Bab 6. Terikat Perjanjian

1214 Words
"Rustam, ini surat perjanjiannya. Silahkan kamu simpan dan jaga dengan baik, karena ini bisa dijadikan senjata jika aku sudah tidak ada nanti." Kakek menyerahkan surat menyurat itu pada Pak Rustam. Kakek Damiri memang telah sengaja membuat surat perjanjian yang akan mengikat cucunya agar tidak meninggalkan Maila karena dia menginginkan selamanya Maila bersama cucunya. "Rustam adalah orang kepercayaan kakek, jika ada sesuatu kamu diskusikan saja bersamanya," tutur kakek sebelum pak Rustam pulang. Setelah semuanya pulang, Dendra hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa. Kini tinggal mereka bertiga saja, saling berhadapan tapi hanya kakek dan Malia yang berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, Dendra tak bisa mendengarkannya dengan jelas. Dendra menatap kakek Damiri dengan kagum, meskipun dia sudah sangat tua tapi semua indra ditubuhnya masih berfungsi dengan normal. Dia masih bisa mendengar meski Malia berbicara dengan setengah berbisik. Kakek Damiri tiba-tiba berdiri lalu berjalan meninggalkan Dendra bersama Maila. Baru beberapa langkah beliau membalikkan badannya lalu berkata. "Kakek hanya berharap, kamu akan menepati janjimu." Kakek kembali membalikkan badannya dan berjalan memasuki kamarnya. Saat berdua saja dengan wanita yang baru saja dinikahinya, Dendra merasa kikuk. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jika saja Antika yang duduk bersamanya, pasti dia tidak akan sekaku seperti saat ini. "Aku tau ini pasti sulit untuk kamu pahami, tapi aku tidak menuntut kamu untuk mencintaiku. Tepati saja janjimu yang telah kau tandatangani dan aku akan mendampingimu tanpa mengganggumu. Kita jalani saja layaknya sahabat atau saudara." "Hah?" Dendra tercengang dengan ucapan Maila yang tegas. Dia bersikap begitu dewasa, tak terlihat kalau dia masih berusia sembilan belas tahun. Atau jangan-jangan semuanya berbohong tentang usianya, tapi melihat dari wajahnya memang dia masih sangatlah belia. "Tadi dia bilang akan mendampingi tanpa menggangguku. Benarkah, apakah bisa begitu? Entahlah! Hanya saja dari sikapnya aku merasa ada aura kuat yang tersembunyi di dalam diri Malia, yang membuatku takut dan penasaran padanya." Dendra menatap Maila dengan mengernyitkan keningnya. "Oh iya, kamu ingin aku memanggilmu apa?" tanyanya masih dengan wajah tegasnya. "Eh-i-itu, terserah kamu saja," jawab Dendra tergagap. "Sial, kenapa aku jadi gugup dan berkeringat dingin. Perasaan aku saat ini sedang berhadapan dengan bocah ingusan, mengapa jadi sangat tegang seakan sedang menghadapi seorang dosen killer," umpat Dendra di dalam hati. "Baiklah. Sebaiknya aku panggil Mas saja, ya." Dia tersenyum tipis tetapi manis. "Oh iya, Mas tidak usah marah ataupun bersedih, kita sama-sama terjebak di sini. Bukan hanya kamu, Mas. Aku pun terpaksa memenuhi keinginan Kakek dan Almarhum orang tuaku. Tapi memberontak juga percuma, lebih baik kita jalani saja sambil meningkatkan produksi kopi. Ini demi kebaikan kita dan orang banyak." Lancar sekali Maila bicara hingga membuat Dendra melongo, bocah ingusan ini ternyata pandai bicara juga. Dia yang seorang CEO sudah terbiasa berbicara dan didengarkan, tapi kali ini dia bungkam hanya mampu menjadi pendengar tanpa mampu menjawab setiap ucapannya. "Satu lagi, kita sudah halal. Jadi Mas tidak perlu ragu jika menginginkanku. Sebagai istri, aku siap melayanimu." Lagi dan lagi Dendra dibuat melongo."Ni anak siapa yang mengajari berbicara seperti itu? Atau jangan-jangan dia memang sudah terbiasa menonton atau melakukannya bersama lelaki lain. Wah, kacau!" "Oh, iya. Kamu akan memiliki perkebunan dan pabrik kopi dengan segala isinya. Ini semua adalah warisan untukmu. Semoga kamu bisa menjaga dan memajukan usaha ini lebih baik lagi dari pemilik sebelumnya." Maila memberikan nasehat layaknya seorang ibu yang sedang menasihati putranya. "Ya, semoga saja. Aku masih harus banyak belajar, soalnya aku belum pernah turun ke tempat produksi." Dendra berkata jujur. Dia memang bisa memimpin perusahaan, membuat keputusan untuk perusahaan dan juga mengatur relasi dengan klien dan pekerjaannya berhubungan dengan rencana bersama orang lain. Akan tetapi di sini, dia harus bekerja sama dengan alam. Tanaman kopi harus mendapatkan perawatan khusus dan cuaca yang mendukung agar bisa menghasilkan buah yang maksimal. "Produksi telah memiliki orang yang ahli di bagian masing-masing, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Tugas kamu harus bertahan dari orang-orang yang menginginkan tempat ini." "Maksud kamu, apa? Apakah ada orang yang menginginkan tempat ini?" tanya Dendra tidak paham dengan maksud ucapan Maila. "Iya, selain keluarga dari pihak nenekmu, ada beberapa pihak yang menginginkan tempat ini. Maka dari itu kamu harus mencari cara agar tempat ini tetap aman dari gangguan yang akan merugikan kita semua." Maila sangat serius saat menjelaskan tentang usaha kopi yang akan diwarisi oleh Dendra. "Menurutmu, apakah aku bisa melakukannya?" tanya Dendra lagi. "Pasti bisa. Aku akan mendampingimu, kita akan bersama-sama melindungi tempat ini. Selama kamu tidak ingkar janji dalam menjaga baik dan buruk usaha yang dijalani saat ini," jawab bocah itu panjang lebar. "Ingkar janji? Memangnya aku punya janji apa atas usaha ini?" tanya Dendra bingung, pasalnya dia tidak merasa pernah mengucapkan janji apapun. "Ada beberapa hal yang kamu tanda tangani pada surat perjanjian tadi, dan semuanya harus kamu tepati jika tidak ... maka usaha milik kakek Damiri ini akan menjadi milikku seutuhnya." "Apa?" Dendra benar-benar tidak menyangka kalau surat-menyurat yang dia tanda tangani tadi akan membuat usaha milik almarhumah neneknya akan berpindah tangan jika dia melanggarnya. Maila tidak menjawab, hanya anggukan mantapnya yang memastikan kalau ucapannya benar. "Aneh, mengapa kakek malah membuat perjanjian bodoh ini?" tanya Dendra lagi. "Karena kakek mencari pewaris yang tepat." "Jika aku tidak menepati perjanjian itu, lalu mengapa jadi kamu yang akan memiliki perkebunan dan pabrik kopi ini? Bukankah masih banyak cucu kakek yang bisa mewarisinya selain aku, kan?" "Benar, kakek telah menilai ke lima orang cucunya. Awalnya dia melihat sikap kepemimpinan pada diri Mbak Nana, beliau sudah melatihnya untuk menjadi penerus kakek. Tapi sifat buruk Mbak Nana yang suka panik ketika sedang menghadapi masalah, membuat membuat kakek memutuskan untuk memilih kamu sebagai pewaris selanjutnya," jelas Maila. "Bukannya kakek akan menjodohkan kamu dengan Rendra? Dan kakek tadi bilang kalau Rendra lah yang akan menjadi pewaris tapi mengapa malah menjadi aku?" "Tidak, Om Rendra hanya akan menikahiku saja. Rencana awalnya adalah aku akan ikut ke kota sementara kamu dan istrimu yang akan di sini. Tapi pada kenyataanya malah Om Rendra menikah dengan calon istrimu, tentu saja ini membuat kakek tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan secepatnya menikahkan kita berdua. Karena sesungguhnya hal ini memang diinginkan oleh kakek." Maila menarik napas sesaat kemudian kembali melanjutkan penjelasannya. "Kakek memang menginginkan kamu lah yang akan menikahiku dan juga yang akan mewarisi usahanya. Akan tetapi karena kamu telah memiliki calon istri, maka kakek meminta Om Rendra yang akan menjagaku," lanjut Maila mengakhiri ucapannya. "Yang masih aku tidak mengerti, mengapa kakek meminta untuk menikahi dan melindungi kamu?" tanya Dendra dengan mengacungkan telunjuk tangan kanan sejajar dengan dagunya. "Masalah itu, kamu bisa tanyakan langsung pada kakek Damiri," jawab Maila membuat Dendra jadi penasaran. Dendra ingin tahu jawabannya saat ini juga, tapi Maila terlihat sudah ingin mengakhiri pembicaraan di antara mereka. "Mas, kamu mau makan apa? Biar aku masakin," tanya Maila bersiap-siap akan berdiri. "Nanti dulu, aku masih mau bicara-" Belum selesai Dendra berbicara, Maila memotong dengan seenaknya saja. "Nanti kita bicara lagi, saat ini aku lapar. Tadi aku hanya membuat sayur bening kacang panjang, goreng tempe dan bikin sambal terasi. Jika kamu tidak suka semua itu, aku akan masak sayur lainnya." "Tidak usah masak lagi, aku akan makan yang sudah ada saja." "Ya sudah, kalau begitu kamu ajak kakek untuk makan bersama," perintah Maila. Mendengar Maila memerintah seenaknya membuat lelaki yang berhidung mancung itu berdecak kesal. "Astaga, apakah selamanya aku akan hidup dengan bocah itu?" gerutu Dendra dengan melotot pada Maila yang berjalan menjauhinya. "Aarrgghhh!" Lelaki berusia tiga puluh sembilan tahun itu mengacak-acak rambutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD