama seperti Rendra yang lebih memilih membujang karena alasan bisa bergonti-ganti teman tidur.
Dendra kembali menatap remaja yang seolah tak terganggu dengan kehadiran mereka. "Siapa dia, Kek?" tanyanya sambil menatap gadis yang rambutnya diikat asal, cantik alami tanpa riasan sedikit pun di wajahnya.
"Ah, dia anak sahabat kakek. Namanya Maila, dan Maila ini Dendra saudara kembarnya Rendra," ucap kakek Damiri memperkenalkan mereka satu sama lain.
"Aku belum dikenalkan, Kek," protes Aji sembari mengulurkan tangan. "Kenalkan, aku A-" belum sempat Aji memperkenalkan diri, kakek Damiri memukul tangan Aji hingga turun kembali ke atas meja.
"Jangan macam-macam! Dia calon istrinya Rendra." Kakek Damiri memelototi Aji.
"Apa?" teriak Dendra dan Aji bersamaan.
Dendra memindai Maila dari atas hingga pinggang, karena bagian pinggang ke bawah tertutup oleh meja. Melihat penampilannya Dendra tidak yakin kalau kembarannya bersedia menjadi suami dari bocah ini.
Ya, Dendra tahu betul kalau Rendra memang buaya darat kelas A. Punya wanita di mana-mana tanpa ada hubungan dan status yang jelas. "Tapi, gadis ini? Gadis sederhana yang sama sekali bukan tipenya Rendra. Lalu benarkah apa yang kakek katakan tadi, kalau bocah ini calon istrinya Rendra?Akan tetapi jika dia calon istri Rendra, mengapa kini dia malah menikah dengan Antika?"
"Kek, sekarang Rendra tengah menjalani prosesi ijab kabul. Hari ini Rendra menikah," celetuk Aji.
"Apa?" Kali ini kakek dan Maila yang berteriak bersamaan. Mereka sama kagetnya dengan Dendra dan Aji sehingga membuat mereka bergantian saling pandang dengan kekagetan yang sulit dijelaskan.
Dendra juga dikagetkan dengan pisau yang tadi memotong tempe kini ditancapkan dengan kuat pada talenan kayu hingga beberapa potong tempe berhamburan. Dendra dan Aji menelan ludah karena tidak menyangka bocah ini ternyata begitu kuat. Tangannya yang mulus dan kecil rasanya tak mungkin bisa sekuat itu menekan pisau hingga menembus talenan kayu.
Maila mencabut pisau lalu menodongkannya pada Aji. "Kamu yang benar kalau bicara!"